NovelToon NovelToon
MERESET TAKDIR SUAMIKU

MERESET TAKDIR SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Diam-Diam Cinta
Popularitas:48k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.

Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.

Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PONSEL YANG TERTINGGAL.

Pagi itu, kamar utama kediaman Damar dipenuhi oleh riuh kepanikan. Akibat kelelahan yang teramat sangat setelah menunaikan shalat subuh berjamaah, Kirana memutuskan untuk memejamkan mata sebentar. Namun siapa sangka, sebentar menurut alarm biologisnya justru kebablasan hingga pukul delapan.

Kini, Kirana berlarian ke sana kemari menyambar pakaian kuliahnya dengan gerakan secepat kilat. Wajahnya ditekuk dalam-dalam, menatap sengit ke arah sang suami yang justru tampak santai mengenakan kemeja kerjanya.

"Ini semua gara-gara Kak Damar! Tuh, kan, Kiran jadi kesiangan!" omel Kirana dengan napas terengah-engah sembari mengerucutkan bibirnya kesal.

Damar yang sedang mengancingkan pergelangan kemejanya justru terkekeh rendah. Alih-alih merasa bersalah, ia malah merasa sangat gemas melihat rona merah di pipi istrinya yang sedang mengomel.

"Kok jadi menyalahkan suami tampanmu ini sih, Sayang?" goda Damar dengan kerlingan mata jahil. "Yang salah itu ya kamu sendiri. Kenapa tubuhmu itu selalu menggoda sejak mata terbuka? Jadinya kan adikku ikut bangun mendadak. Jadi kesimpulannya, sebenarnya yang bersalah di sini itu ya kamu dong."

Kirana membelalakkan matanya, tidak percaya dengan argumen memutarbalikkan fakta yang dilontarkan suaminya dengan wajah tanpa dosa itu. Kekesalannya langsung mencapai ubun-ubun. Dengan gemas, ia menyentakkan kakinya ke lantai marmer dengan cukup keras.

"Huh! Capek ngomong sama Kak Damar! Enggak pernah mau mengalah!" seru Kirana jengkel.

Tanpa menunggu balasan lagi, Kirana segera menyambar tas ransel kuliahnya yang tergeletak di atas sofa kecil. Dengan langkah-langkah lebar yang sengaja dihentakkan, ia bergegas keluar dari dalam kamar, menyisakan suara pintu yang ditutup sedikit kasar.

Damar masih berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya pun tersenyum penuh kemenangan. Baginya, melihat Kirana merajuk di pagi hari adalah sebuah hiburan tersendiri yang membuat harinya terasa jauh lebih berwarna. Namun, saat ia hendak berbalik untuk menyusul sang istri, netra tajam Damar menangkap sebuah benda persegi panjang yang tergeletak di atas hamparan seprai yang masih sedikit berantakan.

"Dasar ceroboh," gumam Damar geleng-geleng kepala.

Itu ponsel milik Kirana yang tertinggal. Damar segera memungut ponsel tersebut, lalu langsung mengantonginya ke dalam saku jas kerja yang ia kenakan. Setelah itu ia pun segera melangkah lebar menyusul Kirana turun ke lantai satu.

Di area ruang makan, Kirana tampak sedang memakai sepatu flatnya dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya masih cemberut masam.

"Kiran, sarapan dulu sebentar. Aku sudah siapkan roti," panggil Damar dari arah dapur.

"Enggak mau, Kak! Kiran bisa terlambat parah kalau harus duduk sarapan lagi!" tolak Kirana setengah berteriak tanpa menoleh.

Mendengar penolakan mutlak dari istrinya, Damar tidak tinggal diam. Dengan cekatan, ia mengambil sebuah kotak bekal yang sudah disiapkan di atas meja dapur, mengisinya dengan beberapa tangkup roti bakar selai cokelat kesukaan istrinya, lalu berjalan cepat menghampiri Kirana.

"Kak Damar, cepat sedikit! Aku benar-benar bisa terlambat ini!" teriak Kirana lagi, sudah berdiri di dekat pintu utama dengan tidak sabar.

Damar pun muncul di hadapannya sembari menyodorkan kotak bekal berwarna pastel tersebut. "Ini dibawa. Kamu tidak boleh melewatkan sarapan. Makan di dalam mobil nanti saat perjalanan, mengerti?"

Kirana menyambar kotak bekal itu bibirnya masih sedikit mengerucut namun hatinya menghangat karena perhatian suaminya. "Iya, iya. Ayo cepat, Kak!"

Tanpa membuang waktu lebih lama, mereka berdua langsung naik ke dalam mobil. Begitu mesin mobil menyala dan perlahan bergerak keluar dari gerbang rumah, Kirana langsung menoleh ke arah suaminya yang duduk di kursi kemudi.

"Kak, tolong menyetirnya agak cepat sedikit ya. Hari ini adalah jadwal mata kuliah Profesor Januar. Aku tidak mau dihukum jemur di koridor karena telat masuk kelasnya," desak Kirana sembari membuka kotak bekalnya dan mulai menggigit rotinya dengan buru-buru.

"Tenang saja, Sayang. Suamimu ini adalah pembalap handal kalau sedang keadaan darurat seperti ini," canda Damar, sambil melajukan mobilnya membelah kepadatan jalanan kota pagi itu dengan kelihaian tingkat tinggi.

Berkat kemampuan mengemudi Damar yang luar biasa, mobil mereka akhirnya berhasil sampai di depan gerbang kampus Kirana tepat sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Kirana bernapas lega. Dengan gerakan cepat ia merapikan letak hijabnya dan bersiap untuk membuka pintu mobil.

Namun, belum sempat jemarinya menyentuh tuas pintu, sebuah tangan kekar milik Damar sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.

"Ada apa lagi, Kak? Aku sudah mepet banget ini waktunya," tanya Kirana dengan raut wajah bingung sekaligus panik.

Damar menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat tinggi, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Apakah kamu tidak melupakan sesuatu, Sayang?"

Mendengar pertanyaan suaminya, Kirana terdiam sejenak. Otaknya yang sedang dalam mode panik langsung menebak secara acak. Ah, Kak Damar pasti sedang meminta ritual ciuman perpisahan seperti biasa! pikir Kirana cepat.

Tanpa berpikir panjang lagi, Kirana langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Damar. Dengan cepat, ia mendaratkan kecupan manis di pipi kanan Damar, lalu berpindah ke pipi kirinya, dan terakhir ia mengunci bibir Damar dengan sebuah ciuman singkat namun sarat akan kehangatan.

"Sudah, kan? Nah, sekarang aku pergi ya," ucap Kirana dengan napas sedikit memburu, wajahnya kembali merona merah akibat aksinya sendiri.

Ia segera berbalik dan ingin membuka pintu mobil lagi. Namun, untuk kedua kalinya, tangan kokoh Damar kembali menahan pundaknya, mencegahnya untuk melangkah keluar.

"Yakin kamu tidak melupakan sesuatu yang lain, hm?" tanya Damar lagi, kali ini dengan gurat tawa yang kentara di sudut matanya.

Kirana benar-benar dibuat bingung dan frustrasi. Ia memeriksa penampilannya, meraba tas ranselnya, merasa tidak ada yang kurang. "Apalagi sih, Kak? Jam tanganku ada, buku-buku juga sudah masuk semua ke dalam tas."

Melihat raut wajah istrinya yang sudah hampir menangis karena takut terlambat, Damar akhirnya memutuskan untuk tidak menjahilinya lebih lama lagi. Dari dalam saku jas kerjanya, ia perlahan mengeluarkan ponsel milik Kirana dan menggoyangkannya pelan di depan wajah sang istri.

"Kamu ini selalu saja sembrono, ponsel saja bisa tertinggal" tutur Damar dengan nada suara yang melembut, menggelengkan kepalanya pelan. "Bagaimana nanti kalau tidak ada aku, hmm?"

Mendengar kalimat pengandaian dari mulut Damar, detak jantung Kirana seketika terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Untaian kata tersebut, langsung menghantam relung hatinya, Ia kembali teringat masa lalu di mana ia benar-benar harus hidup menderita dalam kesendirian setelah kehilangan suaminya akibat kecelakaan maut itu.

Rasa takut mendadak merayap naik, meruntuhkan seluruh sisa kepanikan akibat terlambat kuliah tadi. Kirana menatap lekat-lekat wajah tampan Damar, sepasang manik matanya seketika berkaca-kaca menahan luapan emosi yang membuncah.

"Kalau sampai di dunia ini sudah tidak ada suamiku lagi... maka hidupku pun sudah tidak akan ada artinya lagi, Kak," ucap Kirana dengan nada suara yang bergetar hebat menahan tangis, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.

Mendengar jawaban istrinya yang sarat akan ketakutan kehilangan, hati Damar seketika terasa mencelos sakit. Ia tidak menyangka pertanyaan candaannya akan memicu reaksi seemosional ini dari Kirana.

Tanpa membuang waktu, Damar langsung menarik tubuh mungil Kirana ke dalam pelukan hangatnya. Ia mendekap kepala istrinya erat-erat ke dada bidangnya, membiarkan Kirana mendengarkan detak jantungnya yang berdegup konstan.

"Sstt... maafkan aku, Sayang. Aku hanya bercanda, jangan menangis," bisik Damar dengan lembut dan penuh penyesalan. "Dengarkan aku baik-baik. Aku berjanji seumur hidupku, aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjaga dan membereskan semua kecerobohan kecilmu itu. Aku tidak akan pergi ke mana pun, Kiran."

Kirana memeluk leher Damar dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada suaminya hingga rasa aman itu kembali menyelimuti hatinya yang sempat berguncang.

1
Aidil Kenzie Zie
akhirnya gol juga
Nanik Arifin
si robot es unboxingnya masih tahun depan Thor ?
Aidil Kenzie Zie
🤣🤣🤣apa Ricko nggak paham tentang Operasi Bulan Madunya 🤭🤭🤭
Indri Almaidar
hummm
Indri Almaidar
aneh benar
Indriani Kartini
malu2tapi mau 🤣🤣🤣
Radya Arynda
akhirnya,,,bebas dari mimpi buruk
Lia siti marlia
semoga kebahagiaan kalian di berkahi tuhan 🤗🤗🤗
Radya Arynda
👍👍👍👍👍mantap,,,kalau bisa dekutu2 nya juga damar...
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪💪hancur kan semua manusia jahat💪💪💪💪
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
drama LG 🤭🤣
Elina thea
emang dasarnya Kirana masih bocil kali yah...makanya kekanakan dan ceroboh,dah tau jalan tapi gak liat kanan kiri...kalo dah kejadian baru DECH nyesel.
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
kirana mm bodoh tabrak saja, damar cari lagi
Lia siti marlia
aku pun kalau punya mertua sebaik mamah yenita pasti manut manut aja 🥰🥰🥰
Lia siti marlia
selamat yah kiran damar kalian akan jadi orang tua 🤗🤗🤗🤗
Pujiastuti
hamil ni kirana kan kak Author, kalau benar selamat buat kiran dan damar
Lia siti marlia
semoga kirana hamil 🥰🥰🥰
Radya Arynda
semangaaat semogah hamidun👍👍👍👍
Lia siti marlia
semoga saja kirana hamil🤭🤗🤗
Lia siti marlia
semangat kirana damar hempaskan badai yang menghantam dengan cinta kalian 🤗🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!