NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beberapa Jam Sebelum Pesta...
Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Amsterdam, suasana begitu sunyi. Hanya suara hujan tipis yang sesekali membentur kaca jendela.
Audrey berdiri di depan jendela dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, penuh kebencian. Penuh ambisi dan penuh kemungkinan yang ia khayal kan.
Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh besar mengenakan jaket hitam. Wajahnya dipenuhi bekas luka, membuat penampilannya semakin menyeramkan.
"Kau harus bisa menyusup masuk ke dalam pesta itu," perintah Audrey dengan suara dingin.
Pria itu menganggukkan kepala.
"Apa targetnya?"
Audrey membalikkan tubuhnya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Hanya mengawasi Liora. Kita tidak akan bergerak sekarang, tapi nanti saja."
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, disertai sorot mata yang dipenuhi kebencian.
"Malam ini, semua orang akan menyambutnya bak seorang putri yang kembali ke rumah."
Ia tertawa pelan, sinis. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Sedikit banyak, dia pernah tinggal bersamaku."
Pria tersebut menatap Audrey tanpa banyak bertanya. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Audrey berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah.
"Cukup awasi saja. Awasi setiap sudut mansion itu. Hafal semua sudut-sudutnya. Agar saat waktunya tiba, itu pasti akan mempermudah kita."
Ia menatap lurus ke mata pria itu.
"Biarkan pesta itu berakhir dengan bahagia. Kita hanya perlu memikirkan strategi selanjutnya."
Pria itu terdiam sejenak. "Kalau sampai ketahuan?"
Audrey mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam laci meja.
"Ini bayaran untukmu. Aku berani menjamin. Kau tidak akan ketahuan," Jawa Audrey begitu meyakinkan.
Pria itu menerima amplop tersebut dan membukanya sekilas. Isinya lembaran uang euro dalam jumlah yang cukup besar.
"Pakai topeng ini agar kau tidak ketahuan."
Audrey memberikan topeng silikon pada pria itu. Pria itu mengangguk pelan.
"Aku mengerti."
Audrey kembali menatap ke arah jendela. Bayangan lampu kota Amsterdam terlihat berkilauan di kejauhan.
"Wanita itu..." gumamnya lirih. "Seharusnya tetap menjadi gadis miskin yang tidak punya siapa-siapa."
Tangannya mengepal kuat.
"Tapi sekarang dia mendapatkan keluarga, kekayaan, bahkan kasih sayang yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya."
Nada bicaranya semakin dipenuhi racun kebencian.
"Aku membesarkannya selama bertahun-tahun, tetapi yang dia lakukan justru meninggalkanku."
Pria itu menyelipkan amplop ke dalam jaketnya.
"Aku akan masuk sebagai salah satu staf katering. Tidak ada yang akan curiga."
Audrey mengangguk puas.
"Bagus."
Ia membuka sebuah map berisi denah mansion keluarga Collins.
"Pintu utama akan dijaga ketat."
Jarinya bergeser menunjuk bagian belakang bangunan.
"Masuklah melalui pintu layanan di sisi dapur. Para pelayan dan kru dekorasi keluar masuk dari sana."
Pria itu mengamati denah tersebut dengan saksama.
"Setelah berada di dalam, tunggu instruksiku."
Audrey menyerahkan sebuah ponsel sekali pakai.
"Jangan hubungi nomor pribadiku. Gunakan ini."
"Baik."
Pria itu berbalik meninggalkan ruangan.
Saat pintu tertutup, Audrey kembali menatap foto Liora yang terpajang di layar ponselnya.
Dengan gerakan perlahan, ia mengusap wajah gadis itu menggunakan ibu jarinya. Namun bukan dengan kasih sayang.
Melainkan dengan kebencian yang mendalam.
"Kau pikir hidupmu akan berubah setelah kembali menjadi putri keluarga Collins?" bisiknya pelan.
Tatapannya mengeras.
"Tidak, Liora. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi dengan mudah. Ayahmu yang sudah tiada itu seharusnya mendapat sebagian dari harta warisan itu. Tapi sialan! Ternyata ayahmu begitu bodoh, karena lebih percaya sahabatnya daripada aku istrinya. Ia lebih memilih membuat kerjasama lalu bangkrut. Aaargghh! "