"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Lelucon Takdir
Sebuah tabung kaca kecil berisi sehelai rambut cokelat diletakkan di bawah lampu meja laboratorium.
Cahaya neon putih menyorot lurus, menembus dinding kaca silinder tersebut. Tangan Savira menarik diri secara perlahan, menggeser benda itu ke tengah baki perak. Permukaan logam dingin memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi tanpa ekspresi.
Aroma karbol dan amonia menyergap rongga hidungnya secara brutal. Bau rumah sakit yang steril ini saling bertarung menekan sisa wangi melati dari pergelangan tangannya. Hawa dingin dari pendingin sentral laboratorium forensik merayap naik menembus sol sepatu pantofel hitamnya.
Di sudut ruangan yang minim cahaya, Aaron Jayanegara menyandarkan punggungnya pada pintu baja berpendingin. Jas hitam kasualnya membalut postur tubuhnya yang bersiaga penuh. Otot bahunya terlihat kaku di bawah lapisan kain mahal itu. Matanya yang gelap terus mengawasi setiap sudut ruangan tanpa suara.
Langkah sepatu kulit Aaron bergesekan dengan ubin ubin lantai, mengalihkan fokus Savira sesaat. Pria itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kantong plastik segel berlogo peringatan biohazard tingkat rendah.
Kantung itu diletakkannya tepat di sebelah tabung kaca Savira dengan gerakan presisi.
Di balik plastik bening tersebut, tergeletak sebuah cangkir teh porselen bermotif naga emas. Terdapat bercak samar noda teh kecokelatan mengering di tepi bibir cangkir.
"Orang dalamku di divisi katering ruang VIP harus menyogok dua staf keamanan untuk menukar kantong sampah," bariton Aaron mengalun berat. "Itu cangkir teh chamomile yang dipakai Wijaya Dharma lima belas menit yang lalu di ruang tunggu dekanat."
Savira menatap cangkir porselen itu tanpa berkedip. Bercak noda itu adalah kunci dari sangkar besi yang mengurungnya belasan tahun. Aroma chamomile sisa minuman itu memicu gejolak mual di lambungnya. Savira mengingat jelas bagaimana pria itu selalu meniup permukaan tehnya dengan kelembutan memalsukan, sebelum menjatuhkan vonis pemecatan atau menghancurkan hidup seseorang tanpa mengedipkan mata.
Aaron melangkah mundur dua ketukan, mengembalikan jarak di antara mereka. Pria itu memberi ruang bagi Savira untuk memegang kendali eksekusi. Aaron mematuhi pakta tak tertulis di antara mereka. Ia menjadi perisai fisik yang memastikan Savira bernapas lega, sementara Savira menggorok leher musuhnya dengan tangannya sendiri.
Dokter forensik berkepala plontos duduk di seberang meja baja. Mata tuanya menatap Savira dari balik kacamata tebal, menunggu instruksi final.
"Uji komparatif marka genetik," perintah Savira tajam. Suaranya memotong udara steril bagai bilah pisau bedah. "Metode analisis struktur pada kromosom autosom. Saya butuh angka persentasenya malam ini."
Dokter itu menelan ludah, mengangguk kaku. Ia menarik sarung tangan lateks hingga menutupi pergelangan tangan, mengambil baki perak tersebut, dan berbalik menuju ruang ekstraksi berpartisi kaca tebal.
Pintu kaca otomatis bergeser menutup. Ruangan kembali dikuasai oleh tekanan udara yang mencekik dada.
Suara dengung rendah dari mesin sentrifugal mulai merambat menembus dinding kaca. Mesin itu berputar ribuan kali per menit, melucuti lapisan dusta demi kebenaran yang telah terkubur rapi oleh manipulasi darah.
Dada Savira bergemuruh keras. Jantungnya menabrak tulang rusuk dengan ritme tidak beraturan. Udara dingin ruangan ini memaksa pori-porinya menyempit, membekukan keringat yang merembes di tengkuknya.
Ia memasukkan tangan kanan ke dalam saku jas almamaternya dengan gerakan memburu. Jari-jarinya meraba panik, mencari bungkus plastik permen stroberi di sudut saku.
Gadis itu mengupas bungkusnya, melempar permen buatan tersebut ke atas lidahnya. Gula buatan meleleh seketika, mengalirkan rasa manis artifisial yang menusuk langit-langit mulut. Rasa manis ini berjuang keras menekan rasa mual dan hasrat liarnya untuk melahap mangkuk mi super pedas sekarang juga demi meredam stres.
Aaron memperhatikan rahang Savira yang mengunyah pelan. Matanya merekam setiap tarikan napas Savira yang tertahan di dada.
Pria itu tidak membuka mulut untuk memberikan kata penenang. Kalimat penyemangat tidak ada gunanya bagi wanita rasional seperti Savira. Aaron hanya menggeser posisinya ke depan lampu pijar, membiarkan punggung lebarnya menciptakan bayangan pelindung agar cahaya tidak langsung menusuk mata lelah gadis itu.
Savira memindahkan tangannya ke saku sebelah kiri. Ujung jarinya menekan ujung patahan jepit rambut kayu beraroma melati di dalam sana.
Tekanan kuat pada tepi tajam kayu rapuh itu menusuk bantalan ibu jarinya. Rasa perih fisik ini menahan kewarasannya agar tidak terlepas. Sakit ini menarik paksa ingatannya ke ruang makan utama rumah megah keluarga Dharma.
