Di dalam sebuah kamar sewaan yang sempit dan berbau lembap, seorang pemuda tiba-tiba tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya yang tajam memancarkan kilatan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup dan berubah menjadi hitam pekat.
"Ini... di mana?"
Fang Yuan melihat kedua telapak tangannya. Halus, kurus, dan tidak ada bekas luka. Ini bukan tubuh kedagingan seorang Sovereign yang bisa menghancurkan galaksi dengan satu pukulan.
Dia menoleh ke meja belajar. Sebuah ponsel jadul menunjukkan tanggal: 20 Juni 2016.
Fang Yuan tertegun, lalu tawa pelan keluar dari tenggorokannya. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema di dalam kamar sempit tersebut.
"Hahaha! Kesengsaraan Surgawi sembilan warna ternyata tidak menghancurkanku! Aku, Fang Yuan, Sang Penguasa Surgawi Cangqiong, justru kembali ke masa usiaku delapan belas tahun?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.peta kekuasaan
Atmosfer di sekitar altar kuno seketika membeku. Belasan prajurit Keluarga Mu yang tersisa langsung mundur tiga langkah dengan wajah pucat pasi, ujung tombak mereka bergetar hebat. Mereka melihat wakil komandan mereka—seorang ahli papan atas di keluarga mereka—terkapar tak berdaya hanya karena satu lirikan mata dari pemuda misterius ini.
Mu Qingwan mengepalkan jari-jarinya pada gagang pedang hingga memutih. Sebagai Nona Muda Keluarga Mu, dia belum pernah melihat tekanan spiritual sepekat dan semematikan ini pada seseorang yang usianya sebaya dengannya.
"I-Ini adalah pinggiran Hutan Binatang Buas di wilayah barat Benua Canglan," ucap Mu Qingwan, berusaha keras menstabilkan suaranya yang gemetar akibat intimidasi spiritual Fang Yuan. "Kota terdekat dari sini adalah Kota Daun Perak, yang dikuasai oleh tiga keluarga besar: Keluarga Mu kami, Keluarga Lin, dan Sekte Tengkorak Hitam yang kejam."
"Benua Canglan... Kota Daun Perak," gumam Fang Yuan datar.
Dia menarik kembali sedikit tekanan *Qi* miliknya, membuat para prajurit di sekitarnya akhirnya bisa bernapas lega. Fang Yuan perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari saku jubah putih-hitamnya, lalu merapikan poni rambut biru keputih-putihannya yang *cool* dengan gerakan malas.
"Kultivasi tertinggi di kota kecilmu itu berada di ranah apa?" tanya Fang Yuan santai.
Mu Qingwan menelan ludah sebelum menjawab, "Para leluhur dari tiga faksi besar berada di **Ranah Pondasi Tubuh Tingkat Ketiga (*Foundation Establishment*)**. Mereka adalah penguasa mutlak di wilayah ini."
"Pondasi Tubuh Tingkat Ketiga?" Fang Yuan mendengus remeh, sebuah senyum nakal yang sangat dingin terukir di wajah tampannya.
Di dunia fana, Pemimpin Sekte Tianmen yang berada di ranah Pondasi Tubuh palsu saja sudah dia hancurkan dengan satu tinju. Sekarang, dengan kultivasinya yang telah melonjak secara alami ke **Tahap Pengumpulan Tingkat Sembilan murni**, semut-semut di Ranah Pondasi Tubuh Tingkat Ketiga di dunia ini sama sekali bukan ancaman baginya. Dengan Sutra Surgawi Cangqiong, dia bisa melompati ranah dan membantai mereka kapan saja dia mau.
Melihat ekspresi meremehkan di wajah Fang Yuan, mata Mu Qingwan mendadak berkilat dengan seberkas cahaya penuh perhitungan. Keluarga Mu saat ini sedang berada di ambang kehancuran karena terus ditekan oleh Sekte Tengkorak Hitam. Pemuda berambut biru di depannya ini adalah seorang monster jenius yang tak terduga—sebuah paha emas yang harus dia peluk jika ingin menyelamatkan keluarganya.
Mu Qingwan buru-buru menyarungkan pedangnya, lalu membungkuk hormat dengan sangat anggun. "Tuan Muda, jika Anda baru saja keluar dari pelatihan terisolasi di hutan ini dan belum memiliki tempat tujuan, mengapa tidak sudi mampir ke kediaman Keluarga Mu kami sebagai Tamu Agung? Kami memiliki ruang kultivasi terbaik dan informasi terlengkap mengenai Benua Canglan."
Fang Yuan menatap Mu Qingwan dengan mata kirinya yang keemasan, seolah bisa membaca langsung niat tersembunyi di dalam kepala gadis itu. Tentu saja dia tahu gadis ini ingin memanfaatkannya untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Namun, Fang Yuan sama sekali tidak peduli. Dia memang membutuhkan peta benua yang lebih luas dan tempat yang nyaman untuk mengumpulkan bahan obat guna menerobos ke Ranah Pondasi Tubuh yang sesungguhnya.
"Memanfaatkanku ada harganya, Gadis Kecil," ucap Fang Yuan dengan suara merdu yang sedingin es abadi. Dia melangkah maju melewati Mu Qingwan dengan santai, jubahnya berkibar megah ditiup angin hutan.
"Pimpin jalan. Aku ingin melihat seberapa mewah tempat tinggal yang kamu tawarkan untuk menyambut kedatangan seorang Penguasa."