NovelToon NovelToon
Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Tania (Tatapan Tanpa Rasa )

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:557.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Komalasari

Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.

Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.

Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyonya Muda

Mulai hari ini, Nathania akan menjalani hari-harinya sebagai istri dari Elang Adhitama Gunardi. Itu artinya, kini ia telah menjadi seorang nyonya di istana megah milik Elang itu.

Nathania mengawali hari ini dengan menggeser pintu lemari pakaiannya yang sangat besar itu. Ia sangat penasaran dengan isi dari lemari yang lebarnya hampir memenuhi setengah dari ruangan itu.

Seketika matanya terbelalak ketika melihat deretan dress cantik dengan harga yang sangat fantastis. Nathania mengetahui hal itu dari banderol harga yang masih menggantung di setiap baju yang berderet rapi disana.

Nathania pun memilih satu dress double layer berwarna mocca dengan sebuah alas kaki berupa selop berwarna putih. Hari ini ia tidak akan kemana-mana.

Ia pun membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Sesuai perintah Tuan Besar, ia tidak lagi mengepang rambutnya.

Nathania bediri di depan meja riasnya. Disana berjejer rapi aneka produk kecantikan yang akan ia gunakan untuk menunjang penampilannya sebagai istri dari seorang Elang.

Entah siapa yang membantu Elang dalam menyiapkan semua hal seperti itu, karena Nathania yakin jika Elang pasti tidak mengetahui ataupun faham dengan semua yang berbau kebutuhan seorang wanita.

Nathania mengambil salah satu peralatan make up dengan merk yang sudah sangat ternama itu. Bahkan disana ada beberapa lipstick dengan aneka warna. Nathania pun melihat lipstick itu satu persatu.

Seketika ia mengerutkan keningnya. Hampir semua perona bibir itu berwarna merah.

"Oh ... luar biasa," gumamnya pelan.

"Apanya?" tiba-tiba Elang muncul di belakangnya dengan wajah yang kini berada di sebelah wajahnya.

Nathania terkejut. Ia memegangi dadanya.

Elang tertawa pelan. "Kenapa?" tanyanya.

Nathania melirik Elang, masih dengan wajah kagetnya.

Elang pun menatap sang istri dari pantulan kaca di meja rias itu. Wajah manis tanpa polesan make up sama sekali. Namun, ia menyukai rambut panjang yang tergerai indah itu.

Perlahan Elang pun menyentuh rambut panjang itu, kemudian ia pun memindahkannya ke pundak sebelah kiri Nathania. Dan kini, rambut panjang itu telah menjuntai indah di atas pundak sang istri.

Tanpa melepas tatapannya, ia mengelus lembut lengan sang istri yang kebetulan saat itu memakai dress tanpa lengan. Ini pertama kalinya Nathania memakai pakaian yang tidak berlengan seperti itu.

"Kamu suka semua baju yang sudah ku siapkan untukmu?" bisik Elang.

Nathania mengangguk pelan.

"Syukurlah. Aku ingin kamu selalu tampil cantik untukku," ucap Elang seraya membalikan badan sang istri.

Nathania menatap lekat pria yang kini berdiri dihadapannya. Ia merasa heran karena Elang tidak menatapnya dengan tajam seperti biasanya.

"Aku tidak suka tatapan matamu," bisik Elang.

"Kenapa?" tanya Nathania pelan. Ia tidak mengerti.

Elang tidak menjawab. Ia seperti tidak dapat menjabarkan apa yang ada di dalam fikiran dan perasaannya saat itu.

Ia lebih memilih menghindari Nathania, dan mengambil salah satu jas yang tergantung rapi dari lemarinya yang berada tidak jauh dari lemari Nathania.

"Mau pergi?" tanya Nathania ketika melihat Elang merapikan dirinya dengan jas itu.

"Ya. Ada sedikit urusan di pabrik. Aku harus kesana. Nanti sore kita bicara lagi," Elang telah selesai dengan jasnya.

"Ini benar-benar tidak lucu. Aku harus ke pabrik dihari pertama pernikahanku," gerutu Elang. Ia tampak sedikit kesal.

