Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Undangan Makan Malam
Sebuah taksi berhenti di depan gedung Ardhana Group. Jena turun sambil membawa tas kerjanya. Setelah membayar ongkos, ia melangkah masuk ke lobi dan menuju lift. Tak lama kemudian ia tiba di lantai eksekutif.
Begitu keluar dari lift, pandangannya langsung tertuju pada empat sosok yang sedang berdiri di dekat pintu ruang CEO.
Mereka adalah Bimo, Jovian, Michelle dan Mario Suroso.
Mereka tampak sedang berbincang sambil sesekali melihat beberapa dokumen yang dibawa Mario.
Jena menghampiri dengan senyum sopan. "Selamat pagi, Pak Bimo. Pak Mario, Bu Michelle, Pak Jovian."
"Pagi, Jena," balas Bimo ramah.
"Pagi," sahut Michelle sambil tersenyum tipis tapi lirikan matanya terlihat sinis.
Mario menganggukkan kepala.
Jena kemudian melirik ke arah Jovian. Lelaki itu tidak mengatakan apa pun. Hanya tersenyum tipis. Jena membalas senyum tersebut sepersekian detik sebelum kembali bersikap profesional. "Kalau begitu saya masuk dulu."
"Jena." Suara Bimo menghentikan langkahnya.
Jena segera menoleh. "Iya, Pak?"
Bimo menyerahkan sebuah map tebal yang sejak tadi ada di tangannya. "Tolong siapkan seluruh berkas untuk rapat pagi ini."
Jena langsung menerima map tersebut. "Baik, Pak."
"Dokumen kerja sama yang direvisi minggu lalu, laporan progres proyek, dan materi presentasi. Saya ingin semuanya sudah lengkap di ruang rapat sebelum pukul sepuluh."
"Siap."
Bimo mengangguk puas. "Lalu pastikan jumlah salinannya cukup untuk seluruh peserta rapat."
"Baik, Pak."
"Kalau ada data yang kurang, koordinasikan langsung dengan Jovian."
Jena mengangguk lagi. "Siap." Setelah mendapat instruksi, ia segera masuk ke ruang sekretaris.
Begitu pintu tertutup, suasana kerja langsung mengambil alih. Komputer dinyalakan, jadwal rapat dibuka. Satu per satu dokumen mulai ia susun dengan teliti.
Map kerja sama, laporan keuangan, progres proyek, presentasi dan notulen rapat sebelumnya. Semuanya diperiksa kembali agar tidak ada yang terlewat.
Tak lama setelah Jena masuk ke ruang sekretaris dan mulai menyiapkan berbagai dokumen rapat, pembicaraan di area depan ruang CEO juga berakhir.
Bimo menutup map yang ada di tangannya. "Kita bahas di dalam saja."
Mario mengangguk setuju. "Lebih nyaman sambil melihat datanya langsung." Michelle ikut mengangguk.
Jovian kemudian membuka pintu ruangannya. "Silakan."
Bimo masuk lebih dulu, disusul Mario dan Michelle. Jovian menjadi orang terakhir yang masuk.
Di dalam, mereka memilih duduk di area sofa diskusi yang berada di dekat jendela besar. Suasana langsung berubah lebih serius.
Mario membuka beberapa dokumen yang dibawanya. "Persiapan peluncuran koleksi terbaru di Singapura sudah memasuki tahap akhir. Saya ingin memastikan seluruh target yang kita sepakati tetap berjalan sesuai jadwal."
Jovian mengangguk sambil membuka tablet di tangannya. "Sejauh laporan terakhir yang saya terima, semuanya masih sesuai timeline."
Bimo menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Tetap siapkan rencana cadangan. Pengiriman bahan baku dan distribusi harus benar-benar diawasi."
"Betul," sahut Mario. "Saya juga sudah meminta tim logistik untuk melakukan pemantauan lebih ketat."
Michelle yang sejak tadi mempelajari dokumen di depannya ikut berbicara. "Tim pemasaran juga menanyakan kepastian lokasi peluncuran dan jadwal fashion showcase di Singapura."
Jovian melihat beberapa data di tabletnya. "Untuk sementara tidak ada perubahan. Jadwal dan venue tetap sesuai yang sudah disepakati."
Michelle mengangguk. "Baik. Nanti aku teruskan ke tim."
Pembahasan kemudian berlanjut ke berbagai hal lainnya.
Sesekali Bimo memberikan masukan.
Sesekali Mario mengajukan pertanyaan.
Sementara Jovian dan Michelle lebih banyak membahas detail teknis yang berkaitan dengan proyek yang sedang berjalan.
Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit, seluruh berkas akhirnya selesai disiapkan. Jena mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah." Tumpukan map sudah tersusun rapi di atas mejanya.
Ia memeriksa kembali daftar dokumen satu per satu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Setelah yakin semuanya lengkap, Jena merapikan beberapa lembar terakhir, lalu bersiap membawa berkas-berkas tersebut ke ruang rapat sebelum para peserta mulai berdatangan.
