NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Dunia Kecil

Terlempar Ke Dunia Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zhu Ge Liang

Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.

Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.

Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagalnya Jebakan Pertunangan⁸

    "Manman?"

    Cheng Zhilan hampir tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya ketika menatap perempuan yang secara tidak sengaja menoleh di dalam rumah peristirahatan itu.

    Dengan susah payah ia menahan diri, memerintahkan bawahannya untuk tetap membawa rombongan melanjutkan perjalanan. Sementara ia sendiri turun dari kuda dan melangkah mendekati perempuan tersebut.

    Benar. Itu dirinya.

    Semakin ia mendekat, semakin kuat keyakinan di dalam hatinya.

    Perempuan itu adalah Liu Manman, wanita yang selama bertahun-tahun menghantui pikirannya, wanita yang demi dirinya ia tidak segan menyusun jebakan dan membalas dendam terhadap seluruh keluarga Xue.

    Berbeda dengan bayangannya dahulu—seorang nona bangsawan yang selalu berbusana mewah, anggun, dan lembut—kini Liu Manman tampak jauh lebih sederhana.

    Ia mengenakan jubah hijau polos, menyanggul rambut ala perempuan bersuami, dengan hanya dua tusuk konde perak di pelipisnya. Perutnya tampak sedikit membesar, di sisi kanannya ia menggandeng seorang bocah laki-laki berusia tiga atau empat tahun, yang raut wajahnya lima atau enam bagian menyerupai dirinya.

    Di dalam hati Cheng Zhilan, sebuah jawaban yang tidak ingin ia dengar perlahan terbentuk.

    "Xingchu." perempuan itu tersenyum lembut.

    Xingchu—itulah nama kecil Cheng Zhilan yang sesungguhnya, bukan nama palsu Pei'an yang dahulu ia gunakan untuk menipu Xue Yao.

    "Kakak Manman, kamu...kamu ternyata tidak meninggal?"

    Bukankah ia dahulu dikabarkan ikut dimakamkan sebagai korban pengorbanan bagi mendiang Kaisar?

    Pada saat itu juga, seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dari luar rumah peristirahatan.

    "Amiao, mari kita berangkat."

    Bocah kecil di samping Liu Manman berlari kecil dan memeluk pria itu.

    "Ayah!"

    Ia bukan hanya tidak meninggal, tetapi juga telah menikah, memiliki suami, bahkan anak.

    Pandangan Cheng Zhilan seketika menggelap. Ia harus menopang dirinya pada meja di samping agar tidak terhuyung jatuh.

    "Bawalah Axuan ke kereta lebih dahulu dan tunggu aku disana. Aku bertemu seorang kenalan lama, ada beberapa hal yang perlu kubicarakan."

    Pria itu tidak banyak bertanya. Ia membawa bocah kecil tersebut menuju sebuah kereta sederhana di luar rumah peristirahatan.

    Liu Manman lalu berkata dengan suara lembut kepada Cheng Zhilan yang telah bertahun-tahun tidak ia jumpai, "Mari kita cari tempat yang lebih tenang untuk berbincang."

    Di dalam ruang pribadi rumah peristirahatan.

    Cheng Zhilan menatap perempuan di hadapannya dengan saksama. Setelah lama terdiam, ia akhirnya bertanya dengan suara penuh kepahitan, "Mengapa?"

    Mengapa dahulu tidak meningga, tetapi menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun?

    Mengapa justru menikah dengan pria yang begitu biasa, bahkan melahirkan anak untuknya?

    Lalu semua kerinduan, semua obsesi, dan cintanya selama bertahun-tahun ini—apa artinya?

    Liu Manman menghela napas pelan.

    "Xingchu, Liu Manman adalah seorang selir mendiang Kaisar. Mengikuti beliau ke makam kekaisaran adalah aturan dan tatanan yang tidak dapat diubah. Namun aku bernama Lin Ning, hanyalah seorang perempuan pemelihara ulat sutra biasa, memiliki suami yang mengerti suka duka, seorang anak yang cerdas dan penurut, serta satu lagi yang masih berada di dalam kandungan. Hidup ini sederhana, tetapi sudah cukup membuatku puas. Jika aku kembali, lalu apa yang bisa kulakukan?"

    Ketika Liu Manman terpilih memasuki istana, mendiang Kaisar sudah berada di ambang ajal.

    Para selir seangkatannya, yang masih berada di usia seindah bunga, bahkan belum pernah melihat wajah Kaisar, namun harus dikorbankan bagi seorang yang sama sekali asing bangi mereka.

    Liu Manman mengira hidupnya yang singkat telah mencapai akhir.

    Namun setelah ia bersama para selir muda lainnya meminum arak ber-racun, ketika terbangun ia justru mendapati dirinya telah meninggalkan ibu kota kekaisaran.

    Raja Shezheng, Yelu Yunxiao, menunjukkan belas kasih dengan menyelamatkan para selir muda yang belum pernah melayani Kaisar, dan mengusir mereka keluar dari istana.

    Namun dalam daftar pengorbanan, para selir tersebut telah dicatat sebagai orang mati.

    Setitik belas kasihan dari Raja Shezheng memberi mereka kesempatan untuk hidup.

    Akan tetapi, Liu Manman memahami bahwa ia tidak bisa kembali ke keluarga Liu.

    Jika kembali, hasil akhirnya tak lain adalah menguatkan fakta bahwa ia tak benar-benar telah mati sebagai korban pengorbanan.

    Keluarga Liu tidak akan bersedia menanggung risiko sebesar itu.

    Yelu Yunxiao seakan telah memperhitungkan hal tersebut. Ia meninggalkan seratus tael perak di sisi Liu Manman—cukup baginya untuk menetap dan memulai hidup baru di tempat lain.

    Maka, ia pun menjadi Lin Ning, seorang perempuan pencuci kain di sebuah kota kecil, dan menjalani kehidupan yang tenang.

    Mendengar Liu Manman menceritakan delapan tahun kehidupannya dengan nada setenang itu, Cheng Zhilan justru merasa semuanya terasa menggelikan.

    "Mengapa kamu tidak mencariku? Aku...aku bisa melindungimu—"

    "Xingchu!"

    Liu Manman memotong ucapannya.

    "Aku lima tahun lebih tua darimu, dan sejak dahulu selalu memandangmu sebagai adik kandungku sendiri. Justru karena itu, aku tidak boleh membiarkanmu mengetahui bahwa aku masih hidup. Jika kamu tahu, kamu akan menanggung dosa menipu Kaisar."

    Ia menghela napas, lalu mengusap lembut perutnya yang sedikit membuncit.

    "Sekarang aku hidup dengan baik, dan aku merasa cukup. Kudengar kamu akan menikahi putri keluarga Adipati Wen Chang'an, adik dari Permaisuri. Itu adalah pernikahan yang sangat baik. Dari jauh, kakak mendoakanmu agar kamu dan istrimu kelak hidup rukun, setia sekata, hingga akhir hayat."

    Setelah berkata demikian, ia mengangkat cangkir teh sebagai pengganti arak dan bersulang kepada Cheng Zhilan.

    Kemudian ia berdiri perlahan dan melangkah maju menuju kereta di luar rumah peristirahatan.

    Cheng Zhilan sendiri tidak tahu bagaimana ia berjalan keluar dari ruang itu.

    Ia melihat Liu Manman, dengan bantuan suaminya, naik ke atas kereta. Ia melihat kereta itu melaju menjauh.

    Di dalam hatinya, seolah terdengar sebuah suara:

    "Cheng Zhilan, delapan tahun kerinduanmu, apa yang kau sebut sebagai pembalasan, semuanya hanyalah sebuah sandiwara."

    Ia tidak meninggal. Ia hidup dengan baik. Ia memiliki orang yang ia cintai, dan memiliki anak.

    Sungguh menggelikan.

    Sementara dirinya, demi obsesi ini, justru kehilangan perempuan pembawa keberuntungan, kehilangan kesempatan untuk menggenggam legitimasi kekuasaan yang sah.

    Sejak memasuki ibu kota dan mendengar rakyat membicarakan pertanda keberuntungan pada hari penobatan Permaisuri, perasaan di hatinya telah bercampur aduk. Kini, semua itu akhirnya meledak sepenuhnya.

    Ia tidak mencintai Xue Yao. Namun ketika Xue Yao diselimuti cahaya pertanda langit, ia justru merasa bahwa Xue Yao seharusnya menjadi miliknya.

    Pergulatan batin itu mencapai puncaknya setelah ia mengetahui bahwa Liu Manman ternyata masih hidup.

    Di dalam Istana Tiande, tempat Kaisar bersemayam, Xue Yao tengah menemani Kaisar Zong Huaizhen bermain permainan sembilan cincin.

    Sebagai seorang Kaisar, Kaisar Zong Huaizhen justru karena keterbatasan fisik selalu dilindungi dengan sangat ketat di dalam istana ini. Setiap orang yang menemuinya harus melalui pemeriksaan yang amat ketat.

    Hal itu membuatnya aman, tetapi juga sangat kesepian.

    Hingga Xue Yao muncul.

    Ia tidak memahami apa arti Xue Yao sebagai Permaisuri baginya. Ia hanya tahu bahwa kini ia memiliki seorang teman untuk bermain bersama.

    Xue Yao tidak selalu menunduk ketakutan di hadapannya, juga tidak berbicara dengan setiap kalimat disertai ungkapan "Hamba pantas mati,"

    Dengan jemari rampingnya, Xue Yao membongkar permainan sembilan cincin satu per satu, di bawah tatapan mata Kaisar Zong Huaizhen yang berbinar.

    "Sepupu sungguh hebat!"

    Xue Yao mengusap kepala anak itu, lalu mengangkat pandangannya ke arah Yelu Yunxiao yang baru saja masuk.

    "Paman!"

    Kaisar Zong Huaizhen memegang permainan sembilan cincin yang telah terbuka itu, seolah mempersembahkan harta berharga kepada Yelu Yunxiao.

    "Lihat, ini dibuka oleh Sepupu."

    "Paman membawa mainan baru dari Bengkel Mekanisme untukmu. Lihatlah!"

    Yelu Yunxiao mengeluarkan sebuah burung pipit awan dari kayu. Ketika ia menekan mekanisme khusus, burung itu benar-benar mengepakkan sayapnya. Tampak hidup dan nyata.

    Kaisar Zong Huaizhen segera memeluk mainan itu dan berlari ke samping untuk bermain dengan gembira.

    Barulah kemudian Yelu Yunxiao menoleh ke arah Xue Yao.

    "Hari ini Cheng Zhilan bertemu dengan Liu Manman. Aku tidak mengerti. Apakah kamu masih memiliki keterikatan terhadap Cheng Zhilan? Dengan membiarkannya mengetahui bahwa Liu Manman masih hidup, tidakkah kamu memahami dampaknya terhadap keadaan saat ini?"

    Dahulu, alasan ia menyelamatkan Liu Manman dan empat selir muda lainnya semata-mata karena ia merasa mereka benar-benar tidak bersalah.

    Mereka memasuki istana seolah hanya untuk mati bagi seseorang yang bahkan belum pernah mereka lihat.

    Karena itu, ia memberi mereka jalan hidup.

    Namun ia tidak menyangka, Xue Yao akan tiba-tiba menyebut salah satu dari mereka.

    Lebih tidak disangka lagi, alasan Cheng Zhilan membatalkan pertunangan dan menyusun jebakan ternyata berakar di sini.

    Namun ia tetap tidak mengerti— mengapa Xue Yao justru membiarkan Liu Manman muncul kembali di hadapan Cheng Zhilan?

    Apakah mungkin... Xue Yao masih menyimpan perasaan lama terhadap Cheng Zhilan?

1
Fitri 066
cerita nya bagus ayo teman2 kasih bintang 5 untuk othor nya biar tambah semangat kk othor nya....
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus 😍💪💪
xuer jinghao
lanjut
xuer jinghao
lanjut 🤭
xuer jinghao
lanjut💪
xuer jinghao
lanjut wuy💪😍
xuer jinghao
lanjut 💪
anyelin stephania
mantap😍😍😍😍😍😍 seru ceritanya
xuer jinghao
lanjut 💪🥰🥰
xuer jinghao
lanjut 😍
xuer jinghao
lanjut 💪
xuer jinghao
lanjut terus 💪
xuer jinghao
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!