Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
Aza berdiri di depan pintu ruang kerja Dewa dengan ragu. Ia tatap kue di kedua tangannya sembari menggigit bibir bawahnya gusar.
"Dewa mau nerimanya ngga yah." lirih Aza tampak muram.
Sebelumnya Dewa tampak kesal saat melihat dirinya membuatkan kue. Ia takut Dewa akan membuang kue pemberiannya.
Sampai tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Aza terkejut, bahunya terjingkit kecil, menatap ragu-ragu wajah Dewa yang tampak datar di depannya.
Pandangan Dewa jatuh ke arah kue di tangan Aza, lalu berdehem kecil, "I-Itu, untukku?" tanyanya ragu.
Aza pun sama gugupnya, a mengangguk lalu menyerahkan kue itu padanya, lalu berbalik pergi dari sana tanpa melontarkan satu patah katapun. Dewa tatap punggung Aza yang menjauh, terlihat telinga wanita itu memerah, membuatnya tak sanggup menahan tawa kecilnya. Lalu kembali masuk ke dalam ruangan miliknya untuk menyantap kue pemberian Azalea.
"Ahhhh...gila, kenapa dadaku berdebar kencang seperti ini?"
Aza berlari kecil menuju dapur sembari menutup wajahnya menahan malu. Namun baru saja melewati lorong, suara ceklekan pintu terdengar dari arah ruang tamu, membuat langkahnya terhenti, menoleh ke arah pintu besar di ujung sana.
Jantung Azalea langsung berhenti berdetak saat melihat seorang wanita dengan anak kecil di gandengannya. Masuk ke dalam rumah Dewa.
"Itukan pacar Dewa!"
Azalea langsung buru-buru bersembunyi dibalik pintu, memunculkan kepalanya saja, dadanya berkecamuk liar. Ia benar-benar ketakutan sampai rasanya seluruh sendi bergetar.
"Ahh nyonya...anda sudah pulang? Ehhh Den Azka, makin ganteng aja."
BI Asih dengan senyuman ramahnya berlutut di depan Azka, meraih tangan mungil bocah kecil itu yang langsung lulut padanya. Sementara wanita di sampingnya tersenyum dan menyerahkan dengan tenang Azka pada pembantu rumahnya itu.
Terlihat Dewa kelar dari lift, pria itu tersenyum ramah ke arah wanita tersebut. Merentangkan tangannya sembari berjalan mendekat, memeluk wanita itu dengan erat.
"Kau sudah pulang." suara lembut Dewa pada wanita itu langsung menusuk hingga relung terdalam.
Aza langsung buru-buru berpaling, bersandar pada dinding dengan tatapan kosong, menatap lantai.
"Ak-aku....kenapa?" lirihnya terisak.
Aza baru ingat kalau Dewa sudah punya pacar. Namun sekarang fakta pahit itu justru menghantamnya lebih keras.
"Ja-jadi, Dewa sudah beristri?" lirihnya gemetar.
Ia mengusap air matanya cepat, pandangnya terarah menuju pintu samping dapur yang ia ingat betul itu menuju kebun samping rumah.
Aza tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Seharusnya ia tidak perlu sakit hati, sedari awal yang menghancurkan perasaan Dewa juga dirinya. Namun entah mengapa, rasanya begitu sakit melihatnya bahagia dengan perempuan lain, dikaruniai seorang putra pula.
"Hiksss....kenapa aku menangis? Harusnya aku ikut berbahagia." rintihnya, mengusap air mata disela ia berlari meninggalkan kediaman.
"Jadi gimana, Wa. Masih belum Nemu juga pasangan? Kamu ini udah 30 lho, masih menjomblo saja." kekeh Seraphine disela ia menyeruput jus yang disediakan pembantu.
Dewa hanya tersenyum tipis, menyeruput kopi miliknya dengan tenang.
"Berhentilah kak, incaranku masih jadi istri orang."
Membulat langsung sepasang mata Seraphine, ia tak percaya adiknya ini memilih menjomblo demi menunggu istri orang.
"Sepertinya otakmu perlu di reload deh, Wa. Banyak wanita sukses dan masih single di lua sana milihnya malah janda." celoteh Seraphine menggeleng.
Dewa hanya tersenyum tipis. Ia segera memanggil Ratih saat wanita itu menghidangkan camilan di tengah mereka.
