NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Terakhir Sebelum Ikrar

Setelah menerima tamparan itu, aku hanya diam membiarkan rasa perih dan rasa bersalah melilit hatiku. Tapi sebelum air mataku sempat kering, ibu segera menggenggam kedua tanganku erat—kuat tapi penuh kepanikan—lalu menarikku perlahan sambil suaranya bergetar:

“Ayo, kita cari orang itu sekarang juga, batalkan semuanya! Pasti ada jalan lain, jangan sampai kau mengorbankan masa depanmu seperti ini!”

Aku segera menahan langkahnya, melepaskan genggamannya dengan lembut tapi tegas. Napasku masih tersengal, air mata terus menetes, tapi jawabanku keluar sekuat tenaga meski terbata-bata:

“Ibu… tolong mengertilah. Ini keputusan yang sudah kupikirkan matang-matang, aku sudah mempertimbangkan semuanya.”

Mendengar itu, rasa kecewa dan amarah kembali meledak di dada ibu. Tanpa bicara lagi, satu tamparan lagi mendarat tepat di pipi yang sama—rasanya perih sekali, menjalar sampai ke pelipisku. Tapi tepat saat itu, terdengar langkah kaki cepat mendekat, membuat kami berdua langsung membeku dan menoleh.

Terlihat dua orang perawat mendorong tempat tidur beroda masuk ke ruangan ayah. Mereka mengangkat tubuh ayah dengan hati-hati dan membawanya keluar dengan cepat, diikuti dokter yang berjalan di sampingnya. Dokter menoleh sebentar, berkata tegas tapi tetap menenangkan:

“Ayahmu akan segera dibawa ke ruang operasi. Setelah selesai, dia akan dipindahkan ke ICU untuk dipantau ketat selama masa pemulihan awal.”

Ibu hanya mengangguk lemah, wajahnya kembali dipenuhi kekhawatiran. Ia terus menatap sampai pintu ruang operasi tertutup rapat. Sesaat kemudian pandangannya jatuh kembali padaku, tapi kali ini ia hanya diam, lalu duduk kembali dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan hancur. Aku duduk tak jauh darinya, membiarkan keheningan yang berat menyelimuti kami sambil menunggu kabar.

Waktu terasa berjalan sangat lambat, seolah satu detik terasa seabad. Sekitar satu jam lewat, adikku datang dari luar membawa beberapa bungkus makanan dan air minum yang ia beli. Ia menghampiri kami sambil tersenyum kecil berusaha menghibur, tapi aku hanya menggeleng pelan: “Terima kasih, Dik, aku sedang tidak lapar.” Begitu juga ibu, ia hanya menggeleng tanpa suara, matanya tak pernah lepas dari pintu ruang operasi itu.

Lima jam penuh berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Akhirnya pintu itu terbuka perlahan, dokter dan perawat keluar dengan wajah yang terlihat lega. Dokter segera menghampiri kami dan menyampaikan kabar itu dengan nada meyakinkan:

“Syukurlah, operasi berjalan lancar dan berhasil tanpa kendala apa pun. Ayahmu akan segera dipindahkan ke ruang ICU. Dia masih dalam keadaan koma sebentar—itu hal yang wajar agar tubuhnya bisa beristirahat dan pulih. Kondisinya sekarang stabil, kita tinggal menunggu dia sadar kembali.”

Setelah itu dokter pergi, dan tak lama kemudian ayah dibawa masuk ke ruang ICU dengan segala peralatan medis lengkap. Kami sempat terkejut melihat betapa mewah dan bersihnya ruangan itu—luas, sejuk, dan semua fasilitasnya terbaik. Bahkan rumah sakit menyediakan ruang istirahat terpisah yang nyaman untuk ibu dan adik, meski kami belum boleh masuk ke ruang rawat ayah karena aturan ketatnya.

Namun hal ini justru membuat adikku merasa ada yang aneh. Dalam hatinya ia bertanya-tanya: “Begitu mudahnya biaya terpenuhi, tiba-tiba semuanya jadi terbaik… Kakak terlihat berbeda, Ibu juga menyembunyikan kesedihan. Ada sesuatu yang tidak biasa, tapi aku tak berani bertanya—lebih baik fokus saja pada kesembuhan Ayah.”

Tak lama kemudian seorang perawat datang menjelaskan dengan sopan:

“Mohon dimaklumi, untuk saat ini belum boleh ada yang masuk ke dalam. Ayah masih sangat lemah, daya tahan tubuhnya sedang turun drastis, takut tertular kuman. Demi keselamatannya, kami akan beritahu segera nanti kalau kondisinya sudah membaik dan boleh dijenguk.”

