Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rumah yang tak lagi sama
"Mama... Jangan tinggalin Tya," tangis Tya pecah di samping ranjang rumah sakit.
Jemarinya masih menggenggam tangan ibunya erat, seolah dengan begitu ia bisa menghentikan kenyataan yang baru saja terjadi. Namun, tidak ada balasan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata terus mengalir tanpa henti. Dadanya terasa sesak, terlalu sesak. Seolah ada sesuatu yang menghimpitnya dari segala arah.
"Tya..."
Suara seseorang terdengar memanggil. Entah siapa, ia tidak tahu. Atau mungkin ia tidak peduli, karena saat itu dunianya seakan runtuh tepat di depan matanya.
"Mama..." Lirih Tya lagi.
Pandangan Tya mulai terasa aneh. Lampu-lampu ruangan yang tadi terlihat jelas perlahan berubah kabur. Cahaya putih di langit-langit tampak berpendar, memecah menjadi bayangan yang tidak beraturan.
Tya berkedip beberapa kali, namun semuanya justru semakin tidak fokus. Kepalanya terasa ringan, seperti tubuhnya perlahan kehilangan pijakan. Nafasnya memburu, suara-suara di sekitarnya mulai terdengar samar.
"Tya," kali ini suara lain terdengar lebih jelas.
Namun, Tya tidak mampu menjawab. Sejak tadi ia memang sudah menahan pusing, terlalu banyak tekanan dalam satu hari. Dan kini, tubuhnya akhirnya mulai menyerah.
Pandangannya kembali berkunang-kunang. Wajah-wajah di sekitarnya mulai bercampur menjadi bayangan yang sulit dikenali.
Semuanya tampak jauh. Tya mencoba berdiri tegak, namun kakinya terasa lemas, dan tubuhnya ikut oleng. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, seketika semuanya berubah gelap.
Brukk!
Tubuh Tya yang tadi berusaha bertahan akhirnya kehilangan seluruh tenaganya. Namun sebelum tubuhnya benar-benar menghantam lantai, sebuah tangan lebih dulu menangkapnya.
Refleks, murni refleks. Faris bahkan tidak sempat berpikir. Begitu melihat tubuh Tya limbung di sampingnya, tangannya bergerak lebih cepat daripada otaknya.
Mata Faris sedikit membesar, "Ck."
Faris langsung menahan bahu Tya sebelum gadis itu jatuh sepenuhnya. Tubuh Tya terkulai lemas, wajahnya terlihat semakin pucat di bawah riasan yang mulai berantakan karena air mata.
"Tya!" Starla langsung berlari menghampiri.
Megan menyusul di belakangnya dengan wajah panik. "Tya, bangun!" Seru Megan sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Tidak ada jawaban. Ibu Faris yang melihat itu langsung ikut mendekat. Wanita itu berjongkok di samping Tya dengan mata yang ikut memerah.
"Tya, nak..." Panggil ibu Faris lembut. Tangannya menepuk pelan pipi gadis itu. "Tya... Sadar sayang."
Namun, Tya tetap tidak merespon. Kelopak matanya tertutup rapat, tubuhnya benar-benar kehilangan kesadaran.
Di tengah suasana duka yang belum sempat mereda, kepanikan baru justru memenuhi ruangan itu.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Tya mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa begitu berat, seolah baru saja terbangun dari tidur panjang yang melelahkan.
Pandangannya masih buram. Langit-langit kamar terlihat samar di atas sana, sementara tubuhnya terasa lemas bahkan mengangkat tangan pun terasa sulit.
Perlahan, kesadarannya kembali. Dan saat itu, sayup-sayup terdengar lantunan surah Yasin dari kejauhan. Suara itu lembut, mengalun perlahan. Namun, entah mengapa suara itu membuat dada Tya mendadak terasa sesak, hingga membuatnya kesulitan bernapas.
Perlahan, ingatan tentang beberapa jam sebelumnya mulai kembali. Nafas Tya langsung tertahan. Seolah ada sesuatu yang tadi sempat terlupakan, kini kembali menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Air mata yang sempat berhenti kini kembali jatuh. Tya menutup mulutnya dengan tangan gemetar, berusaha menahan isak yang naik ke tenggorokannya.
Namun ia gagal, tangis itu pecah lagi. Lebih pelan dibanding sebelumnya, tapi justru terasa lebih menyakitkan. Tidak ada lagi kepanikan dan harapan, yang tersisa hanyalah kenyataan. Ibunya telah pergi untuk selamanya.
"Tya," suara lembut itu terdengar dari sampingnya.
Baru saat itulah Tya menyadari bahwa ia tidak sendirian di kamar. Starla dan Megan ternyata masih ada di sana, menemani sejak tadi.
Begitu melihat Tya yang kembali menangis, keduanya langsung bergerak mendekat tanpa berpikir panjang. Starla lebih dulu memeluknya erat, disusul Megan yang merangkul Tya dari sisi lain.
"Tya, lo udah sadar?" Bisik Starla dengan mata yang memerah.
"Tumpahin aja kalau mau nangis," ujar Megan sambil mengusap punggung Tya. "Jangan ditahan."
Kalimat itu membuat pertahanan Tya runtuh sepenuhnya. Ia langsung membalas pelukan keduanya. Tangisnya pecah di bahu mereka.
Sementara Starla dan Megan hanya bisa memeluknya lebih erat. Tidak berusaha menghentikan tangis itu. Karena mereka tahu, ada kehilangan yang tidak bisa diobati dengan kata-kata.
"Lo gak sendirian, Ty," ucap Starla sambil mengusap pundak Tya. "Kami ada di sini."
Tya hanya menunduk, air matanya terus jatuh tanpa henti. Beberapa saat kemudian, Tya perlahan mengangkat pandangannya. Matanya sembab, bahkan pipinya basah dengan air mata.
"Gue," gumam Tya dengan suara yang hampir hilang. "Mau ketemu Mama."
Starla menundukkan kepala sesaat, sementara Megan menggenggam tangan Tya dengan lembut. Tidak ada yang melarang atau mengalihkan pembicaraan. Karena mereka tahu Tya membutuhkan itu.
"Iya," ujar Megan dengan anggukan kecil. "Yuk."
Perlahan Megan dan Starla membantu Tya bangkit dari tempat tidur. Mereka berjalan berdampingan keluar dari kamar, menuju tempat dimana Tya akan kembali melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
Tya melangkah pelan memasuki ruang tengah. Dan seketika, langkahnya terasa semakin berat. Beberapa tetangga dan kerabat sudah hadir sejak tadi. Suara lantunan surah Yasin memenuhi ruangan bercampur dengan isak yang sesekali terdengar.
Di atas pembaringan, tubuh ibunya terbujur diam. Begitu tenang hingga membuat hati Tya semakin hancur.
"Mama..." Suara Tya langsung bergetar.
Di sisi pembaringan, ayahnya duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Di dekatnya, kedua orang tua Faris juga hadir. Ibu Faris beberapa kali mengusap sudut matanya yang basah, sementara ayah Faris hanya duduk diam dengan ekspresi muram.
Tak jauh dari sana, Faris ikut duduk. Tatapannya tertuju pada lantai, sesekali pada suasana duka yang memenuhi rumah itu.
Tya melangkah mendekat mendekati pembaringan itu. Ia jatuh berlutut di samping jenazah ibunya. Tangannya bergetar saat menyentuh tangan ibunya untuk terakhir kalinya.
"Tya belum siap kehilangan Mama," suara Tya lirih, nyaris tak terdengar.
Bahu gadis itu bergetar hebat, tangis yang sejak tadi ia tahan kembali runtuh. Bahkan, terdengar lebih pilu dari sebelumnya.
Melihat seorang anak menangisi ibunya seperti itu membuat hati siapapun ikut teriris.
Seorang ibu-ibu tetangga yang duduk tak jauh dari sana akhirnya mendekat. Ia duduk di samping Tya, lalu mengusap punggungnya perlahan.
"Nak," suaranya lembut dan bergetar.
Tya tidak menjawab, tangisnya masih tersedu-sedu. Wanita paruh baya itu kembali mengusap punggung Tya penuh kasih. "Relakan nak... Relakan."
Kalimat itu membuat Tya semakin terisak. Air mata wanita itu ikut jatuh. "Kasihan Mama kalau lihat Tya nangis terus begini."
Tya menutup matanya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah lagi. Dan untuk beberapa saat tidak ada yang menghentikannya. Karena semua orang di ruangan itu mengerti, ada kehilangan yang memang tidak bisa segera diterima.
Faris duduk diam sejak tadi. Tidak melakukan apa-apa, tapi telinganya menangkap semuanya. Terutama tangisan Tya.
Faris mengangkat pandangannya perlahan. Tatapannya tanpa sadar tertuju pada Tya. Dan untuk pertama kalinya, Faris melihat seseorang menangis sedalam itu.
Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dadanya. Hatinya terasa nyeri, cukup untuk membuatnya sulit mengabaikan.
Faris langsung mengalihkan pandangan, mencoba fokus pada hal lain. Namun, rasa nyeri itu tetap ada. Dan Faris tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Ingin mendekat? Tidak mungkin, Tya mungkin malah mengusirnya. Ingin cuek? Entah mengapa rasanya juga tidak bisa. Akhirnya Faris hanya duduk diam di tempatnya, terjebak bahkan dalam kebimbangan yang tidak ia mengerti.
Sementara di hadapannya, tangisan Tya masih terdengar pelan di antara lantunan surah Yasin di rumah itu.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Pagi datang dengan langit yang tampak mendung. Udara terasa sejuk, namun tidak mampu mengurangi sesak yang memenuhi dada Tya sejak semalam.
Orang-orang yang tadi mengantar pemakaman perlahan mulai berpencar. Sebagian lainnya masih berdiri di sekitar makam.
Namun Tya tetap diam di tempatnya. Berdiri di depan pusara yang masih baru. Tanah merah itu masih tampak basah, masih terlalu baru untuk diterima sebagai kenyataan.
Dengan langkah pelan, Tya berjongkok di samping makam ibunya. Tangannya yang bergetar perlahan menyentuh permukaan tanah itu, dingin, lembab, dan sangat nyata.
Hati Tya terasa semakin sakit, air mata menggenang di pelupuk matanya. Jemarinya menggenggam sedikit tanah yang masih basah itu. Seolah dengan begitu ia bisa merasa lebih dekat dengan ibunya yang kini telah pergi.
Tya menundukkan kepala, bahunya bergetar pelan. Di antara isak yang berusaha ia tahan, sebuah senyum rapuh muncul di wajahnya.
"Mama sekarang udah enggak sakit lagi, kan?"
Air mata Tya jatuh, membasahi tanah di genggamannya. "Mama enggak perlu minum obat lagi." Suaranya semakin lirih. "Enggak perlu bolak-balik rumah sakit lagi."
Dada Tya terasa semakin sesak. Karena selama ini melihat ibunya berjuang melawan penyakit adalah sesuatu yang begitu akrab dalam hidupnya. Dan kini, perjuangan itu telah berakhir untuk selamanya.
Tya menatap pusara itu lama, "Mama istirahat yang tenang ya..."
Di belakangnya, ayah Tya dan kedua orang tua Faris berdiri dengan mata yang memerah. Starla dan Megan juga masih berada di sana. Sementara Faris hanya berdiri tanpa kata.
Mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan Tya berbicara dengan ibunya untuk terakhir kalinya.
Angin pagi berhembus lembut melewati area pemakaman, menggerakkan dedaunan dan rerumputan di sekitar mereka.
