Perkenalkan Namaku Kanaya, sekarang aku berumur 24 tahun, Aku adalah CEO dari salah satu perusahaan milik ayahku, setelah aku pulang dari Amerika aku diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaan ayah, tak lama kemudian aku menikah dengan lelaki impianku dia begitu tampan dan mempesona semenjak kita satu sekolah di SMA aku mulai tertarik padanya. tapi sikapnya sangat cuek dan dingin padaku, bahkan setelah dia menjadi suamiku dia tidak berubah.
Kami menikah dengan perjodohan yang dilakukan keluarga kami, Meski dia tidak mencintai aku namun aku memaksanya untuk punya anak darinya sebagai tanda bukti bawa aku mencintai nya meskipun aku harus mengorbankan nyawa ku sendiri
Apakah aku bisa meluluhkan hatinya dihari-hari terakhirku.. ikuti kisahku ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eneng Selly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Mobil Defano sudah sampai dikantor Kanaya, dengan wajah menahan luka Kanaya turun dari mobil itu.
" Terima kasih sudah mengantarku " ucap Kanaya
" Iya sama-sama, cepat turun dari mobilku aku banyak urusan " ucap Defano sinis
Ceklek,,
Kanaya turun dari mobil itu dan segera masuk keruangannya dengan menahan tangisnya, didalam ruangannya iya menangis meluapkan sakit hatinya dengan perkataan Defano yang terasa membuatnya sesak nafas
Hiks... Hiks... Hiks....
" Sebenci itukah kamu padaku,, ini terasa amat sakit,, Apa Aku tak berhak bahagia,, dan apa salahnya jika aku mau menghabiskan sisa umurku dengan orang yang aku sukai .. " ucap Kanaya sambil menangis
Hiks... Hiks... Hiks....
" Tuhan, ini amat terasa menyakitkan,, tapi aku tak berhak mengeluh namun untuk kali ini saja aku boleh memintamu untuk memberikan dia sedikit rasa pedulinya untukku " ucap Kanaya masih menangis
Meli hendak menyampaikan laporan pekerjaannya kepada sang majikan namun didengarnya sang majikan sedang menangis
" Nona Kanaya kenapa, belum pernah aku mendengar tangisnya terasa dalam seperti orang yang sedang marah dan kecewa,, ada apa sebenarnya ini " batin Meli
" Ini laporan penting tapi kalau aku Kesana gimana ya,, nona Kanaya akan marah tidak ya padaku " batin Meli
Tok... Tok.. Tok..
" Masuk " ucap Kanaya menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya
" Nona maaf menggangu saya ingin memberikan laporan ini, ini sudah saya kerjakan " ucap Meli sambil ragu-ragu
" Bawa sini aku mau melihatnya " ucap Kanaya meminum air putih terlebih dahulu agar iya lebih tenang
" Ini Nona silahkan.. " ucap Meli
Kanaya segera memeriksa Laporan dengan teliti meski perasaannya sedang sedih namun iya mencoba untuk profesional apalagi yang menyangkut pekerjaan
" Laporannya bagus, sudah sesuai saya suka " ucap Kanaya
" Nona bolehkan saya bertanya " ucapnya meli tampak ragu
" Ada apa.. " tanya Kanaya
" Apa Nona sedang ada masalah, maksud saya mungkin saya bisa membantu Nona " ucap Meli
" Aku hanya sedang sedih saja.. " ucapnya kembali Manangis
" Nona bisa menceritakannya padaku,, aku berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun " jawabnya
" Aku sedang bingung saja,, Aku seperti sedang serba salah " ucap Kanaya kembali menangis
" Kasian Nona, Belum pernah aku melihat nona sesedih ini " batin Meli
" Setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya,, nona harus kuat.. " ucap Meli memberi semangat
" Apa Kamu yakin aku akan kuat " tanya Kanaya
" Nona Orangnya kuat dan tegar,, Nona pasti bisa menghadapinya " ucap Meli
" Terima kasih sudah menenangkan aku " ucap Kanaya sedikit tenang
" Sama-sama Nona, Meski Nona majikan saya tapi bagi saya Nona orang yang paling penting dihidup saya, apalagi Nona sudah membiayai pengobatan ibu saya " ucap Meli sambil tersenyum
" Aku juga sudah menganggap mu sebagai keluarga jadi jika ada apa-apa jangan sungkan " ucap Kanaya
" Baik Nona " ucap Meli
Mereka pun segera bersiap-siap untuk melakukan Meting bersama kliennya di Cafe, Meskipun Meli perempuan tapi dia juga tak kalah seperti Asisten laki-laki, Dia jago bela diri dan bisa menyetir itu yang membuat Kanaya merasa aman jika bersama dengan meli.
