NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wasiat Papa

Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat Urumqi, memancarkan rona keemasan yang hangat di atas Distrik Shuimogou. Angin pegunungan yang sejuk mulai turun, membawa kesegaran di tengah hiruk-pikuk kota oasis ini.

Perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Shuimogou dimulai dengan membelah pusat distrik yang hidup. Di kanan dan kiri jalan, aroma khas Xinjiang mulai tercium dari kedai-kedai lokal yang bersiap menghadapi makan malam—wangi daging domba panggang dan roti naan yang baru matang berpadu dengan aroma teh rempah.

Wita dan Aldo berada satu mobil dengan Bibi Mika dan Paman Batyr, yang sudah pulang dari kantor.

"Maaf ya, kalian ke sini niatnya berlibur, malah harus bertemu nenek yang sedang sakit." Suara Paman memecah keheningan di dalam mobil.

"Tidak masalah, Paman. Wita yang minta maaf, setelah lulus dari Guangzhou, malah belum bisa merawat dan menemani Oma dan Opa." ujar Wita dengan ekspresi sedih yang kentara.

Aldo mengelus punggung tangan Wita lembut. Berusaha menenangkan hatinya yang gundah.

"No problem, Wita. Opa dan Oma juga sudah cukup lama hidup bersamamu di Guangzhou. Sekarang memang giliran kami yang merawatnya," ucap Bibi Mika sambil tersenyum ke arah Wita.

Semakin mendekati kompleks rumah sakit, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang dan teratur. Rumah Sakit Umum Shuimogou akhirnya menyambut di ujung jalan, berdiri kokoh sebagai simbol rasa aman di tengah kedamaian sore yang merayap turun di ibu kota Xinjiang ini.

Berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit, Wita mengeratkan pegangan tangannya di lengan Aldo.

Entah kenapa, semakin dekat langkahnya dengan Nenek yang merawatnya, semakin berdegup kencang detak jantungnya.

Melewati beberapa lorong, sampailah mereka di depan kamar Oma. Dengan tidak sabar, Wita menerobos pintu, masuk ke kamar tempat Oma dirawat.

Langkahnya terhenti, beberapa dokter dan tenaga medis sedang mengelilingi Oma. Tubuh Wita mendadak oleng ke samping, beruntung ditangkap Aldo dengan cepat.

Dilnur melangkah mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu. Wajah Bibi Mika menegang, lalu bergetar diiringi isak tangis kecemasan. Suaminya segera merangkul bahunya memberikan sandaran.

"Pasien sempat mengalami kolaps kardiovaskular. Kami sudah melakukan tindakan ACLS yang diperlukan pasien. Pastikan pasien istirahat dengan tenang, jangan terlalu banyak yang berkunjung." Dokter yang merawat nenek Wita menjelaskan pada Bibi Mika situasi yang baru saja terjadi.

Setelah kepergian dokter dan tenaga medis lainnya, semua ikut keluar, kecuali Wita dan Bibi Mika. Mereka menjaga nenek yang masih tertidur dengan tenang.

"Wita, maaf ya. Bibi sudah berusaha menjaga dan merawat Oma. Tapi bagaimana lagi, kondisi Oma terus memburuk semenjak kepergian Opa." Air mata Bibi Mika tidak bisa dibendung lagi.

Wita memeluknya erat, "Aku tahu pengorbanan dan perjuangan, Bibi."

"Mika ..." suara lemah Nenek terdengar, "Aku mencium aroma Chandra," lanjutnya.

Bergegas Mika dan Wita mendatangi Nenek.

"Mama, sudah siuman? Apa mama sudah merasa lebih baik?" tanya Bibi cemas.

"Aku mencium aroma Chandra ..." pandangan Oma sudah mengabur. Tidak bisa melihat jelas, benda dengan jarak jauh.

Mika memanggil Wita untuk mendekat.

"Oma ..." suara Wita tercekat di tenggorokan

Wajah tua itu beralih memandang suara yang memanggilnya, "Ah cucu pertamaku, akhirnya kamu datang juga," ujar Nenek sambil membelai wajah Wita.

Wita tersenyum, berusaha menahan air mata yang bisa tumpah kapanpun.

"Iya, Oma. Maaf Wita terlambat mengetahui kondisi Oma."

"Tidak apa-apa. Belum terlambat. Oma bahagia masih sempat bertemu denganmu sebelum pergi."

"Oma pasti sembuh, kita akan upayakan Oma sehat kembali ..." hibur Wita, meski tahu itu hampa.

Tangan Oma terangkat, dibelainya lembut kepala Wita. Ada butiran bening mengalir di sudut mata tuanya.

"Aku sudah menjagamu, sesuai permintaan Chandra sebelum dia pergi. Aku sudah selesai, Nak." Tatap mata Oma makin memburam dipenuhi genangan air mata.

"Mana suamimu Wita?" tanya Oma lirih.

Mika bergegas keluar kamar memanggil anggota keluarganya.

Tergesa mereka memasuki kamar Nenek. Suasana menyedihkan melingkupi ruangan itu.

Aldo bergegas menghampiri Oma, setelah diberi isyarat Mika untuk mendekat kepada Oma.

