Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Malam Anniversary Kedua
Sore itu, langit Bandung mulai berubah jingga. Dari dapur, aroma ayam bakar yang sejak siang dimarinasi memenuhi seluruh rumah. Arini tersenyum kecil sambil menata piring-piring terbaik yang hanya ia keluarkan untuk momen spesial.
Hari ini tepat hari ulang tahun kedua pernikahannya dengan Galang. Meski sederhana, ia ingin malam ini menjadi malam yang hangat. Apalagi keluarga suaminya akan datang dari Yogyakarta.
Ponselnya berdering. Nama Mas Galang muncul di layar. Wajah Arini langsung berbinar.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, Rin. Aku sampai rumah paling abis magrib. Ini masih di Tasik."
"Ok, Mas. Hati-hati ya."
"Tentu. Jadinya anniversary kita dirayakan di mana, Rin?"
"Di rumah aja, Mas. Kalau dirayakan di luar kasihan ibu, bapak, dan Vera. Masa udah perjalanan jauh harus diajak jalan lagi?"
Galang terkekeh pelan. "Ya udah, terserah kamu aja."
"Kamar untuk ibu dan bapak sudah disiapkan."
"Ok, makasih ya, Sayang. Kamu memang istri yang sangat pengertian."
Arini tersipu. "Ah Mas Galang ini. Kayak ke siapa aja pakai bilang gitu segala. Ibu Mas Galang adalah ibuku juga."
Beberapa detik suasana menjadi hangat. Hangat seperti rumah tangga yang selama ini Arini yakini baik-baik saja. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa dalam hitungan jam, seluruh hidupnya akan hancur berkeping-keping.
Seminggu lalu, Bu Sumarni, ibu mertuanya, menelepon. Katanya sedang sakit dan meminta Galang pulang ke Yogyakarta. Awalnya Arini ingin ikut. Namun Bu Sumarni menolak dengan halus.
"Nggak usah, Rin. Galang aja yang pulang!"
Meski sedikit kecewa, Arini mengalah.
Dua hari lalu, Galang kembali menelepon. Katanya kondisi Bu Sumarni sudah membaik dan ingin ikut tinggal bersama mereka di Bandung.
Arini langsung menyetujuinya. Walaupun ia tahu, selama dua tahun pernikahannya dengan Galang Bu Sumarni tak pernah benar-benar menyukainya. Tak pernah memujinya. Tak pernah menunjukkan kasih sayang seperti seorang ibu kepada anak perempuan. Namun Arini tetap berusaha. Ia percaya, jika hidup serumah, mereka bisa saling mengenal lebih dekat.
Mungkin selama ini hanya ada kesalahpahaman.
Mungkin suatu hari nanti Bu Sumarni akan menerimanya sepenuh hati.
Malam pun tiba.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh tepat ketika suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.
Arini yang sejak tadi menunggu di ruang tamu langsung berdiri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Pintu rumah terbuka. Galang masuk lebih dulu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arini segera menghampiri suaminya. Seperti biasa, ia mencium tangan Galang dengan takzim.
"Capek, Mas?"
"Sedikit." Jawaban itu terdengar singkat. Namun Arini tidak terlalu memikirkannya.
Ia kemudian menyambut Pak Hardi dan Bu Sumarni yang masuk setelahnya.
"Selamat datang di Bandung, Pak, Bu. Bagaimana sudah sehat, Bu?"
"Lumayan."
Jawaban Bu Sumarni terdengar datar. Arini hanya tersenyum. Mungkin ibu mertuanya memang lelah karena perjalanan jauh.
Tak lama kemudian Vera turun dari mobil. Arini tersenyum menyambut adik iparnya itu. Namun sesaat kemudian, senyumnya perlahan menghilang.
Karena ada seseorang yang ikut masuk ke dalam rumah. Seorang wanita muda. Cantik. Sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Rambut panjangnya tergerai rapi. Penampilannya elegan dan berkelas.
Wanita itu berdiri di dekat Vera adik iparnya.
Entah mengapa, jantung Arini mendadak berdebar tidak nyaman.
"Ver.." Arini tersenyum canggung. "Ini siapa ya?"
Belum sempat siapa pun menjawab, Bu Sumarni melangkah maju. Tatapannya datar. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun.
"Ini Mayang."
Arini mengangguk sopan.
"Halo, Mbak Mayang!"
Namun kalimat berikutnya membuat dunianya runtuh seketika. "Mayang adalah istri kedua Galang. Baru lima hari yang lalu menikah."
Hening. Seolah seluruh suara di dunia menghilang.
Arini merasa telinganya berdenging.
"Apa...?" Bibirnya bergetar.
Bu Sumarni justru melanjutkan dengan tenang.
"Dia cinta pertama Galang. Mereka sudah saling mencintai sejak SMA. Harusnya dari dulu Galang menikah dengan Mayang."
Deg!
Tubuh Arini seakan kehilangan tenaga. Wajahnya memucat. Matanya langsung mencari sosok suaminya. Galang.
Pria yang dua tahun terakhir menjadi pusat dunianya. Pria yang beberapa jam lalu masih memanggilnya sayang melalui telepon. Pria yang tadi siang masih membahas perayaan anniversary mereka.
"Mas..." Suara Arini pecah.
"Apa yang Ibu bilang itu nggak benar, kan?"
Galang tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Diam. Dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Jantung Arini seperti diremas kuat-kuat. "Mas, jawab aku!"
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Katakan kalau ini bohong!"
Tetapi lagi-lagi Galang memilih diam. Tidak membela. Tidak menjelaskan. Tidak menyangkal.
Seolah dirinya memang bersalah. Seolah semua yang dikatakan ibunya adalah kebenaran.
Arini mundur selangkah. Dadanya terasa sesak.
Sulit bernapas. Pikirannya kacau. Baru beberapa jam lalu ia sibuk menyiapkan kamar untuk mertuanya. Menyiapkan makanan favorit keluarga suaminya. Menata rumah agar mereka merasa nyaman. Bahkan ia rela merayakan anniversary pernikahannya di rumah demi menghormati keluarga yang datang dari jauh.
Namun balasan yang diterimanya justru seperti ini. Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta. Di hari yang seharusnya menjadi kenangan indah. Suaminya pulang membawa perempuan lain.
Membawa seorang istri baru. Tanpa pemberitahuan. Tanpa penjelasan. Tanpa sedikit pun menghargai perasaannya.
"Mas..." suara Arini bergetar hebat. "Jadi selama ini aku dianggap apa?"
Galang masih menunduk. Sikap itu membuat amarah yang bercampur luka mulai memenuhi dada Arini.
"Jawab aku, Mas!" Tangisnya akhirnya pecah. "Selama dua tahun aku menemanimu Mas. Selama dua tahun aku berusaha jadi istri yang baik. Apa aku pantas diperlakukan seperti ini?"
Namun yang menjawab justru Bu Sumarni.
"Kamu harus belajar menerima kenyataan, kamu harus sadar diri, kamu itu mandul."
Arini menoleh. Tatapan wanita paruh baya itu dingin. Menusuk. "Tapi Bu—"
"Mayang lebih dulu ada di hati Galang."
Kalimat itu seperti pisau yang kembali mengoyak luka. Air mata Arini mengalir semakin deras.
Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya gemetar menahan marah. Arini tertawa pahit. Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wania lebih dari satu." Ucap Pak Hardi enteng.
"Iya, lagian kan Mas Galang gak menceraikan Mbak Arin." Itu yang paling penting." Vera ya selama ini selalu membebaninya berbicara lugas.
Berikut versi yang lebih natural dan emosional:
"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wanita lebih dari satu," ucap Pak Hardi enteng, seolah apa yang terjadi bukan luka yang sedang merobek hati Arini.
"Iya, lagian kan Mas Galang nggak menceraikan Mbak Arini. Itu yang paling penting," timpal Vera tanpa rasa bersalah.
Seperti biasa, iparnya itu selalu berbicara lugas, bahkan cenderung menyakitkan. Tak pernah ada usaha untuk menjaga perasaan Arini. Seolah keberadaan perempuan lain dalam rumah tangganya bukan masalah besar selama statusnya masih tetap sebagai istri sah.
Arini menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Mereka berbicara tentang hidupnya, tentang pernikahannya, tentang suaminya yang akan berbagi cinta dengan wanita lain, tetapi tak seorang pun tampak peduli pada perasaannya.
