Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang ICU
Di balkon lantai dua, Arslan menerima panggilan itu dengan suara lirih, berusaha tidak membangunkan siapa pun di dalam kamar. Udara malam terasa dingin, tetapi dadanya justru mendadak panas oleh firasat yang tak menentu.
"Fathiya? Ada apa malam-malam begini?" tanyanya pelan.
Di seberang sana terdengar suara gaduh—riak percakapan orang, langkah kaki tergesa, dan bunyi samar alat medis. Di antara kebisingan itu, napas seseorang terdengar tersengal.
Lalu suara perempuan yang bergetar menahan cemas menyusul.
"Arslan..."
"Halo, Fathiya?" Arslan mengernyit, berusaha menangkap suara itu lebih jelas. "Ada apa?"
Suara bising di seberang membuat ucapan Fathiya terputus-putus.
"Halo... Arslan..."
"Iya, Fath. Ada apa? Kenapa telepon malam-malam begini?" Nada suara Arslan mulai berubah tegang.
Ia berjalan mondar-mandir di balkon, mengangkat ponsel lebih tinggi, barangkali sinyal-nya yang bermasalah.
"Halo, Fath? Kamu dengar suaraku?"
"Iya... aku dengar..." jawab Fathiya akhirnya lebih jelas. Ia tampaknya mulai menjauh dari keramaian, mencari sudut yang lebih tenang.
Beberapa detik hening berlalu. Lalu kalimat itu jatuh seperti petir di tengah malam.
"Arslan... Ibumu masuk rumah sakit."
Tubuh Arslan menegang seketika.
"Apa?!" suaranya meninggi tanpa sadar. "Kenapa dengan Mama?"
Jantungnya berdegup keras, telapak tangannya mendadak dingin.
"Lebih baik kamu cepat ke rumah sakit sekarang," ucap Fathiya lembut namun tegas. "Nanti aku jelaskan di sini."
Arslan menelan ludah susah payah.
"Iya. Aku berangkat sekarang."
Tanpa menunggu balasan lagi, ia memutus sambungan telepon.
Arslan berdiri terpaku di balkon, menatap halaman rumah yang gelap di bawah sana. Angin malam menerpa wajahnya, namun tak mampu menenangkan gejolak di dada. Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan.
Tiba-tiba ada ketakutan yang merasuki dadanya.
Perasaan itu datang begitu cepat malam ini. Selama ini ibunya memang sering membuatnya kesal, terlalu ikut campur, terlalu keras kepala, terlalu sering memaksakan kehendak. Namun di balik semua itu, wanita itu tetap ibunya.
Perempuan pertama yang menggendongnya.
Yang menunggui demamnya saat kecil.
Yang tak pernah tidur ketika ia sakit.
Yang diam-diam bangga pada setiap pencapaiannya meski sering tak pandai menunjukkannya.
Dan kini, bayangan kehilangan itu tiba-tiba berdiri begitu dekat di hadapannya.
Arslan memejamkan mata rapat.
"Aku belum siap..." gumamnya lirih.
***
Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Zulfa berdiri membeku. Ia tak mendengar seluruh percakapan. Namun cukup mendengar satu nama yang menembus dadanya seperti pisau. Fathiya. Perempuan macam apa, malam-malam begini menelfon suami orang, batinnya.
Zulfa memilih mundur perlahan kembali ke ranjang saat mendengar langkah kaki Arslan mendekat. Cepat-cepat ia berbaring dan memejamkan mata.
Lalu Arslan masuk dengan langkah tergesa. Ia membuka lemari, mengambil kemeja, celana, dompet, dan kunci mobil. Lalu ia berdiri di sisi ranjang, menatap istrinya yang tampak tertidur. Arslan ragu untuk membangunkan istrinya yang terlihat kelelahan seusai melayaninya di ranjang.
Tangannya sempat terulur ingin menyentuh rambut Zulfa.
Namun urung.
Ia hanya berbisik pelan, "Maaf ... Aku pergi dulu!"
Suara pintu tertutup terdengar lirih. Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil menyala di halaman. Lalu menjauh meninggalkan rumah besar itu.
Zulfa membuka mata perlahan, merasa sunyi yang mulai menyegap. Sisi ranjang di sebelahnya kosong.
Untuk pertama kali sejak mereka menikah—Arslan pergi di tengah malam tanpa memberitahunya.
***
Di rumah sakit.
Arslan berlari secepat mungkin begitu tiba di lobi rumah sakit. Langkahnya panjang dan tergesa, napasnya memburu, wajahnya tegang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, pria itu tampak kehilangan kendali.
Orang pertama yang menyambut kedatangannya adalah Fathiya. Wanita itu masih mengenakan jas dokter, rambutnya diikat rapi, namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang sama besar. Dengan dada naik turun menahan panik, Arslan langsung bertanya.
"Mama kenapa, Fath?" suaranya bergetar.
Fathiya menatapnya tenang, berusaha menjadi penyeimbang di tengah kepanikan Arslan.
"Kata Ayahmu, Tante Farah tiba-tiba pingsan saat makan malam." Ia menjelaskan cepat namun jelas. "Beliau panik saat merasa denyut jantung Tante melemah, jadi langsung dibawa ke sini. Aku kebetulan sedang jaga malam, lalu tanpa sengaja bertemu mereka di IGD. Ayahmu yang minta aku menghubungimu."
Arslan menelan ludah susah payah.
"Papa di mana sekarang?" tanyanya lagi.
"Masih di depan ruang ICU." Fathiya menghela napas tipis. "Dari tadi aku minta beliau duduk dengan tenang di ruang tunggu, tapi Ayahmu menolak."
Tanpa membuang waktu, Arslan segera berlari menuju lorong ICU. Fathiya mengikuti di belakangnya, langkahnya cepat namun tetap tenang sebab ia adalah dokter yang terbiasa menghadapi keadaan darurat.
Begitu sampai di depan ruang ICU, Arslan melihat sosok ayahnya berdiri membelakangi lorong. Bahu pria paruh baya itu tampak turun, seolah menanggung beban yang terlalu berat seorang diri.
"Papa..." panggil Arslan lirih.
Ardiwilaga menoleh. Wajahnya pucat, matanya merah, seolah beberapa menit terakhir telah merenggut bertahun-tahun dari usianya.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Arslan cepat.
Ardi menggeleng lemah.
"Mama kamu belum siuman." Suaranya terdengar serak. "Dokter masih memeriksa penyebabnya. Mereka bilang kondisinya sempat kritis waktu masuk."
Jantung Arslan terasa diremas.
"Tapi tadi Mama baik-baik saja, kan?" tanyanya tak percaya. "Waktu makan malam... tidak ada tanda apa-apa?"
Ardi mengusap wajahnya kasar.
"Beberapa minggu terakhir Mama kamu memang sering kelihatan lemas." Ia menatap lantai. "Papa sudah berkali-kali minta dia periksa ke dokter, tapi selalu menolak."
"Katanya cuma capek."
"Dia malah minum obat sendiri dari apotek."
Arslan mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras menahan gejolak yang tiba-tiba memenuhi dada—marah, takut, cemas, semuanya bercampur menjadi satu.
"Kenapa Papa biarkan?" ucapnya tanpa sadar meninggi.
Ardi menatap putranya lama.
"Karena Papa terlalu mengenal sifat Mama kamu." Senyum pahit muncul di bibirnya. "Kalau dia sudah keras kepala, siapa yang bisa melawan?"
Kalimat itu membuat Arslan terdiam.
Karena ia tahu... itu benar.
Di sisi lain, Fathiya yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka memilih diam. Ia melihat bagaimana sosok Arslan yang selama ini selalu tegas dan kokoh, malam ini tampak rapuh sebagai seorang anak laki-laki yang takut kehilangan ibunya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya suara alat medis dan langkah kaki perawat yang terdengar di lorong panjang itu.
Lalu pintu ICU terbuka.
Seorang dokter senior keluar sambil melepas masker.
Arslan dan Ardi spontan berdiri bersamaan.
"Dokter... bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ardi dengan suara bergetar.
Dokter itu menatap keduanya serius.
"Kami berhasil menstabilkan kondisi pasien."
Arslan mengembuskan napas lega, tetapi rasa lega itu hanya bertahan sesaat ketika dokter melanjutkan kalimatnya.
"Namun..."
"Kami menemukan sesuatu pada hasil pemeriksaan awal."
Wajah Arslan menegang kembali.
"Sesuatu apa, Dok?"
Dokter menatap mereka bergantian, lalu berkata pelan namun jelas—
"Kami mencurigai ada masalah serius pada jantung beliau... dan kemungkinan ini sudah berlangsung cukup lama."
Arslan menelan ludah dalam-dalam. Wajahnya menegang, sementara matanya terpaku kosong ke arah pintu ICU. Ia begitu terkejut mendengar penjelasan dokter barusan.
Ibunya—wanita yang selama ini selalu tampak sehat, kuat, bahkan seolah tak tersentuh usia—ternyata menyimpan sakit yang tak diketahui siapa pun.
Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya.
Selama ini ia terlalu sibuk memendam kesal. Terlalu sibuk menjaga jarak hanya karena Farah kerap mencampuri rumah tangganya. Hingga ia lupa satu hal paling sederhana—menanyakan kabar ibunya.
Bahkan sekadar menemani makan malam atau menelepon lebih dulu pun jarang ia lakukan.
Arslan menunduk. Rahangnya mengeras menahan sesak.
Seharusnya... aku bisa lebih sabar.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, dokter senior tadi kembali membuka suara.
"Namun kami masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan."
Ia menoleh ke arah Fathiya yang berdiri tak jauh dari sana.
"Mungkin dokter Fathiya bisa membantu kami."
Fathiya mengangguk cepat.
"Baik, Dok."
"Bisa kita bicara sebentar?"
Dokter itu memberi isyarat agar Fathiya ikut menjauh. Keduanya lalu berjalan ke ujung lorong dan terlibat percakapan serius dengan suara pelan.
Arslan hanya bisa memandangi dari kejauhan, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang tak ingin ia bayangkan.
Beberapa menit kemudian, Fathiya kembali menghampiri Arslan dan Ardiwilaga. Wajahnya tenang, namun ada keseriusan yang tak bisa disembunyikan.
"Untuk sementara, Tante Farah biar aku yang tangani," ucapnya lembut namun tegas. "Dokter Lukman mencurigai ada massa atau tumor di area jantung Tante Farah. Kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosisnya."
Kalimat itu membuat tubuh Ardiwilaga seolah kehilangan tenaga.
Ia terduduk lemas di kursi ruang tunggu, kedua tangannya menutup wajah. Napasnya terdengar berat.
Sementara Arslan berdiri mematung. Dadanya berdebar begitu keras hingga nyaris menyakitkan.
Ia menatap Fathiya dengan mata merah yang mulai berkaca-kaca.
"Tolong aku, Fath..." suaranya parau. "Selamatkan ibuku... bagaimana pun caranya."
Untuk pertama kalinya, Arslan menangkupkan kedua tangannya di depan seseorang. Bukan sebagai pengusaha besar, bukan sebagai pria yang selalu berwibawa—melainkan hanya sebagai seorang anak yang sedang ketakutan kehilangan ibunya.
Fathiya terdiam sesaat. Tatapannya melunak melihat Arslan dalam keadaan serapuh itu.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin." Ia menatap Arslan mantap. "Tante Farah akan mendapat penanganan terbaik."
Setelah mengucapkan itu, Fathiya berbalik dan melangkah cepat menuju ruang tindakan.
Lorong rumah sakit kembali sunyi.
Arslan menjatuhkan tubuhnya ke kursi di samping sang ayah. Ia menunduk dalam-dalam, kedua tangan menyangga kepala.
Di dalam hati, ia terus berdoa tanpa suara.
***
Sementara itu, di rumah, Zulfa dilanda gelisah sejak kepergian Arslan tanpa sepatah kata pun.
Ia menatap langit-langit kamar yang remang, mencoba memejamkan mata, namun kantuk tak kunjung datang. Ada sesuatu yang terus mengusik benaknya.
Nama itu.
Fathiya.
Entah mengapa, nama itu selalu berhasil menjadi sumber kegelisahannya. Zulfa ingin percaya sepenuhnya pada suaminya. Ia ingin menepis semua prasangka buruk yang perlahan tumbuh di hati. Namun setiap kali ia berusaha tenang, nama itu kembali muncul dan mengguncang keyakinannya. Selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Malam terasa panjang.
Sedari tadi Zulfa hanya memutar tubuh ke kanan dan ke kiri, mengganti posisi tanpa tujuan, berusaha mencari nyaman yang tak juga datang.
Hingga tiba-tiba suara notifikasi pesan memecah sunyi kamar. Zulfa refleks bangkit. Ia segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas.
Pukul empat dini hari.
Nama pengirim di layar membuat dadanya berdebar.
Arslan.
Zulfa membuka pesan itu dengan jemari sedikit gemetar.
Mama di rumah sakit. Maaf aku nggak sempat pamit, karena nggak mau ganggu tidurmu. Aku akan pulang kalau Mama sudah siuman.
Mata Zulfa membesar. Segala prasangka yang sejak tadi memenuhi kepalanya seketika luruh, berganti rasa khawatir yang mendadak memenuhi dada.
Tanpa menunggu lama, ia langsung membalas cepat.
Di rumah sakit mana? Aku mau ke sana sekarang.
Pesan itu terkirim hanya dalam hitungan detik.
Di lorong rumah sakit yang dingin, Arslan yang sejak tadi duduk menunduk dengan wajah letih segera menatap layar ponselnya. Saat membaca balasan sang istri, senyum kecil terbit di bibirnya.
Di tengah malam yang berat dan penuh kecemasan ini, hanya satu hal yang mampu menenangkan hatinya—
bahwa Zulfa tetap memilih datang.
Ia segera membalas.
Rumah Sakit Sentra Medika. Tapi kamu nggak usah buru-buru. Jalan pelan-pelan aja, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.
Pesan itu membuat mata Zulfa menghangat.
Di saat seperti ini pun, Arslan masih sempat memikirkan keselamatannya.
Zulfa segera turun dari ranjang, mengenakan gamis panjang dan hijab sederhana. Tangannya bergerak cepat, namun hatinya tetap berdebar tak tenang.
Ia tak sempat berdandan. Tak sempat memikirkan apa pun. Yang ada di pikirannya hanya satu—
Arslan pasti sedang sendiri menghadapi semuanya. Dan ia ingin berada di samping suaminya.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil terdengar dari halaman rumah. Zulfa mengemudi sendiri menembus jalanan subuh yang lengang.
Sementara di rumah sakit, Arslan memandang lorong panjang di depannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar sendirian.
***