Tepat beberapa menit sebelum pukul sepuluh, para peserta rapat mulai memasuki ruang rapat utama.
Jena yang bertugas sebagai sekretaris telah lebih dulu berada di sana. Ia memastikan seluruh dokumen sudah tersusun rapi di depan masing-masing kursi peserta, proyektor menyala dengan baik, dan kebutuhan rapat lainnya tersedia.
Satu per satu para direksi mengambil tempat.
Bimo duduk di posisi utama. Mario Suroso berada di sisi kanan. Michelle duduk di dekat ayahnya.
Jena berdiri di dekat meja samping sambil memeriksa kembali catatan rapat yang akan ia buat nanti.
Jovian masuk ke ruangan, namun lelaki itu tak sedikit pun menyapa Jena. Ia buru-buru duduk di tempatnya.
Jena merasa ada yang aneh, tapi pikiran itu segera ia tepis dengan cepat. "Jangan overthinking, Jen. Jovian sedang tegang mau presentasi. Jadi wajar dia tak menyapamu," batinnya memaklumi.
Rapat pun dimulai.
Jena fokus pada pekerjaannya, mencatat poin-poin penting yang dibahas dan sesekali membagikan dokumen tambahan ketika diperlukan.
Rapat berlangsung cukup intens.
Pembahasan mengenai kerja sama bisnis, strategi pemasaran, hingga persiapan peluncuran proyek baru di Singapura memakan waktu cukup panjang.
Beberapa kali Mario menyampaikan masukan. Michelle ikut menjelaskan hasil evaluasi timnya. Bimo memberikan arahan dan pertimbangan bisnis. Sedangkan Jovian memimpin presentasi dengan tenang dan penuh wibawa.
Selama hampir dua jam rapat berlangsung, Jovian tidak sekali pun mencoba mengobrol dengan Jena di luar urusan pekerjaan. Dan Jena juga profesional.
Menjelang akhir rapat, Jena sempat mencuri pandang ke arah kekasihnya.
Jovian sedang menjelaskan sesuatu kepada para direksi dengan suara mantap dan penuh keyakinan. Entah kenapa, melihatnya seperti itu membuat senyum kecil muncul di bibir Jena. Ia jadi ingat wajah Jovian kemarin sore saat dipenuhi nafsu. "Stop, Jena! Jangan mesum!" rutuknya dalam hati. Jena mencoba fokus lagi.
Tak terasa, rapat yang berlangsung sejak jam sepuluh pagi akhirnya selesai tepat saat jam makan siang tiba.
Para peserta mulai membereskan dokumen masing-masing. Suasana yang sebelumnya penuh pembahasan serius perlahan berubah lebih santai.
Jena menutup buku catatannya dan mulai mengumpulkan beberapa berkas yang harus dibawa kembali ke ruang sekretaris. Di dalam hati, ia sebenarnya sudah memiliki rencana sederhana. "Aku mau ajak Jovian makan siang ah."
Namun sebelum sempat membuka suara, ia mendengar Mario Suroso berbicara. "Pak Bimo, Jovian, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian melanjutkan beberapa pembahasan yang tadi belum selesai."
Bimo langsung mengangguk. "Boleh."
Mario kemudian menoleh kepada putrinya. "Michelle ikut, kan?"
"Tentu, Pa." Michelle melempar senyum kecil pada Jovian.
Jovian yang berdiri di dekat mereka ikut mengangguk sopan. "Baik, Pak Mario."
Mendengar itu, langkah Jena yang tadinya hendak mendekat perlahan terhenti. Ia menatap mereka beberapa detik. Lalu mengurungkan niatnya.
Bagaimanapun juga, itu adalah urusan pekerjaan. Dan ia tidak ingin mengganggu. Jena tersenyum tipis pada dirinya sendiri sebelum merapikan map yang dibawanya. Saat para peserta rapat mulai berjalan keluar ruangan, ia mendekati Bimo terlebih dahulu.
"Pak, kalau tidak ada yang perlu saya kerjakan lagi, saya izin istirahat makan siang."
Bimo mengangguk. "Iya. Terima kasih, Jena. Semua berkas tadi sudah sangat rapi."
"Sama-sama, Pak." Jena melirik Jovian menggunakan ujung mata, tapi kekasihnya itu malah menatap Michelle. Kali ini, ia tak mau berpikir yang tidak-tidak lagi. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya," jawab Bimo.
Jena pun melangkah pergi lebih dulu meninggalkan ruang rapat. Ia kembali ke ruangannya. "Huh! Capeknya." Jena meletakkan map-map hasil rapat di atas meja lalu meregangkan tubuhnya pelan.
Rapat tadi cukup melelahkan. Ia lalu mengambil ponselnya. Mengetik pesan untuk dikirim ke Jovian.
