“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Maaf Yang Tertunda
"Dia akan datang?" tanya Aldo sambil menarik kursi dan duduk, menatap Luna.
"Dia bilang iya," jawab Luna, melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21.30.
"Sayang, kau mau pesan apa?" tanya Aldo, mengambil menu yang baru diantarkan waitress.
"Aku mau Truffle Tagliatelle dan Lobster Thermidor."
"Pesankan yang sama untukku," sela Aldo cepat saat waitress mulai mencatat pesanan Luna. "Velour Tenderloin, medium rare. Truffle potatoes untuk side, dan red wine reduction," lanjut Luna.
Tanpa menunggu ditanya, ia menambahkan, "A bottle of Pinot Noir, lightly chilled. And still water for the table." Selesai, Luna menyerahkan menu itu kembali pada waitress.
"Dia datang," ucap Aldo memandang ke belakang Luna.
Luna hendak menoleh, tapi Nathan sudah sampai di sampingnya dan langsung duduk di kursi kosong di sebelah Aldo.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya Luna.
"Tidak," jawab Nathan santai sambil menyandarkan tubuhnya, terlihat lelah.
"Kau terlihat sangat lelah. Apa jadwal tidurmu berantakan lagi?" tanya Luna, sang dokter yang mulai khawatir dengan pasiennya.
"Di sini yang lelah, seluruh tubuhku ikut lelah," jawab Nathan menunjuk kepalanya. Luna paham yang ia maksud adalah pikirannya.
"Jika ini berlanjut, datanglah besok ke rumah sakit. Jangan tunggu sampai kau tidak tidur tiga hari," ucap Luna sedikit sinis.
"Bagaimana dengan makan malam tadi?" tanya Aldo penasaran.
"Jangan tanya itu. Kepalaku jadi sakit," Nathan menutup mata, alisnya berkerut.
"Sudahlah.. Kalau kau menikah, kirim undangan pada kami," ucap Aldo yakin perjodohan ini akan berhasil.
Nathan menegakkan tubuhnya lalu melirik Luna dan Aldo.
"Kenapa kalian memilih melangsungkan pernikahan di sini dan bukan di hotelku?" tanya Nathan heran, karena mereka memilih Virelle Hotel alih-alih Regen Hotel.
"Aku hanya mengikuti calon istriku," jawab Aldo, yang membuat tatapan Nathan beralih ke Luna.
"Ibuku berteman baik dengan istri pemilik hotel ini. Mereka berdua bahkan menjadi relawan untuk yayasan panti bersama," jawab Luna jujur. Memang begitulah adanya.
Mendengar hal itu, Nathan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali menyandarkan tubuhnya, menatap kosong ke depan, sebelum akhirnya tatapannya teralihkan pada sosok wanita yang sedang berbicara dengan tamu di seberang sana.
"Aku akan pergi ke toilet sebentar," ucap Luna lalu langsung pergi. Aldo mengangguk, sedangkan Nathan tetap diam memperhatikan wanita di seberang sana.
Aldo yang awalnya fokus pada ponsel di tangannya, kini melirik Nathan yang sejak tadi diam. Aldo penasaran dengan apa yang dilihat Nathan, lalu mengikuti arah pandangannya.
"Bukankah dia karyawanmu?" tanya Aldo yang sepertinya mengenali wanita tersebut.
Karena Nathan tak kunjung menjawab, Aldo kembali mengalihkan pandangannya ke Nathan, tetapi Nathan masih tetap memandang ke arah yang sama.
"Kau menyukainya?" tanya Aldo, menebak-nebak isi pikiran Nathan.
"Siapa?" tanya Luna yang baru saja kembali dan mendengar pertanyaan Aldo.
Nathan langsung melirik Aldo, seolah mengisyaratkannya untuk tidak mengatakan apa pun.
"Kenapa harus menyembunyikan sesuatu? Kalian berdua membuatku jengkel," ketus Luna yang memahami isyarat yang diberikan Nathan.
Aldo menyadari tunangannya kesal dan tanpa peduli pada Nathan, ia segera memberi isyarat dengan matanya agar Luna melihat ke belakang.
Luna mengikuti isyarat Aldo dan menyisir pandangannya. Ia hanya melihat beberapa tamu hotel yang sedang makan, beberapa lainnya menikmati kopi, serta staf restoran yang sedang menyapa tamu. Luna tidak mengerti dan kembali menatap Aldo.
"Wanita yang sedang berbicara dengan beberapa tamu di sana," ucap Aldo tanpa melirik Nathan. Walau sebenarnya, Nathan sudah tidak lagi peduli.
Luna kembali menoleh. Matanya tertuju pada seorang wanita cantik dengan setelan jas blazer dan rok hitam, dipadukan pantofel tertutup berwarna senada. Rambutnya ditata rapi dalam sanggul sederhana, mempertegas kesan profesional dan anggun yang memancar darinya.
"Siapa dia?" tanya Luna, melirik Nathan lalu kembali menatap Aldo.
"Kalau aku tidak salah, dia salah satu karyawan di Regen Hotel," jawab Aldo, terdengar ragu, sebelum ikut melihat ke arah Nathan.
"Dia bukan siapa-siapa. Hanya mantan karyawan di hotelku," jawab Nathan tenang.
Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, beberapa waiter hotel datang mengantarkan makanan, meletakkan satu per satu hidangan di atas meja dengan gerakan sopan dan terlatih. Begitu staf terakhir hendak berbalik, Luna bertanya.
"Permisi.. boleh saya tahu siapa staf yang sedang berbicara dengan tamu di sana?" Waiter itu mengikuti arah pandangan Luna.
"Ah, itu Ibu Arin. Dia Hotel Manager baru di sini, Miss," jawab waiter itu, ia tetap berdiri menunggu kalau-kalau ada pertanyaan atau permintaan lain dari mereka.
"Kau terlalu ingin tahu," saut Nathan.
"Kau tahu, setelah sekian lama ini pertama kalinya lagi aku melihatmu risih akan sesuatu," ucap Luna. "Aku melihatmu seperti terganggu. Kau tampak tenang, tapi aku bisa melihatnya," lanjut Luna.
Luna memperhatikan emosi Nathan sedari tadi, melihat perubahan saat wanita bernama Arin itu dibahas. Mendengar pernyataan Luna, Aldo langsung melihat Nathan.
"Kau menyukainya?" tanya Aldo sekali lagi dengan yakin.
"Aku tidak menyukainya!"
"Bisa tolong panggilkan dia ke sini?" pinta Luna kepada waiter yang masih berdiri memperhatikan perdebatan mereka bertiga.
"Baik, Miss. Saya akan meminta manager saya ke sini," jawab pelayan itu lalu segera pergi menuju tempat Arin sedang berbincang dengan tamu hotel.
Tak berapa lama, Arin menuju ke meja mereka.
"Halo.. ada yang bisa saya bantu?" tanya Arin yang baru saja sampai, melebarkan senyumnya melihat ke arah Luna sebelum akhirnya pandangannya menyapu Aldo dan Nathan.
Tatapan mereka bertemu. Nathan melihat Arin, begitu juga dengan Arin yang masih terpaku di tempatnya. Tanpa merespons lebih lanjut, Nathan dengan dingin mengalihkan pandangannya, seolah-olah tak mengenal Arin.
"Selamat malam.. aku hanya ingin menyampaikan, hidangan di hotel ini luar biasa. Penyajian yang rapi, aromanya sangat wangi dan pelayanannya pun sangat memuaskan."
Padahal, Luna bahkan belum menyentuh makanannya. Ia hanya melirik sepiring Truffle Tagliatelle yang masih mengepulkan uap tipis di depannya.
Arin berusaha kembali fokus dan melihat Luna sambil tersenyum mendengar pujian itu. Arin mengangguk sopan.
"Terima kasih banyak atas apresiasinya, Miss. Kami selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik," jawabnya.
"Sebenarnya aku sudah sering ke hotel ini, tapi aku baru melihatmu," ucap Luna ingin tahu lebih banyak.
"Benar, Miss. Saya baru bergabung di Virelle Hotel hari ini," jawab Arin dengan senyum sopan. "Merupakan kehormatan bisa berkenalan dengan tamu loyal kami," lanjut Arin.
"Terima kasih, aku akan menikmati makan malam ini," lanjut Luna.
Setelah itu, Arin tersenyum, membungkuk sebentar, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kalian seperti tidak saling mengenal," ucap Luna melihat Nathan.
"Sudah aku katakan, kami tidak dekat."
"Tapi dia bahkan tidak menyapamu. Bukankah dia mantan karyawanmu? Kenapa dia tidak menyapa mantan bosnya?" lanjut Aldo heran dengan sikap Arin.
"Makan saja makananmu," jawab Nathan sedikit risih membahas Arin terus.
"Aku akan pergi ke toilet sebentar," lanjut Nathan akhirnya pergi.
Nathan yang baru kembali dari toilet dan hendak kembali ke meja tempat Aldo dan Luna berada, berpapasan dengan Arin di dalam restoran.
Arin dengan sigap sedikit minggir ke samping sebelum akhirnya berucap.
"Selamat malam, Pak Nathan," ucap Arin memberi salam.
Nathan mendengar itu, langkahnya berhenti dan melihat Arin.
"Selamat malam.. senang melihatmu kembali bekerja," balas Nathan.
Arin tersenyum setelah itu ia membungkuk sedikit lalu hendak pergi. Tapi Nathan memanggil Arin kembali.
"Arin, aku minta maaf karena membuatmu berhenti dari Regen Hotel," ucapnya, permintaan maaf yang selama ini ia simpan.
"Itu sudah berlalu, Pak Nathan. Sekarang aku sudah mendapat pekerjaan yang sama. Aku sudah melupakannya," jawab Arin.
Walau sebenarnya, terkadang ia masih merasa sedih karena dipecat dari Regen Hotel, Arin tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi sebenarnya, apa yang dia katakan memang benar, ia sudah berusaha melupakan masa lalu.
Mendengar hal itu, Nathan merasa lega. Ia melangkah pergi. Begitu juga Arin yang pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.