Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Eksekusi Tanpa Ampun
Hira melangkah santai menuju kursi utama di ujung meja oval. Kursi berlapis kulit tebal yang biasanya hanya diduduki oleh Anita saat rapat direksi.
Hira menarik kursi itu dan duduk dengan gerakan anggun. Ia menyilangkan kakinya, menempatkan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap dua orang yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
"Kenapa kalian masih berdiri?" tanya Hira dengan nada suara yang sangat tenang. "Duduklah. Bukankah kalian sedang sibuk menyamakan cerita untuk menyelamatkan diri?"
Reza dan Anita tidak bergerak sedikit pun. Mata mereka bergantian menatap Hira, lalu menoleh ke arah Teran yang berdiri bersandar pada dinding kaca. CEO pusat itu hanya melipat tangannya di depan dada, sama sekali tidak berniat ikut campur.
Anita menelan ludah dengan susah payah. Wanita itu mencoba menegakkan tubuhnya, memaksakan sisa-sisa arogansinya untuk keluar.
"Pak Teran," suara Anita terdengar bergetar namun ia berusaha keras menutupinya. "Saya bisa jelaskan semuanya. Data yang ada di ruang master itu tidak akurat. Ada kesalahan sistem yang membuat aliran dana seolah-olah masuk ke perusahaan fiktif."
Hira tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat jernih di ruangan kedap suara itu.
"Kesalahan sistem?" Hira mengulang kata-kata Anita. Ia memiringkan kepalanya menatap mantan atasannya itu. "Tiga tahun berturut-turut, sistem kita secara tidak sengaja mengirimkan miliaran rupiah setiap bulan ke rekening PT. Gemilang Solusi Bersama. Begitu maksud Ibu?"
Wajah Anita seketika memucat. Matanya membelalak sempurna saat nama perusahaan itu meluncur dengan santai dari bibir Hira.
Reza yang berdiri di sebelah Anita langsung kehilangan tenaga di kedua kakinya. Pria itu jatuh terduduk di kursi terdekat. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.
{Lihat mereka. Hanya dengan menyebutkan satu nama, pertahanan mereka langsung hancur berkeping-keping.}
Suara alter ego Hira terdengar sangat puas. Ia menikmati setiap detik kepanikan yang terpancar dari wajah kedua pengkhianat ini.
"D-dari mana kamu tahu nama perusahaan itu?!" desis Anita tajam. Ia menunjuk wajah Hira dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kamu meretas datanya! Pak Teran, dia memanipulasi data untuk menjatuhkan saya!"
Teran sama sekali tidak merespon. Pria itu bahkan tidak repot-repot menatap Anita.
Hira menurunkan tangannya dari atas meja. Ia menatap lurus ke mata Anita.
"Saya tidak perlu memanipulasi apa pun, Anita. Jejak kebodohan kalian terlalu besar untuk disembunyikan," ucap Hira dengan suara tegas. "Dan yang paling membuat saya kagum adalah pilihan komisaris utama untuk perusahaan cangkang tersebut."
Hira memutar kepalanya pelan, memindahkan tatapannya ke arah pria yang sedang duduk gemetar di kursi.
"Bagaimana rasanya menjadi miliarder bayangan, Reza?" tanya Hira dengan nada mengejek.
Reza menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pria itu menatap Hira dengan mata merah yang dipenuhi ketakutan absolut.
"Hira, sumpah, aku tidak tahu apa-apa!" Reza mengangkat kedua tangannya dengan panik. "Anita yang memintaku menyerahkan KTP-ku! Dia bilang itu hanya untuk syarat administrasi pembukaan cabang baru! Aku tidak pernah menyentuh uang itu sepeser pun!"
Anita langsung menoleh ke arah Reza. Rahang direktur wanita itu mengeras.
"Tutup mulutmu, pria bodoh!" bentak Anita dengan suara melengking. "Kamu ikut menikmati fasilitasnya! Kamu pikir uang dari mana yang kupakai untuk membelikanmu jam tangan mewah dan menyewakan apartemen rahasia untuk kita berdua?!"
"Tapi aku tidak tahu kalau uang itu hasil korupsi dari cabang ini!" balas Reza tidak kalah keras. Pria itu berdiri dari kursinya, menunjuk wajah Anita dengan penuh amarah. "Kamu menjebakku! Kamu menjadikan namaku sebagai tameng agar kalau terjadi apa-apa, aku yang akan disalahkan!"
"Kamu pria pengecut yang tidak tahu diuntung!" teriak Anita. Wanita itu melangkah maju dan mendorong dada Reza dengan kasar.
