Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 04
Sean terlihat berseri-seri sejak siang tadi. Entah mengapa Rean merasa gelisah. Berbanding terbalik dengan apa yang adiknya rasakan. Apalagi melihat Sean yang terlihat buru-buru seperti itu. Membuat dirinya semakin gelisah.
"Mau kemana?" tanya Rean saat melihat Sean sudah siap dengan penampilannya malam ini.
Sean berhenti sejenak di ujung tangga saat dia mendengar pertanyaan saudaranya.
"Nanti aku ceritakan setelah pulang." jawab Sean tersenyum menatap Rean.
"Kalau begitu aku pergi dulu." pamit Sean pada Rean yang masih merasa gelisah dengan adiknya.
Bagaimana cara menghentikan Sean? Rean sendiri merasa tidak tenang sejak tadi. Dia takut terjadi sesuatu pada adik kembarnya itu.
"Tunggu." cegat Rean di depan Sean yang sudah hampir keluar dari pintu rumah mereka.
"Ada apa?" tanya Sean menatap pada Rean.
"Jangan pergi!" ucapnya membuat Sean tertawa.
Apa ini? kenapa tiba-tiba saja kakaknya yang pendiam ini mencegahnya pergi? Tidak mungkin Rean cemburu kan?
"Kau tidak cemburu bukan?" tanya Sean panasaran.
"Tinggallah dirumah malam ini. Jika ada kerjaan di luar, lakukan saja besok." ucap Rean membuat Sean semakin tidak mengerti.
"Apa sekarang kau mulai menghalangi ku? apa kau mulai mengatur hidupku seperti kakek?" tanya Sean menatap kecewa pada saudaranya.
"Bukan begitu, tapi sejak pagi perasaan ku tidak tenang. Aku selalu memikirkan mu dan bahkan tadi malam aku bermimpi kau berlumuran darah. Kau-"
"Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Aku berangkat sekarang dan aku pakai mobilmu biar kau tenang oke." ucap Sean berpamitan pada Rean.
Bahkan dia sampai meminjam mobil Rean agar saudaranya itu bisa lebih tenang sedikit. Rean sendiri masih merasa tidak tenang. Terlebih saat Sean mengatakan ingin meminjam mobilnya.
Dalam perjalanan, Sean terus tersenyum. Dia benar-benar menantikan hari ini. Hari dimana dia akan bertemu dengan gadis yang telah mencuri hatinya itu.
Senyumnya begitu merekah, seperti bunga yang baru saja mekar di pagi hari. Benar-benar terlihat sangat luar biasa.
Lagi cinta yang di putar dalam mobil Rean semakin menambah suasana menjadi lebih kental, membuat Sean semakin terlihat bersemangat.
Dugh...
Ponselnya jatuh, membuat Sean berusaha mengambilnya dan berhasil.
Namun, saat dia kembali fokus pada kemudinya, sebuah truk bermuatan menghantam mobil mewah tersebut hingga berguling.
Brak!
Mobilnya terguling dan terbalik, hingga membuat Sean berada di ambang batas kesabarannya.
"Embun?" panggilnya terakhir kali sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.
Sengaja di rumahnya, Rean yang baru saja mengambil air minum di dapur tiba-tiba gelasnya lolos begitu saja dari genggamannya hingga jatuh berserakan di lantai.
Prang!
Rean terpaku melihat hal itu. Bagaimana bisa gelas yang dia pegang tiba-tiba saja jatuh dan lepas dari genggamannya.
"Mas Rean kenapa?" tanya bibi Ami pembantu rumah mereka.
"Aku baik-baik saja, bik. Tolong bereskan ya." ucapnya pada pembantunya, dan pergi masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Sean.
Entah mengapa pikirannya semakin tidak karuan sekarang. "Angkat Sean!" gumamnya yang terus berusaha menghubungi adiknya itu.
Sudah hampir 10 panggilan tak terjawab. Entah kemana perginya Sean, sampai panggilan ke 11 barulah terhubung.
"Sean, dimana kau? Apa kau baik-baik saja? kenapa ramai sekali, Sean?" tanya Rean beruntun karena sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Apa anda saudaranya?"
Deg!
Jantung Rean seperti berhenti berdetak saat mengetahui jika bukan Sean yang menjawab panggilan telepon tersebut.
"Dimana Sean? Aku saudara kembarnya, apa yang terjadi?" tanya Rean dengan dada yang bergemuruh.
"Pemilik ponsel menjadi korban kecelakaan, dan segera di bawa ke rumah sakit setelah ambulance datang. Korban-" Rean memutuskan panggilan teleponnya begitu saja setelah mendapatkan kabar jika Sean mengalami kecelakaan dan akan segera di bawa ke rumah sakit.
Bahkan dia sudah tidak lagi memikirkan seberapa kencang mobil yang dia kendarai, karena yang terpenting baginya saat ini adalah Sean.
Betapa hancurnya hati Rean saat melihat mobil miliknya yang hancur seperti itu. Bukan karena mobilnya, tapi dia memikirkan bagaimana keadaan adiknya itu.
Dia berlari sekuat tenaganya, hingga dia menemukan Sean yang sudah tidak sadarkan diri.
"SEAN!!!!" teriak Rean menggelegar melihat adiknya yang bersimbah sadar, dengan luka yang memenuhi sekujur tubuhnya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh