Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Setelah menginap satu malam di Malaka untuk memastikan kondisi Bu Sari tetap stabil, keesokan harinya Chensi dan Annisa bersiap kembali. Mereka menuju bandara pribadi, lalu menaiki pesawat yang akan membawa mereka kembali ke kediaman Chensi.
Begitu pesawat terbang stabil di ketinggian yang aman, suasana di dalam kabin menjadi tenang. Annisa duduk bersandar di kursi yang empuk, matanya menatap jendela tempat awan putih berarak di bawahnya. Namun pikirannya tidak tenang—pertanyaan dan pandangan curiga ibunya tadi terus terngiang di kepalanya.
Chensi yang duduk di sampingnya menyadari kegelisahan itu. Ia menaruh buku yang dibacanya, lalu menoleh dengan pandangan lembut.
“Masih memikirkan perkataan ibumu, ya?” tanyanya pelan.
Annisa menoleh, lalu mengangguk perlahan sambil menghela napas panjang. “Ya, Tuan. Saya merasa sangat bersalah harus berbohong atau menutupi kenyataan. Tapi saya takut jika saya katakan sekarang, Ibu akan kaget dan kondisinya bisa memburuk lagi. Belum lagi status kita yang belum jelas… bagaimana saya bisa menjelaskannya?”
Chensi menggenggam tangan Annisa dengan lembut, memberikan rasa tenang. “Aku mengerti. Kita memang tidak bisa terus menyembunyikan selamanya, tapi kita juga tidak boleh memaksakan keadaan. Itulah sebabnya aku sudah memikirkan sesuatu selama ini—cara agar kita bisa hidup berdampingan, menjaga hak dan kewajiban, tanpa melanggar keyakinan masing‑masing.”
Annisa menatapnya dengan tatapan penuh harap. “Cara apa, Tuan? Bukankah perbedaan keyakinan ini adalah tembok yang tidak bisa kita robohkan?”
“Memang tidak bisa kita robohkan, tapi kita bisa membangun jembatan di atasnya,” jawab Chensi tegas namun lembut. “Kemarin aku sudah bertemu dengan penasihat hukum dan juga tokoh agama yang memahami kedua ajaran kita. Mereka menjelaskan bahwa kita tidak harus terikat dalam ikatan pernikahan agama untuk memiliki tanggung jawab yang sah. Kita bisa membuat perjanjian tertulis yang diakui hukum—menyatakan bahwa aku mengakui anak ini sebagai anak kandungku, bertanggung jawab penuh atas kebutuhanmu, kesehatan, tempat tinggal, serta pendidikan dan masa depan anak kita.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan hati‑hati.
“Dalam perjanjian itu juga kita bisa menuliskan batasan yang jelas. Aku akan menghormati keyakinanmu sepenuhnya—menyediakan tempat ibadah yang layak, memastikan semua makanan dan kebutuhanmu halal, serta tidak memaksamu mengikuti ajaranku. Sebaliknya, kamu juga menghormati jalanku. Kita tinggal dalam satu rumah sebagai ayah dan ibu bagi anak kita, menjaga kehormatan dan batas masing‑masing, tanpa harus menjadi suami istri secara agama.”
Annisa mendengarkan dengan seksama, pikirannya memutar mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan. Ini adalah hal yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah hubungan yang didasari tanggung jawab dan rasa hormat, bukan ikatan pernikahan yang biasa orang kenal.
“Jadi… kita hidup bersama demi anak, saling melindungi, tapi tetap memegang teguh apa yang kita yakini?” tanyanya lirih.
“Benar,” jawab Chensi mantap. “Ini bukan solusi yang sempurna menurut pandangan banyak orang, tapi ini satu‑satunya jalan yang tidak memaksa kita mengubah jati diri masing‑masing. Dengan perjanjian ini, kamu juga memiliki kepastian—tidak lagi merasa seperti orang asing yang terjebak, tapi sebagai orang yang memiliki hak dan tempat yang jelas di rumah ini.”
Annisa menunduk, memegang perutnya yang mulai terasa gerakan lembut di dalamnya. Air matanya menetes perlahan, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa lega yang mulai muncul. Selama ini ia hanya melihat dua pilihan yang terasa berat. Pergi dan membesarkan anak sendirian, atau tinggal dan hidup dalam ketidakjelasan yang menyiksa. Sekarang ada jalan ketiga yang bisa diambil.
