NovelToon NovelToon
Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Level Maks Sebelum Dunia Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.

【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】

Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.

Namun, tidak dengan Leon.

Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.

【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Dunia Simulasi

Rasa dingin menyelimuti seluruh tubuh Leon.

Bukan dingin yang berasal dari hujan atau pendingin ruangan, melainkan sensasi aneh seolah tubuhnya sedang melayang di ruang tanpa batas. Ia berusaha membuka mata, tetapi kelopak matanya terasa sangat berat. Di telinganya terdengar suara yang samar, seperti ribuan bisikan bercampur menjadi satu.

Perlahan, bisikan itu menghilang.

Leon menarik napas panjang.

Udara yang masuk ke paru-parunya terasa begitu segar hingga membuat dadanya sedikit sesak. Aroma rumput basah dan tanah yang baru tersiram embun memenuhi penciumannya.

Ia membuka mata.

Pemandangan yang tersaji di depan membuatnya membeku.

Hamparan padang rumput hijau membentang sejauh mata memandang. Bunga-bunga liar bermekaran di antara rerumputan yang bergoyang pelan diterpa angin. Di kejauhan, pegunungan menjulang tinggi hingga puncaknya tertutup awan putih. Langit tampak biru cerah tanpa satu pun jejak polusi.

Keheningan tempat itu terasa menenangkan.

Namun justru karena terlalu tenang, Leon merasa ada yang tidak beres.

"...Di mana aku?"

Ia segera berdiri dan memeriksa tubuhnya. Kaus hitam dan celana jins yang dikenakannya masih sama seperti sebelum tidur. Ponselnya masih berada di saku, tetapi saat dinyalakan, layarnya hanya menampilkan warna hitam sebelum akhirnya mati total.

"Baterainya habis?"

Tidak.

Beberapa jam sebelumnya baterainya masih lebih dari delapan puluh persen.

Leon mencoba menghidupkannya lagi.

Tetap tidak menyala.

Ia memasukkan kembali ponsel itu ke saku sambil menghela napas.

"Kalau ini mimpi... rasanya terlalu nyata."

Sebagai orang yang gemar membaca novel fantasi saat waktu luang, pikirannya langsung melayang ke berbagai kemungkinan. Dunia lain. Simulasi. Atau mungkin... penculikan dengan teknologi yang belum pernah ia lihat.

Namun satu hal yang pasti.

Semua ini bukan lagi kamar kontrakan sempit tempat ia tinggal.

Leon mulai berjalan menyusuri padang rumput. Langkahnya pelan, penuh kewaspadaan. Matanya terus mengamati setiap sudut, berharap menemukan jalan, bangunan, atau setidaknya manusia lain.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Tidak ada apa pun selain hamparan alam yang seolah tak berujung.

Tiba-tiba...

"Hmm... lebih cepat bangun daripada perkiraanku."

Suara seorang gadis terdengar dari belakang.

Leon langsung berbalik.

Seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun berdiri beberapa meter darinya. Rambutnya berwarna perak, terurai hingga pinggang. Matanya yang biru terang tampak bersinar lembut. Ia mengenakan gaun putih sederhana dengan hiasan benang emas di bagian lengan.

Yang paling aneh adalah...

Kakinya tidak benar-benar menginjak tanah.

Tubuhnya melayang beberapa sentimeter di atas rerumputan.

Leon refleks mengambil beberapa langkah mundur.

"Siapa kamu?"

Gadis itu tersenyum tipis.

"Pertanyaan yang wajar."

Ia membungkukkan badan dengan anggun.

"Perkenalkan. Namaku Lyra."

"Aku adalah Administrator Sistem."

Leon mengernyit.

"Administrator?"

"Benar."

"Kalau begitu, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

Lyra tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Leon dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sesuatu.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.

"Sepertinya sinkronisasinya berjalan sempurna."

"Apa maksudmu?"

Lyra mengangkat tangan kanannya.

Seketika, puluhan partikel cahaya biru bermunculan di udara, berkumpul membentuk sebuah layar transparan tepat di depan Leon.

【Sinkronisasi Pengguna Selesai】

Nama: Leon

Status: Aktif

Hak Akses: Pengguna Pertama

Leon menatap layar itu tanpa berkedip.

Huruf-huruf tersebut melayang di udara, begitu nyata hingga ia bisa melihat pantulan cahaya biru di telapak tangannya.

Ia mencoba menyentuh layar itu.

Ujung jarinya menembus permukaan cahaya seperti menyentuh air yang tenang.

Gelombang kecil menyebar ke seluruh layar.

Leon menarik tangannya kembali.

"...Ini bukan teknologi biasa."

Lyra tersenyum puas.

"Tentu saja bukan."

"Karena ini bukan berasal dari dunia yang kamu kenal."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Leon berdiri.

Ia ingin menyangkalnya.

Namun semua yang dilihatnya jauh melampaui logika.

"Kalau begitu..."

"Apakah aku sudah mati?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Lyra tampak terkejut sesaat, lalu terkekeh pelan.

"Tenang."

"Kamu masih hidup."

"Kesadaranmu hanya dipindahkan sementara ke Dunia Simulasi."

Leon menghela napas lega, meski kebingungannya belum juga hilang.

"Dunia Simulasi?"

"Ya."

"Tempat ini dibuat khusus untuk mempersiapkanmu menghadapi sesuatu yang akan terjadi di dunia asalmu."

Leon langsung teringat notifikasi misterius yang muncul saat pergantian tahun.

Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Jangan bilang..."

Lyra mengangguk pelan, seolah mengetahui isi pikirannya.

"Notifikasi itu bukan lelucon."

"Bukan ulah pemerintah."

"Bukan eksperimen perusahaan teknologi."

"Itu adalah peringatan."

Leon mengepalkan tangan tanpa sadar.

"Kalau begitu... apa yang akan terjadi setelah hitung mundur itu selesai?"

Lyra terdiam.

Untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya menghilang.

Tatapannya mengarah ke langit biru yang luas.

"Jawaban itu..."

"...akan kamu ketahui jika berhasil bertahan hidup."

Belum sempat Leon mengajukan pertanyaan lain, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar pelan.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Getarannya semakin kuat.

Burung-burung yang semula bertengger di pepohonan mendadak beterbangan ke langit.

Angin yang sebelumnya sejuk berubah menjadi dingin.

Dari arah hutan di kejauhan, terdengar suara auman yang begitu keras hingga menggema ke seluruh padang rumput.

Leon menoleh secara refleks.

Di balik pepohonan yang rimbun, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka.

Mata itu menatap lurus ke arahnya.

Lyra tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan.

Sebaliknya, ia tersenyum tipis.

"Sepertinya..."

"Ujian pertamamu dimulai lebih cepat dari yang kuduga."

1
Dragonovic#
semoga seru nih 🫡
D'Silent Novel: Kalo ada masukan atau pun kritik, langsung komen aja ya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!