Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Perkenalan tim kreatif
Pihak W-Corp datang hari ini. Sesuai aturan baru, pihak advertising harus memperkenalkan seluruh anggota tim kreatif terlebih dahulu sebelum rapat inti dimulai.
Sebenarnya prosedur ini sama sekali tidak perlu dilakukan. Tim W-Corp yang lama sudah tahu luar dalam siapa saja anggota tim kreatif yang memegang proyek mereka selama ini.
Namun, sepertinya Dion sengaja.
Pria itu sengaja membuat prosedur baru yang berbelit-belit hanya karena ingin membuat perbandingan yang jelas tentang siapa dirinya sekarang di depan Fela. Dion ingin memamerkan kuasanya sebagai petinggi baru.
"Kenzo ikut?" tanya Rico saat melihat Fela datang memasuki ruang rapat bersama dengan semua anggotanya.
"Ya. Bukankah dia ditempatkan di ruanganku untuk membantuku?" tanya Fela balik. Nada suaranya penuh keyakinan bahwa Rico tahu betul kalau bocah itu adalah anak titipan orang penting.
"Benar." Rico tersenyum paham, tidak menampik fakta tersebut.
"Apa kamu meragukan keahliannya karena dia hanya titipan?" tanya Fela tanpa basa-basi lagi. Dia bicara blak-blakan, bahkan di saat Kenzo sendiri sedang berdiri di sana mendengarkan mereka.
"Hei," tegur Rico sambil tersenyum geli. "Ketus sekali."
"Aku lagi kesal," sahut Fela jujur, tidak berniat menyembunyikan suasana hatinya yang buruk sejak konfrontasi di lorong tadi.
Rico hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah manajer kreatifnya itu. Sementara itu, Kenzo yang mendengar seluruh percakapan bernada miring tentang dirinya sama sekali tidak merasa tersinggung.
Dia memang bocah yang aneh. Apa pun kalimat tajam yang keluar dari mulut Fela tidak pernah berhasil menyakiti hatinya. Menurut Kenzo, reaksi ketus Fela justru terlihat lucu.
"Belum datang pihak W-Corp?" tanya Fela kemudian sambil mengambil posisi duduk.
"Sebentar lagi," jawab Rico singkat.
***
Fela berdiri di depan layar proyektor, mencoba tetap tenang. "Ini tim kreatif yang akan menggarap iklan W-Corp," ujar Fela, mengulurkan tangan menunjuk keempat anggotanya yang duduk berderet, termasuk Kenzo yang berada di ujung meja.
Dion menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada sambil melempar senyum sinis. "Jadi, tim kreatif advertising ini memasukkan anak magang sebagai anggota yang akan menggarap iklan W-Corp?" tanya Dion dengan nada meremehkan yang amat kentara.
Rupanya Dion menghafal betul wajah Kenzo saat mereka bertemu di koridor dekat pantri waktu itu.
Suasana ruang rapat seketika mendingin. Semua mata menatap ke arah Kenzo yang duduk tenang. Siska dan Bimo saling lempar pandang. Mereka merasa heran dan bingung kenapa manajer pemasaran baru W-Corp itu bisa langsung tahu kalau Kenzo adalah seorang anak magang.
Fela menghela napas samar. Dia paham betul Dion sengaja mempertanyakan status Kenzo hanya untuk menyudutkannya di depan semua orang.
Aku dijadikan masalah rupanya. Pria ini pintar menyerang, batin Kenzo.
Namun, cowok itu sama sekali tidak gentar. Di sudut meja, seulas senyum samar justru terbit di bibirnya. Kenzo melipat tangan, merasa tertarik dan ingin tahu bagaimana cara Fela menangani serangan ini.
Fela menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah barisan petinggi W-Corp.
"Dia anak magang berkualitas. Kami adalah agensi advertising terbaik, jadi tidak mungkin kami membawa anggota yang masih amatir dalam kerja sama eksklusif dengan pihak W-Corp. Anda tahu betul tentang profesionalitas kami selama ini, Pak Beni." Fela menjeda kalimatnya sejenak, mengalihkan pandangannya tepat ke arah Dion. "Tapi tidak apa-apa. Saya memaklumi keraguan itu. Mungkin Anda baru mengenal cara kerja kami, Direktur," ujar Fela dengan sangat tenang namun menusuk.
Mendengar jawaban telak itu, batin Kenzo bersorak senang. Fela menyerangnya balik! Dia benar-benar tangguh dan pintar.
Melihat Fela mampu berdiri tegak dan membalas serangan Dion dengan elegan, Kenzo justru menjadi semakin bersemangat untuk mengikuti permainan di ruang rapat ini.