Di mata mereka, yang penting Arini masih menyandang status istri. Tidak peduli jika hatinya perlahan hancur berkeping-keping.
Jadi itu ukuran kebahagiaan seorang istri menurut mereka? Tidak diceraikan. Meskipun hatinya diinjak-injak. Meskipun harga dirinya dihancurkan. Meskipun suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Air mata kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sakit hingga sulit bernapas.
"Oh ya, Mbak," sela Mayang sambil tersenyum manis, seolah tidak menyadari betapa menyakitkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Sekarang kan kami sedang honeymoon. Bisa nggak disediakan kamar yang nyaman? Ya setidaknya seperti di hotel."
Mayang melirik ke arah Galang sebelum melanjutkan ucapannya. "Atau nggak apa-apa kan kalau kami tidur di kamar utama rumah Mas Galang ini? Soalnya lima hari kemarin kami honeymoon di hotel, jadi masih terbiasa tidur di kamar yang nyaman."
Arini membeku di tempatnya. Kamar utama?
Kamar yang selama dua tahun terakhir menjadi ruang pribadinya bersama Galang? Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan, tawa, doa, dan harapannya sebagai seorang istri? Wanita itu mengatakannya dengan begitu enteng, seolah meminta kamar tamu biasa.
Arini menoleh ke arah Galang. Dalam hati, ia berharap suaminya akan menolak. Mengatakan bahwa kamar itu adalah hak Arini. Bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Namun harapan itu kembali hancur. "Kalau itu yang kamu mau, nggak masalah," jawab Galang santai.
Jantung Arini seperti diremas. "Mas..." suaranya bergetar.
"Apa?"
"Itu kamar kita."
Galang mengembuskan napas panjang, seolah Arini sedang mempermasalahkan sesuatu yang sepele.
"Arin, izinkan aja lah. Cuma kamar, kan?"
Cuma kamar. Dua kata itu terasa seperti tamparan keras. Bagi Galang mungkin hanya sebuah ruangan. Namun bagi Arini, itu adalah simbol rumah tangga yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
"Benar, Mbak," sahut Vera cepat. "Lagian Mas Galang kan sekarang harus adil. Masa Mbak masih mau menguasai semuanya sendiri?"
Pak Hardi mengangguk setuju. "Kamu harus belajar berbagi, Rin. Sekarang status Mayang juga istri Galang."
Arini tersenyum pahit. Berbagi? Dulu mereka meminta dirinya berbagi waktu suaminya. Lalu berbagi perhatian. Sekarang bahkan tempat tidurnya pun harus dibagi.
Entah setelah ini apa lagi yang harus ia relakan.
Dan yang paling menyakitkan, tidak seorang pun di ruangan itu menganggap pengorbanannya sebagai sesuatu yang berharga. Mereka hanya menuntutnya untuk terus legowo, sementara hatinya perlahan hancur sedikit demi sedikit.
Kini di hadapannya berdiri orang-orang yang menganggap penderitaannya sebagai sesuatu yang wajar. Bu Sumarni yang sejak awal menginginkan Mayang. Pak Hardi yang menyuruhnya legowo.
Vera yang menganggap semua ini bukan masalah.
Dan Galang...Lelaki yang seharusnya membelanya.
Lelaki yang seharusnya berdiri di sisinya. Bukannya menjelaskan alasan dia menikah lagi, ini malah meminta kamar pribadi mereka.
Dia jelas-jelas tidak membela perasaannya. Kelakuan Galang malam itu menjadi bukti paling menyakitkan. Bahwa dalam keputusan ini... Dia memang tidak pernah memikirkan Arini. Sama sekali.
Sakit. Kecewa. Hancur. Semua bercampur menjadi satu. Dan yang paling menyakitkan...Orang yang menghancurkan hatinya bukan hanya mertuanya.
Melainkan lelaki yang ia cintai sepenuh hati.
Lelaki yang dua tahun lalu mengucapkan akad di hadapannya. Lelaki yang berjanji akan menjaganya.
Kini justru berdiri diam saat dirinya dipermalukan di rumahnya sendiri.
Malam anniversary kedua pernikahan mereka yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi malam paling menyakitkan dalam hidup Arini.
Dan ini baru permulaan.
___________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.