"Mas tadi keren banget waktu rapat. Aku bangga banget. Pokoknya Mas terbaik!" Begitu pesan terkirim, Jena tersenyum sendiri. Namun tidak ada balasan.
Barulah setelah lima menit, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mas Jovian: Jen, malam ini Papa dan Mama mengundang kamu makan malam di rumah. Kamu harus datang. Tapi aku nggak bisa jemput. Datang sendiri saja ya."
Jena yang sedang minum air langsung menghentikan gerakannya. Matanya membulat. Jantungnya berdebar. "Om Bimo dan Tante Sifa mengundangku makan malam?" Ia membaca pesan itu sekali lagi untuk memastikan dirinya tidak salah paham. "Ini serius?" Hatinya mendadak berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang, jari-jarinya langsung bergerak. "Iya, Mas. Aku pasti datang."
Mas Jovian: Oke.
Jena nyaris berteriak dalam ruangannya saking bahagia. "Ya Tuhan ... semoga ini pertanda baik."
Ponselnya kembali bergetar, Jovian mengirim pesan lagi. "Sore nanti, aku nggak bisa nganter kamu pulang. Soalnya aku pulang sama Papa."
"Oke, Mas. Nggak apa-apa." Pesan itu hanya dibaca saja. Tapi Jena tak peduli. Dia buru-buru berselancar jari di aplikasi belanja online untuk mencari referensi gaun yang nanti akan ia pakai. "Pokoknya nanti malam ... aku harus tampil istimewa. Aku harus meninggalkan kesan yang indah. Nggak boleh asal-asalan ah pilih gaunnya." Ia bermonolog dengan semangat yang meletup-letup. Dadanya seperti akan meledak.
***
Tepat setelah jam kerja berakhir, Jena membereskan meja kerjanya dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari biasanya. Pikirannya sudah melayang ke undangan makan malam dari keluarga Ardhana. Ia bahkan beberapa kali tersenyum sendiri saat mengingat pesan Jovian siang tadi.
"Papa dan Mama mengundang kamu makan malam di rumah."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Begitu keluar dari gedung kantor, Jena segera memesan taksi online.
Alih-alih langsung pulang ke apartemen, ia memberikan alamat sebuah butik langganannya kepada sang sopir.
Sepanjang perjalanan, jantungnya masih berdebar-debar. "Ya ampun ... kenapa aku segugup ini sih?" Padahal ini bukan pertama kalinya ia bertemu Bimo dan Sifa. Namun kali ini rasanya berbeda.
Tiga puluh menit kemudian, taksi berhenti di depan sebuah butik mewah.
Jena segera masuk. Bel berbunyi pelan saat pintu kaca didorong.
"Selamat sore, Kak Jena." Salah satu pramuniaga langsung mengenalinya.
"Sore Mbak Mieke."
"Mau cari dress untuk acara khusus?"
Jena tersenyum malu. "Iya."
Mieke langsung antusias. "Formal atau semi formal?"
Jena berpikir sejenak. "Elegan, tapi jangan terlalu berlebihan."
"Baik." Tak lama kemudian beberapa gaun mulai diperlihatkan kepadanya.
Ada yang berwarna hitam, merah marun, biru tua hingga krem.
Jena mencoba satu per satu. Namun tidak ada yang benar-benar membuatnya yakin. Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna hijau sage lembut. Potongannya sederhana, anggun, tidak terlalu terbuka, namun tetap menonjolkan kesan elegan. "Yang itu boleh saya coba?"
"Tentu."
Beberapa menit kemudian Jena keluar dari ruang ganti. Ia berdiri di depan cermin besar. Untuk sesaat ia terdiam.
Gaun itu jatuh pas di tubuhnya. Tidak berlebihan, tidak terlalu mencolok. Namun membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan anggun.
Mieke langsung tersenyum. "Cocok sekali, Kak."
Jena memutar tubuh perlahan sambil menatap pantulannya. Lalu tanpa sadar membayangkan satu orang. "Kira-kira Jovian suka nggak ya?" Pipinya langsung memanas sendiri. Akhirnya ia mengangguk mantap. "Yang ini saja."
"Baik, Kak."
Setelah pembayaran selesai, gaun tersebut segera dikemas dengan rapi.
Jena keluar dari butik sambil membawa paper bag di tangannya. Senyumnya tak kunjung hilang.
Di dalam taksi menuju apartemen, sesekali ia membuka ponsel. Berharap ada pesan dari Jovian. Namun tidak ada.
Biasanya Jena akan sedikit kecewa.
Tapi hari ini tidak. Karena pikirannya sudah dipenuhi dengan ajakan makan malam nanti. Rasa gugup di dalam dadanya makin tak terkendali. "Ya Tuhan ..." Jena memeluk paper bag berisi gaunnya erat-erat. "Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar malam ini." Suara batinnya berharap lantang.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