Setelah perawat pergi, ibu kembali duduk membisu tenggelam dalam pikirannya. Sedangkan aku merasa beban di dada makin terasa berat. Aku memutuskan turun ke lantai dasar, keluar sebentar ke halaman depan untuk mencari udara yang lebih lega. Aku duduk di bangku kosong, menatap lurus ke jalan yang mulai gelap, sampai ingatan akan perjanjian tadi pagi kembali terlintas di kepala.

“Besok pagi harus menikah katanya… tapi andai saja bisa dilakukan di depan Ayah, setidaknya agar dia menjadi saksi meski dia belum sadar. Apakah boleh aku meminta begitu? Maukah dia mengabulkannya?” gumamku dalam hati, ragu tapi masih menyimpan harapan kecil.

Setelah memantapkan hati, aku merogoh saku baju, mengeluarkan ponsel dan kartu nama yang masih kusimpan rapi. Jariku sempat gemetar ragu sebelum akhirnya menekan nomor itu. Hanya beberapa detik, suara berat dan tegas yang sudah kukenal terdengar dari seberang:

“Ada apa menghubungi di jam begini?”

Aku menarik napas panjang untuk menenangkan jantung yang berdebar, lalu menjawab sejelas mungkin:

“Ada satu permintaan yang ingin aku sampaikan, Tuan.”

Di ujung sana terdengar hening sebentar, lalu suaranya kembali terdengar tenang:

“Baiklah, katakan saja. Selama tidak melanggar isi kontrak kita, akan aku pertimbangkan.”

Dengan suara yang lebih mantap, aku melanjutkan:

“Aku tahu ini hanya pernikahan perjanjian, berlangsung satu tahun saja. Tapi bolehkah upacaranya dilaksanakan tepat di depan ruang tempat Ayahku dirawat? Dan aku ingin adikku yang menjadi wali nikahku.”

Sekali lagi hening menyelimuti sambungan itu sesaat, sampai jawabannya datang—sedikit lebih lembut tapi tetap tegas seperti biasa:

“Baiklah, permintaanmu aku kabulkan. Semuanya akan dilakukan tepat pukul dua belas siang besok. Sekretarisku akan mengurus semuanya: dokumen, petugas, bahkan riasan dan pakaian pengantin untukmu. Ada hal lain lagi?”

Hatiku terasa sedikit terangkat mendengarnya, dan aku menjawab dengan rasa syukur yang tulus:

“Terima kasih banyak atas pengertian dan kebaikannya, Tuan.”

“Tak perlu berlebihan, itu sudah menjadi bagian dari kesepakatan kita,” jawabnya singkat sebelum mematikan telepon.

Aku kembali masuk ke dalam rumah sakit, berhenti sebentar di kamar mandi untuk membasuh wajah dan menghapus sisa air mata, berusaha terlihat lebih tenang sebelum kembali menemui mereka. Saat sampai di depan ruang ICU, aku hanya duduk diam sendiri. Aku tahu ibu dan adik sedang beristirahat di ruang tunggu, tapi masih ragu untuk masuk—takut melihat tatapan dingin atau kecewa dari ibu. Namun aku terus berusaha meyakinkan diri: “Semoga nanti dia mengerti. Dia sangat menyayangiku, dan saat melihat Ayah sembuh, dia pasti akan memaafkan.”

Karena lelah menahan emosi dan duduk terlalu lama, tubuhku terasa berat sekali. Aku melangkah pelan masuk ke ruang istirahat, melihat ibu dan adik sudah terlelap dalam tidur yang lelah. “Syukurlah, mereka tidur, jadi aku tak perlu merasa cemas sekarang,” pikirku. Aku berbaring mengambil tempat di sisi lain, dan tak lama kemudian terlelap meski tidurku terasa gelisah.

Namun belum lama aku tidur, ibu perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, melihat wajahku yang terlelap tapi masih menyisakan jejak kesedihan di pipi. Ia menatapku lama sekali, tatapannya kosong tapi menyimpan rasa sakit yang luar biasa. Tanpa bersuara, ia bangkit perlahan dan berjalan keluar menuju depan ruang ICU.

Ia berdiri di depan kaca bening, mengintip ke dalam. Di sana terlihat jelas ayah terbaring lemah: kulitnya makin pucat dan kering, tubuhnya yang dulu tegap kini menyusut kurus, tulang pipinya terlihat jelas, rambutnya juga makin tipis dimakan sakit dan obat-obatan. Melihat pemandangan itu, hati ibu terasa seperti dicabik-cabik. Air matanya mengalir deras, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan agar isak tangisnya tidak terdengar. Ia berdiri membeku di sana, pikirannya bimbang, sedih, dan perlahan mulai pasrah—bergumam dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya sendiri: Jalan ini memang pahit sekali, tapi mungkin itulah satu-satunya cara agar nyawa suami yang kucintai bisa tetap terselamatkan.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!