"Ratih, panggil Lea kesini."
Ratih dengan patuh mengangguk. Lalu berbalik menuju lift ke tempat kamar Lea berada.
Bersamaan dengan Azka yang berlari kecil ke arah mamanya, dengan BI Asih yang mengikuti dari belakang.
"Mama...mama...! Ternyata Pio sudah besar lho mah!"
Pio adalah nama kura-kura di kolam buatan lantai paling atas, dimana disana terdapat taman yang cukup indah dan terawat.
Seraphine lantas meraih tubuh Azka, menjatuhkan di pangkuannya sambil menoel hidung putranya lembut.
"Iyakah? Nanti anter mama liat kesana yah?" yang langsung diangguki oleh bocah kecil tersebut.
Dewa melihat interaksi keduanya dengan senyuman. Bayang-bayang ia juga memiliki putra dari Azalea terbayang begitu saja dalam otaknya. Membuatnya tanpa sadar terkekeh.
Seraphine yang melihat adiknya tiba-tiba tertawa itu tentu merasa heran, satu alisnya naik, "Senyam-senyum sendiri gitu. Kesurupan kamu?"
Dewa terkekeh, menggeleng kecil, "Tidak, aku hanya membayangkan sesuatu yang indah."
Kening Dewa mengerut saat Ratih dan Azalea tak kunjung keluar dari lift. Sampai akhirnya pintu lift berdenting, namun yang keluar bukan Aza. Melainkan Ratih, sendiri.
"Ratih, kenapa kamu keluar sendiri? Mana Lea?" panggil Dewa.
Melihat raut wajah Ratih yang tampak murung, Dewa menyadari ada yang tidak beres
Pria itu segera berdiri, menunggu Ratih sampai di depannya.
Ratih tampak murung, ia merunduk sepanjang berjalan menghadap tuannya itu.
"Anu—maaf, tuan." lirih Ratih gemetar, "No-nona Lea tidak ada di kamarnya."
Mendelik langsung bola mata Dewa, pria itu langsung menoleh ke sembarang arah. Hendak keluar dari rumah, namun tangannya di tahan oleh Seraphine.
"Ada apa, Dewa? Lea itu siapa? Jangan bilang kamu juga nyuri istri orang." selidik Seraphine.
Dewa tak begitu mengindahkan, gurat cemas dan panik tercetak jelas di wajahnya, sebelum akhirnya ia melepas tangan kalanya dari lengannya.
"iya."
Setelah mengucapkan kata itu, Dewa langsung berlari keluar, sementara Seraphine mematung di tempat, melongo dibuatnya.
"Astaga....dia benar-benar dengan ucapannya."
***
Malam itu, Aza duduk meringkuk di samping kolam, ia tidak tau sedang dimana sekarang. Hanya saja ia ingin menenangkan diri meski sebentar.
Perasaannya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan sekarang, dan bagaimana cara menangani hal ini. Tidak mungkin dia datang ke rumah Dewa kembali. Sementara istri dan anaknya kembali.
Sekarang Aza benar-benar merasa sendiri. Ia tidak ada lagi tempat pulang. Sebelumnya ia bisa merasa lebih tenang karena itu Dewa. Meski ia juga merasa gugup dan canggung setiap berhadapan dengannya. Namun sekarang, justru dia tanda tanya saat pria itu belum nampak batang hidungnya seharian.
"Sudah selesai nangisnya?"
Aza terkejut saat tiba-tiba dari belakang ada yang memergokinya menangis di depan kolam. Wanita itu segera menoleh, menghapus air matanya cepat. Melihat itu adalah Dewa, Aza lantas bangkit, berjalan menghindari pria itu.
"Lebih baik kamu tinggalkan aku, Dewa. Aku tidak mau istrimu melihat kita disini."
Dewa tertegun, menatap kosong Aza yang terus berjalan melewati bebatuan yang membuatnya tersandung beberapa kali.
"Istri?"
Aza lantas menoleh, menatap Dewa kesal.
"Jangan bilang kamu juga tidak punya istri?!"
Dewa menggeleng polos. Membuat Aza berdecih malas. Ia benar-benar merasa kasihan pada istrinya itu. Padahal ia sudah memberikan buah cinta untuknya dengan hadirnya seorang putra. Namun bisa-bisanya suaminya terang-terangan mengejar wanita lain.
"Kamu brengsek, Dewa."