“Tapi… apakah ini akan diterima oleh keluarga Tuan? Atau oleh keluarga saya nanti?” tanyanya dengan ragu. Sebenarnya bukan jalan ini yang ia inginkan, tetapi sepertinya tidak ada cara lain lagi. Karena ia juga tidak punya hak untuk memaksakan kehendak hatinya. Ia juga harus menghormati keputusan lelaki itu.
“Kita hadapi satu per satu,” jawab Chensi sambil mengusap punggung tangannya. “Untuk keluargaku, aku sudah cukup tegas menyatakan bahwa ini urusan pribadiku. Sedangkan untuk keluargamu, nanti kita jelaskan secara bertahap. Kita katakan bahwa aku bertanggung jawab sebagai ayah anakmu, dan kita sepakat untuk hidup bersama demi kebaikan anak itu tanpa melanggar aturan yang kita pegang.”
Annisa mengangkat wajahnya, menatap Chensi dengan pandangan yang lebih tenang dan penuh percaya. “Baiklah, Tuan. Saya bersedia mencobanya. Semoga ini menjadi jalan yang diridhai Tuhan, dan tidak membawa kesulitan lebih besar ke depannya.”
Annisa tidak tahu apakah ini jalan yang terbaik? Tapi untuk saat ini ia benar-benar tidak punya pilihan. Ia tidak bisa pergi, dan ia juga tidak bisa harus berpisah dengan bayinya kelak. Tapi apakah ibu dan adiknya bisa menerima semua ini? Ah sudahlah. Untuk saat ini ia jalani saja semestinya. Ia akan tetap menjaga batasan dan tidak mau bawa perasaan. Harus bisa menyingkirkan segala rasa yang mulai tumbuh, karena pada akhirnya mereka tetap tidak akan bisa bersatu sebagai pasangan suami istri.
Chensi tersenyum lega, lalu mengusap lembut punggung tangan Annisa. “Terima kasih sudah percaya padaku. Mulai hari ini, kita tidak lagi berjalan sendirian. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”
Pesawat terus melaju menuju tempat tinggal mereka, membawa harapan baru dan kepastian yang perlahan mulai terbentuk di antara dua jiwa yang berbeda keyakinan namun terikat oleh nasib dan rasa sayang yang tumbuh perlahan.
Sesampainya kembali di kediaman, Chensi segera bergerak cepat. Ia memanggil penasihat hukum terpercaya dan tokoh penasihat yang telah disepakati untuk datang ke rumah. Selama dua hari berikutnya, mereka duduk bersama menyusun isi perjanjian itu dengan sangat teliti, memastikan tidak ada satu pun poin yang merugikan atau melanggar prinsip kedua belah pihak.
Di atas kertas resmi yang dicap hukum, tertulis jelas.
- Chensi mengakui anak dalam kandungan Annisa sebagai anak kandungnya, menanggung seluruh biaya hidup, kesehatan, pendidikan, dan hak warisnya.
- Chensi menyediakan tempat tinggal yang layak, terpisah namun dalam satu lingkungan, serta memastikan semua kebutuhan Annisa sesuai ajaran yang dianutnya, tempat ibadah, dan kebebasan menjalankan ibadah tanpa gangguan.
- Keduanya sepakat menjaga batas kehormatan dan keyakinan masing-masing, tidak memaksakan satu sama lain mengubah apa yang diyakini.
- Hubungan ini didasari tanggung jawab dan rasa hormat, bukan ikatan pernikahan agama, sehingga tidak melanggar aturan yang dipegang Annisa.
Setelah dibaca dan disetujui, keduanya menandatangani dokumen itu dengan hati yang lebih tenang. Untuk pertama kalinya, Annisa merasa memiliki status yang jelas, bukan lagi sekadar tamu atau mantan pelayan yang tidak punya posisi pasti.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Kabar tentang kehamilan Annisa dan perjanjian yang dibuat itu segera menyebar ke lingkaran terdekat, sampai ke telinga dua pihak yang sejak awal tidak menyukai keberadaan Annisa.
Pertama yang datang adalah Ailin, mantan kekasih Chensi. Wanita itu datang dengan wajah merah padam, diiringi dua orang pengawal yang berusaha menghalangi namun tidak berani bertindak kasar.
“Chensi! Apa maksudmu semua ini? Kau membuangku, lalu memilih wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya, bahkan mengakui anaknya seolah itu hal yang terhormat!” bentaknya begitu masuk ke ruang tamu, suaranya memecah keheningan.
