NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - The Feels

Sepanjang perjalanan menuju tempat kerjaku, aku dan Javier hanya diam.

Aku masih memikirkan responnya tadi.

Kenapa dia bisa setenang itu?

Aku jadi semakin yakin bahwa Javier sampai kapan pun tidak akan menyukaiku.

Jelaslah.

Mantannya saja secantik Devina. Bagaimana Javier bisa menyukaiku yang biasa saja ini?

Sudahlah.

Jalani saja seperti ini.

Kalau memang keadaan kami tetap seperti sekarang, mungkin suatu hari nanti aku akan meminta cerai dan hidup bebas lagi.

Beberapa menit kemudian mobil Javier berhenti di depan Sina Bank.

Aku langsung melepaskan sabuk pengaman lalu hendak membuka pintu.

"Nay..."

Aku menoleh.

"Apa?" tanyaku ketus. "Kamu mau minta aku cium tangan kamu lagi?"

Javier menghela napas pelan.

"Nggak. Aku cuma mau tanya, nanti pulangnya dijemput atau nggak?"

"Nggak usah. Nanti aku pulang naik ojek aja."

"Oke."

Kata itu lagi.

Aku langsung menghela napas kesal.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku keluar dari mobil dan berjalan menuju bank.

Begitu memasuki halaman bank, kulihat Fahri baru saja datang.

"Asyiknya dianterin suami," godanya.

"Apa sih, Mas Fahri ini?" ucapku sambil menghampirinya.

"Kenapa? Kamu kayak nggak suka dianterin suami sendiri."

Aku mendengus pelan.

"Perasaan biasa aja."

Fahri menatapku curiga.

"Kalian lagi berantem?"

"Nggak."

"Terus kenapa mukamu kayak orang habis kalah debat?"

Aku langsung menoleh.

"Memangnya kelihatan?"

"Banget."

Aku memejamkan mata sejenak.

Menyebalkan.

"Udah ah, Mas. Yuk masuk."

Aku langsung berjalan lebih dulu hingga Fahri terpaksa mengikutiku dari belakang.

"Selamat pagi, Mbak Naya. Mas Fahri."

Satpam yang berada di dekat pintu langsung menyapa kami.

"Selamat pagi, Pak Budi," jawabku dan Fahri hampir bersamaan.

Setelah itu kami masuk lebih dalam menuju ruangan karyawan.

Di sana Salsa dan Yuni sudah lebih dulu datang.

"Hai, Nay..." sapa Salsa.

"Hai, Mbak."

"Nay, kemarin aku ke Ruang Rindu, tapi suami kamu nggak ada."

"Oh..." Aku mengangguk. "Kemarin dia lagi kondangan ke nikahan temennya."

"Temen apa?" tanya Salsa penasaran.

"Temen kuliah."

"Bukan mantan?"

"Salsa!" tegur Yuni.

"Apa sih, Mbak?" Salsa terkekeh. "Aku cuma nanya."

Aku menghela napas.

"Bukan. Tapi mantannya juga datang."

Mata Salsa langsung membesar.

"Eh? Serius?"

Aku mengangguk.

"Terus gimana orangnya? Cantik?"

"Salsa!" tegur Yuni lagi. "Jangan gitu, Sa. Hargai Naya."

"Aku nggak bermaksud apa-apa, Mbak." Salsa langsung membela diri. "Aku cuma penasaran. Kalau cowok seganteng suami Naya, mantannya kayak gimana."

Aku langsung memalingkan wajah.

"Dan lagi..." lanjut Salsa sambil menatapku jahil. "Naya kan nggak suka sama suaminya. Iya, kan, Nay?"

"Hah?"

"Kamu nggak suka sama suamimu, kan?"

Aku mengangguk.

"Nggak."

"Tuh, kan..." Salsa langsung menunjukku.

Fahri yang sejak tadi mendengarkan percakapan kami ikut tertawa.

"Wah, susah juga ya menembus hati kamu."

Aku mengernyit.

"Maksudnya?"

"Udah nikah berapa hari, tapi cowok seganteng itu tetap nggak bisa bikin kamu jatuh cinta."

"Ganteng aja nggak cukup, Mas."

"Nah, itu benar." Yuni mengangguk setuju. "Harus punya tanggung jawab dan pengertian juga."

Aku mengangguk pelan.

Setidaknya ada satu orang yang berpihak padaku.

"Tapi kayaknya suami kamu punya dua-duanya deh," ujar Fahri.