"Oma, saya Aldo, suami Wita." ujar Aldo lembut.

Digenggamnya tangan renta Oma.

Perlahan Oma mengalihkan pandangan kepada Aldo,

"Anak baik. Oma sudah tidak ada beban lagi untuk Wita. Nak, jaga baik-baik cucu Oma, bahagiakan dia, ya ..." pinta Oma sambil menggenggam erat jemari Aldo.

Aldo mengangguk sambil tersenyum.

"Mika ... wasiat Chandra ... uhuk ... uhuk ..." Oma terbatuk-batuk hingga napasnya terengah-engah.

"Oma, istirahat saja dulu. Nanti kita bicara lagi," saran Wita sambil mengelus dada Omanya dengan penuh kasih sayang.

Tangan Oma melambai, mengisyaratkan Mika untuk mendekat. Dengan napas terengah, Oma berkata, "Surat wasiat Chandra ... untuk Wita ... uhuk ... uhuk ..." batuk Oma makin menghebat, napasnya sudah putus-putus.

Genggaman tangannya mengerat pada Mika dan Wita.

"Panggilkan dokter, cepat!" teriak Wita panik.

Dilnur dan Batyr berlari keluar ruangan mencari pertolongan dokter.

Dokter dan tenaga medis lainnya berupaya melakukan tindakan penyelamatan untuk Oma. Namun .... tiiiit ... monitor EKG telah menunjukkan detak jantung Oma sudah terhenti.

"Mama ..." Mika histeris di pelukan suaminya.

Dokter menyatakan pasien sudah meninggal pada pukul 18.00 waktu setempat.

Tubuh Wita meluruh ke bawah, dan segera ditangkap oleh Aldo.

_______

Mata Wita terbuka perlahan, bau alkohol menyengat hidungnya. Netranya mengedar ke seluruh ruangan.

Saat mencoba bangkit, kepalanya berdenyut. Dibaringkannya lagi tubuhnya di atas ranjang. Tangannya memijat kepalanya berusaha menghilangkan denyutan yang mencengkeram.

Terdengar suara pintu terbuka, "Kamu sudah siuman? Maaf, aku ke toliet sebentar tadi."

Wita menoleh ke asal suara, Aldo. Suaminya itu berjalan cepat menghampirinya.

"Kamu kecapekan, tadi sempat pingsan. Istirahat saja dulu," ujar Aldo sambil merapikan selimut yang menutup tubuh Wita.

Wita menatap suaminya, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Oma!" serunya seketika bangkit dari tidur.

"Wita, tenang dulu!" tatapan Aldo dalam dan serius.

Untuk kali pertama, Wita tidak bisa melawan mata Aldo. Dia mengendur.

"Oma sudah tiada. Aku yakin, kamu juga sudah tau itu hanya dengan melihat kondisinya. Jadi, tenang dulu." Aldo duduk di tepi ranjang, memegang bahu Wita dan menidurkan kembali di atas ranjang.

Wita menurut. Air mata menganak sungai di sudut matanya. Aldo menatapnya dalam diam.

"Keluarga Bibi Mika sedang mengurus jenazahnya. Kita tunggu di sini dulu. Nanti kalau sudah selesai prosesnya, dan kamu sudah lebih baik, baru kita ikut mereka pulang." Aldo menghapus air mata Wita, berusaha menenangkan istrinya yang sedang shock.

Pintu diketuk, perlahan terbuka dan langkah suara kaki terdengar memasuki ruangan.

"Kak, sudah lebih baik?" Dilnur bertanya kepada Wita.

Wita bangkit perlahan dan mengangguk.

"Kita pulang sekarang, Kakak kuat?"

Wita mengangguk dan bergerak menuruni brankar.

Aldo membantu Wita berjalan mengikuti Dilnur.

Suara ambulance membelah jalanan distrik Shuimogou malam itu, menuju rumah keluarga Batyr.

________

Dua hari setelah proses pemakaman Oma. Mika masih menerima beberapa tamu yang berbela sungkawa ke rumahnya.

Sedangkan Wita belum bersedia keluar kamar. Dia mengistirahatkan tubuhnya di kamar Oma. Dia berusaha memeluk Oma nya melalui barang-barang dan aroma yang ditinggalkan di ruangan itu.

Pintu diketuk dari luar. "Wita, Bibi ada perlu sama kamu. Bibi masuk, ya," suara Mika dari luar ruangan terdengar memanggilnya.

Wita bangkit perlahan, dibukanya pintu. Mika trenyuh melihat kondisi Wita yang benar-benar kacau. Dipeluknya erat anak kakaknya itu, dan dituntunnya menuju ranjang.

"Ikhlaskan, sayang. Mereka, Opa, Oma dan papamu sudah berkumpul di sana. Kita di sini masih harus berjuang," hibur Mika sambil membelai punggung Wita.

Wita tersenyum dan mengangguk. "Maaf ya, Bi. Aku malah merepotkan Bibi."

"Tidak apa-apa. Bibi paham. Cuma, ada yang harus bibi sampaikan padamu."

Wita menoleh, menatap Bibinya serius.

"Papamu meninggalkan Surat Wasiat."

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!