NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Rafael menarik kembali tangannya dari kening Freya. Wajahnya mengeras, kembali pada ekspresi dingin yang tak tersentuh. Ia merogoh ponsel dari saku celananya, lalu mendial nomor Sean.

​Panggilan diangkat pada nada sambung ketiga. Suara berisik musik samar dan tawa seorang wanita sempat terdengar di seberang sana sebelum mendadak hening, digantikan suara Sean yang dibuat seformal mungkin.

​"Halo, Papa? Ada apa menelepon malam-malam begini? Apa ada masalah di rumah?" tanya Sean di seberang telepon.

​"Istrimu sakit, kamu tidak pulang?" ujar Rafael tanpa basa-basi. Suaranya datar, berat, dan tanpa emosi. "Demamnya sangat tinggi dan dokter baru saja memasang infus. Pulanglah sekarang."

​Hening sejenak di seberang sana. Sean terdengar menghela napas, berpura-pura terkejut dan panik.

​"Astaga... Freya sakit? Maaf, Paa, tapi malam ini aku baru saja tiba di luar kota. Ada rapat mendadak dan penandatanganan kontrak proyek besar yang tidak bisa ditinggalkan. Aku tidak akan bisa pulang selama satu minggu ke depan."

​Rafael menyipitkan matanya yang tajam. Sambil mendengarkan bualan putranya, ingatan Rafael kembali pada foto-foto dari Dimas siang tadi—foto Sean yang sedang membelikan gelang berlian untuk Bianca di apartemen pusat kota.

​"Satu minggu? Kau meninggalkan istrimu yang sedang sakit demi pekerjaan?" tanya Rafael dingin, memancing.

​"Aku benar-benar tidak punya pilihan, Paa. Ini demi masa depan perusahaan kita juga," dalih Sean, suaranya terdengar penuh sesal yang dibuat-buat. "Lagipula, di rumah kan ada Papa, ada Bi Sofi dan Bi Tina juga. Aku titip Freya pada Papa, ya? Tolong pastikan dia dirawat dengan baik selama aku tidak ada. Aku sangat memercayai Papa."

​Sean sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sudah mengetahui seluruh kebusukannya. Dia justru merasa lega karena dengan alibi luar kota ini, dia bisa bebas menghabiskan waktu satu minggu penuh bersama Bianca di apartemen tanpa perlu memikirkan sandiwara di mansion.

​Rafael menyunggingkan seringai tipis yang teramat dingin di kegelapan kamar. Ia memilih untuk tetap memakai topengnya, berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyiksaan maupun perselingkuhan Sean.

​"Baik. Fokuslah pada pekerjaanmu di 'luar kota', Sean. Aku yang akan mengurus istrimu di sini," ucap Rafael dengan penekanan misterius pada kata luar kota.

​"Terima kasih banyak, Papa. Aku tutup teleponnya dulu," sahut Sean buru-buru, lalu mematikan sambungan.

​Rafael menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang menggelap, lalu beralih menatap Freya yang masih terpejam lemah di atas ranjang.

​"Dia menitipkanmu padaku, Freya," bisik Rafael rendah, suara baritonnya menggema penuh wibawa dan kepemilikan yang mutlak.

***

Di sebuah klub malam yang bising dengan dentuman musik yang memekakkan telinga, Sean berjalan kembali menuju sofa VIP setelah menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Rafael. Di sampingnya, Bianca—dengan gaun mini merahnya yang ketat—menyambutnya dengan senyuman manja.

​"Siapa yang menelepon, Sayang? Papa kamu?" tanya Bianca sambil merangkul leher Sean, mengabaikan tatapan pengunjung lain.

​"Iya, si tua bangka itu," jawab Sean ketus, lalu duduk di sofa dan menarik Bianca ke pangkuannya. "Dia bilang Freya sedang sakit sakitan di rumah. Ck, menyusahkan saja wanita itu."

​Bianca tertawa kecil, jemarinya bermain di kerah kemeja Sean. "Lalu? Papa kamu tidak curiga kalau kamu bohong soal urusan luar kota?"

​"Tidak akan," sahut Sean percaya diri, seringai sombong terukir di wajahnya. "Dia percaya begitu saja saat aku bilang ada proyek besar. Lagipula, aku bilang aku menitipkan Freya padanya. Pria tua itu terlalu sibuk dengan urusan masa lalunya untuk mencurigai langkahku."

​Bianca merasa menang. Ia mengambil segelas minuman keras dari meja, meneguknya sedikit, lalu menahan cairan itu di dalam mulutnya. Dengan tatapan menggoda, ia mendekatkan wajahnya dan menyalurkan minuman itu langsung ke dalam mulut Sean melalui sebuah ciuman yang panas dan menuntut.