Kenzo melirik ke arah mantan kekasih Fela itu. Ia ingin tahu apa lagi yang akan dikatakan pria angkuh tersebut setelah diskakmat oleh Fela. Kenzo benar-benar tidak sabar menunggu adegan selanjutnya.
"Benar. Aku belum mengenal dengan baik tim kreatif karena baru menjabat," ujar Dion akhirnya memilih mengalah. Respons pasrah ini cukup tidak terduga bagi orang-orang di ruangan.
Pak Beni mengangguk-angguk. Pria paruh baya yang selama ini bekerja sama langsung dengan tim Fela tentu paham betul bagaimana kualitas kerja mereka.
"Tapi apa tim kamu mampu mengikuti kemauan kita dengan mengikutkan anak magang ke dalam tim? Bisa jadi dia akan jadi masalah nanti," ujar Dion, rupanya masih bersikeras mengungkit hal yang sama demi mencari celah untuk menjatuhkan Fela.
"Begini, Pak Dion ..." Rico menengahi pembicaraan. Sebagai kepala agensi, dia mulai tidak paham dengan apa yang sedang terjadi, tetapi instingnya merasakan ada atmosfer yang tidak tepat di ruangan ini. Menurut Rico, direktur pemasaran yang baru ini terlalu banyak menyerang Fela secara personal. Padahal, kerja sama mereka dengan W-Corp berjalan baik-baik saja selama ini.
Fela tersenyum tipis, menatap Dion tanpa kedipan. "Saya cukup profesional dalam menghadapi banyaknya kemauan klien, termasuk kemauan pihak Anda, Pak Direktur. Jadi, kalau memang anak magang itu membuat masalah, saya tidak akan memakainya langsung dalam eksekusi. Ini bisa diterima kan, Pak Direktur?" tanya Fela defensif namun tetap sopan.
"Benar, Pak Dion. Dia hanya menonton. Anggap saja begitu untuk sementara. Maaf kalau kehadiran staf magang kami membuat Anda tidak nyaman," kata Rico sebagai atasan Fela ikut meminta maaf demi meredakan ketegangan.
Pak Beni yang merasa perdebatan ini mulai tidak substansial juga langsung angkat bicara. "Benar, Pak Dion. Tim Manajer Fela ini sudah sering dipakai W-Corp selama beberapa tahun terakhir. Jadi, rasanya tidak tepat kalau kita meragukan kemampuan dan pilihannya dalam memilih anggota tim. Maaf kalau saya menyela."
Sialan.
Dion merasa dikeroyok di dalam ruang rapat itu. Namun, dia sadar harus menghentikan serangannya pada Fela untuk saat ini. Bagaimanapun pengalaman Pak Beni yang bertahun-tahun bekerja sama dengan pihak Zeus Advertising tidak bisa diremehkan begitu saja. Rekam jejak mereka sudah terbukti. Hampir semua iklan besar produk W-Corp selama ini sukses digarap oleh tim Fela.
Akhirnya Dion menarik napas dalam, mencoba meredam egonya dan kembali memasang wajah angkuh yang tenang.
"Yah, kita lihat saja nanti. Aku mau ini akan jadi momen peluncuran produk kami yang paling sukses," ujar Dion, sengaja menggantungkan kalimatnya untuk memberikan tekanan terselubung bahwa ekspektasinya kali ini sangat tinggi.
Dion ini ambisius. Kenzo sejak tadi menilai dengan teliti tipe pria seperti apa mantan kekasih Fela itu.
Sejak insiden di koridor pantry waktu itu, dia benar-benar tidak mengerti kenapa wanita setangguh Fela bisa sampai hampir menikah dengannya dulu.
Mungkin Dion juga seorang pria yang manipulatif, yang pintar menyembunyikan sifat aslinya di balik kata-kata manis.
Sebuah dengusan kecil tanpa sadar lolos dari bibir Kenzo saat memikirkan hal itu.
Bimo yang duduk di dekatnya, mendengar suara itu. Dia langsung menoleh dengan kening berkerut.
Ditatap begitu, Kenzo hanya tersenyum tipis tanpa beban.
Bimo memang sudah dengar dari obrolan kantor kalau Kenzo itu adalah anak titipan, tetapi dia tetap tidak yakin kenapa anak magang ini bisa terlalu berani.
Titipan hanya untuk sebuah magang itu bukanlah hal besar, kecuali itu untuk menjadi karyawan. Mungkin orang orang bakal terus menggunjing.
Kenzo terlihat sangat santai, padahal dirinya sendiri baru saja dijadikan bahan perdebatan panas yang bisa saja menjadi penyebab gagalnya kontrak kerja sama bernilai miliaran barusan.