Sementara Nathania masih berdiri sambil menatapnya.

Elang pun menoleh padanya. Dihampirinya wanita berwajah lembut itu, dan tanpa permisi ia pun menciumnya. Seperti biasa,10 detik saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

Nathania harus mulai terbiasa dengan hal itu.

"Aku pergi dulu," Elang pun berlalu keluar dari kamarnya.

Sesaat kemudian, Nathania pun memutuskan untuk keluar dari kamar, dan berniat untuk menemui Rahman di kamar tamu. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia karena kamar itu telah kosong.

Nathania pun segera ke dapur.

Disana, ia bertemu dengan mbak Min dan keponakannya Titiek. Mereka sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Melihat kehadiran Nathania disana, Titiek pun segera mengangguk hormat.

"Ada apa, Tan? Eh ... Bu, Tania," ralatnya seraya menutupi mulutnya dengan jari-jemarinya. Gadis berkepang dua itupun tersipu malu.

Nathania tersenyum manis. "Kenapa, Tiek? Panggil Tania saja tidak apa-apa," jawab Nathania dengan rendah hati.

"Tidak boleh begitu, tidak sopan!" sela mbak Min.

"Bagaimanapun juga, sekarang Tania adalah istri pak Elang. Dia sekarang adalah nyonya di rumah ini," lanjut mbak Min.

Nathania tertawa pelan. Sebenarnya ia masih ingin berbincang dengan kedua sahabatnya sewaktu bekerja disana dulu, akan tetapi saat ini ia tengah mencari Rahman.

"Oh, iya. Apakah. kalian melihat kakakku?" tanya Nathania dengan wajah sedikit cemas.

Mbak Min dan Titiek saling pandang.

"Bukannya mereka sudah pulang pagi tadi, sekitar pukul setengah delapan. Memangnya Bu Tania tidak tahu?" tanya Titiek. Gadis berkepang dua itu terlihat keheranan.

Nathania terkejut mendengar apa yang dikatakan Titiek. Ia tidak tahu jika Rahman dan keluarganya telah pergi dari rumah itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun beranjak dari dapur. Pergi ke kamarnya dan mengambil tas selempang kecilnya. Setelah itu, ia pun keluar.

Nastya memperhatikan kepergian kakak iparnya itu dari balkon kamarnya. Tersungging senyuman kecil di sudut bibirnya mungilnya.

...🍀🍀🍀...

Nathania melangkahkan kakinya memasuki gang menuju rumah Rahman. Meski dengan hati yang berdebar-debar, ia memaksakan diri untuk mengetuk pintu rumah itu.

"Tan ...." panggil salah seorang tetangga disana.

Nathania menoleh. Seorang wanita setengah baya keluar dari dari dalam rumahnya.

"Kenapa kamu kemari?" wanita itu bertanya dengan terheran-heran.

Namun, sikap heran wanita itu justru yang telah membuat Nathania semakin heran.

"Kenapa, Bi?" Nathania bertanya.

"Lha, bukannya Rahman sudah pindah sejak dua hari yang lalu? Waktu terakhir kamu kemari dengan pria tinggi itu, sore harinya Rahman langsung pindah," tuturnya.

Terkejut, itulah yang dirasakan Nathania saat itu. Ia tidak mengetahui jika sang kakak ternyata sudah pindah rumah.

"Pindah kemana mereka? Lalu, bagaimana dengan rumah ini?" fikir Nathania dalam hati.

"Bibi tahu mereka pindah kemana?" tanya Nathania lagi.

Wanita setengah baya itu menggeleng. " Bibi fikir mereka ikut denganmu, Tan?"

Semakin tidak karuan saja apa yang Nathania rasakan kali ini. Ia meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai. Ia tidak mengetahui sama sekali, dimana keberadaan Rahman dan juga keluarganya saat ini. Kemana ia harus mencari mereka? Kenapa kakak angkatnya itu saat ini selalu menghindarinya? Apa kesalahan yang telah ia lakukan?

Nathania tidak mengerti sama sekali.