Mereka sudah sampai di cafe sesuai permintaan klien, namun sesampainya disana iya melihat Defano bersama sekretarisnya sedang makan bersama di cafe tersebut
Kanaya tidak terganggu dengan pemandangan seperti itu, iya dan Meli segera duduk dikursi yang sudah iya pesan dan kebetulan ya mejanya sebelahan dengan meja Defano
Kanaya dengan tenangnya duduk dikursi itu bersama Meli sambil membuka laptopnya sedangkan Defano menatapnya sinis.
" Ngapain dia disini, apa dia membuntutiku " batin Defano
" Bukanya itu yang namanya Kanaya, yang dibilang Defano akan dijodohkan denganya " batin Sarah
" Itu bukanya Tuan Defano yang dijodohkan sama nona Kanaya, kenapa dia enak-enakkan dengan wanita lain " batin Meli kesal
Tak lama kemudian Sang Klien itu datang dan menghampiri Kanaya yang sudah menunggunya disana
" Selamat sore Nona Kanaya, maf sekali saya terlambat karena dijalan macet sekali " Ucapnya
" Tidak apa-apa Pa Erik saya mengerti " ucap Kanaya
" Apa Meetingnya bisa kita mulai " tanya pa Erik
" Baik " ucap Kanaya menjelaskan tentang proyek yang iya tawarkan pada klien, Kanaya menjelaskannya dengan detail bahkan Defano yang mendengarkan Kanaya berbicara merasa kagum padanya
" Ternyata Bagus juga cara kerjanya beda banget dengan Sarah, tapi ish kenapa aku malah memuji dia, aku kan benci dia " batin Defano
" Bagus sekali Nona Kanaya,, saya kagum dengan anda sudah muda, pintar dan sudah menjadi Ceo pula.. anda memang pantas diposisi itu " puji Pa Erik selaku klien merasa puas
Sementara meja sebelahnya tak tinggal diam mereka menyindir Kanaya namun tak Kanaya tanggapi
" Kalau itu mah kamu juga bisa iya kan sayang " ucap Defano pada Sarah
" Iya sayang bener banget, disini pelakor berkeliaran kamu harus hati-hati, jangan sampai tergoda " ucapnya menyindir Kanaya
" Kamu tenang saja aku tidak akan pernah mencintai nya sampai kapanpun " ucap Defano dengan senyum jahatnya melihat ke arah Kanaya namun Kanaya hanya fokus pada laptopnya dan fokus menjelaskan proyeknya agar pekerjaannya cepat selesai
" Mau kemana kamu " ucap Kanya menahan tangan Meli
" Saya mau memberikan pelajaran pada nyamuk-nyamuk disekitar " ucap Meli
" Tidak usah biarkan saja " ucap Kanaya dan pa Erik pun segera menandatangani kontrak kerjanya, iya merasa puas dan senang dengan yang disampaikan Kanaya terlebih dia juga melihat sikap Kanaya yang tampak elegan dan santai
Setelah selesai Kanaya dan Meli pun segera pergi dari sana dan segera menuju kantor.
Bersambung...
menyesal memang belakangan...
critanya udh bgus ka, klo bsa d revisi biar readers lbih nyaman lgii bcanya...
smngattt
apa el bkn kk kndung kay ?