Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Peluang di tengah badai
Perusahaan logistik skala kecil tempat Larissa bekerja saat ini sedang berada di ambang krisis besar.
Selama tiga bulan terakhir, PT Laju Utama mencoba keluar dari zona nyaman mereka dengan mengikuti tender proyek pengiriman logistik skala nasional untuk
sebuah perusahaan manufaktur multinasional yang baru saja membuka pabrik raksasa di pinggiran ibu kota.
Jika mereka berhasil memenangkan tender ini, omzet perusahaan akan melonjak hingga lima ratus persen, mengamankan masa depan seluruh karyawan untuk lima tahun ke depan.
Tapi kenyataan tak seindah proposal di atas kertas. Pagi ini, untuk ketiga kalinya berturut-turut draf proposal kerja sama yang diajukan oleh tim pemasaran ditolak mentah-mentah oleh tim kurator korporasi tersebut.
Alasan penolakannya selalu sama, strategi operasional dinilai terlalu konvensional, perhitungan efisiensi biaya dianggap tidak realistis, dan analisis risiko logistiknya dinilai sangat amatir.
"Kalau sampai akhir minggu ini kita tidak bisa memberikan revisi draf yang revolusioner, perusahaan kita akan langsung dicoret dari daftar kandidat vendor!" suara Pak Joko, kepala bagian administrasi sekaligus manajer operasional, terdengar bergetar frustrasi saat berbicara di telepon di kubikel utamanya.
"Tim pemasaran kita benar-benar buntu! Mereka hanya tahu cara mengirim barang antarkota, bukan menyusun strategi rantai pasok global!"
Larissa yang duduk di sudut ruangan paling belakang, menatap layar komputernya dengan pandangan yang tenang namun tajam. Jemarinya berhenti mengetik nomor resi pengiriman harian. Telinganya dengan cermat menangkap setiap keluhan dan poin-poin kegagalan proposal yang diucapkan oleh Pak Joko.
Di balik statusnya saat ini sebagai buruh administrasi biasa yang digilas oleh rumor beracun, Larissa sebenarnya adalah seorang wanita yang memiliki otak yang sangat cerdas. Dia adalah lulusan terbaik di jurusan manajemen bisnis dari salah satu universitas terkemuka dengan beasiswa yang ia dapatkan.
Selama menjadi istri Bram, bakat, kejeniusan, dan ketajaman analisis bisnis Larissa sengaja dikubur hidup-hidup oleh suaminya. Bram selalu mendoktrinnya bahwa tugas wanita hanya di dapur dan kasur, membuat potensi besar di dalam diri Larissa layu sebelum sempat berkembang.
Namun kini setelah jiwanya yang lama mati dan terlahir kembali, Larissa menolak untuk membiarkan otaknya tumpul. Setiap malam di dalam kamar kosnya, Larissa tidak pernah tidur nyenyak.
Di antara rasa mual dan pusing yang kerap menderanya akibat tekanan batin, dia menghabiskan waktu hingga dini hari untuk belajar secara otodidak melalui ponselnya.
Dia membaca jurnal-jurnal bisnis terbaru, mempelajari sistem manajemen rantai pasok modern, menganalisis pergerakan saham, dan memetakan strategi penetrasi pasar korporasi besar. Dia sedang menata puing-puing pengetahuannya yang sempat hilang.
***
Pukul lima sore, bel tanda pulang kantor telah berbunyi. Satu per satu karyawan membereskan meja mereka dengan wajah lesu, bergegas pulang untuk melepaskan penat dari krisis yang melanda perusahaan.
Begitu suasana ruko lantai dua mulai sepi dan hanya menyisakan Pak Joko yang masih duduk memijat pelipisnya di depan tumpukan kertas proposal yang berantakan, Larissa berdiri dari kursinya.
Di tangan kanannya, Larissa memegang sebuah map plastik tebal berwarna merah yang dia bawa dari kosnya pagi ini.
Di dalam map itulah tersimpan hasil kerja kerasnya selama tiga malam berturut-turut, sebuah draf proposal tandingan yang dia susun dengan merombak total seluruh struktur kesalahan tim pemasaran perusahaan.