Hari semakin siang ketika Nathania pulang kembali ke istana megah yang kini telah menjadi tempat tinggalnya.

Wajahnya muram dan hatinya tidak karuan.

Sejenak ia tertegun kala mendengar teriakan Aida. Ia pun memutuskan untuk melihat keadaan wanita tua itu.

Mengetuk pintu dan masuk.

Tampak Aida tengah duduk di atas tempat tidurnya sambil berteriak-teriak minta cebok.

Nathania pun segera menghampiri wanita tua itu.

"Nenek, kenapa?" tanyanya.

Melihat kedatangan Nathania disana, Aida terdiam. Entah ia ingat atau tidak kepada gadis itu, namun sikapnya kini jauh lebih tenang.

Nathania pun bermaksud untuk membersihkan Aida, sebelum akhirnya perawat yang bertugas untuk merawatnya masuk ke dalam kamar dan mencegahnya.

"Jangan, Bu! Ini tugas saya," ucapnya.

"Tidak apa-apa," jawab Nathania.

"Tidak, Bu. Nanti pak Elang bisa marah jika Bu Tania masih melakukan pekerjaan ini. Ini tugas saya," perawat itu keukeuh tidak mengizinkan Nathania menyentuh Aida.

"Ya, sudah. Tapi lain kali tolong jangan biarkan nenek sampai berteriak-teriak seperti itu!" pesan Nathania dengan senyumnya yang ramah.

Perawat itupun mengangguk tanda mengerti.

Selepas dari lamar Aida, Nathania pun memilih untuk kembali ke kamarnya. Kamar Elang yang mewah.

Dengan lesu, ia melepaskan tas selempangnya dan terduduk di tepian tempat tidurnya. Nathania termenung sendirian.

Dalam hati ia terus bertanya-tanya kemana Rahman dan keluarganya? Ia juga heran dengan sikap sang kakak kepadanya.

Entah apa yang telah menjadi alasan pria berambut cepak itu, karena kini ia seperti tidak ingin menganggap Nathania sebagai adiknya lagi.

Nathania masih termenung. Akan tetapi, seketika ia terkejut mendapati Elang keluar dari kamar pakaian itu, lemari mewah mereka berdua.

Nathania sontak berdiri dan menatap pria dengan kemeja putih itu. Elang menghampirinya seraya melipat lengan sebelah kiri dari kemejanya. Ia pun menatap Nathania dengan penuh curiga.

Nathania sadar, ia pergi tanpa izin terlebih dahulu kepada sang suami.

"Darimana kamu?" tanya Elang dengan tatapan matanya yang aneh.

Nathania seakan tahu, jika saat ini ia pasti akan terkena masalah.

"Aku ... keluar sebentar," jawabnya pelan.

"Tanpa seizinku?" Elang terdengar berbicara dengan nada yang mulai tegas.

"Maaf, tapi tadi aku ...."

"Ingat peraturannya, Tania! Aku tidak suka jika kamu keluar dari rumah ini tanpa seizinku. Kamu harus mengetahui hal itu. Semua yang ada di rumah ini, hanya bisa keluar ataupun masuk atas izin dan perintah dariku!" sergah Elang. Tatapan tajam itu kembali menghujam jantung Nathania.

"Janganakan kamu. Bahkan Nastya adikku, ia tidak akan berani melanggar peraturanku. Jadi mulai sekarang, patuhi itu!" lanjut Elang dengan wajah dan suara tegasnya yang membuat telapak tangan Nathania mulai berkerigat.

Nathania pun mengangguk pelan. "Iya," jawabnya.

Elang masih menatapnya dengan tajam, dan Nathania sedang tidak ingin berdebat dengannya. Ia sedang memikirkan hal lain yang jauh lebih penting.

"Darimana kamu barusan?" tanya Elang lagi.

Nathania terduduk di tepian tempat tidurnya.

"Dari rumah kakakku," jawab Nathania.

"Kamu pergi sendiri? Tanpa sopir?" selidiknya.

"Um ... iya, aku tadi naik angkutan umum," jawab Nathania dengan ragu.

"Kamu pergi sendiri dan naik angkutan umum?" tiba-tiba Elang berkata dengan nada agak tinggi. Sepertinya ia tidak menyukai dengan semua yang Nathania lakukan hari ini.

Ia pun beranjak kearah pintu dan berniat untuk keluar. "Aku harus menegur Firman karena telah membiarkanmu pergi sendiri," ucapnya.

Namun dengan segera Nathania menarik lengan pria itu dan mencegahnya. "Tidak, Elang! Apa-apaan kamu? Jangan seperti itu!"

Elang berbalik dan menatap Nathania dengan wajah tidak suka.

"Aku harus menegurnya, karena dia tidak mengantarmu dan membiarkanmu pergi sendiri," Elang tetap pada pendiriannya.

"Tidak, Elang! Ini salahku, aku yang pergi sendiri dan Firman tidak tahu jika aku keluar," cegah Nathania lagi.

Elang menatap wajah sang istri. Ia pun kemudian mengelus lembut wajah itu dan sikap Elang membuat Nathania merasa sedikit risih.

"Kamu kenapa?" tanya Nathania pelan.

Elang menempelkan keningnya dengan kening Nathania. "Jangan diulangi lagi. Jangan pergi tanpa sepengetahuanku!" ucapnya setengah berbisik.

"Iya, aky minta maaf. Aku tadi sedikit terburu-buru, jadi ...."

"Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, karena itu aku ingin kamu selalu ada dalam pengawasanku," lanjut Elang dengan nafas yang mulai menghangat di wajah Nathania.

"Iya," jawab Nathania pelan.

Sesaat kemudian, Elang memegangi leher jenjang itu dengan kedua tangannya. Menelusup dibalik rambut panjang itu dan meremasnya perlahan membuat si empunya hanya dapat memejamkan matanya.

Nathania, kini sudah mulai terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Ia pun sudah mulai dapat memahami dan sangat mengerti dengan bahasa tubuh Elang. Mungkin saja, Nathania bahkan kini sudah mulai dapat menikmati semua sentuhan yang Elang berikan padanya.

Seperti siang bolong ini, saat cuaca sepanas ini, ia harus rela memerah keringat demi kepuasan sang suami. Apalagi, Elang tidak pernah 'bermain' dalam waktu yang sebentar.

Hingga menjelang sore, Nathania masih berada dalam pelukan sang suami. Pria itu tidak melepaskannya sama sekali.

"Elang, ...." sebut Nathania pelan.

"Hmmmm," Elang menggumam pelan. Ia mencium kepala sang istri yang sejak tadi berada dalam pelukannya.

"Aku masih belum mengetahui alasanmu menikahiku," ucap Nathania dengan nada bicara sedikit ragu.

Elang kembali mencium kepala sang istri dan mengelus lembut lengan kuning langsat itu.

"Karena aku menginginkannya," jawab Elang singkat.

"Itu saja?" Nathania meyakinkan.

"Ya," jawab Elang lagi dengan singkat.

"Tanpa alasan?" Nathania mengerutkan alisnya Dia sedikit heran.

"Aku tidak butuh alasan untuk melakukan apapun yang aku mau," jawab Elang.

Elang semakin mempererat dakapannya. Kemudian ia pun menyentuh dan mengangkat dagu Nathania dengan jari tunjuknya.

Nathania pun mendongkan sedikit wajahnya dan menatap wajah sang suami. Elang adalah pria dewasa yang sangat tampan dan gagah bagi Nathania. Ia pun sangat menyukai aroma tubuh pria itu yang selalu membuatnya terbius.

"Jadi kamu tadi pergi ke rumah kakakmu?" Elang kembali mengungkit hal itu lagi. Tatapannya intens ditujukan untuk Nathania.

"Iya, aku tadi ke rumah kakakku," jawab Nathania.

Elang memicingkan matanya yang tajam itu.

"Untuk apa kamu kesana?" tanyanya penasaran.

