NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Malam itu, setelah acara makan malam, Danish langsung saja masuk ke dalam ruang kerjanya dan menghindar tatap dari Hana. Setelah kejadian tadi sore, entah mengapa ia sulit sekali mengontrol perasaanya. Dan, hanya sikap sensi itu yang dapat Danish berikan, demi menutupi semua rasa yang tengah berdentum.

Sementara Hana, setelah menidurkan Baby Keira, wanita itu membuka pintu balkon untuk sekedar bersantai sambil menikmati waktu malam.

Malam ini, bintang tak begitu banyak. Langit dominan lebih mendung, hingga membuat hawa dingin menyelinap di pori-pori kulit. Hana duduk, mendongak kecil, hatinya tetiba saja menghangat. Rupanya, sudah sejauh ini ia melewati semuanya. Hana masih tak menyangka, jalan hidupnya selika liku ini.

"Nggak nyangka sekali, rupanya rumah tanggaku sudah berakhir, Ya Allah!" gumam kecil Hana. Ingatanya kembali terlempar, kala pertemuan pertamanya dengan Dzaki hingga berakhirnya mahligai yang mereka bangun di Pengadilan.

Terakhir kali Hana melihat sosmed Mona, sahabatnya itu tengah melakukan foto maternity di usia kehamilannya-5 bulan. Dada Hana masih berdesir, ketika melihat keduanya tengah bahagia melakukan pemotretan itu.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja gawai Hana bergetar diatas meja kecil.

Sebuah nomor asing kini masuk, dan membuat tatapan Hana menyipit ragu. "Nomor siapa ya?" dengan mengurangi rasa penasarannya, ia segera menggeser tombol hijau yang tertera.

"Hallo, ini siapa ya?"

Di sebrang, pria yang tak lain Rangga itu mulai membuka suara. "Hallo. Maaf sebelumnya... Apa benar ini dengan, Hana?"

Dahi Hana berkerut, "Iya, benar! Maaf, Anda siapa ya?"

Pria tadi tersenyum tak terlihat. "Saya Rangga, putra Bu Aprilia. Kamu pasti tahu 'kan, siapa Ibu saya?"

Hana teringat. Dan baru sadar. "Oh, jadi ini nomor putranya Bu Aprilia," bisik Hana. Lalu ia kembali menjawab, "Oh, iya... Saya masih ingat. Apa Bu Aprilia bercerita banyak kepada Anda?"

Sementara di Bangkok,

Rangga saat ini tengah berada di ruangan samping, dan sekali-kali matanya menoleh kearah sudut ruang, demi memastikan apakah Rani mendengarnya atau tidak.

"Tidak terlalu. Dia hanya menyuruh saya untuk mendekati kamu. Maaf sebelumnya, Hana... Apa pun yang Mamah saya katakan, tolong jangan masukan hati! Karena saya tahu pasti Mamah sudah bercerita banyak tentang saya sama kamu. Dan... Saya minta maaf atas kelancangan ini," kata Rangga mencoba bersikap bijaksana.

Hana jelas tidak mempermasalahkan hal itu. "Saya juga tidak begitu merasakan. Saya hanya menganggapnya ucapan kosong, bentuk kembalian ucapan terimakasih waktu itu. Dan... Mungkin dengan cara itu Bu Aprilia dapat meluapkan emosionalnya yang menumpuk."

Rangga tertunduk. Ia sejujurnya juga tak tega membohongi Ibunya terlalu lama. Namun, apa jadinya jika ia mengatakan yang sebenarnya tentang sosok wanita yang di gilainya itu Rani.

"Maaf mengganggu waktu kamu, Hana! Saya masih dalam perjalanan bisnis. Lain waktu jika saya kembali, kita bisa 'kan bertemu sekedar bertukar cerita?" tawar Rangga.

Hana tak menganggapnya bentuk beban. "Tentu, bukan masalah berat!"

"Baik, saya matikan dulu. Selamat malam, Hana...." putus Rangga.

Baru saja ia akan berbalik arah, rupanya Rani sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan selidik. "Sayang... Kamu udah lama di sini?" tanya Rangga agak gugup.

Rani menyipitkan matanya. "Hana? Siapa dia, Rangga? Kamu bilang akan menelfon tangan kananmu di Indonesia??? Tapi... Siapa Hana tadi?"

Rangga mengambil tangan kekasihnya. Wajahnya semaksimal mungkin mengulas senyum demi mengurangi rasa gugup yang mendesak. "Oh, itu... Hana adalah Neneknya Jeremi. Semua orang memanggilnya Hana, termasuk lidahku ini," tawa hambarnya.

Rani mencoba percaya. Setelah manggut-manggut, ia langsung mengalungkan kedua tanganya pada Rangga.

Cup!

Dalam posisi int*m seperti ini, Rangga sungguh tak dapat mengabaikan bibir chery itu. Ia kecup sekilas, lalu kedua tangan kekarnya mengangkat tubuh Rani untuk ia dudukan diatas nakas.

Rangga mencondongkan setengah tubuhnya ke depan, dengan kedua tangan yang menekan sudut nakas tadi. "Kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak, sayang! Hatiku ini hanya milik kamu. Apa pun permintaanmu akan aku turuti, selama itu dapat membuatmu bahagia," ucap Rangga begitu tulus.

Tangan Rani membingkai wajah tampan nan tegas di depanya. Lalu ia daratkan kecupan dalam pada rahang keras itu.

Cuppp!!!

"Kamu memang sangat berbeda dengan Danish, Rangga! Bersama kamu hidupku menjadi bewarna. Aku dapat bebas menghirup udara manis tanpa adanya tangisan bayi lagi," kata Rani yang seolah dirinya sudah sangat lupa dengan putri kecilnya.

Rangga kembali berkata. "Rani... Padahal, jika kamu membawa bayimu pun... Pasti aku akan menerimanya dengan tangan terbuka. Kita dapat merawat putrimu sama-sama... Lagian, anaknya Danish juga keponakanku...."

Rani menghembuskan napas berat. "Aku tidak ingin bayi kecil itu mengganggu aktivitasku, Rangga! Dan... Adanya dia, pasti kita tidak dapat berduaan seperti saat ini," sanggahnya yang tak habis pikir.

"Aku sangat mampu hanya untuk menyewakan pengasuh buat putrimu, sayang! Jika kamu bersikap seperti ini... Bagaimana jika kita memiliki anak?" tatapan Rangga tetiba mengendur, antara ragu dan bimbang.

Rani memalingkan tatapanya malas. "Udah lah, Rangga... Kita nggak usah bahas anak dulu! Aku belum siap jika harus hamil lagi," kesalnya.

Lagi-lagi Rangga harus mengalah akan hal itu. Ia tahu, jika sudah seperti ini, hanya satu yang dapat mengembalikan mood Rani. "Segera bergantilah baju, kita akan dinner romatis malam ini," bisiknya.

Rani berbinar. Ia kembali mengecup bibir Rangga untuk sejenak. Lalu turun, dan langsung masuk kedalam.

Sementara Rangga, ia tersenyum puas melihat wanita yang dicintainya merasa bahagia lagi. "Entah sampai kapan kamu akan terus aku rahasiakan, Rani. Tapi... Mungkin suatu saat kamu pasti akan aku kenalkan kepada keluarga besar... Termasuk Danish!"

****

Waktu sudah menunjukan pukul 21.30 malam.

Danish keluar dari ruangannya dan kini berjalan menuju kamar sang putri, hanya sekedar memastikan jika Keira rewel atau tidak.

Pintu itu berderit kecil, meninggalkan kesan sunyi di dalamnya. Dengan hati-hati, Danish masuk ke dalam. Ia merasa lega, Keira terlelap di dalam box bayinya, sementara selambu tipis itu sudah membingkai indah.

Danish hanya mengulas senyum damai. Ia tak ingin mencium atau sekedar membuka selambu itu. Cukup memandang saja, hati Danish cukup menghangat.

Namun ketika Danish menoleh ke arah ranjang, rupanya Hana tidak ada. "Dimaan dia?" bisiknya sambil mengedarkan mata.

Langkah Danish mengendur, ketika melihat pintu balkon kamar masih terbuka. "Ngapain dia malam-malam diem di sana kayak gitu?" gumamnya dengan lipatan pada dahinya.

Puas menatap, rupanya bersamaan itu Hana juga bangkit dan berniat masuk kembali. Namun, ia di kejutkan dengan Bosnya yang ada di dalam dan tengah menatapnya dengan kaku.

"Pak Danish mau apa?"

Danish tersadar. Ia mencoba mengubah kembali ekspresi dinginya. "Kamu itu tanu nggak sih? Ini sudah malam, dan kamu dengan sengaja membiarkan angin malam itu masuk sampai terkena Keira gitu?!"

"Pak. Ta-tapi maksud saya bukan seperti itu-"

Danish lebih dulu menyambar lagi. "Kamu itu becus kerja nggak sih? Jangan samakan ketika kamu di rumah! Angin malam itu tidak baik bagi kesehatan tubuh! Apalagi bocah sekecil Keira!" suara Danish meninggi, namun masih dapat ia kontrol.

Hana, wanita itu tertunduk karena memang ia kali ini salah. Ia sampai lupa berdiam di luar tanpa menutup pintu balkon terlebih dulu.

"Saya minta maaf, Pak!" seru Hana sambil meremat gawainya dibawah.

"Maaf-maaf... Apa begitu cara orang-orang nggak tahu diri menebus rasa bersalahnya? Ini peringatan terakhir buat kamu, Hana!" desaknya. Setelah cukup, Danish kembali keluar begitu saja.

1
akukaya
kau yg tak pandai baca situasi... dan tak pandai kawal diri... konon dingin padahal mengawal diri laaa tu ...ada rasa getaran chinnntaaa... ptuiiiiii 🤣🤣🤣
Dewi Sinta
aprilia atau shofi thor 😌
74 Jameela
wooooeeeeyyyy..jaman udh millenial kok msh trllu ngejunjung tinggi balas budi gk hrs gt jg keleeeessss🤮🤮..jijik banget sm si tentara...cinta kok meksoooo..iku jenenge terObsesi🤮
akukaya
Pikun? kan udah lihat DRAMA di Rumah Sakit kamu.
akukaya
ni selalu kesilapan ibu² muda... walau masih nifas, bersih²,kemas,wangi,rajin mandi itu wajib... lelaki memang mata lalat... tapi bila isteri tak pandai urus diri, si mata lalat ni hinggap ke tahi lain juga... sbb si mata lalat ni,. lihat betina/sampah lain tu wangi lebih dari isterinya sendiri... maka... dlm permasalahan pasangn dlm citer ni... keduanya sama² SALAH... itu saja.... lihat kan... sesudah ditinggalkan boleh pula melawa mempercantikkan diri... kenapa masa² nifas biarkan diri berdaster dn lambat mandi... tiada alasan tak sempat... ok faham perasaan sedang berkabung krn kehilangan bayi,.. silapnya Hana ni terbawa bawa rasa kehilangan itu... Kehilangan bayi ,ya aku simpati..... 😁.. jika pun ada kisah benar begini ... aku tak berani komen.... hahahahhahahahahahahahaha
akukaya
mana ada Eddah... talak 3 .. tak ada ruang buat rujuk dah... selain CINA BUTA... huhuhu
Elly Sukanti
nahh loh Hana ketemu sm masa lalunya
Nona aan Chayank
Maaf Thor, tapi bukannya Dzaky sdh menjatuhkan talak tiga ke Hana yaa? Kok bisa seenaknya masuk rumah Hana lagi dan dibiarkan pula oleh Hana??
Jumi Atin
padahal alurceritanya bagus,tp, banyak ngk relevan dgn cerita awal , skip
Rαtu Mαtchα🍿
Lanjut thor
echa purin
👍
An'ra Pattiwael
hana jgn terlalu oooonnnn
Anonim
masa lalu denis blm selesai2
Sativa Kyu
👍👍
Ana Burhaini
Hhh itu lukman knp histeris
Ana Burhaini
Mantap hana jgn mau di madu laki "mau enk ny aja ga berpikir sakit nya di khianati jgn goyah hana 💪💪
Ana Burhaini
Smgt hana raih kebhagiaan mu tanpa seorang suami pngkhianat percantik diri dan kesukses an mu hana
Ana Burhaini
Mona pelakor ga punya rsa belas kasihan sm temen sendiri yah begitulah kl pelakor ga peduli suami temen
Cut Dini
❤️❤️❤️
Alfa Hana
kayaknya madh pernah bilng kalau bapaknya pergi pas hana umur 1th dan belum bisa mengibgat bapaknya kok disisni hana umur 4th dan mengingat bapaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!