NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Salam Perpisahan

Jika ada satu hal yang diyakini Almira Valencia Pradipta saat meninggalkan Hotel Aurora sore itu, maka hal itu adalah bahwa akhirnya semua telah selesai. Benar-benar selesai.

Indonesia Future Business Summit berakhir.

Video viral perlahan mulai tenggelam oleh berita lain.

Program Kolaborasi Eksklusif sudah selesai.

Dan Reynard Arsenio Mahardika akan kembali ke dunianya sendiri.

Begitu pula dirinya.

Mereka hidup di kota yang sama, memang.

Namun Jakarta adalah kota besar.

Sangat besar.

Peluang mereka untuk bertemu lagi seharusnya kecil.

Sangat kecil.

Dan Almira memilih mempercayai kemungkinan itu.

Mobil hitam miliknya melaju membelah jalan tol menuju Jakarta.

Dari balik jendela, gedung-gedung tinggi mulai terlihat semakin jelas.

Kota yang tidak pernah benar-benar tidur itu menyambutnya kembali.

Begitu tiba di apartemen, Almira langsung menjatuhkan diri ke sofa.

Lelah.

Bukan hanya secara fisik.

Tetapi juga mental.

Tiga hari terakhir terasa seperti tiga minggu.

Ponselnya bergetar.

Nama Nadia muncul.

Almira mempertimbangkan untuk mengabaikannya.

Namun akhirnya mengangkat juga.

"Aku pulang."

"Bagus."

"Jadi kapan aku bertemu calon suamimu?"

Almira langsung menutup telepon.

Tanpa peringatan.

Tanpa penjelasan.

Di tempat lain, Reynard baru saja tiba di penthouse miliknya.

Ia meletakkan koper di dekat pintu.

Melepaskan jas.

Lalu berjalan menuju balkon.

Jakarta tampak indah dari ketinggian.

Namun pikirannya sedang sibuk.

Bukan karena summit.

Bukan karena proyek bisnis.

Melainkan karena satu fakta sederhana yang mulai mengganggunya.

Ia dan Almira ternyata bisa bekerja sama.

Dan itu terasa aneh.

Sangat aneh.

Karena selama beberapa hari terakhir ia selalu menganggap wanita itu sebagai lawan.

Seseorang yang menyebalkan.

Keras kepala.

Dan terlalu suka membantah.

Namun ketika mereka bekerja dalam satu tim, semuanya justru berjalan sangat baik.

"Menyebalkan."

Ia menggeleng pelan.

Karena kenyataan itu membuatnya sulit membenci Almira sepenuhnya.

Keesokan harinya, kehidupan kembali berjalan normal.

Setidaknya di permukaan.

Almira kembali ke kantor pusat Valencia Group.

Sebuah gedung megah yang berdiri di kawasan bisnis Jakarta Selatan.

Begitu memasuki ruang rapat utama, seluruh jajaran direksi sudah menunggu.

"Selamat pagi, Bu Almira."

"Pagi."

Pertemuan segera dimulai.

Mereka membahas berbagai hal.

Investasi.

Proyek baru.

Laporan kuartal.

Kerja sama internasional.

Semuanya berjalan seperti biasa.

Sampai salah satu direktur membuka topik baru.

"Ngomong-ngomong soal ekspansi, kita menerima proposal kerja sama yang cukup menarik."

Almira mengangguk.

"Dari siapa?"

Direktur tersebut membalik beberapa halaman.

Lalu menjawab,

"Mahardika Holdings."

Pulpen di tangan Almira berhenti bergerak.

"Maaf?"

"Mahardika Holdings."

Almira langsung menatap layar presentasi.

Di sana terpampang logo perusahaan yang sangat familiar.

Perusahaan milik keluarga Reynard.

"Tidak."

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, Reynard juga sedang menghadiri rapat direksi di Mahardika Holdings.

Arman Mahardika duduk di ujung meja.

Sebagai pendiri perusahaan, wibawanya masih sangat terasa meskipun kini sebagian besar operasional telah diserahkan kepada Reynard.

"Agenda berikutnya," kata salah satu direktur.

"Laporan peluang kerja sama baru."

Reynard mengangguk.

Silakan.

Layar presentasi berubah.

Logo baru muncul.

Dan Reynard langsung mengenalinya.

Valencia Group.

Ia menutup mata selama dua detik.

Dua detik yang penuh penderitaan.

"Kenapa mereka?"

Direktur itu terlihat heran.

"Karena secara bisnis sangat menguntungkan."

Arman yang duduk di ujung meja menyembunyikan senyum di balik cangkir kopinya.

Malam harinya, grup rahasia yang tidak seharusnya ada kembali aktif.

PROYEK MASA DEPAN

Gilang:

"Tahap kedua dimulai."

Arman:

"Laporan?"

Gilang:

"Valencia Group menerima proposal."