Chensi berdiri tegak, tatapannya dingin dan datar. “Aku sudah katakan berkali-kali, hubungan kita sudah selesai. Apa yang aku lakukan dengan hidupku dan anakku adalah urusanku sendiri. Tidak ada yang berhak mencampuri, apalagi kau yang sudah mengkhianati kepercayaanku dulu.”
“Mengkhianati? Kau malah membela wanita itu! Dia hanya memanfaatkanmu, Chensi! Lihat saja, dia datang ke sini miskin, sekarang dia punya segalanya hanya karena mengandung anakmu!” seru Ailin semakin emosi.
Belum selesai pertengkaran itu, datang lagi tamu yang tidak diundang—Ayah Chensi dan Nyonya Lin, ibu tirinya. Mereka melangkah masuk dengan wajah penuh kemarahan dan rasa tidak setuju.
“Chensi, kau sudah keterlaluan!” bentak Ayah Chensi begitu melihat suasana. “Kau adalah pewaris perusahaan terbesar, nama baik keluarga harus dijaga. Bagaimana mungkin kau membuat perjanjian semacam itu dengan wanita asing? Ini hanya akan menjadi bahan omongan orang banyak!”
Nyonya Lin segera menimpali dengan nada sinis.“Benar sekali. Siapa dia? Hanya pembantu yang datang dari negara miskin. Sekarang dia mengandung anakmu, lalu mengatur hidupmu sesuka hati, bahkan mendapatkan sebagian harta kekayaanmu. Jangan-jangan dia sudah memakai ilmu atau cara licik untuk memikatmu!”
Annisa yang berdiri di belakang Chensi mendengar semua hinaan itu, tangannya mengepal erat, tubuhnya gemetar karena marah dan sakit hati. Namun sebelum ia sempat bicara, Chensi melangkah maju, menutupi tubuh Annisa dengan punggungnya, seolah membentengi gadis itu dari semua serangan lisan.
“Cukup!” bentak Chensi dengan suara menggelegar, membuat seluruh ruangan seketika hening. Matanya menyala penuh amarah, tatapannya tajam menatap ketiga orang di depannya. “Ingat ini baik-baik. Apa yang aku miliki adalah hasil keringatku sendiri, bukan pemberian kalian. Jadi urusan hidupku, urusan anakku, dan urusan siapa yang aku lindungi adalah hak mutlakku.”
Ia menunjuk ke arah pintu dengan nada tegas. “Annisa bukan pembantu lagi, dan dia bukan wanita yang memanfaatkan. Dia adalah ibu dari anakku, dan dia berhak mendapatkan kehormatan serta perlindungan dariku. Siapa pun yang berani menghinanya, mengganggunya, atau meragukan kehormatannya—berarti menghina aku sendiri. Mulai hari ini, jangan pernah datang lagi ke rumah ini dengan maksud mencampuri urusan kami. Jika kalian tidak bisa menghormati keadaannya, maka lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi untuk sementara waktu.”
Kata-kata tegas itu membuat Ayah Chensi dan Nyonya Lin tertegun, tidak menyangka putranya akan bersikap sekeras itu. Ailin pun terdiam, menyadari bahwa posisinya sudah tidak ada lagi di hati Chensi.
“Kau akan menyesali keputusan ini, Chensi!” geram Ayah Chensi sebelum akhirnya berbalik dan pergi diiringi Nyonya Lin dan Ailin yang tidak berdaya.
Setelah mereka pergi, suasana kembali hening. Chensi segera berbalik, menatap Annisa yang masih terlihat terguncang. Ia mengusap lembut bahu gadis itu dengan pandangan penuh rasa sayang.
“Maafkan mereka. Jangan biarkan kata-kata mereka menyakiti hatimu. Mulai hari ini, tidak ada siapa pun yang bisa menghinamu atau mengganggumu lagi. Aku akan menjagamu dan anak kita, apa pun yang terjadi.”
Annisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa aman yang ia rasakan. Di tengah perbedaan dan banyaknya rintangan, ia merasa memiliki tempat yang kuat untuk bersandar.
“Terima kasih, Tuan Chensi… terima kasih sudah membela saya dan anak ini,” ucapnya lirih.
Chensi tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Kita sudah membuat perjanjian, dan sekarang kita harus membuktikan bahwa jalan yang kita pilih ini bisa berjalan dengan baik. Ayo, mari kita istirahat. Besok kita mulai hidup dengan aturan dan batasan yang sudah kita sepakati.”