Hira menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menopang dagu dengan jari telunjuknya, menonton pertengkaran dua kekasih gelap itu dengan senyum miring yang sangat lebar.
{Menyenangkan sekali. Tikus-tikus ini akhirnya saling menggigit leher satu sama lain demi bertahan hidup.}
Di dalam hatinya yang paling dalam, sisa-sisa perasaan Hira yang asli benar-benar mati rasa. Pria yang dulu berjanji melindunginya, ternyata pria yang sama yang rela menjual namanya sendiri demi kemewahan dari wanita lain.
Hira mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Ia meletakkannya di atas meja, membiarkan layar ponsel itu menyala dan menampilkan sebuah gambar.
[Gambar: Foto Reza dan Anita berciuman di atas sofa ruang direktur.]
"Kalian terlihat jauh lebih serasi saat berada di atas sofa itu semalam," potong Hira dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
Pertengkaran Reza dan Anita langsung berhenti. Mereka berdua menoleh dan menatap layar ponsel di atas meja tersebut.
Napas Anita tertahan di tenggorokan. Kakinya melangkah mundur perlahan.
"I-itu..." Anita tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
"Bukti aliran dana kalian sudah ada di saku jas Pak Teran sekarang," Hira memberikan pukulan terakhirnya dengan sangat tenang. "Tim legal pusat akan membekukan seluruh aset pribadi kalian malam ini. Semua rekening. Semua properti. Mobil mewah. Semuanya."
Reza kembali jatuh terduduk di kursinya. Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mulai menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
"Hira... kumohon..." suara Reza terdengar redam dari balik telapak tangannya. "Bantu aku. Bicaralah pada Pak Teran. Aku suamimu, Hira. Aku akan menceraikannya, aku akan melakukan apa saja untukmu. Tolong jangan biarkan aku dipenjara."
Hira menatap pria yang menangis di hadapannya itu tanpa sedikit pun rasa kasihan.
"Kau bukan lagi suamiku, Reza," balas Hira pelan namun suaranya sangat tajam. "Surat cerai akan sampai ke tanganmu saat kau berada di dalam sel tahanan nanti."
Hira berdiri dari kursinya. Ia merapikan pakaiannya dengan gerakan elegan, lalu melirik ke arah pintu.
"Leo," panggil Hira dengan suara lantang.
Pintu kayu ruang rapat terbuka. Asisten berkacamata itu melangkah masuk, diikuti oleh empat orang petugas keamanan berseragam hitam berbadan tegap.
"Bawa mereka berdua keluar dari gedung ini sekarang juga. Jangan biarkan mereka membawa satu pun barang dari ruangan mereka selain pakaian yang menempel di badan," perintah Hira mutlak.
Petugas keamanan itu langsung bergerak cepat. Dua orang memegang lengan Anita, sementara dua lainnya menarik paksa tubuh Reza dari kursinya.
"Lepaskan saya! Saya ini Direktur Utama!" teriak Anita sambil meronta-ronta dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya yang sudah hancur lebur.
"Hira! Maafkan aku! Hira!" teriak Reza sambil diseret paksa menuju pintu keluar. Pria itu terus menangis dan meneriakkan nama istrinya.
Hira hanya berdiri diam, menatap kedua orang itu diseret keluar hingga suara teriakan mereka memudar di lorong lantai dua belas dan akhirnya menghilang di balik pintu lift.
Ruang rapat eksekutif itu kembali sunyi senyap.
Hira menarik napas panjang. Beban berat yang selama ini menekan dadanya seakan terangkat sepenuhnya. Eksekusi ini berjalan jauh lebih sempurna dari yang ia bayangkan.
Teran Honigan berjalan mendekati meja oval. Ketukan sepatu kulit pria itu memecah keheningan. Ia berhenti tepat di samping Hira.
"Pertunjukan yang sangat memuaskan, Hira Lione," ucap Teran. Suara rendah pria itu terdengar jelas. "Kamu benar-benar tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk mereka bernapas."
Hira memutar tubuhnya menghadap Teran. Matanya membalas tatapan tajam CEO tersebut.
"Saya hanya membersihkan sampah yang mengotori ruangan saya, Pak Teran," jawab Hira santai.
Teran mengangguk pelan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Senyum tipis yang penuh perhitungan terukir di wajah tegasnya.
"Satu cabang sudah bertekuk lutut di bawah kakimu hari ini," ucap Teran pelan, matanya menatap lurus menembus pertahanan Hira. "Tapi ini hanya kolam kecil untuk ikan-ikan bodoh."
Teran mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Hira.
"Apa kamu siap untuk panggung eksekusi yang lebih besar dari ini?"
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