"Kakakku pergi darisini tanpa sepengetahuanku. Mereka tidak pamit padaku. Dan saat aku mencari mereka disana, ternyata rumah itu telah kosong. Seorang tetangga mengatakan jika kakakku sudah pindah sejak kemarin," tutur Nathania dengan sedikit lirih.

"Lalu?" tanya Elang lagi. Ia masih belum melepaskan dagu sang istri.

"Aku hanya tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa kakakku bisa pergi seperti itu. Kenapa ia terus menghindariku?"

"Biarkan saja jika memang itu sudah keputusannya. Lagipula, saat ini ada aku yang akan menjagamu," ucap Elang tanpa melepas tatapannya dari sang istri.

"Bagaimana jika kita mulai merencanakan bulan madu?" tawar Elang.

Nathania tidak segera menjawab. Ia belum memikirkan hal- hal seperti itu.

"Haruskah?" tanyanya polos.

Elang tersenyum simpul. "Bukan sesuatu yang wajib. Tapi pasti akan sangat menyenangkan jika bisa pergi berdua denganmu," jawab Elang dengan tenangnya.

Nathania tersenyum. Ia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi, sejujurnya ia tidak terlalu mementingkan hal-hal seperti itu.

"Mungkin lain kali saja," jawabnya . Ia harap Elang mengerti.

"Oke, tidak masalah," jawab Elang masih dengan sikap tenangnya.

Sesaat kemudian, ia kembali mencium kening sang istri.

1
Cassie
bagusss bangettt💫🎉🥀😻💃🤍😍💐🌺🌷🌹💋🌻😘🫂🔥❤️‍🔥
Lusy Purnaningtyas: banyak banget emotnya... 😂
total 2 replies
Rahmawati
bagus banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak
total 1 replies
Widi Yanti
keren
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, Kak 🥰
total 1 replies
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Titik pujiningdyah
makaroni I missssssyouuuuuu
Titik pujiningdyah: tiba2 kngen aj sama elang
total 2 replies
Henym
Luar biasa
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
dewi andarini
terima kasih untuk cerita nya.
semangat selalu dalam menulis
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih juga sudah mampir. Jangan lupa baca juga cerita yang lain, kak
total 1 replies
dewi andarini
dari banyak cerita di novel... jarang yg buat irisan bawang lumer dimata ku.
cerita ini bikin baper banget
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Aduh, terima kasih, kak. Silakan lanjut
total 1 replies
dewi andarini
kok jadi tiba2 ada bawang dimata
dewi andarini
ceritanya bikin baper
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak
total 1 replies
rindu rindu
widih end deh.. walaupun baru baca tp puas sm ceritanya, tiap baca bikin nyeri badan, nyeri hati juga senyum2 sendiri.. ohhhh othor kau buat diri ku selalu berdenyut nyut nyut nyut... ☺
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Terima kasih, kak. Lanjut ke judul lain saja. Tak kalah seru
total 1 replies
rindu rindu
Wealah.. Rahman sama Titiek gak pake Puspa ajah... 🤣
rindu rindu
merinding cuy baca suratnya.. 😭😭
rindu rindu
ya Tuhan, Roni sadis.. masaklah ke tukang jagal... 🤣🤣🤣
rindu rindu
bandung sdh kayak jakarta ye.. macet syelaluhhh
rindu rindu: bukan sih.. saya di bekasi tp kl ke Bandung.. euhhh macet parah, susah cari lahan parkir juga.
total 2 replies
rindu rindu
si othor lagunya, lagu2 jaman ku dulu, kirain cerita nya thn 97..hihii
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Sama, kak. Saya juga tua😂
total 3 replies
rindu rindu
ceritanya sedih banget, nyeri dan ser2an perasaan bacanya, tapi seru bikin merinding dan penasaran.
rindu rindu
ga usah dipikirin Tan, yg penting udah dah jd istrinya, masa depan menanti, masa lalu hanya jd kenangan. tinggal jd istri yg baik aja biar Elang makin cintrong
Anita noer
itu actor thailand y thor
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅˢᵃʳᶦ: Bukan, kak. Itu Takeshi Kaneshiro
total 1 replies
rindu rindu
boddo bgt si cuy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!