"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Pesona Istrii Kontrak
Naya tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Kenzie yang sudah mengosongkan mangkuk buburnya. "Kenzie Sayang, susunya dihabiskan, lalu main ke ruang tengah dulu ya? Mama mau bicara sebentar dengan Papa."
"Siap, Mama!" Kenzie meminum susunya hingga tandas, lalu turun dari kursi dengan tertib dan berlari menuju ruang bermainnya.
Begitu sosok Kenzie menghilang di balik sekat ruangan, suasana di ruang makan seketika berubah drastis. Kehangatan pagi menguap, digantikan oleh ketegangan profesional yang pekat antara sepasang suami istri kontrak ini.
Naya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada. Sorot mata bulatnya yang jernih kini menatap lurus ke dalam manik mata Arka dengan ketegasan sekeras baja.
"Ya, saya memecatnya semalam. Jam sebelas malam, tepat setelah saya menangkapnya sedang menggeledah laci-laci pribadi di kamar tidur Anda," ungkap Naya, bicaranya teratur, dingin, dan menohok.
Arka mendadak menegakkan punggungnya, matanya menggelap. "Menggeledah kamarku? Apa yang dia cari?"
"Dia mencoba membuka pintu penghubung yang menuju ke kamar saya, yang untungnya selalu saya kunci rapat dari dalam," lanjut Naya dengan ketenangan menghanyutkan yang membuat Arka makin merasa bersalah. "Dia juga mencari dokumen-dokumen penting, kemungkinan besar surat perjanjian kontrak pernikahan kita yang Anda simpan di dalam rumah ini."
Arka mengepalkan tangannya di atas meja, rahangnya mengeras sempurna. "Sialan. Clarissa benar-benar bergerak cepat. Mirna adalah orang suruhannya?"
"Persis," Naya mengangguk pelan. "Mirna mengaku dia diberi imbalan uang dalam jumlah besar oleh orang suruhan Clarissa untuk mencari tahu celah dalam pernikahan kita, terutama status kamar tidur kita yang terpisah."
Arka berdiri dari kursinya dengan emosi yang mulai tersulut. "Kenapa kamu tidak langsung meneleponku malam itu juga, Naya?! Aku bisa menyuruh tim hukum atau pihak keamanan perusahaan untuk menyeret pelayan itu ke kantor polisi! Tindakannya sudah masuk ranah kriminal, dia melakukan spionase di rumahku!"
"Dan membuat kegaduhan besar yang akan langsung diendus oleh media pagi ini? Begitu maksud Anda, Tuan Arka?" potong Naya dengan nada bicara yang sangat tenang, namun sanggup meredam ledakan amarah Arka dalam sekejap.
Arka terdiam, menatap Naya yang masih duduk dengan anggun tanpa sekerat pun kepanikan di wajahnya.
"Jika saya memanggil polisi semalam, berita tentang penangkapan pelayan di rumah Arkananta Dewangga akan menjadi headline di seluruh media bisnis pagi ini," jelas Naya, argumennya tersusun sangat taktis. "Clarissa hanya perlu memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa rumah tangga kita begitu bermasalah hingga pelayan pun ikut tertekan, atau lebih buruk lagi ... media akan mulai menggali alasan kenapa pelayan itu tertarik dengan kamar tidur kita. Itu akan memicu kecurigaan baru dari publik dan kedua orang tua Tuan."
Arka perlahan menurunkan ketegangannya, kembali duduk di kursinya. Ia menatap Naya dengan pandangan mata yang sepenuhnya berubah—ada rasa takjub dan hormat yang sangat besar menyelinap di antara rasa gengsinya.
"Lalu ... bagaimana cara kamu menanganinya tanpa membuat kegaduhan?" tanya Arka, suaranya merendah, benar-benar ingin tahu taktik wanita di hadapannya.
Naya menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan keteguhan hati. "Saya tidak perlu berteriak atau memanggil keamanan. Saya hanya menunjukkan padanya bahwa saya tahu siapa di balik dirinya, dan saya memberikan dua pilihan: keluar dari rumah ini sebelum matahari terbit tanpa membawa sepeser pun uang dari Clarissa, atau membusuk di penjara dengan tuntutan pencemaran nama baik keluarga Dewangga yang akan saya urus sendiri."
Naya menjeda sejenak, menatap lurus ke mata Arka. "Dia ketakutan setengah mati, menangis berlutut, dan langsung mengemasi barang-barangnya subuh tadi. Saya sendiri yang memastikan dia keluar dari gerbang rumah ini tanpa membawa dokumen apa pun. Bersih, tanpa suara, dan tanpa jejak yang bisa dimanfaatkan Clarissa untuk membuat drama baru."
Arka terpaku seribu bahasa. Di dalam kepalanya, ia membayangkan bagaimana seorang Nayara—wanita yang selalu diremehkan oleh kalangan sosialitanya karena latar belakang yang sederhana—mampu mengeksekusi sebuah ancaman krisis tingkat tinggi dengan cara yang begitu elegan, rapi, dan mematikan. Ketenangan Naya bukan sekadar sikap pasif, melainkan sebuah strategi pertahanan yang kokoh.
"Kamu ... kamu benar-benar luar biasa, Naya," ucap Arka sungguh-sungguh, suaranya parau. Keangkuhannya sebagai seorang tuan muda dari keluarga terpandang runtuh seketika di hadapan kecerdasan taktis istrinya. "Aku salah menilai kekuatanmu sejak awal."
"Saya melakukannya bukan untuk menyelamatkan Anda, Tuan Arka," sahut Naya dingin, membatasi kembali emosi yang mulai mencair di antara mereka. "Saya melakukannya untuk melindungi ibu saya yang sedang pemulihan di rumah sakit, dan untuk melindungi kedamaian Kenzie. Jika pernikahan kontrak ini hancur sekarang, Kenzie yang akan menjadi korban pertama dari perebutan hak asuh yang kotor oleh Clarissa."
Arka mengangguk paham, ada rasa perih yang samar di ulu hatinya saat Naya kembali menegaskan batasan kontrak di antara mereka. Namun, ia tidak bisa membantah bahwa ketulusan Naya pada anaknya adalah hal paling nyata di rumah ini.
"Clarissa tidak akan berhenti di sini, Naya. Setelah Mirna gagal, dia pasti akan mencari cara lain yang lebih nekat," ujar Arka penuh kekhawatiran.
Naya bangkit dari duduknya, merapikan letak kursi dengan tenang. Sebelum melangkah menuju ruang tengah untuk menyusul Kenzie, ia menoleh ke arah Arka, memberikan tatapan mata yang begitu dalam dan menghanyutkan.
"Silakan biarkan dia mencoba, Tuan Arka. Selama saya masih memegang kendali di dalam rumah ini sebagai istri Anda, saya pastikan setiap jebakan yang dipasang Clarissa hanya akan menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri. Sekarang, bersihkan diri Anda, wajah Anda terlihat sangat kacau untuk seorang pemimpin perusahaan."
Setelah mengatakan kalimat menohok itu dengan keanggunan yang mutlak, Naya berbalik dan berjalan pergi.
Arka hanya bisa duduk diam, menatap kursi kosong di hadapannya dengan debaran jantung yang makin tidak karuan. Pagi ini, di tengah sunyinya meja makan tanpa kehadiran pelayan, Arka menyadari satu hal yang pasti: Nayara bukan lagi sekadar pekerja yang ia bayar mahal. Wanita itu telah menjadi benteng terkuat yang melindungi hidupnya dan anaknya, dan Arka mulai takut bahwa hatinya sendiri tidak akan sanggup menahan pesona kekuatan sunyi yang dimiliki sang istri kontrak.
Bersambung...