Tya sendiri masih berjongkok di samping makam itu. Menatap tanah yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir wanita yang paling ia sayangi.
Di tengah rasa kehilangan yang begitu besar, Tya mencoba meyakinkan dirinya sendiri akan satu hal. Mungkin, ibunya memang sudah pergi. Tapi setidaknya sekarang, ibunya tidak merasakan sakit lagi.
Ayah Tya menatap putrinya lama. Melihat gadis itu yang masih berjongkok di samping makam. Mata Tya sembab dan wajahnya terlihat lebih pucat dibanding biasanya.
Hati ayahnya ikut terasa perih. Namun, seberat apapun, mereka tidak bisa terus berada di sana. Ayahnya akhirnya melangkah mendekat, menyentuh pundak Tya perlahan.
"Tya," panggil ayahnya lembut.
Tya mengangkat wajahnya perlahan, matanya kembali memerah.
"Ayo pulang, nak," lanjut ayahnya.
Dada Tya kembali terasa sesak. Biasanya, kata itu terasa hangat, karena di rumah selalu ada ibunya yang menunggu. Tapi sekarang, semuanya terasa berbeda. Tya menundukkan pandangan, lalu mengangguk pelan.
"Iya, Pa."
Tidak ada penolakan, tidak ada tangisan lagi. Seolah tenaganya sudah habis sejak semalam.
"Hati-hati, Ty," ujar Starla.
Dengan bantuan Starla dan Megan, Tya akhirnya berdiri. Ia menatap makam ibunya sebelum berbalik mengikuti ayahnya dan keluarga barunya.
Langkah Tya terasa begitu berat, namun tetap ia paksa berjalan. Namun, baru beberapa langkah, Tya kembali menoleh ke belakang. Tatapannya tertahan pada makam sang ibu. Dan entah mengapa air matanya kembali menggenang.
Saat itulah sebuah tangan merangkul pundaknya. Tya menoleh sedikit, ibu Faris berdiri di sampingnya.
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Tidak mencoba menenangkan dengan kalimat-kalimat panjang, tidak pula meminta Tya untuk kuat. Ia hanya merangkul pundak gadis itu pelan dan terasa hangat.
Sederhana, namun cukup untuk membuat Tya merasa bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.
Mata ibu Faris sendiri masih terlihat sembab. Kehilangan sahabat yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun jelas meninggalkan luka yang cukup besar.
Wanita itu mengusap bahu Tya sekali lagi. Sebuah isyarat sederhana, seolah mengatakan bahwa tidak apa-apa Tya bersedih. Dan tanpa sadar, Tya sedikit mendekat ke arah wanita itu.
Di depan mereka, ayah Tya berjalan pelan dengan ayah Faris. Starla dan Megan mengikuti beberapa langkah di belakang, sementara Faris berjalan mengikuti tanpa mengatakan apapun.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan. Tidak ada percakapan dan suara apapun selain deru mesin kendaraan dan helaan nafas yang tertahan.
Tya duduk di dekat jendela, tatapannya kosong menembus kaca. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Atau mungkin ia tidak sedang memikirkan apapun. Karena terkadang rasa kehilangan yang terlalu besar justru membuat seseorang mati rasa.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Rumah yang begitu Tya kenal. Namun saat berdiri di depan gerbangnya, Tya justru merasa asing.
Ayahnya lebih dulu membuka pintu. Dan saat Tya melangkah masuk, dadanya kembali terasa sesak. Rumah itu sama, semuanya masih sama.
Namun justru itulah yang membuat semuanya terasa berbeda. Karena seseorang yang biasanya ada di rumah itu kini sudah tidak ada. Tidak ada lagi suara lembut ibunya, yang ada hanya keheningan yang terasa begitu asing.
Pandangan Tya perlahan menyapu setiap sudut rumah. Dan semakin ia melihat, semakin terasa jelas bahwa rumah ini tidak akan pernah sama lagi. Dan untuk pertama kalinya, ia pulang ke rumah tanpa ibunya.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️