Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saintess Datang Membawa Roti dan Masalah
Kalau ada buku panduan menjadi villainess yang selamat dari eksekusi, aku yakin bab pertamanya berbunyi: jangan pernah percaya dokumen yang ditemukan tengah malam.
Sayangnya, hidupku sejak masuk ke tubuh Lady Evangeline Arvella tidak pernah mengikuti buku panduan mana pun. Setelah selamat dari eksekusi, aku malah menemukan bahwa nasib buruk memiliki bakat administrasi yang luar biasa. Ia menyimpan stempel, menulis daftar nama, dan mengirim fitnah tepat waktu.
Pagi itu, halaman kastel Northmere saat acara amal gereja terasa lebih sibuk daripada pasar sebelum hari raya. Penyebabnya sederhana tetapi cukup untuk membuat darahku dingin: Seraphina tiba dengan rombongan amal, keranjang roti, dan senyum yang terlalu terang untuk salju.
Jika dulu masalah terbesarku adalah bangun kesiangan dan lupa membalas pesan, sekarang aku harus menguji apakah amal gereja hanya panggung untuk memindahkan bukti. Evolusi hidupku terlalu agresif. Aku belum sempat menyesuaikan mental, tetapi kerajaan sudah menuntutku menjadi detektif, terdakwa, korban fitnah, sekaligus simbol mode gaun merah yang tidak pernah kusetujui.
Mira berdiri di sampingku dengan wajah serius. Karena wajah serius Mira biasanya muncul sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak serius, aku menyiapkan kesabaran.
“Nona,” katanya, “menurut hamba, inti masalah kita adalah orang-orang di kerajaan ini kurang takut pada Nona.”
“Mira, aku baru saja hampir dieksekusi. Menurutmu itu tanda mereka kurang takut?”
“Betul. Kalau mereka cukup takut, mereka tidak akan berani menjebak Nona. Mereka akan memilih menjebak kursi, vas bunga, atau pangeran yang tidak pandai meminta maaf.”
Aku ingin membantah, tetapi setelah memikirkan perjalanan hidupku selama beberapa minggu terakhir, logika Mira yang bengkok itu mulai terdengar seperti strategi politik tingkat lanjut. Ini menakutkan.
Cassian, yang sejak tadi berdiri dekat jendela, membaca bukti dengan wajah datar. rosario Seraphina menyimpan kompartemen kecil berisi bubuk lili pucat terletak di atas meja seperti benda kecil yang sangat ingin membuat kami semua meninggal sebelum makan siang.
“Apa pendapat Anda?” tanyaku.
Cassian tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir teh, menyesap pelan, lalu berkata, “Seseorang ingin mengganti peran.”
“Peran?”
“Awalnya Anda ditulis sebagai penjahat. Sekarang mereka mencoba menulis saya.”
Aku menatapnya. “Anda mengatakannya seolah kita sedang membahas pemeran drama sekolah.”
“Bedanya, drama sekolah jarang memakai racun, meterai palsu, dan dewan istana.”
“Sekolah saya dulu pernah memakai racun verbal saat rapat OSIS.”
Cassian menatapku sebentar. “Saya tidak akan bertanya.”
“Keputusan yang bijak.”
Namun, lelucon kecil itu tidak menghapus fakta bahwa Seraphina dan pelayan-pelayan gereja yang terlatih menangis sesuai aba-aba sedang berdiri di tengah permainan yang lebih besar. Aku mulai menyadari pola yang sama seperti saat aku dijebak: bukti muncul terlalu rapi, saksi datang terlalu cepat, dan orang-orang penting bersikap seolah keputusan sudah dibuat sebelum pertanyaan diajukan.
Dalam novel asli, pembaca hanya melihat Evangeline mati sebagai penjahat bodoh. Tidak ada yang bertanya siapa yang menaruh racun, siapa yang mengatur saksi, atau siapa yang diuntungkan dari kematiannya. Mungkin karena novel itu ditulis dari sisi Seraphina, dan dalam dunia Seraphina, semua orang yang menghalanginya otomatis pantas disingkirkan.
Masalahnya, sekarang aku hidup di halaman yang dulu tidak pernah dibaca. Dan halaman itu penuh noda tinta, darah, dan orang-orang yang tersenyum terlalu lembut.
“Kita butuh strategi,” kataku.
“Kita punya strategi,” jawab Cassian. “Jangan mati.”
“Itu tujuan, bukan strategi.”
“Untuk Anda, kadang keduanya sama.”
Mira mengangguk penuh simpati. “Nona memang sangat berbakat mendekati kematian dengan elegan.”
“Aku merasa dihina oleh dua orang yang seharusnya berada di pihakku.”