Aku langsung menoleh.

"Hah?"

"Dia anterin kamu, kelihatan perhatian juga."

"Nggak tahu lah."

Aku buru-buru memotong pembicaraan itu.

"Udah ah. Jangan bahas suamiku terus."

Salsa langsung menyipitkan mata.

"Kenapa sih, Nay? Kalian lagi berantem?"

"Nggak."

"Yakin?"

"Iya."

"Jangan-jangan gara-gara mantan?" Salsa kembali menebak. "Kamu cemburu, ya?"

Aku langsung terkejut.

"Nggak! Siapa yang cemburu?"

Salsa dan Fahri saling pandang lalu tersenyum.

"Yakin?" tanya Salsa lagi.

"Iya."

Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Aku kan nggak suka sama suamiku. Ngapain cemburu? Mau ada mantannya kek, nggak ada mantannya kek, sama aja."

"Oke..." ucap Salsa panjang sambil menahan senyum.

Nah.

Senyum itu lagi.

Senyum yang seolah tidak percaya dengan semua yang baru saja kukatakan.

"Nay," ucap Yuni tiba-tiba. "Meskipun kamu belum suka sama suami kamu, kamu tetap harus menghargai dia, ya."

"Iya, Mbak."

Jawabanku terdengar malas bahkan di telingaku sendiri.

"Udah yuk. Sebentar lagi bank buka."

Aku langsung berdiri dari kursiku.

Sebelum Salsa sempat mengeluarkan pertanyaan aneh lainnya.

Lalu kami semua keluar dari ruangan dan menuju meja masing-masing.

Sepanjang hari aku fokus bekerja melayani nasabah, meskipun percakapanku dengan Javier tadi pagi masih sesekali muncul di kepalaku.

Tanpa terasa jam kerja berakhir.

Setelah semua pekerjaan selesai, aku dan yang lainnya langsung bersiap pulang.

"Kamu nggak bawa motor, Nay?" tanya Salsa saat kami berada di parkiran.

"Naya dianterin suaminya pagi tadi," jawab Fahri.

"Ihh... bilangnya nggak suka, tapi mau dianterin," goda Salsa.

"Dia yang nawarin."

"Wah, kalau gitu berarti dia yang suka sama kamu," lanjut Salsa.

"Ngaco!" Aku langsung membantah. "Nggak mungkin lah. Mantannya aja secantik itu. Masa dia suka sama aku?"

"Nay..." Yuni menggeleng pelan. "Nggak semua orang suka karena fisik."

"Tapi cowok itu makhluk visual, Mbak."

"Eh, aku nggak ya!" Fahri langsung protes. "Aku suka sama istriku bukan karena fisiknya."

Aku mendecih pelan.

"Lha itu kan Mas Fahri. Javier belum tentu."

"Ya kalau penasaran tanya dong sama orangnya," sahut Fahri.

Aku langsung mengibaskan tangan.

"Udah ah. Sana pulang."

"Ya elah..." Fahri terkekeh.

"Udah ayo pulang, Mas," ujar Salsa sambil menarik lengan Fahri. "Ngomong sama Naya bakal lama. Nanti kalau mereka udah saling suka juga beda lagi."

"Nggak mungkin, Mbak."

Salsa tersenyum.

"Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini."

Aku hanya diam.

"Apalagi kalau urusannya perasaan."

Setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkanku di parkiran.

Aku masih memikirkan ucapan Salsa ketika ponselku tiba-tiba berdering.

Kulihat nama Ayah muncul di layar.

Jantungku langsung berdebar tidak nyaman.

Aku segera mengangkat telepon itu.

"Assalamu'alaikum, Yah."

"Wa'alaikumsalam. Nay, ibu sakit."

Aku langsung menegakkan badan.

"Apa? Ibu sakit?" tanyaku panik. "Sakit apa, Yah?"

"Kamu ke sini aja dulu. Cepat."

Nada suara Ayah membuatku semakin khawatir.

"Iya, Yah. Aku ke sana sekarang."

Begitu telepon terputus, aku langsung memesan ojek online.

Tak sampai lima menit, pengemudinya datang dan aku segera berangkat.

Sepanjang perjalanan pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Aku bahkan beberapa kali menggigit bibir bawah karena cemas.

Begitu sampai di depan rumah dan membayar ojek, aku langsung berlari masuk.

"Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumsalam."

Ayah muncul dari ruang tengah.

"Ibu di mana, Yah?"

"Ada di kamar."

