NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Beberapa menit setelah kejadian itu, Bu Sulastri kembali ke ruang tamu membawa kotak P3K kecil.

“Kiara, naikkan kakimu ke atas sofa,” ucapnya lembut namun tegas.

“Biar Alvar obati dulu. Nanti bisa melepuh kalau dibiarkan.”

Kiara ragu, tatapannya beralih pada Alvar yang duduk di seberangnya. Pria itu tak berkata apa-apa, wajahnya datar, sorot matanya dingin namun penuh kendali tatapan yang membuat Kiara justru tak berani membantah.

Pelan-pelan, Kiara menaikkan kakinya ke atas sofa.

Alvar duduk di hadapannya, membawa kain kompres basah dan salep. Saat pandangannya turun, ia langsung menghela napas pelan dan menelan ludahnya sendiri. Celana pendek Kiara membuat kakinya terlihat jenjang dan putih bersih kontras mencolok dengan suasana desa.

Tangannya bekerja cekatan, profesional. Ia membersihkan area kulit yang memerah, mengompresnya dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, nyaris tanpa tekanan. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Keheningan itu justru membuat Kiara gelisah.

Ia mencuri pandang, melihat wajah Alvar dari jarak sedekat itu. Rahangnya tegas, alisnya rapi, ekspresinya terkunci. Tak ada kesan pria kampung dekil seperti yang ia bayangkan. Dan itu entah kenapa membuat dadanya terasa aneh.

“Sudah,” ucap Alvar akhirnya singkat.

“Jangan kena air dulu.”

Kiara mengangguk kecil. “Makasih,” jawabnya pelan, jauh dari nada sinisnya tadi.

Bu Sulastri tersenyum lega. “Bagus, sekarang kamu istirahat saja di kamar. Alvar, antar Kiara, ya. Ibu siapkan makan siang.”

Alvar berdiri. “Ayo.”

Kiara turun dari sofa, berdiri dengan sedikit canggung. Ia mengangkat kopernya, lalu mengikuti Alvar yang berjalan lebih dulu menuju lorong samping rumah.

Langkah mereka berdampingan, namun jaraknya terasa jauh. Tak ada percakapan. Hanya suara langkah kaki dan perasaan asing yang sama-sama mereka pendam.

Di balik ketenangannya, Alvar menahan satu pikiran yang terus mengganggu,

'Wanita kota ini akan menguji kesabaranku.

Alvar berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat muda. Ia membukanya, memberi jalan bagi Kiara untuk masuk lebih dulu.

“Ini kamar kita,” ucapnya singkat.

Kamar itu sederhana tak besar, tak mewah namun bersih dan tertata rapi. Ranjang kayu berukuran sedang dengan seprai bersih, lemari pakaian kecil, meja rias sederhana, dan satu jendela yang menghadap ke kebun belakang. Udara masuk bebas, membawa aroma tanah dan daun basah.

Kiara menatap sekeliling. Tak seburuk yang ia bayangkan., bahkan cukup nyaman. Namun, satu hal membuat dadanya menegang.

“Terus … kamu tidur di mana?” tanyanya akhirnya, menyilangkan tangan di dada.

Alvar menoleh. “Di sini.”

“Apa?” Kiara membelalak.

“Maksud kamu?”

“Kita satu kamar,” jawab Alvar datar.

“Kamu istriku.”

Nada itu membuat darah Kiara langsung naik ke kepala.

“Enak saja!” Kiara membentak. “Kamu pikir aku mau satu kamar sama orang yang bahkan nggak aku kenal? Ini keterlaluan!”

Sikap bar-bar dan arogannya muncul tanpa saringan. Alvar menghela napas, kali ini lebih dalam. Namun suaranya tetap terkendali. “Suka atau tidak, kita satu kamar. Mau atau tidak, kita tinggal satu kamar.”

Ucapan itu seperti bensin disiram ke api.