Vania:

"Mahardika Holdings juga."

Raina:

"Aku mulai merasa bersalah."

Arman:

"Jangan."

Gilang:

"Belum saatnya."

Vania:

"Mereka akan marah kalau tahu."

Arman:

"Makanya jangan sampai tahu."

Keempatnya tertawa sendiri.

Sementara itu, dua korban utama mereka sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Dua hari kemudian.

Almira sedang menikmati makan siang di kantornya ketika sekretarisnya masuk.

"Bu Almira."

"Ya?"

"Ada perubahan jadwal."

"Apa lagi?"

Sekretaris itu terlihat ragu.

"Pertemuan kerja sama dipercepat."

Almira menghela napas.

"Baik."

"Besok pagi."

"Baik."

"Dan pihak Mahardika Holdings akan mengirimkan perwakilan utama."

Almira membeku. Perasaannya mulai mencium hal yang tidak mengenakkan

Perlahan ia mengangkat kepala.

"Siapa?"

Sekretaris itu membaca dokumen.

"Pak Reynard Mahardika."

Almira menatap langit-langit.

Mencari kesabaran.

Dan tidak menemukannya.

Di sisi lain kota, Reynard menerima informasi yang sama.

"Besok?"

"Ya, Pak."

"Siapa yang hadir dari Valencia Group?"

"Asisten mereka bilang Bu Almira akan memimpin langsung rapat."

Hening.

Sangat hening.

Asistennya mulai khawatir.

"Pak?"

Reynard mengusap wajahnya.

"Tidak apa-apa."

"Yakin?"

"Tidak."

Malam itu, Almira dan Reynard sama-sama mengalami masalah yang sama.

Mereka tidak bisa berhenti memikirkan rapat esok hari.

Bukan karena kerja samanya.

Melainkan karena orang yang akan mereka temui.

Dan hal itu cukup mengganggu.

Keesokan paginya.

Gedung Valencia Group terlihat sibuk seperti biasa.

Para karyawan berlalu-lalang.

Lift naik turun.

Suasana profesional memenuhi setiap sudut bangunan.

Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi.

Reynard turun.

Mengenakan setelan jas abu-abu gelap.

Profesional.

Tenang.

Dan terlihat sangat siap.

Padahal sebenarnya tidak.

Di lantai dua puluh lima, Almira berdiri di depan jendela ruang rapat.

Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah pertemuan bisnis biasa.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Ketukan pintu terdengar.

"Bu Almira."

"Ya?"

"Mereka sudah datang."

Almira menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu berbalik.

"Oke."

Beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka.

Dan untuk pertama kalinya sejak summit berakhir, Almira dan Reynard kembali bertemu.

Tidak ada ballroom.

Tidak ada media.

Tidak ada fotografer.

Hanya ruang rapat.

Dan meja panjang di tengah ruangan.

Mereka saling menatap selama beberapa detik.

Lalu Reynard berbicara lebih dulu.

"Kita harus berhenti bertemu seperti ini."

Almira langsung menjawab,

"Aku sudah mengatakan itu minggu lalu."

Salah satu direktur Valencia Group tampak bingung.

Direktur Mahardika Holdings juga.

Mereka tidak mengerti kenapa kedua pewaris perusahaan terbesar itu terdengar seperti dua orang yang sudah kelelahan menghadapi satu sama lain.

Rapat dimulai.

Awalnya berjalan profesional.

Sangat profesional.

Mereka membahas angka.

Strategi.

Investasi.

Peluang pasar.

Namun perlahan sesuatu yang menarik terjadi.

Sama seperti saat program kolaborasi.

Mereka mulai saling melengkapi.

Ketika Almira menemukan kelemahan suatu rencana, Reynard menawarkan solusi.

Ketika Reynard mengusulkan peluang baru, Almira menyempurnakannya.

Beberapa direktur mulai saling melirik.

Karena chemistry kerja mereka terlalu baik.

Terlalu sinkron.

Terlalu alami.

Dan itu membuat beberapa orang tersenyum diam-diam.

Satu jam kemudian, rapat selesai.

Kerja sama masih dalam tahap pembahasan.

Namun hasil awal terlihat sangat menjanjikan.

Ketika para direktur mulai meninggalkan ruangan, hanya Almira dan Reynard yang tertinggal beberapa saat.

"Kebetulan lagi?" tanya Almira.

Reynard menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku sudah berhenti percaya pada kebetulan."

"Bagus."

"Karena aku juga."

Keduanya terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka memiliki musuh yang sama.

Bukan satu sama lain.

Melainkan seseorang yang terus mempertemukan mereka.

Masalahnya...

Mereka belum tahu siapa pelakunya.

Dan jauh di tempat lain, empat orang tua sedang tersenyum puas sambil membaca laporan perkembangan terbaru.

Karena rencana mereka berjalan jauh lebih baik daripada yang mereka harapkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!