Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23. Minta Maaf.
Teng!
Pukul. 09.00. Ruang Rapat Direksi. Lantai 35 Gedung Wijaya Group.
Miracle berdiri maju ke stage presentasi. Suaranya jelas dan tegas. Slide jalan. Setelah itu dia langsung ke titik awal mengumumkan akan diadakan Audit.
"Jadi untuk Q3 kita cut cost 15% di divisi keuangan." ucapnya lalu kembali ke tempat duduknya. Sedang seriusnya mengupas tentang kebocoran dana, Hapenya tiba-tiba bergetar.
Pesan WA dari Morgan.
[Buburnya enak. Makasih ya 😊]
foto mug kosong di meja.
"Nona Miracle ada apa?"
"Tidak ada yang serius, kita lanjut." Ucapnya dengan wajah datar. Tapi telinganya merah. Morgan merusak konsentrasinya. 15 menit kemudian hapenya kembali getar.
"Di rumah sepi kangen diomelin."
Miracle menutup mic sebentar, ia menahan senyum tapi gagal. Semua memandangnya.
"Ulangi slide sebelumnya."
"Nona baik-baik saja?" tanya bu Sonya merasa khawatir.
"Baik, kita lanjut." ucap Miracle melihat jam tangan.
Pukul.11.40 WIB.
Rapat selesai, ia kembali ke ruangan Direktur Utama. Duduk, tangannya meraih foto waktu remaja. Ada papa, mama dan dia waktu wisuda di Harvard University of America. Ia tersenyum kangen masa muda yang bahagia.
Agh...
Dia membuka WhatsApp. Banyak chat masuk dari nomer tidak di kenal, mungkin Giovanni. pikir Miracle. Ia hanya membuka chat dari Morgan, iseng aja.
[Sayank...aku sakit]
Chat dari Morgan. Kadang ia kesal dengan kelakuan Morgan yang terus menempel padanya.
[Jangan lebay, ingat minum obat jam dua belas. Kalau demam naik, langsung ke klinik. Jangan diam saja nungguin aku. Mungkin aku tidak ke Apartment atau ke kantor mu]
[Siap Bu Direktur, tapi aku kangen juga 🥺]
Miracle diem. Jempolnya ngetik, dihapus, ngetik lagi, hapus. Malas dengan cowok begini, nyusahin.
[Aku mau pulang cepet....] Langsung di-delete. Ganti topik.
[Rapat besok jam delapan, jangan telat] kirim.
Lima menit kemudian Morgan bales,
[Siap, demi ketemu kamu].
Miracle buang hape ke laci. Napas terasa sesak. "Goblok." Tapi 10 menit kemudian dia buka laci lagi. Masa bodoh buat apa diladeni.
Miracle duduk bersandar di kursi kebesaran papanya, ia memejamkan mata supaya rilex.
Ia kaget dan spontan berdiri, tiba-tiba bu Sonya dan mamanya menerobos masuk dengan wajah pucat. Nafasnya memburu.
"Mira.. ada rombongan dari PT Holliday dan PT. Nusantara, mereka mencari papa. Mama takut menghadapi mereka, bagaimana ini papa tidak ada."
"Tenang. duduk dulu..."
"Mira..mana mama bisa tenang, apakah kamu bisa keluar apa maunya."
"Maa..kita keluar dan hadapi bersama. Supaya mama tahu sebenarnya pimpinan PT Nusantara adalah papanya Arka, dulu Arka ini pernah mama jodohin dengan ku...."
"Ohh begitu, apa dia mau balas dendam?"
"Bukan maa...mereka datang karena papa memutuskan kerja sama dengan Nusantara Corp dan menghentikan bantuan kepada PT Holliday."
"Oh begitu, apa kamu bisa meredam kemarahan mereka?"
"Aku datang kesini karena sudah tahu mereka akan datang mencari papa. Aku sengaja menyuruh papa pergi supaya bisa membuat mata mereka melek."
"Nona..terus kita bagaimana, perlu marah atau minta maaf?"
"Bu Sonya, aku yang akan bicara. Mama dan dampingi aku saja, apapun ucapan mereka jawab dengan tenang. Kita tidak bersalah."
"Baik Non...."
Mereka akhirnya keluar. Outfitt Miracle yang mewah dari YSL membuat tampilannya tambah cantik, anggun dan dingin. Di lobby sudah ada sekretaris papanya dan beberapa security.
Saat mereka melihat Miracle, semua kaget. Kemarin waktu ke rumah Gio, pakaian Miracle causal dan sederhana, jadi mereka tidak menyangka kalau Miracle muncul di Kantor Wijaya Group. Apa hubungannya?
"Selamat siang semuanya...ada perlu apa kalian datang ke perusahan kami?"
"Miracle kenapa kamu ada disini, apa kamu kerja disini? tanya Gio mendekatinya.
"Boleh disebut begitu."
"Jangan sok kecakepan baru memakai Blazer dari YSL..." Amanda ikut nimbrung.
"Kalian jangan kurang ajar!" teriak bu Sonya marah.
"Sudah... sudah, kalian diamlah. Begini Nyonya Wijaya saya kesini ingin bertemu dengan pak Wijaya."
"Direktur Utama sedang perjalanan bisnis ke luar negeri, tadi saya sudah jelaskan." ucap sekretaris papa.
"Oh begitu, saya ingin tahu kenapa bapak Wijaya memutuskan hubungan kerja dengan Nusantara Corp. Saya sebagai pimpinan sangat kaget dan merasa tidak bersalah."
Nyonya Wijaya menatap Miracle, ia ingin tahu apa sebenarnya terjadi.
"Aku yang memutuskan hubungan kerja sama itu." sahut Miracle dengan suara sinis.
"Hahaha...jangan ngelucu deh, kamu itu badut kesiangan..." ucap Amanda. Mereka semua tertawa mengejek.
"Mira...tolong jangan ngelantur, kamu salah minum obat?"
"Untung tidak menjadi mantu, belum apa-apa sudah bikin malu."
"Jangan kurang ajar, ini putri saya, kalian datang kesini hanya bikin onar."
"Apaaa....?" semua kaget.
"Nyonya Wijaya ini putri Nyonya?" tanya pak Mahendra, wajahnya tiba-tiba pucat, berarti mereka sudah menyinggung Wijaya Group.
"Nyonya Wijaya, saya Mahendra ini istri serta putra saya Giovanni dan adik ipar, ada juga sepupu. Kami dari Nusantara Corp dan PT Holliday datang kesini bertujuan menemui bapak, ibu dan putri Nyonya untuk minta maaf karena kemarin kami telah Lancang menyinggung perasaan putri Nyonya."
"Ya Nyonya...saya tidak tahu bahwa Miracle putri Wijaya, mengingat pertemanan kita di masa lalu tolong pertimbangkan kedatangan kami." ucap Nyonya Mahendra merasa bersalah.
"Ya Nyonya saya dari PT Holliday juga mohon maaf..." ucap bapaknya Amanda gemetaran.
"Tadi kalian merendahkan Miracle putri saya, sekarang minta maaf. Pantas saja putri saya bertindak tegas, kalau saya kemarin ada di situ, perusahan kalian sudah lenyap dari bumi ini."
"Tolong maafkan kami, saya banyak rugi akibat pemutusan hubungan kerja ini."
"Saya pribadi tidak tahu masalah apa yang kalian lakukan kepada putri saya, karena dia tidak ada cerita. Bagi saya permintaan maaf kalian saya terima, tapi kalian harus minta maaf kepada putri saya karena dialah korbannya."
"Miracle, tante minta maaf ya..tolong masalah kemarin dilupakan." ucap tante Nelly.
Mereka semua minta maaf satu-satu begitu juga Gio. Amanda dan ibunya juga terpaksa minta maaf.
"Sebenarnya kalian datang kesini dan minta maaf untuk apa, saya putri Wijaya sudah dari bayi hidup di luar negeri dan terbiasa bicara apa adanya dan berpenampilan juga begitu. Saya tidak masalah kalian membully atau menghina saya, mungkin pandangan kalian serendah itu terhadap saya...."
"Mira...aku serius menyesal, ingat hubungan kita selama ini...lebih baik kamu marah padaku, salahkan aku aja..." potong Gio seraya bersimpuh dihadapan Miracle.
"Gio...ingat aku calon tunangan mu, kamu jangan plin-plan."
"Amanda jangan berulah, Miracle sudah hidup bareng beberapa bulan ini dengan Gio, jangan hubungannya di rusak." Nyonya Nelly cepat berucap.
"Tante walaupun kami sempat serumah, tapi kami tidak seranjang dan kami menghormati privacy masing-masing."
"Tapi kamu calon istri ku Miracle..."
"Benar, Miracle calon istri Gio..."
Nyonya Nelly memang licik, kemarin Amanda di puja setinggi langit, kini Amanda di buang.
"Besan..tidak boleh begitu dong, Amanda teman masa kecil Gio..."
"Uhh...jangan cerewet." tepis Nyonya Nelly saat ibunya Amanda memegang tangannya.
"Saya sudah maafkan semuanya tolong pergi dari sini, kami lagi kerja." ucap Miracle balik badan.
"Miracle tunggu, kamu sudah berjanji akan mengabdi kepada keluarga Arka, jangan lupa itu.." Gio memegang tangan Miracle.
"Itu janji saat aku mabuk dan merasa kamu yang bisa melindungi ku, tapi iti dulu, saat aku di bully oleh keluarga Nusantara dan kamu malah diam serta kamu lebih memilih Amanda, saat itu janji yang aku ucapkan sudah lenyap." ucap Miracle dingin.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....