Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Joy langsung memprotes, suaranya terdengar sedikit bergetar karena menahan perasaan yang bercampur antara kesal dan malu. Ada kilap tipis air mata di sudut matanya, membuat ekspresinya tampak semakin rapuh dan tanpa sadar, justru semakin menggemaskan.
Melihat itu, Yvaine tidak bisa menahan senyum tipis yang perlahan terlukis di bibirnya.
“Baiklah.. baiklah,” ucapnya lembut, nada suaranya menenangkan, meski masih terselip sisa tawa yang belum sepenuhnya hilang.
Yvaine mengangkat tangan seolah menyerah, lalu melirik ke arah jendela, tempat cahaya matahari siang telah masuk dengan terang, menyusup ke dalam ruangan dan menyelimuti lantai dengan hangat. “Aku tidak akan menggodamu lagi. Sudah siang, aku harus bangun untuk sarapan. Kamu mau ikut denganku, Joy?”
Tidak ada jeda.
Seolah takut kehilangan kesempatan itu, Joy langsung mengangguk dan merapat, kedua tangannya memeluk bahu Yvaine dengan erat. Ia menyandarkan tubuhnya tanpa ragu, seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat paling aman di dunia.
“Iya..” jawabnya pelan, suaranya manis dan tulus.
Senyum Yvaine pun melembut tanpa disadari.
Dengan hati-hati, ia menggendong Joy turun dari tempat tidur, gerakannya penuh perhatian.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suasana sedikit berubah.
Seorang kepala pelayan tua yang sejak tadi berdiri di samping dengan sikap kaku akhirnya memberanikan diri untuk maju. Langkahnya cepat, namun tetap menjaga sopan santun yang telah tertanam selama puluhan tahun.
“Nyonya.. biarkan saya saja,” katanya, menunduk sedikit. Ada nada hati-hati dalam suaranya, seolah takut melangkah terlalu jauh.
Joy yang bersandar di bahu Yvaine perlahan mendongak. Pandangannya bertemu dengan pria tua itu, dan dalam sekejap, kesadaran menghantamnya.
“Tuan Butler..”
Wajahnya langsung berubah merah padam.
Baru sekarang ia ingat bahwa semua yang terjadi sejak tadi tidak luput dari pengawasan pria itu.
Rasa malu itu datang seperti gelombang, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar, ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di pelukan Yvaine, seolah berharap dunia di luar sana bisa lenyap begitu saja.
Yvaine mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum samar.
'Anak ini… benar-benar mudah sekali merasa malu.'
Dengan nada menggoda, ia menepuk ringan pantat Joy.
“Hmm?”
Joy tersentak, tubuhnya menegang, hampir saja ia kembali menangis karena kaget.
Yvaine tertawa pelan, lalu mengalihkan perhatiannya pada kepala pelayan.
“Tidak perlu,” ujarnya tenang, namun tegas. “Aku akan melakukannya sendiri. Di mana kamar Joy?”
Kepala pelayan itu tampak sedikit terdiam, jelas tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia berkedip sekali sebelum akhirnya menjawab dengan cepat, hampir refleks.
“Kamar terakhir di sebelah kiri, Nyonya.”
“Baik.”
Tanpa menunggu lebih lama, Yvaine langsung melangkah pergi, tetap menggendong Joy dengan nyaman di pelukannya.
Kepala pelayan itu hanya bisa berdiri di tempat, memandang punggung mereka yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik lorong panjang. Ekspresinya berubah, menjadi jauh lebih dalam dan sulit ditebak.
Nyonya mereka.. benar-benar berbeda sekarang.
***
Di dalam kamar, suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.
Yvaine bergerak dengan cekatan, seperti seseorang yang sudah terbiasa melakukan hal-hal semacam ini. Ia membersihkan tubuh Joy dengan lembut, memastikan setiap gerakan tidak membuat anak itu tidak nyaman.
Setelah itu, ia memakaikan pakaian bersih dan merapikan rambutnya, bahkan sempat memilihkan baju tidur bergambar kelinci kecil yang membuat penampilan Joy terlihat semakin menggemaskan.
Joy sendiri duduk diam di atas tempat tidur, membiarkan semuanya dilakukan tanpa protes.
Ketika semuanya selesai, Yvaine mundur sedikit, ia menatap hasil kerjanya dengan puas. Tatapannya kemudian melembut, dan tanpa sadar, tangannya terulur mencubit pipi bulat Joy.
“Kamu anak yang baik sekali,” ucapnya pelan. “Tunggu di sini, ya. Aku akan mandi, lalu kita sarapan bersama.”
“Iya!” jawab Joy cepat, hampir tanpa berpikir.
Wajahnya langsung bersinar, seperti bunga yang baru saja mekar di bawah sinar matahari.
Di dalam hatinya, sebuah harapan kecil perlahan tumbuh.
'Mommy sangat lembut. Jika saja mommy selalu seperti ini.. Pasti akan sangat menyenangkan.'
***
Di luar pintu, kepala pelayan tua itu masih berdiri.
Namun kali ini, ia tidak lagi sekadar menunggu. Tatapannya berubah menjadi lebih dalam, dipenuhi pemikiran yang berlapis-lapis.
'Dulu nyonya tidak pernah sedekat ini dengan tuan muda, bahkan menyentuh pun hampir tidak pernah. Namun sekarang..'
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang.
Tak lama kemudian, Yvaine kembali ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai dan berganti pakaian, ia kembali ke kamar Joy tanpa ragu.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat anak itu ke dalam pelukannya, membawanya turun menuju lantai bawah.
Di ruang makan, para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan tiba-tiba terdiam.
Gerakan mereka terhenti.
Satu per satu kepala terangkat, mata mereka membesar saat melihat pemandangan di depan mereka.
Nyonya.. Menggendong tuan muda?
Dengan.. ekspresi selembut itu?
Beberapa dari mereka bahkan berkedip, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Namun kenyataan tidak bisa disangkal.
Yvaine benar-benar berjalan menuruni tangga sambil memeluk Joy, bahkan sempat berbisik sesuatu yang membuat anak itu tersenyum kecil.
Sampai akhirnya ia menyadari tatapan-tatapan itu.
Matanya menyipit, tajam dan dingin, kontras dengan kelembutan yang baru saja ia tunjukkan sebelumnya.
“Kenapa kalian diam?” suaranya rendah, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang.
Para pelayan yang tertangkap basah langsung menunduk, jantung mereka berdegup kencang.
Tidak ada yang berani menjawab.
Suasana berubah mencekam dalam sekejap. Yvaine tidak berkata apa-apa lagi.
Tatapan Yvaine perlahan berubah, ia menatap Joy yang masih berada dalam pelukannya, lalu mengeratkan genggamannya sedikit, seolah memberikan perlindungan yang tak terlihat.
“Ayo,” bisiknya pelan.
Dan di dalam hatinya, sebuah keputusan telah dibuat..
Bahwa ia akan melindungi anak ini, ia akan memperlakukannya sebagai darah dagingnya sendiri.
Dan siapa pun yang berani meremehkannya tidak akan pernah ia biarkan begitu saja.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