Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Kangen ka
Pukul empat pagi, hujan badai yang sejak semalam mengguyur pelabuhan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Di dalam mobil sedan mewah hitam yang melaju senyap membelah jalanan kota, Gavin Alexander bersandar pada kursi penumpang dengan wajah pucat pasi. Kemeja hitam legamnya yang basah kuyup kini tampak robek di bagian bahu kiri, menyembunyikan luka goresan peluru yang terus merembeskan darah segar tanpa henti.
"Kita ke rumah sakit keluarga sekarang, Bos Kecil?" tanya Max yang fokus menyetir di depan, matanya sesekali melirik cemas ke arah kaca spion tengah.
"Nggak usah," suara Gavin terdengar serak, parau, dan lelah. Namun, nada bicaranya tetap tidak menerima bantahan sedikit pun.
"Antar gue ke alamat yang baru gue kirim ke ponsel lo."
"Tapi lukanya..."
"Sans, Max."
Gavin melirik layar ponsel pribadinya. Setelah misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa tadi selesai, hal pertama yang ia lakukan bukan memeriksa laporan logistik korporasi, melainkan melihat ruang obrolannya dengan Aruna. Masih centang satu abu-abu. Wanita itu benar-benar mengacuhkannya selama tiga hari ini.
Entah karena efek adrenalin yang mulai turun atau rasa rindu yang mendadak egois, Gavin merasa ia harus melihat wajah wanita itu sekarang. Detik ini juga.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan gedung apartemen elite tempat Aruna tinggal. Gavin turun dengan langkah yang sedikit tertatih, satu tangannya menekan bahu kiri demi menahan perih yang membakar. Menggunakan akses keamanan khusus yang sempat ia retas dari basis data Max, Gavin berhasil naik ke lantai kamar Aruna tanpa terdeteksi oleh satu pun petugas keamanan gedung.
Di dalam apartemennya, Aruna terbangun dari tidurnya karena rasa haus yang mendadak menyerang tenggorokan. Ia melangkah ke dapur dengan piyama tidurnya, menyesap segelas air putih sembari melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 04.45 pagi.
Yok! Tok! Tok!
Suara ketukan lemah di pintu utamanya seketika membuat Aruna membeku. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang bertamu sepagi ini?
Dengan langkah waswas, Aruna berjalan mendekati pintu, lalu mengintip melalui lubang kamera pengintai digital. Begitu melihat sosok yang berdiri di luar, napas Aruna tercekat. Itu Gavin. Namun, tidak ada senyum miring menyebalkan atau gaya tebar pesona yang biasa pria itu tunjukkan. Kepala Gavin tertunduk dalam, bersandar pada daun pintu dengan tubuh yang tampak bergetar menahan dingin.
Aruna dengan cepat memutar kunci dan membuka pintu. "Gavin? Kamu gila, ya, jam segini....."
Kalimat Aruna terputus seutuhnya saat tubuh tegap setinggi 187 cm itu mendadak limbung ke depan, jatuh seutuhnya menimpa bahu Aruna. Aruna refleks menahan bobot tubuh pria itu. Saat itulah, telapak tangan kanannya menyentuh bagian belakang bahu Gavin yang terasa sangat basah dan hangat.
Saat Aruna menarik tangannya di bawah temaram lampu lorong, matanya melotot horor melihat cairan merah pekat melumuri seluruh telapak tangannya. Itu darah. Aroma amis besi bercampur mesiu, oli, dan air hujan seketika menyeruak, memenuhi indra penciuman Aruna.
"Gavin! Kamu... kamu kenapa?!" pekik Aruna panik, suaranya bergetar hebat menghadapi situasi darurat yang tidak pernah ada dalam buku panduan manajer Mahesa Group.
Gavin perlahan membuka sepasang phoenix eyes-nya yang sayu, menatap wajah panik Aruna yang kini berada sangat dekat dengannya. Di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya, sebuah senyuman tipis yang sangat lemah terukir di bibir pucat pria itu.
"Kangen, Kak..." bisik Gavin lirih, suaranya nyaris habis. "Buka... blokirnya, ya?"
Setelah mengucapkan kalimat konyol itu, kesadaran Gavin runtuh sepenuhnya. Kepalanya terkulai di ceruk leher Aruna. Wanita karier yang biasanya selalu memegang kendali penuh atas hidupnya itu kini menangis panik dalam diam.
Aruna bersusah payah sekuat tenaga memapah tubuh Gavin yang terasa dua kali, bahkan tiga kali lebih besar dari tubuhnya sendiri. Dengan napas terengah-engah dan air mata yang terus mengalir, Aruna membawanya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan luka darurat tersebut.
Kamar mandi apartemen Aruna yang biasanya bersih dan rapi kini berubah drastis menjadi ruang darurat medis yang kacau. Aroma amis darah bercampur obat merah menusuk hidung. Aruna bergerak dengan napas memburu. Tangannya yang gemetar berusaha keras menekan luka robek di bahu Gavin menggunakan handuk putih yang kini telah berubah warna menjadi merah pekat.
Gavin terbaring setengah sadar di atas lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi, namun guratan otot di dada dan perut tegapnya tampak menegang menahan perih setiap kali jemari Aruna menyentuh lukanya.
Tepat saat Aruna hendak berdiri untuk mengambil kotak P3K yang lebih lengkap di kabinet luar, ponsel di dalam saku jaket denim Gavin yang tergeletak mengenaskan di lantai tiba-tiba bergetar hebat. Nada deringnya yang tegas dan monoton memecah keheningan fajar yang mencekam.
Bzzzt! Bzzzt!
Aruna terlonjak kaget. Dengan tangan yang masih basah oleh sisa darah Gavin, ia ragu-ragu meraih ponsel pintar milik pemuda itu. Di layar yang menyala terang, tidak ada nama kontak yang tertera, melainkan hanya sebuah huruf besar tunggal yang tercetak tebal "D"
Naluri tajam Aruna langsung menuntunnya pada satu nama pemilik inisial tersebut, Dominic Alexsie, sang bos berwajah dingin yang beberapa bulan lalu menolaknya di meja makan aliansi.
Aruna menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik Gavin yang memejamkan mata menahan sakit, lalu dengan keberanian yang tersisa, Aruna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia tidak berani membuka suara duluan.
"Alex. Laporan logistik cadangan sudah masuk ke sistemku," suara berat, bariton, dan penuh otoritas mutlak dari seberang telepon langsung membuat bulu kuduk Aruna meremang. Dom berbicara tanpa basa-basi.
"Max bilang kamu menolak ke rumah sakit keluarga dan malah pergi ke apartemen wanita itu. Apa kamu gila? Kamu terluka, Lex!."
Aruna mencengkeram ponsel itu lebih erat, suaranya tercekat di tenggorokan.
"H-halo..." ucap Aruna akhirnya, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan.
Keheningan yang mematikan sempat tercipta selama tiga detik di seberang telepon. Dom tampaknya langsung menyadari bahwa yang mengangkat panggilan ini bukanlah adiknya.
"Aruna?" tanya Dom, nadanya berubah menjadi sedingin es, seolah siap mengeksekusi siapa saja yang berani mengganggu urusannya.
"Kenapa ponsel adik bungsuku ada di tanganmu?"
"Gavin... Gavin ada di apartemen saya," jawab Aruna dengan sisa-sisa ketegarannya sebagai wanita karier, meskipun air matanya kembali luruh.
"Dia... dia pingsan. Bahunya berdarah hebat, ada luka robek seperti... seperti kena serpihan sesuatu. Saya bingung harus bagaimana, darahnya nggak mau berhenti!"
Mendengar kepanikan Aruna, suara Dom di seberang telepon justru terdengar sangat tenang ketenangan yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada amarah.
"Dengar baik-baik, Aruna," perintah Dom, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang mutlak.
"Jangan telepon ambulans. Jangan bawa adikku ke rumah sakit umum jika kamu tidak ingin polisi atau kelompok rival mengendus keberadaannya dan membahayakan nyawamu sendiri."
Jantung Aruna serasa copot. Membahayakan nyawaku sendiri? Konsep ini benar-benar terlalu nyata dan mengerikan untuk ukuran dunianya yang aman di gedung pencakar langit mahesa grup.
Ada apa sebenarnya ini? Siapa sebenarnya Gavin?
"Dua menit dari sekarang, Max dan dokter pribadi keluarga kami akan sampai di depan pintu apartemenmu. Buka pintunya dengan tenang," lanjut Dom. Sebelum menutup telepon, nada suaranya sedikit melunak, namun tetap penuh teka-teki.
"Terima kasih sudah menampungnya malam ini, Calon Adik Ipar. Jagalah dia sebentar sampai orang-orangku tiba."
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak. Aruna menurunkan ponsel itu dengan tangan lemas. Ia menatap Gavin yang kini membuka matanya sedikit, menatap Aruna dengan pandangan sayu yang sangat tulus.
Pintu depan apartemennya tiba-tiba diketuk dengan ketukan beraturan tiga kali. Orang-orang Dom telah sampai. Detik itu juga, Aruna sadar bahwa keputusannya untuk menerima kerja sama dengan berondong ini telah menyeretnya masuk terlalu dalam ke sebuah labirin dunia yang tidak akan pernah bisa ia tinggalkan lagi.
****