Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Perjalanan pulang dari kantor sore itu setidaknya berhasil membuat pikiran Bram sedikit rileks. Suasana kantor garmen yang sibuk, suara bising mesin jahit dari ruang produksi, serta obrolan santai dengan beberapa staf administrasi terbukti ampuh mengalihkan perhatian Bram dari kengerian pagi tadi. Sepanjang siang hingga sore, tidak ada bayangan hitam yang muncul, tidak ada bau busuk, dan tidak ada bisikan yang mengganggu.
Bram mulai berpikir bahwa Adista mungkin ada benarnya. Otaknya mungkin saja sedang kelelahan dan stres berat karena terlalu memikirkan kematian tragis Ronald, sehingga menciptakan halusinasi yang terasa begitu nyata.
Saat mobil mereka kembali memasuki halaman rumah, Bram memandangi Adista yang berjalan di sampingnya. Wajah sepupunya itu tampak sangat lelah setelah seharian memeriksa laporan dan memimpin rapat. Ada rasa iba yang mendalam di hati Bram. Tadinya, Bram punya niat kuat untuk langsung berkemas dan pulang ke rumahnya sendiri sore ini karena terlanjur takut. Namun, melihat betapa rapuh dan kesepiannya Adista setelah kehilangan satu-satunya kakak kandungnya, Bram mengurungkan niat itu.
"Kalau aku pergi sekarang, Adista pasti akan merasa sangat sendirian di rumah besar ini. Aku tidak tega meninggalkannya," batin Bram dalam hati. Ia memutuskan untuk bertahan setidaknya beberapa malam lagi, demi menemani kakak sepupunya melewati masa-masa sulit ini.
Malam pun tiba, menggantikan senja dengan kegelapan yang sunyi. Setelah makan malam sederhana yang kali ini dipastikan Bram benar-benar aman dan murni makanan biasa mereka berdua memutuskan untuk langsung beristirahat di kamar masing-masing. Rumah besar itu kembali tenggelam dalam keheningan yang pekat.
Bram berbaring di atas ranjang kamar tamu. Tubuhnya terasa lelah, namun pikirannya jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Ia menarik selimutnya, menyalakan lampu tidur yang temaram, dan perlahan-lahan mulai memejamkan mata. Sekitar pukul satu dini hari, Bram akhirnya berhasil tertidur lelap.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
KREK...
Suara halus dari gagang pintu kamar yang diputar perlahan membuat Bram terbangun. Kesadarannya kembali pulih dalam sekejap. Jantungnya langsung berdegup kencang karena teringat teror semalam. Dengan tubuh yang menegang, Bram mendudukkan diri di atas ranjang, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang perlahan-lahan terbuka.
Hawa dingin yang tajam mulai berembus masuk. Namun, kali ini tidak ada bau busuk bangkai. Tidak ada bau amis darah yang menyengat. Ruangan itu mendadak dipenuhi oleh aroma wangi bunga melati dan mawar yang sangat manis dan memabukkan.
Sesosok wanita melangkah masuk ke dalam kamar.
Bram terpaku, matanya membelalak, namun bukan karena rasa takut. Melainkan karena rasa takjub yang luar biasa yang mendadak melumpuhkan seluruh logikanya. Wanita yang berdiri di depannya memiliki kecantikan yang tidak masuk akal. Rambut hitamnya yang panjang terurai rapi dan berkilau indah, membingkai wajahnya yang sangat anggun dan mulus seperti porselen tanpa cela. Ia mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah marun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat menawan.
Bagian yang paling menghipnotis adalah bibirnya. Bibir wanita itu merah merekah, penuh, dan sangat sensual. Ia menatap Bram dengan sepasang mata yang dalam, memancarkan daya tarik magis yang luar biasa kuat. Di tangan kanannya, wanita itu membawa sebuah botol kaca dan dua buah gelas berisi cairan merah yang berkilau.
Entah sihir apa yang sedang bekerja malam itu, seluruh ingatan Bram tentang hantu mengerikan yang menangis darah, kulit kepala, dan potongan jari manusia langsung menguap seketika dari otaknya. Pikirannya mendadak kosong. Yang ada di dalam benak Bram saat ini hanyalah rasa kagum, gairah yang membara, dan keinginan kuat untuk mendekati wanita menawan tersebut. Ia telah dibuat tergila-gila hanya dalam hitungan detik.
Wanita itu tersenyum, sebuah senyuman yang begitu manis namun menyimpan misteri yang dalam. Ia berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang sangat anggun, hampir tanpa suara, seolah kakinya tidak menyentuh lantai.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Bram dengan suara yang serak dan bergetar, pandangannya sama sekali tidak bisa lepas dari wajah wanita itu.
Wanita misterius itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya duduk di tepi ranjang, tepat di samping Bram. Jarak mereka yang begitu dekat membuat aroma wangi dari tubuh wanita itu semakin pekat memenuhi indra penciuman Bram, membuat kepalanya terasa melayang dan mabuk kepayang.
Wanita itu menyodorkan salah satu gelas berisi cairan merah kepada Bram.
...Minumlah... ini untukmu... sebuah suara yang sangat merdu dan lembut berbisik langsung di dalam dada Bram, seolah membujuknya dengan kasih sayang.
Bram seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Tanpa ragu sedikit pun, ia menerima gelas tersebut. Di dalam gelas itu ada anggur merah yang warnanya sangat menggiurkan dan berkilau indah di bawah temaram lampu tidur. Bram mendekatkan gelas itu ke bibirnya dan meminum anggur tersebut.
Seketika, rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya menjalar di lidah dan tenggorokannya. Anggur merah itu rasanya sangat manis, hangat, dan memberikan sensasi rileks yang luar biasa ke seluruh tubuhnya. Bram memejamkan mata, menikmati setiap tegukan seolah itu adalah minuman paling berharga di dunia. Ia meminumnya hingga tetes terakhir tanpa menyadari rasa besi yang samar di akhir sesapannya.
"Ini... sangat nikmat," gumam Bram dengan pandangan mata yang semakin sayu dan penuh gairah.
Wanita itu kembali tersenyum lebar melihat Bram yang sudah sepenuhnya masuk ke dalam kendalinya. Ia mengulurkan tangannya yang putih dan lembut, mengusap pipi Bram dengan perlahan. Sentuhan tangannya terasa sangat dingin, namun di tubuh Bram yang sedang terbakar gairah akibat pengaruh sihir anggur tersebut, rasa dingin itu justru terasa sangat nyaman dan menenangkan.
Bram benar-benar telah melupakan segalanya. Ia tidak ingat lagi bahwa ia sedang berada di rumah Adista. Ia tidak ingat tentang kematian Ronald yang tragis. Di bawah pengaruh sihir yang mematikan dari Bisikan Lukisan Berdarah, Bram kini telah sepenuhnya tergila-gila dan menyerahkan jiwa serta raganya kepada sosok jelita yang sebenarnya adalah perwujudan dari maut itu sendiri.
Wanita itu perlahan mendekatkan wajahnya yang cantik ke wajah Bram, membiarkan napasnya yang dingin menerpa bibir Bram. Sementara itu, di ruang tengah yang gelap gulita, bingkai emas lukisan itu tampak kosong, seolah sedang menunggu darah baru yang akan kembali membasahi kanvasnya dalam waktu dekat.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya