Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Belas
"Una!" Ganesha yang menunggu di depan ruangan guru itu langsung menatap Aruna panik.
"Aku tak apa. Tapi apa kau punya sesuatu untuk membantuku membersihkan badanku?"
"Ah! Aku tadi meminta supirku membelikan sabun mandi juga shampo untukmu. Ayo!" katanya lalu menarik Aruna menuju ruang bilas yang hanya boleh di gunakan oleh anak-anak lelaki jika habis bermain bola.
Aruna sempat berhenti. "Kenapa kesini? Kan kita di larang masuk."
"Tak apa. Aku yang mengijinkan."
Oh, itu suara Abas.
Anak itu berdiri tak jauh dari mereka dengan paper bag di tangannya. "Ini aku bawakan baju ganti untukmu. Tenang saja ini baru, kok. Tapi, ehem..aku tak beli dalamannya," ucap Abas dengan suara pelan di akhir. Wajahnya bahkan sempat memerah malu.
"Aku tadi meminta tolong pada Baskara, tak apa kan?" tanya Ganesha pelan.
Aruna menghela nafas dan menggeleng. "Ya. Terima kasih, Ganesh."
Setelahnya Aruna menerima paper bag itu dan masuk kedalam. Sementara Baskara dan Ganesha menunggu diluar sekalian berjaga.
***
Pulang sekolah..
Marco yang sedang menunggu Aruna itu terkejut karena melihat sang Nona berjalan tertatih-tatih dibantu oleh Ganesha dengan pakaian biasa.
"Nona! Anda kenapa?!" tanyanya sembaru membantu Aruna masuk ke dalam mobil.
"Tak apa. Hanya kecelakaan kecil, " jawab Aruna cepat sebelum Ganesha membuka mulutnya. Ia menatap sahabatnya itu lalu tersenyum. " Terima kasih ya, Ganes."
Ganesha mengangguk saja dan menutup pintu mobil. Membiarkan mobil itu pergi untuk pulang.
"Nona, ada apa? Bahkan wajah anda memar, apa ada yang menyakiti anda di sekolah?" tanya Marco sambil menyetir.
"Kalau iya, memang kenapa?"
"Tentu saja saya akan melapor pada Tuan Besar! Berani-beraninya mereka!" Marco menggebu-gebu dengan nada kesal.
Aruna terkekeh. "Dan kau pikir ayah akan melakukan sesuatu?"
"Tentu sa—" ucapan Marco terhenti saat ia menyadari maksud Aruna. Pria itu tak bodoh untuk tak menyadari perlakuan semacam apa yang Aruna terima selama ini.
"Akhirnya kau paham," kata Aruna pelan sembari menutup kedua matanya. Seluruh tubuhnya sakit karena ia di dorong cukup keras tadi. Mungkin ada memar di beberapa bagian tubuhnya. Tubuh kecil ini begitu lemah dan mudah sekali terluka. Jika saja tubuhnya lebih kuat, mungkin ia bisa dengan mudah mengalahkan Marina.
Kenapa rasanya ia mengantuk sekali?
***
Ketika tiba di kediaman Adijaya, Aruna turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki rumah mewah itu. Kedua lututnya terasa sakit dan nyeri karena bergesekan dengan celana panjang yang ia gunakan. Ingin segera di obati agar ia bisa tidur setelahnya.
"Selamat dat—astaga! Nona!" Sammy memekik syok melihat keadaan Aruna. Lagi-lagi ia mendapati sang Nona pulang dalam keadaan terluka.
"Oh, hay. Aku pulang," jawab Aruna santai lalu menyerahkan paper bag yang ia pegang pada Sammy, "Umm.. tolong buang ini dan bisa kau belikan aku seragam baru lagi, Sam? Maaf merepotkan terus."
"Nona! Apa yang terjadi?" tanya Sammy panik sembari mengambil paper bag dari tangan Aruna.
"Bukan apa-apa. Kau tak perlu membesarkan hal begini dan katakan pada ayah mungkin pihak sekolah akan menelponnya nanti."
"A-apa?"
"Sebenarnya aku mendapat surat panggilan tapi aku tak ingin bertemu dengannya jadi aku meminta pihak sekolah langsung menelpon ayah saja. Aku lelah jadi aku akan tidur," kata Aruna lalu berjalan pelan menuju kamarnya. Bahkan Sammy memperhatikan cara Aruna berjalan yang nampak kesakitan.
Ketika tiba di kamarnya, Aruna langsung terduduk di pinggir ranjang.
"No-nona! Kenapa anda—"
"Mia, ambil kotak obat dan bantu aku obati lukaku," ucapnya.
Mia yang masih syok menurut, berlari keluar kamar untuk mengambil kotak obat. Sementara Aruna menggulung kaki celananya hingga terlihat kedua lututnya yang lecet juga memar. Sepertinya tadi sempat terbentur batu kerikil cukup besar saat jatuh. Tak lama Mia datang dan langsung berjongkok mengobati luka anak itu pelan.
"Nona, apa yang terjadi? Ini bukan pertama kalinya anda pulang dalam keadaan begini."
"Bukan apa-apa. Nah, jika ada yang bertanya katakan aku tidur. Keluarlah jika selesai," kata Aruna yang langsung berbaring setelah lututnya diobati dan di pasangi perban. Seolah teringat sesuatu ia membuka matanya lagi dan melihat Mia yang sedang merapikan kotak obatnya kembali.
"Mia, apa kau bisa mencari tahu tentang sesuatu untukku?"
"Ya, Nona."
"Cari tahu keadaan anak-anak di panti asuhan Heaven. Jangan sampai ada yang tahu soal ini. Kau bisa?"
Mia mengangguk. "Iya Nona."
"Bagus. Segera laporkan padaku setelahnya."
"Saya mengerti."
***
BRAK!
"Apa maksdumu, Sam?!" Elvio menggeram marah saat mendengar laporan Sammy tentang Aruna.
"Sepertinya Nona di perlakukan buruk di sekolahnya, Tuan. Ini adalah seragam milik Nona muda yang terlihat kotor juga beraroma tidak sedap."
"Berani sekali mereka! Apa mereka menganggap remeh keluarga Adijaya?!"
Sammy hanya diam tanpa mengatakan apapun. Meski Aruna memintanya untuk tak mengatakan apa pun tapi ia rasa perlakuan yang di alami oleh Aruna sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa mereka melakukan hal sekejam itu pada tubuh kecil sang Nona muda?
"Sepertinya ini berkaitan dengan status Nona Aruna yang merupakan putri adopsi, Tuan."
Elvio menatap Sammy nyalang. " lalu kenapa?! Adopsi atau bukan, Aruna merupakan bagian dari keluarga Adijaya! Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi! Jangan lewatkan apa pun!" titah Elvio.
"Saya mengerti, Tuan." ucap Sammy dan langsung keluar.
Sementara Elvio hanya bisa terdiam marah dengan rahang mengatup kuat. Ia merasa begitu marah. Kenapa Aruna tak mengatakan apa pun soal ini?
Kenapa tidak mengadu padanya?!
Kenapa hanya diam saja menerima semua perlakuan itu?!