Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Akhirnya sampai juga ke tepian. Bima membangunkan gue, gak terasa cepat banget. sedangkan Manda dan Dimas masih di tengah danau arah ke sini.
"Maaf yah aku bangunin kamu, sebenarnya gak tega banguninnya." Sahut Bima.
"Gak apa-apa kok sayang, malah aku yang harusnya minta maaf, udah ketiduran." Jawab gue sambil mengucek mata.
"Lihat deh yang! Dimas sama Manda masih di tengah-tengah danau." Bima menunjuk ke arah Dimas dan Manda.
"Lagi kasmaran, he-he." Gue sambil tertawa.
"Emang kita gak? dasar!" Bima mengelus kepala gue.
"Bang kelapa ijo nya 2 yah!" Bima memesan kelapa ijo.
"Siap!" sahut karyawannya Dimas.
"Makasih ya sayang, udah di pesanin tanpa aku minta." gue tersenyum ke Bima.
"Iya dong Satria Bima, ha-ha-ha." Bima sambil memberi kelapa ijonya ke gue.
"Wah, wah, wah, romantis banget yang baru jadian, he-he-he." Gue meledek Dimas dan Manda.
"Romantisan kalian kali, kita mah kalah." Jawab Manda.
"Gak ada yang kalah, gak ada yang menang dalam cinta, semua punya citra cinta yang berbeda-beda, tergantung kita yang menjalankannya." Jawab Bima mengeluarkan kata-kata yang puitis.
"Tuh, dengerin apa kata Satria gue." Sahut gue sambil manatap Bima.
"Iya terima kasih Bro, dengerin tuh Neng!" Dimas menambahkan.
Gue dan Bima gak lama pulang, Bima mengantar gue. sedangkan Manda dengan Dimas. Dimas punya dua motor, satunya tidak di pakai, Dimas menyuruh Bima memakainya.
Sesampai di rumah, gue melihat Papah sedang tidak di rumah. Nyokap tersenyum melihat Bima yang begitu sopan. Dan Bima pun pamit pulang ke Nyokap dan gue, karena gak enak sudah terlalu sore.
"Dari mana aja sih sayang? senang banget kayanya." tanya Nyokap gue penasaran.
"Ih, Mamah kepo! hehe, bercanda Mah." Sahut gue meledek Nyokap.
"Iya, iya deh, lain yang lagi jatuh cinta." Nyokap balik meledek gue.
"He-he..." Gue tertawa.
"Tapi inget yah sayang, kamu juga harus fokus belajar!" Nyokap menasehati gue.
"Iya Mah, siap!" jawab gue semangat.
"Apa sayang? kamu di skors? semua karena Zahra? benar-benar deh!" Nyokapnya Tio marah dan kesal.
"Tapi Bun, jangan marahin Zahra! aku takut dia semakin jauh dari aku." Jawab Tio.
"Kamu mah Tio, kaya gak ada cewek lain aja deh! banyak cewek lain kok." Sahut Nyokapnya Tio.
"Tapi Zahra berbeda Bun, beda dari yang lain." Sahut Tio.
"Terserah kamu." Sahut Nyokapnya Tio singkat.
Gue kebangun dari tidur gue, gak terasa sudah isya, sampai gue gak shalat magrib. Mungkin Nyokap kasihan kalau bangunin gue. Gue melihat notif di handphone gue banyak chat Bima. Gue menjelaskan Bima kalau gue tertidur lelap.
Nyokap menyuruh gue buat makan, karena sepulang tadi gue belum makan. Gue melihat Bokap sedang makan. Saat gue makan, Bokap bicarakan soal Tio yang di skors, gue bilang aja anaknya bandel suka fitnah orang, orang yang di fitnah gak terima.
"Papah gak percaya Tio seperti itu, padahal Ayahnya itu baik sekali." Bokap gue seakan membela Tio.
"Kenyataannya begitu Pah, dia juga suka ganggu aku." Sahut gue ke Bokap.
"Mungkin ganggu karena suka sama kamu! kamu terimalah da, lama-lama juga suka." Jawab Bokap.
"Aku suka sama Bima Pah, bukan Tio! Zahra mau tunggu Bima sukses, sukses hasil sendiri, bukan kaya Tio hasil orang tua." Jawab gue tegas.