Nadia kecil selalu berlari bebas di lorong berkarpet tebal rumah itu. Gaun sutra berenda, tawa manja, pelukan hangat dari Wijaya yang selalu tersedia tanpa batas. Semua hak istimewa itu mengalir layaknya air keran yang lupa ditutup.
Sementara Savira berdiri di sudut gelap, mencengkeram ujung gaun bekas yang kedodoran. Ia berdiri di sana berjam-jam, mematung bagai bayangan. Ia menahan lapar, menyayat harga dirinya demi mendapatkan setetes validasi. Ia berharap Wijaya akan menoleh dan memanggil namanya satu kali saja.
Namun mata pria itu selalu kosong saat menatap Savira. Wijaya menatapnya layaknya melihat sebuah vas bunga retak yang salah penempatan, sebelum beralih memangku Nadia yang menangis keras hanya karena ujung sepatu kulitnya tergores kerikil.
Pengakuan Bidan Kartika di gubuk reyot malam itu telah meruntuhkan segalanya. Ia tidak pernah gagal menjadi anak. Wijaya yang gagal menjadi manusia.
Napas Savira mendesis pelan menembus celah giginya. Otot lehernya menegang sempurna.
Waktu merangkak lambat bagai lintah. Mesin sentrifugal di balik dinding kaca masih berdengung konstan, mengiris kesabaran Savira menjadi potongan-potongan mikroskopis.
Ia menarik ponsel dari saku jasnya. Layar gawai itu memendarkan cahaya biru pucat ke wajahnya.
Savira membuka sebuah fail berekstensi PDF terenkripsi dari folder rahasia. Layar menampilkan tumpukan draf dokumen atas nama Yayasan Amal Dharma. Angka nominal miliaran rupiah telah ia manipulasi dengan struktur sandi enkripsi yang mengarah langsung ke rekening bayangan di luar negeri.
Ini bukan sekadar manipulasi angka. Ini jerat sutra beracun yang telah ia pintal berminggu-minggu dengan akurasi mematikan. Matanya menatap visualisasi jebakan yang akan ia eksekusi esok pagi. Dalam benaknya, skenario itu sudah tergambar sempurna. Lembar dokumen palsu pengadaan barang mewah yayasan Dharma diletakkan di atas meja rias milik Nadia.
Jika hasil tes malam ini terbukti benar, ia akan menyulut api ke dalam delusi putri tiruan itu. Nadia yang panik akan menggunakan dokumen tersebut sebagai senjata, tanpa sadar bahwa ia sedang menarik pelatuk yang mengarah tepat ke kepalanya sendiri.
Lampu indikator di atas pintu ruang ekstraksi mendadak berubah hijau terang.
Suara mesin sentrifugal berdengung pelan sebelum akhirnya mati total. Suasana ruangan kembali lengang, hanya menyisakan deru pelan pendingin udara.
Dokter forensik keluar dari balik partisi kaca. Ia membawa sebuah map kertas putih tebal di tangan kanannya. Langkah sepatunya berderap berat, menggema memantul di lantai ubin laboratorium.
Aaron menegakkan postur tubuhnya seketika. Insting predatornya siaga penuh, mengawasi setiap pergerakan pria berjas putih tersebut tanpa berkedip.
Dokter meletakkan map putih itu tepat di tengah meja baja nirkarat. Tangannya menarik diri dengan cepat.
"Proses ekstraksi dan pencocokan marka genetik pita DNA sudah final." Dokter itu berbicara tanpa nada emosi. "Mesin telah memvalidasi silang sampel A dan sampel B sebanyak tiga kali putaran untuk memastikan tidak ada kesalahan teknis."
Tangan Savira terasa kebas total. Darah seolah berhenti mengalir di lengannya. Ujung jemarinya mendingin menyerupai mayat saat menyentuh permukaan map bertekstur kasar itu.
Aroma melati dari tubuh Savira seketika menguar menembus ruangan, bereaksi kuat terhadap lonjakan hormon adrenalin yang meledak di pembuluh darahnya. Jantungnya berpacu memompa darah hingga gendang telinganya berdenging bising.
Gadis itu menarik napas panjang, menahan pasokan oksigen di dalam paru-parunya. Tangan kirinya membalik sampul map putih itu dalam satu sentakan cepat.
Deretan grafik gelombang alel, tabel lokus kromosom, dan barisan angka probabilitas tercetak hitam pekat di atas lembaran kertas putih. Mata tajam Savira melompati semua deretan analisis teknis tersebut, langsung merosot ke baris paling bawah.
Kolom kesimpulan final.
Oksigen seolah tersedot habis dari paru-paru Savira. Tulang sendinya melemas mendadak, membuat bobot tubuhnya nyaris limbung jika ia tidak meremas tepi meja baja kuat-kuat.
Rasa sakit belasan tahun mendadak memiliki bentuk nyata di atas selembar kertas. Semua tangisannya menahan lapar, semua usahanya menjadi anak sempurna, dihancurkan oleh sebuah lelucon takdir yang diatur oleh keserakahan sosiopat.
Sudut bibir Savira terangkat pelan membentuk kurva tanpa emosi.
Kertas hasil tes laboratorium itu keluar dengan angka yang mutlak: Probabilitas hubungan darah di antara mereka adalah nol persen.