“Kamu tukang maksa!” Kiara menunjuk dada Alvar.

“Aku nggak mau tinggal di desa ini! Aku nggak mau hidup kayak gini!”

Alvar menatapnya tajam. “Dan gadis kota seperti kamu memang sulit diatur,” balasnya dingin.

“Manja dan egois.”

Kepala Alvar berdenyut, kesabarannya menipis. Ketukan pintu tiba-tiba terdengar, memotong ketegangan.

“Alvar?” suara Sulastri terdengar dari luar. “Makan siang sudah siap.”

Alvar mengalihkan pandangan dari Kiara. “Keluar, kita makan,” katanya singkat dan dingin, lalu melangkah pergi lebih dulu tanpa menunggu jawaban.

Begitu sampai di ruang makan, Sulastri langsung menyadari wajah anaknya yang kusut.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Alvar menarik kursi, duduk, lalu menghela napas.

“Aku nggak yakin bisa tinggal serumah dengan Kiara, Bu. Dia sulit diatur. Gadis kota … pasti nggak akan betah di desa.”

Sulastri menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Sabar, Var. Sekarang dia istrimu. Bukan tamu.”

Belum sempat Alvar menjawab, Kiara keluar dari kamar. Langkahnya anggun, wajahnya tenang berbeda jauh dari sikapnya tadi.

Alvar dan Sulastri sama-sama terdiam.

Sulastri segera berdiri.

“Ayo, Kiara. Duduk sini, ibu masak sayur asem dan ikan goreng.”

Kiara tersenyum manis. “Terima kasih, Bu.”

Ia duduk, membantu Sulastri menata piring, bahkan bertanya kecil soal masakan. Nada suaranya lembut, sikapnya sopan dan nyaris tak tersisa jejak gadis bar-bar tadi.

Alvar memperhatikan dari kejauhan, diam-diam terkejut. Rumah ini sudah lama sepi. Dan baru setengah hari Kiara ada di sini, ibunya sudah terlihat begitu menyukainya.

Sudut bibir Alvar terangkat tipis.

Kiara menatap piring di depannya. Seekor ikan nila goreng berukuran besar terletak rapi di atas nasi hangat, sambal dan lalapan di sampingnya. Aromanya gurih, menggoda namun justru membuat dada Kiara menegang.

Dadanya terasa tidak nyaman hanya dengan mengingatnya. Sejak kecil, ia alergi ikan tawar, terutama nila. Kulitnya bisa gatal, tenggorokannya terasa sesak jika tak segera minum obat.

“Kenapa, Sayang?” tanya Sulastri lembut, menyadari Kiara hanya diam menatap piringnya.

“Kurang selera?”

Belum sempat Kiara menjawab, Alvar menyandarkan punggungnya ke kursi, suaranya terdengar datar namun menusuk.

“Masakan Ibu pasti nggak cocok di lidahnya,” ucapnya.

“Biasanya makan burger sama pizza. Mana cocok makanan desa.” Ucapan itu seperti tamparan halus.

Kiara menoleh tajam ke arah Alvar. Matanya menyala kesal. Ada banyak hal yang ingin ia bantah namun gengsinya lebih dulu berbicara.

Tanpa berkata apa-apa, Kiara mengambil sendok dan garpu. Ia menyobek sedikit daging ikan nila itu, lalu memasukkannya ke mulut.

'Tidak apa-apa,' gumamnya dalam hati.

'Nanti minum obat saja.'

Ia teringat obat alerginya yang selalu ia bawa di tas.

Sulastri tersenyum lega melihat Kiara mulai makan.

“Enak, kan?”

Kiara mengangguk pelan, memaksakan senyum.

“Enak, Bu.”

Alvar memperhatikannya sekilas sekadar sekilas lalu kembali fokus pada makanannya. Ia tak tahu, dan Kiara tak berniat memberi tahu. Karena bagi Kiara Valeska, mengakui kelemahan di depan pria itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!