Aku langsung berjalan cepat menuju kamar ibu.

"Ibu..." panggilku sambil membuka pintu.

"Hai, Nay..." jawab ibu sambil tersenyum.

Aku langsung menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.

"Ibu sakit apa?"

"Cuma masuk angin kok."

Aku langsung menghela napas panjang.

Rasanya seperti baru saja terbebas dari beban berat.

"Oh... Kirain ibu kenapa-kenapa. Aku khawatir banget tadi. Mana Ayah nyuruh aku cepat-cepat ke sini."

"Itu ibu yang suruh."

"Hah?"

Ibu tersenyum jahil.

"Soalnya ibu kangen sama kamu."

Aku langsung menggeleng sambil tertawa kecil.

"Maaf ya, Bu. Aku jarang ke sini."

"Nggak apa-apa. Ibu paham kok."

Ibu lalu menatapku penuh arti.

"Namanya juga pengantin baru. Masih pengen berdua terus."

"Ibu!"

Aku langsung memprotes.

"Aku sama Javier kan nggak saling suka. Nggak ada yang kayak gitu."

Ibu justru tertawa kecil.

"Masa sampai sekarang belum saling suka sih?"

Aku mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Javier baik begitu lho, Nay."

"Nggak tahu lah, Bu..."

Ibu menghela napas pelan.

"Kok nggak tahu terus sih?"

Aku hanya diam.

"Jangan berharap Javier kayak cowok-cowok di drama yang kamu tonton itu, Nay."

Aku langsung menatap ibu.

"Maksud ibu?"

"Soalnya dunia nyata nggak sama kayak drama."

Ibu tersenyum tipis.

"Kadang orang yang benar-benar sayang sama kita justru nggak romantis, nggak pandai ngomong manis, dan nggak tahu cara bikin hati berdebar."

Aku terdiam.

"Yang penting dia hadir, bertanggung jawab, dan tetap memilih kita setiap hari."

Entah kenapa ucapan ibu membuatku teringat seseorang.

Seseorang yang pagi tadi hanya menjawab satu kata.

"Siapa yang berharap kayak gitu? Aku nggak berharap apa-apa tuh. Aku cuma menjalani yang ada sekarang tanpa mengharapkan apa-apa. Soalnya kalau berharap, ujung-ujungnya sakit hati."

"Jangan begitu." Ibu menepuk tanganku pelan. "Ibu lihat Javier itu laki-laki yang bisa diharapkan kok. Dia baik, perhatian, bahkan kelihatan memprioritaskan kamu."

"Ah, itu cuma pencitraan aja paling."

"Naya..."

"Dan kalau pun bukan pencitraan, belum tentu juga dia bisa suka sama aku. Orang mantannya aja cantik banget."

Ibu langsung mengernyit.

"Javier punya mantan?"

Aku mengangguk.

"Javier yang cerita?"

"Iya."

"Terus?"

"Kemarin kami ketemu waktu kondangan."

"Kalian ketemu mantannya Javier?"

Aku kembali mengangguk.

"Beneran cantik?"

"Kata aku sih iya."

Ibu terlihat berpikir sejenak.

"Javier udah move on belum?"

"Dari ceritanya sih kayaknya udah. Tapi ya nggak tahu juga isi hatinya."

Ibu tiba-tiba tersenyum.

"Coba sekarang telepon Javier."

Aku langsung curiga.

"Buat apa?"

"Ibu mau ngomong sama dia."

"Ibu mau ngomong apa?"

"Nggak ngomong apa-apa. Udah, telepon aja."

Aku menghela napas panjang.

Meskipun penasaran, akhirnya aku tetap mengambil ponsel dan menghubungi Javier.

Tak lama kemudian panggilanku tersambung.

—Halo, Nay...

Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerahkan ponsel kepada ibu.

"Assalamu'alaikum, Nak Javier."

Aku hanya bisa mendengarkan dari samping.

"Sehat, kan? Alhamdulillah."

Ibu tersenyum lebar.

"Iya, ini Naya lagi di rumah."

Aku mulai merasa tidak tenang.

"Nanti kamu ke sini juga ya."

Jangan.

"Malam ini kalian menginap di sini."

Apa?

Aku langsung membelalak.

Tidak.

Tidak.

Tidak!

Aku tidak mau tidur seranjang lagi dengan Javier.

"Baik. Ibu tunggu ya."

Setelah itu ibu menutup telepon seolah baru saja membicarakan sesuatu yang sangat biasa.

"Kata Javier apa, Bu?"

"Dia nanti ke sini."

"아 진짜... (Ah benar-benar deh....)”

Aku menghela napas panjang.

Frustasi.

"Kenapa sih?" tanya ibu.

"Aku nggak mau seranjang sama Javier."

Ibu terlihat bingung.

"Lho? Bukannya di rumah baru kalian tidur seranjang?"

"Nggak."

Aku menggeleng cepat.

"Kami tidur di kamar terpisah."

Plak.

Sebuah pukulan langsung mendarat di lenganku.

"Aw!"

"Kalian udah nikah lho!" protes ibu. "Malah tidur di kamar terpisah."

"Ya namanya kami nggak saling cinta, Bu."

"Naya..."

"Aku nggak mau disentuh sama cowok yang nggak aku cintai."

"Astagfirullah..."

Ibu langsung memejamkan mata.

"Masih aja mikir kayak gitu."

"Ibu tolong ngertiin aku. Ini masih sulit buat aku."

Aku menunduk.

"Aku aja kadang masih merasa kayak mimpi udah nikah gini."

Untuk pertama kalinya sejak tadi, ibu tidak langsung membalas.

Beliau hanya menghela napas panjang.

Sedangkan aku menatap lantai.

Di satu sisi aku senang bisa bertemu ibu.

Di sisi lain...

Malam ini Javier akan datang.

Dan aku harus menghabiskan satu malam lagi bersamanya.

Entah kenapa memikirkan hal itu membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Padahal aku jelas-jelas tidak menyukainya.

...kan?

1
Mamah Dini11
teruss aja tanya dirimu sendiri, umur kmu 30 bkn kok gk dewasa2 atau blm dewasa cara pola pikirnu nanti oon beneran loh naya.
Mamah Dini11
ko si naya gk ada perubahan baik gitu ke javer , javer juga bisa baik walaupun blm ada cinta , jadi kesel ihhh bacanya juga
Mamah Dini11
ya jgn ikut bodoh karna kmu bodoh.
Mamah Dini11
hai naya bodoh bin oon , javer perhatian sm masa kmu gk bisa menyimpulkan javer kayaknya mulai menerimamu, tpiiii kata2mu itu yg bikin javer bingung apa yg di lakuin javer selalu. salah di matamu , dasar perempuan yg kurang bersukur kmu mh. apa itu hasil istrihorohmu, atau gk jadi solat istihorohnya .
Mamah Dini11
nah otakmu lgi berpungsi ya nay, kemarin2 kmu ngebleng kan otaknya atau rada miring gitu , mulutmu di agak di jaga naya kalau gk bisa mending jait aja sekalian.
Mamah Dini11
walaupun kmu gfk cinta atau blm cinta tpiiii perempuan kayak si tara perlu di waspadai nay, gelagatnya mencurigakan .
Mamah Dini11
pikiran kmu betulin nay ke bengkel itu2 aja yg ada di otakmu, coba belajar dengar isi hati. kmu naya jgn cepat menepis , dasar otakmu. mh koslet
Mamah Dini11
kmu perempuan yg kurang bersukur nay. kurang apa coba javer orang baik ngertiin kmu sabar cari cowo seperti apa lagi nay, coba kmu pikir mungkin sekarang blm ada cinta di antara kalian siapa tau lama2 cinta datang dgn sendirinya , baru kmu bilang aku cinta kmu. begitupun javer , udh gk sabar. nunggu momen iti .lanjut thor. buat mereka secepatnya jatuh cinta ya thor pliiiiissss 🙏🙏
Mamah Dini11
nah situ ngerti , makanya jgn suka ngehalu. ketinggian bisa jatuh kmu, coba jadi permpuan itu sdikit bisa memahami situasi, di otak kmu kn cuma nikah terus cerai cerai karna gk cinta. pemikiran kmu beda sm javer , kmu mh oncom naya
Mamah Dini11
makanya otak jgn ke mana2 dulu , umur udh 30 pemikiran gk dewasa banget. lihat tuh javer santai tenang kalem,, kmu absrud banget kayak umur 17 thn , banyak nonton tuh perbaiki mulutmu naya
Mamah Dini11
ini pemeran si nay kenapa di oon kan thor. gk di saring lgi tuh mulutnya, kan dia. itu perpendidikan kerja di bang , masa gk tau tatak rama sedikit pun , jadi sebel dehhh , sering nonton drakor juga gk segitunya kali .
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!