“Kami berada di pihak Anda,” kata Cassian. “Itulah sebabnya kami jujur.”
Kejujuran adalah hal yang bagus. Sayangnya, di mulut Duke Utara, kejujuran terasa seperti selimut dingin yang dilemparkan ke wajah.
Untuk memecahkan masalah, kami membagi tugas. Cassian akan memeriksa jalur dokumen dan meterai. Adrian mengawasi tahanan dan pengawal. Mira, dengan kebanggaan berlebihan, menawarkan metode yang menurutnya paling efektif: Mira hampir adu pidato dengan kepala pelayan gereja soal standar roti belas kasih.
Aku menatapnya lama. “Mira, sejak kapan sendok menjadi alat investigasi?”
“Sejak pedang terlalu mencolok, Nona. Tidak ada yang mencurigai sendok. Itulah kelebihannya.”
“Kelebihan sendok adalah untuk makan sup.”
“Sup juga bisa menjadi sumber informasi jika pelayan yang menuangnya banyak bicara.”
Aku membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya kembali. Lagi-lagi, kalimat Mira tidak sepenuhnya salah. Dunia benar-benar semakin aneh.
Di tengah pembicaraan itu, Lucien mulai memperhatikan bahwa Seraphina memilih kata-kata seperti orang memilih pisau.
Ada masa ketika Evangeline asli mungkin akan memanfaatkan perhatian sekecil apa pun dari pria-pria berkuasa untuk merasa menang. Aku berbeda. Setiap kali Cassian atau Lucien menunjukkan tanda kepedulian, aku justru ingin memeriksa apakah itu bagian dari kutukan baru. Cinta dalam novel kerajaan tidak pernah datang sendirian. Biasanya ia membawa pengkhianatan, duel, dan minimal satu surat rahasia berlumur lilin merah.
“Anda sedang memikirkan sesuatu yang buruk,” kata Cassian.
“Saya selalu memikirkan sesuatu yang buruk. Itu mekanisme bertahan hidup.”
“Bagus. Pertahankan.”
“Duke North, apakah Anda pernah memberi semangat dengan cara normal?”
“Tidak jika cara tidak normal lebih efektif.”
Mira berbisik, “Nona, apakah ini romantis?”
“Tidak. Ini rapat krisis dengan aroma teh.”
“Tapi Duke menatap Nona cukup lama.”
“Mungkin dia sedang menghitung risiko aku membuat masalah baru.”
“Itu perhatian.”
Aku menyerah berdebat dengan pelayan yang menganggap ancaman sebagai bentuk kasih sayang.
Sebelum keputusan apa pun diambil, aku meminta semua bukti disusun di meja. Bukan karena aku tiba-tiba ahli investigasi, tetapi karena jika hidupku harus dipertaruhkan, setidaknya aku ingin melihat daftar benda yang mencoba membunuhku dengan rapi.
Di sebelah kiri, ada rosario Seraphina menyimpan kompartemen kecil berisi bubuk lili pucat. Di sebelah kanan, ada catatan-catatan kecil yang dikumpulkan Mira dari dapur, lorong pelayan, dan percakapan orang-orang yang mengira pelayan hanya furnitur bergerak. Di tengah meja, ada secangkir teh Cassian yang tetap berdiri anggun seperti bangsawan paling tidak berguna dalam keadaan darurat.
“Apakah teh itu juga bukti?” tanyaku.
Cassian melihat cangkirnya. “Ini saksi.”
“Saksi apa?”
“Saksi bahwa saya belum kehilangan kesabaran.”
Mira mengangguk seolah kalimat itu mengandung kebijaksanaan kuno. “Duke North benar, Nona. Kalau beliau berhenti minum teh, berarti bencana sudah naik level.”
Aku menulis satu catatan mental baru: jangan pernah mengukur tingkat bahaya berdasarkan cuaca, jumlah prajurit, atau racun. Ukurlah berdasarkan frekuensi Duke Utara menghabiskan teh.
Adrian datang membawa laporan penjagaan. Ia meletakkan gulungan kecil di meja dengan wajah tidak senang. Wajah Adrian memang jarang senang, tetapi hari ini ketidaksenangannya memiliki lapisan tambahan, seperti kue lapis rasa ancaman.
“Ada pergerakan kurir dari arah ibu kota,” katanya. “Mereka tidak memakai lambang gereja, tetapi rutenya sama dengan kurir Seraphina.”
“Jadi mereka berpakaian netral agar terlihat tidak memihak,” kataku.
“Atau agar jika tertangkap, semua pihak bisa pura-pura tidak mengenal mereka.”
“Ah, strategi klasik pengecut bersertifikat.”
Mira menulis sesuatu di kertasnya. Aku melirik. Ia menulis: pengecut bersertifikat = musuh resmi Nona. Aku tidak tahu apakah harus bangga atau khawatir karena daftar administrasi Mira makin profesional.
Dari semua kekacauan itu, satu hal menjadi jelas: musuh kami tidak bergerak asal-asalan. Mereka mengatur rumor, bukti, saksi, dan simbol seperti sutradara drama yang terlalu terobsesi pada akhir tragis. Bedanya, kali ini pemeran utama perempuan sudah membaca pola mereka dan sangat tidak berminat mati demi kepuasan naskah buruk.
“Mereka ingin kita bereaksi,” kataku. “Kalau kita panik, mereka menang. Kalau kita menyerang terlalu cepat, mereka juga menang.”
Cassian menatapku lama. “Lalu?”
Aku menyentuh kartu di meja dengan ujung jari. “Kalau mereka ingin panggung, kita berikan panggung. Tapi lampunya kita arahkan ke mereka.”
Mira menatapku dengan mata berbinar. “Nona terdengar sangat jahat.”
“Terima kasih.”
“Itu pujian.”
“Aku tahu.”
Hari bergerak seperti kuda yang tahu kandangnya terbakar. Terlalu cepat, terlalu ribut, dan tidak ada yang benar-benar bisa mengendalikannya. Informasi datang dari berbagai arah: surat, bisikan pelayan, catatan kecil, dan tatapan orang-orang yang tiba-tiba berubah begitu mendengar namaku. Dulu nama Evangeline membuat orang mundur karena takut. Sekarang mereka mundur karena bingung apakah harus takut, hormat, atau meminta bantuan.
Aku tidak menyalahkan mereka. Aku sendiri juga bingung dengan reputasiku.
Yang jelas, sejak aku membalikkan sidang pertama, dunia tidak lagi memperlakukanku seperti korban yang menunggu giliran. Dunia mulai memperlakukanku seperti variabel yang mengganggu perhitungan. Dan dalam politik istana, variabel yang mengganggu biasanya akan dihapus.
Menjelang sore, kami menemukan pola. Semua fitnah selalu memakai tiga simbol: gagak, bunga lili, dan meterai kerajaan. Gagak mewakili Ordo Gagak Mahkota. Bunga lili melekat pada citra suci Seraphina. Meterai kerajaan digunakan agar kebohongan tampak sah. Tiga hal itu disatukan untuk membuat siapa pun yang melawan tampak sebagai pengkhianat.
“Mereka tidak hanya ingin membunuh orang,” kataku. “Mereka ingin menulis sejarah.”
Cassian mengangguk pelan. “Dan Anda merusak kalimat pertama mereka.”
Aku tersenyum. “Saya memang suka menyunting naskah buruk.”
Mira mengangkat tangan. “Hamba bisa membantu memberi judul baru: Kisah Orang-Orang Suci yang Ternyata Sangat Tidak Suci.”
“Terlalu panjang.”
“Baik. Judul pendek: Semua Bohong.”
“Itu lebih baik.”
Ketika aku mulai merasa kami mendapat pijakan, pintu terbuka. Edmund masuk dengan langkah tenang. Kepala pelayan Northmere itu membawa sebuah baki, tetapi bukan teh atau makanan. Di atasnya ada amplop hitam dengan segel lilin emas.
“Untuk Lady Evangeline,” katanya.
Aku mengambil amplop itu. Segelnya bergambar burung gagak dengan mata emas. Tanganku tiba-tiba terasa dingin. Tubuh Evangeline mengenali simbol itu sebelum pikiranku sempat menyusul.
Cassian langsung berdiri lebih dekat. Mira berhenti bernapas dengan cara yang sangat teatrikal.
Aku membuka amplop perlahan. Di dalamnya hanya ada satu kartu kecil. Tulisannya rapi, indah, dan mengerikan.
**bubuk itu bereaksi pada kontrak Cassian dan membentuk pola gagak.**
Untuk beberapa detik, tidak ada suara di ruangan itu kecuali detak jam dan napasku sendiri.
Lalu aku tertawa pelan.
Bukan karena lucu. Bukan juga karena aku tidak takut. Aku tertawa karena akhirnya memahami sesuatu: orang-orang ini mengira mereka bisa terus menulis akhir hidup orang lain.
Sayangnya bagi mereka, aku sudah cukup sering membaca novel buruk untuk tahu cara merusak ending.
“Baiklah,” kataku, menurunkan kartu itu ke meja. “Kalau mereka ingin bab baru, kita beri mereka bab baru.”
Cassian menatapku. “Rencana?”
Aku tersenyum dengan wajah Evangeline yang dulu membuat istana gemetar.
“Kita buat penulisnya keluar dari persembunyian.”