​Sean mengerang pelan, menikmati servis dari kekasih gelapnya. Rasa manis alkohol dan kehangatan bibir Bianca seketika membakar gairahnya. "Kamu benar-benar tahu bagaimana cara membuatku gila, Bianca."

​"Aku punya kejutan yang lebih baik di dalam, Sayang," bisik Bianca tepat di telinga Sean, lalu melirik ke arah pintu ruang privat VIP yang terletak di sudut area klub. Ruangan itu kedap suara dan memang disediakan khusus bagi tamu VIP yang ingin beristirahat secara pribadi.

​Tanpa membuang waktu, Sean mencengkeram pinggang Bianca, membawanya melangkah terburu-buru masuk ke dalam ruangan privat tersebut. Begitu pintu ek tebal itu tertutup rapat dan terkunci, kebisingan musik di luar langsung meredup, menyisakan keheningan yang dipenuhi deru napas penuh gairah.

​Bianca berbalik, menyandarkan tubuhnya pada pintu. Dengan gerakan sensual, jemarinya yang lentik mulai membuka satu per satu kancing kemeja Sean, lalu menyusupkan telapak tangannya untuk mengusap dada bidang pria itu.

​"Kamu merindukanku, hm?" goda Bianca, tatapannya mengunci manik mata Sean.

​"Sangat," jawab Sean parau.

​Jemari Bianca bergerak turun perlahan, melewati perut Sean, hingga berhenti pada kepala gesper kulit milik pria itu. Dengan suara lenting logam yang pelan, Bianca membuka gesper tersebut, melonggarkan celana Sean, dan menurunkannya. Di balik pakaian dalam, ia bisa melihat ketegangan yang sudah mengeras sempurna.

​Bianca berlutut di lantai marmer, menatap Sean dengan tatapan penuh gairah yang berapi-api. Ia menjulurkan tangannya, meraih inti kejantanan Sean yang sudah menegang kuat, memainkannya perlahan dengan ibu jarinya hingga Sean mendesah berat.

​"Ah... Bianca, cepat..." perintah Sean, mencengkeram rambut Bianca.

​Tanpa banyak bicara, Bianca melahap habis kejantanan besar itu ke dalam mulutnya. Lidahnya bergerak dengan lihai, mempermainkan ujung sensitifnya, menciptakan sensasi basah dan hangat yang membuat Sean meremangkan seluruh tubuhnya. Sean mendongak, tangannya meremas rambut Bianca semakin dalam seiring dengan kepuasan yang mengalir deras di tubuhnya.

​"Kau selalu yang terbaik, Bianca... wanita sialan itu tidak ada apa-apanya dibanding dirimu," puja Sean dengan suara serak, benar-benar melupakan segala beban dan sandiwaranya di mansion.

​Tak sabar untuk beralih ke permainan inti, Sean menarik tubuh Bianca agar kembali berdiri. Ia mendorong wanita itu hingga merebah di atas sofa kulit yang empuk. Dengan gerakan kasar yang didorong oleh nafsu, Sean menyingkap dan merobek gaun mini yang dikenakan Bianca, mengekspos tubuh polosnya di bawah temaram lampu ruangan.

​Sean mendapati inti kewanitaan Bianca sudah basah sempurna. Tanpa menunggu lama, ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Bianca dan langsung menghantamkan miliknya masuk ke dalam lubuk terdalam Bianca dalam satu hentakan kuat.

​"Ah! Sean!" jerit Bianca, mencakar punggung Sean saat merasakan kepenuhan yang menghimpitnya.

​Mereka bergerak dalam ritme yang cepat dan intim, saling memburu kepuasan di dalam ruangan tertutup itu. Desahan dan erangan bersahut-sungguhan, menenggelamkan mereka dalam dunia maksiat yang mereka ciptakan sendiri.

​Namun, di tengah kebutaan rasa nikmat itu, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah celah kecil di ventilasi atas ruangan. Di balik kegelapan celah tersebut, sebuah lensa kamera kecil berspesifikasi tinggi milik orang kepercayaan Rafael terus bergerak diam-diam, merekam setiap jengkal perbuatan menjijikkan mereka dari awal hingga akhir tanpa terlewat satu detik pun. Bukti kehancuran Sean kini telah terkunci sepenuhnya.

*

*

*

1
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
sean keterlaluan kejamnya 🤨🤨🤨 Freya mending kabur aja
Mita Paramita
kasian banget Freya 😭
Mita Paramita
seru baru episode pertama
MissSHalalalal: terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!