"Papah dukung, asal ucapan kamu benar, tapi kalau dia belum sukses, Papah tidak setuju." Sahut Bokap gue.
Gue yakin Bima bisa, Bima akan terus berjuang buat gue. Sebenarnya Bima sederhana aja gue udah bahagia.
Gak lama Tio datang ke rumah gue sendiri. Bokap mengajak Tio makan bareng bersama. Di situ, selera nafsu makan gue hilang. Gue benci orang yang suka fitnah. Gue langsung masuk kamar, tapi Bokap menyuruh gue menghabiskan makanannya, terpaksa gue menghabiskan makanan gue.
"Papah sama Mamah shalat isya dulu ya sayang, kamu temanin Tio! kasian udah jauh-jauh." Bokap dan Nyokap meninggalkan gue dan Tio.
"Prak..." gue membanting sendok dan keluar halaman rumah.
"Zahra, gue minta maaf kalau gue salah! gue terlalu nafsu buat miliki lo! gue minta maaf yah!"
" Gue maafin lo asal lo jangan ganggu hidup gue dan Bima! ngerti gak lo!" jawab gue tegas.
"Oke, oke! gue bakal jauhin lo! asal lo mau jadi sahabat gue!"
"Liat nanti, lo perbaikin dulu sifat lo! dan satu lagi, lo harus minta maaf ke Bima! lo berjanji depan Bima kalau lo gak bakal ganggu hubungan gue dan Bima." Jawab gue tegas ke Tio.
"Oke Ra! gue bakal bilang ke Bima." Jawab Tio ragu-ragu.
"Ya udah, sekarang lo pulang sana! udah malam juga." Gue mengusir Tio.
"Tapi gue belum pamit, sama Bokap, Nyokap lo!" jawab Tio.
"Gak usah! nanti gue yang salamin, sana cepat pulang!" bantah gue.
Tio pun pulang dengan raut wajah yang kecewa. Tio tidak bersungguh-sungguh meminta maaf ke gue Dan Bima. dia itu hanya pura-pura supaya bisa dekat dengan gue. Tapi semua gak bakal terjadi.
Pagi pun tiba, rasanya kurang bersemangat sekolah tanpa Bima. meskipun hanya 2 hari, tapi berasa setahun. Saat gue keluar menutup pagar, Bima datang menjemput gue, pinjam motor Dimas.
"Ojek mba! ha-ha." Bima tersenyum.
"Hehe, Sayang kamu masih pinjam motor Dimas?" tanya gue.
"Iya sayang, Dimas suruh pakai dulu! dari pada gak di pakai nanti cepat rusak." Jawab Bima.
"Mau kemana mba?" Bima meledek gue.
"Keliling Bandung Mas, asalkan sama Masnya." Jawab gue.
"ha-ha-ha... berangkat!" Bima ceria dan tersenyum bahagia.
Gue melihat Bima sangat ceria pagi ini, gak seperti biasanya. Gue sangat senang meskipun gue hanya naik motor tua. Asalkan bersama Bima hati nyaman. Ada hikmahnya juga perusahaan Bokap bangkrut, jadi gue bisa kenal Bima di Bandung ini.
"Kamu pulang sekolah, langsung ke danau aja yah! ajak Manda! nanti pulang kerja aku nyusul ke pantai, mumpung aku gak sekolah, aku kerja dari pagi." Sahut Bima sambil tersenyum.
"Iya sayang, kamu hati-hati kerjanya!" gue tersenyum dan Mencium tangan Bima.
"Belajar yang pintar! kalau perlu di catat yah! supaya aku bisa nyatet juga!" pesan Bima lagi ke gue.
"Lo habisin Bima! terserah lo gimana caranya! tapi ingat jangan sampai kalian tinggalin jejak!" Tio kesal dan dendam pada Bima.
"Oke, Bos!" jawab preman yang ingin menghabisi Bima.
Bima di hadang preman suruhan Tio, Bima terjatuh dari motor dan babak belur. Bima di bawa ke klinik terdekat sama Dimas. Gue lemas, sesak dada gue mendengar Bima di kroyok.
Bima ada di warung Dimas, gue dan Manda sepulang sekolah langsung ke warung Bima. Di sepanjang jalan gue gak kuat menahan tangis. Ingin rasanya gue segera sampai warung Dimas.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