NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan yang Mengubah Segalanya

Ruangan mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian Kamila mengembuskan napas panjang. “Kalau aku pulang ke Jakarta… kamu akan berhenti memperpanjang masalah ini?”

Kenan menjawab tegas. “Aku ingin kebenaran terungkap, tapi kalau tidak ada lagi gangguan, prosesnya akan berjalan wajar.”

Kamila mengepalkan tangannya. “Baik. Aku akan kembali ke Jakarta. Tapi jangan asal menuduh kalau belum ada bukti yang cukup.”

Kenan mengangguk singkat. “Aku hanya ingin kebenaran yang berbicara.”

“Lusa aku kembali ke Jakarta.”

Kenan berdiri. “Terima kasih.”

Saat melewati Kamila, Kenan menepuk pelan bahunya. “Tolong jaga dirimu baik-baik.”

Tanpa menunggu jawaban, Kenan melangkah menuju pintu.

Klik. Pintu kamar tertutup.

Kamila berdiri seorang diri di tengah ruangan. Ia mengembuskan napas panjang. “Nyebelin banget…”

Dengan wajah kesal, ia mulai melipat pakaiannya dan bersiap meninggalkan Surabaya sesuai kesepakatan.

Malam itu, ruang kerja apartemen Kenan kembali dipenuhi suasana serius. Lima orang kepercayaannya berdiri rapi di hadapannya.

Kenan menutup map yang ada di tangannya, lalu menatap mereka satu per satu. “Aku cuma punya dua perintah.”

“Siap, Pak.”

“Pertama, pastikan Bu Kamila benar-benar kembali ke Jakarta sesuai rencananya. Kalau beliau tetap berada di Surabaya dan membuat masalah lagi, jangan ambil tindakan sendiri. Laporkan semuanya kepadaku. Kalau diperlukan, koordinasikan dengan pihak yang berwenang.”

“Baik, Pak.”

“Kedua, dan ini yang paling utama: keselamatan Kinasih adalah prioritas.”

“Siap, Pak.”

“Kalau ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar apartemen atau tempat kerjanya nanti, segera amankan situasinya dan hubungi aku. Aku nggak mau dia terluka lagi.”

“Siap, Pak.”

Kenan menatap mereka dalam-dalam. “Dan satu hal yang paling penting: jangan sampai Kinasih tahu kalian bekerja atas perintahku. Dia nggak suka merasa diawasi. Jaga jarak, tapi pastikan dia tetap aman.”

Kelima pria itu mengangguk serempak. “Siap, Pak Kenan.”

Kenan mengembuskan napas pelan sambil memandang ke luar jendela apartemen. “Dalam situasi seperti ini, keselamatan Kinasih dan anak kami adalah yang utama.”

Kelima orang itu kembali mengangguk hormat sebelum berpamitan menjalankan tugas masing-masing.

Sementara itu, di Surabaya…

Suasana UGD kembali sibuk seperti biasa. Kinasih yang sudah dinyatakan pulih mulai kembali bertugas dengan jadwal yang lebih ringan sesuai anjuran dokter.

Seorang perawat menghampirinya. “Dok Kinasih, pasien di bed tiga sudah stabil.”

“Baik, nanti saya cek lagi.”

Tak lama, beberapa rekan dokter menghampirinya. “Dok Kinasih, akhirnya balik juga.”

Kinasih tersenyum hangat. “Iya. Kangen juga sama suasana UGD.”

Salah satu dokter tertawa. “Kami malah kangen sama yang suka gantian jaga malam.”

“Jangan gitu, nanti saya langsung dikasih shift malam lagi.”

Mereka tertawa bersama. Dokter lain kemudian melirik perut Kinasih. “Gimana calon bayinya?”

“Alhamdulillah sehat.”

“Jangan terlalu capek ya.”

“Pasti. Kalau udah mulai pegal, saya langsung istirahat.”

Seorang perawat ikut menyela. “Dok, kami semua siap bantu kok. Jadi jangan sungkan.”

Kinasih tersenyum haru. “Makasih ya. Senang punya tim seperti kalian.”

---

Di Jakarta…

Gedung kantor pusat Hartman Group tampak sibuk sejak pagi. Kenan melangkah masuk ke ruang rapat utama. Beberapa direktur dan manajer senior sudah menunggu.

Kenan membuka presentasi. “Baik, kita mulai. Tender ini sangat penting. Aku mau semua data diperiksa lagi. Jangan ada kesalahan sekecil apa pun.”

“Siap, Pak.”

“Tim legal pastikan seluruh dokumen lengkap. Tim keuangan siapkan simulasi penawaran terbaik.”

“Siap, Pak.”

Kenan menatap seluruh peserta rapat. “Kita menang bukan karena keberuntungan, tapi karena persiapan.”

Setelah hampir dua jam rapat berlangsung, Kenan kembali ke ruang kerjanya dan mulai menandatangani setumpuk dokumen.

"Tok… tok…"

“Masuk.”

Pintu terbuka. Masuklah ayahnya, Markus Hartman.

“Papa.”

“Kamu sibuk?”

“Masih ada beberapa berkas.”

Markus duduk di hadapan putranya. “Aku mau tanya sesuatu. Kamu masih mendekati Kinasih?”

Tangan Kenan berhenti sesaat, namun ia kembali bekerja. Tak lama, senyum tipis muncul di wajahnya. “Jadi Kamila sudah mengadu ke Papa.”

Markus menghela napas. “Dia memang bercerita. Kenan, secara hukum Kamila itu istrimu. Kalau masalah ini sampai terdengar ke keluarga Kamila, mereka bisa menarik investasinya dari perusahaan.”

Ruangan menjadi hening. Beberapa detik kemudian Kenan bersandar di kursinya. “Kalau itu keputusan mereka, silakan. Perusahaan yang kubangun nggak boleh bergantung pada satu investor saja.”

Markus mulai kehilangan kesabaran. “Kamu tahu berapa besar pengaruh keluarga Kamila?”

“Tahu. Tapi risiko selalu ada dalam bisnis.”

“Kamu keras kepala.”

“Mungkin.”

Markus berdiri. “Papa cuma mau kamu berpikir lebih rasional.”

Kenan ikut berdiri dan menatap ayahnya dengan mantap. “Aku juga sedang berpikir rasional, Pa. Dan ada satu hal lagi yang perlu Papa tahu: Kinasih sedang mengandung anakku.”

Markus membeku. “Anakmu?”

“Iya. Dia adalah darah dagingku. Apa pun yang terjadi dalam urusan bisnis, tanggung jawabku sebagai seorang ayah tidak akan berubah.”

Markus menggeleng pelan, menyadari putranya tidak mudah mengubah pendirian. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menatap Kenan beberapa saat sebelum berbalik meninggalkan ruang kerja.

Kenan kembali membuka map dokumen di atas mejanya, bersiap menghadapi tantangan bisnis sekaligus persoalan keluarganya.

Sore itu, angin sepoi-sepoi berembus lembut menerpa dedaunan dan menerbangkan aroma tanah basah yang segar. Suasana di taman kota terasa tenang dan menyenangkan. Anak-anak berlarian riang di area bermain, beberapa orang terlihat berjalan santai atau berlari mengelilingi lintasan, sementara sebagian lainnya duduk di bangku menikmati perubahan warna langit yang mulai berubah keemasan.

Di salah satu bangku kayu yang terletak agak jauh dari keramaian, Kinasih dan Dokter Firdaus duduk berdampingan. Kinasih memandang hamparan rumput hijau di hadapannya, sesekali mengusap pelan perutnya yang kini semakin terlihat membesar seiring pertumbuhan janin di dalamnya.

Firdaus meliriknya dengan tatapan lembut, lalu bertanya dengan nada perhatian. “Capek duduk di sini terlalu lama?”

Kinasih menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tidak, justru terasa nyaman. Udara sore begini membuat pikiran jadi lebih tenang dan tidak sesak.”

“Iya benar. Suasana seperti ini memang obat terbaik untuk menenangkan hati dan pikiran,” jawab Firdaus setuju.

Beberapa saat mereka sama-sama terdiam, menikmati keheningan yang damai. Hingga sebuah pemandangan menarik perhatian Kinasih: seorang anak kecil berlari-lari mengejar gelembung sabun yang beterbangan tertiup angin. Melihatnya, senyum lebar pun terukir di bibir Kinasih.

“Lucu sekali ya,” gumamnya pelan.

Firdaus ikut menoleh melihat ke arah anak itu, lalu kembali menatap Kinasih. “Nanti beberapa bulan lagi, kamu juga akan merasakan hal yang sama. Melihat si kecil mulai tersenyum, menangis, mengoceh, hingga perlahan belajar merangkak dan berjalan.”

Mendengarnya, tatapan Kinasih terlihat lebih lembut dan berbinar. “Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba.”

Firdaus mengangguk, lalu dengan nada lebih serius namun tetap lembut, ia memanggil nama wanita itu. “Nash.”

“Iya, Dok?”

“Boleh aku bicara sesuatu yang mungkin sedikit membuatmu berpikir?”

“Silakan saja, aku dengar,” jawab Kinasih tenang.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!