Larissa tahu, jika dia ingin naik kelas dan menghancurkan Bram dari posisi yang setara, dia membutuhkan batu loncatan yang besar. Dan PT Laju Utama adalah anak tangga pertamanya.
Dia melangkah perlahan mendekati kubikel Pak Joko, mengabaikan detak jantungnya yang berdegup keras. "Permisi, Pak Joko," panggilnya dengan nada suara yang tenang dan sopan.
Pak Joko mendongak, wajah paruh bayanya tampak kusut dan dipenuhi gumpalan stres. Pria itu mengernyitkan dahi begitu melihat Larissa yang berdiri di depan mejanya.
Di dalam kepalanya, ingatan tentang rumor yang melekat pada Larissa sempat melintas, membuat nadanya terdengar agak ketus.
"Ada apa, Larissa? Kalau mau menyerahkan laporan manifes harian, letakkan saja di keranjang kuning. Aku sedang sangat pusing sekarang."
Larissa tidak mundur setapak pun. Dengan gerakan percaya diri, dia meletakkan map merah tebal itu tepat di atas tumpukan proposal gagal milik tim pemasaran.
"Saya ke sini bukan untuk menyerahkan laporan manifes, Pak," ujar Larissa sepasang mata gelapnya menatap lurus ke dalam manik mata Pak Joko dengan binar ketegasan yang belum pernah pria itu lihat sebelumnya dari sosok staf admin yang pendiam ini.
"Saya ke sini untuk menyerahkan draf revisi strategi operasional dan pemasaran untuk tender proyek multinasional yang sedang mengalami kebuntuan."
Pak Joko tertegun sejenak, lalu sebuah tawa remeh yang skeptis lolos dari bibirnya. Pria itu bersandar di kursinya sembari melipat tangan di dada. "Proposal tender? Larissa, tolong jangan bercanda. Kamu di sini tugasnya hanya menginput data resi dan manifes logistik harian.
"Tim pemasaran kita yang sarat pengalaman saja sudah angkat tangan setelah ditolak tiga kali. Latar belakangmu selama lima tahun ini hanya seorang ibu rumah tangga, bagaimana mungkin kamu bisa memahami struktur rantai pasok korporasi multinasional?"
"Latar belakang saya sebelumnya mungkin hanya seorang ibu rumah tangga, Pak," sahut Larissa.
"Tapi esensi dari manajemen logistik adalah efisiensi pergerakan dan ketepatan alokasi sumber daya, hal yang saya lakukan setiap hari dalam skala mikro selama lima tahun. Jika Bapak bersedia meluangkan waktu lima menit saja untuk membaca halaman pertama draf saya, Bapak akan tahu di mana letak kebodohan proposal tim pemasaran kita yang membuat pihak kurator menolaknya berkali-kali."
Mendengar kata "kebodohan" disebut dengan begitu tenang dan penuh percaya diri oleh Larissa, rasa penasaran Pak Joko akhirnya terusik. Pria itu mendengus, meraih map merah milik Larissa dengan gerakan enggan.
"Baik, lima menit. Kalau isinya hanya teori sampah dari internet, aku mintamu kembali ke meja kerjamu besok dan jangan mencampuri urusan tim pemasaran lagi."
Pak Joko membuka halaman pertama draf tersebut. Awalnya matanya bergerak malas menyusuri baris tulisan, tapi belum genap dua menit berlalu, ekspresi meremehkan di wajah pria paruh baya itu seketika lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi yang dipicu oleh rasa terkejut yang luar biasa besar.
Di halaman pertama, Larissa tidak menyajikan untaian kata-kata manis yang klise. Dia langsung menyodorkan sebuah diagram analisis komparatif yang memetakan cacat logistik dari tiga proposal yang ditolak sebelumnya.
Larissa menunjukkan bahwa tim pemasaran selama ini salah menghitung formula Lead Time (waktu tunggu) pengiriman karena mengabaikan variabel kemacetan jalur lingkar luar Jakarta pada jam-jam krusial pabrik beroperasi.
Pak Joko membalik halaman selanjutnya dengan gerakan yang mulai tergesa-gesa, matanya membelalak lebar. Di halaman-halaman berikutnya, Larissa merombak total seluruh strategi pemasaran.
Dia menyusun ulang rute distribusi menggunakan algoritma Vehicle Routing Problem (VRP) yang dipelajarinya secara otodidak, yang mampu memotong biaya operasional pengiriman hingga tiga puluh lima persen, sebuah angka efisiensi yang sangat fantastis dan rasional di mata korporasi besar.
Lebih jeniusnya lagi, Larissa menyertakan matriks manajemen risiko yang sangat detail, mengantisipasi keterlambatan akibat cuaca ekstrem dan kendala bea cukai di pelabuhan.
Seluruh draf itu disusun dengan tata bahasa bisnis yang sangat berkelas dan tajam, dipenuhi oleh data statistik otentik yang sangat akurat. Ini bukan draf buatan seorang staf admin biasa; ini adalah hasil karya dari seorang arsitek bisnis yang sangat jenius.
"Ini... bagaimana mungkin kamu bisa menyusun semua perhitungan rumit ini sendirian?!" Pak Joko berseru heboh, suaranya meninggi karena rasa syok yang luar biasa.
Pria itu berdiri dari kursinya, menatap Larissa seolah-olah wanita di hadapannya adalah sosok asing yang baru pertama kali dia lihat.
"Analisis efisiensi biaya ini luar biasa jenius! Tim pemasaran kita bahkan tidak pernah terpikir untuk menggunakan metode konsolidasi kargo seperti ini!"
Larissa menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya "Saya menyelesaikannya dalam tiga malam, Pak. Saya tahu apa yang diinginkan oleh korporasi multinasional. Mereka tidak butuh janji pelayanan yang ramah, mereka hanya butuh angka efisiensi yang masuk akal dan kepastian bahwa barang mereka tidak akan tertahan di jalanan."
Pak Joko memegang draf merah itu dengan tangan yang sedikit bergetar karena bersemangat. Seluruh stres yang menyumbat kepalanya sejak pagi seketika sirna, digantikan oleh secercah harapan besar bagi masa depan perusahaan.
Sikap skeptis dan merendahkannya terhadap status sosial Larissa menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa kagum dan hormat yang murni terhadap kejeniusan otak wanita di hadapannya.
"Larissa, draf ini bukan hanya bagus, ini adalah kunci penyelamat kita!" Pak Joko berucap dengan mata yang berbinar cerah.
"Besok pagi pukul sembilan, pemilik perusahaan dan seluruh tim internal akan mengadakan rapat darurat untuk menentukan draf akhir. Aku akan membawa draf buatanmu ini ke dalam rapat internal besok dan menggunakannya sebagai senjata utama kita!"
***
Keesokan harinya, ruang rapat utama menjadi saksi dari sebuah titik balik yang epik. Draf proposal tandingan yang diajukan oleh Pak Joko, yang murni merupakan hasil pemikiran Larissa berhasil mengguncang seluruh jajaran direksi dan pemilik perusahaan.
Tim pemasaran yang sebelumnya buntu, hanya bisa ternganga bungkam tak berkutik saat melihat kejeniusan analisis biaya dan rute distribusi yang dipaparkan di layar proyektor.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menyanggah argumen logis di dalam proposal tersebut.
Hanya dalam waktu dua jam rapat berlangsung, keputusan mutlak diambil. Pemilik PT memberikan persetujuan penuh dan memerintahkan agar draf buatan Larissa resmi digunakan untuk dipresentasikan langsung di hadapan dewan direksi dan perwakilan tertinggi dari korporasi manufaktur multinasional tersebut pada hari Senin minggu depan.
Ini adalah peluang emas terbesar yang jatuh tepat ke dalam genggaman Larissa, sebuah pelatuk pertama yang akan membawanya keluar dari kubangan lumpur kehinaan dan mengangkat posisinya naik kelas ke level yang jauh lebih tinggi.
Malam harinya di dalam kamar kosnya yang sempit, Larissa duduk di tepi kasurnya sembari memegang lembaran salinan jadwal presentasi minggu depan yang diberikan oleh Pak Joko.
Satu langkah awal yang bagus, batin Larissa dengan senyuman tipis yang sangat dingin, meremas pinggiran kertas di genggamannya.
“Kalian membuangku ke jalanan dengan harapan aku akan mati membusuk. Tapi kalian lupa, wanita yang kalian injak-injak ini memiliki otak yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis kalian."
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut