NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Serigala di Balik Jeruji

Malam makin larut di ruang tahanan sementara Mapolda Metro Jaya. Hawa dingin yang berembus dari celah ventilasi tinggi membuat suasana terasa kian menyiksa bagi para penghuninya.

Di sel khusus pria nomor enam, Arka Narendra meringkuk di atas dipan semen beralaskan tikar pandan yang sudah robek-robek. Kemeja mewahnya kini sudah berubah kumal, tombol kancing bagian atasnya terlepas, dan wajahnya dipenuhi jambang tipis yang tumbuh berantakan. Tidak ada lagi sisa-sisa CEO muda berkarisma yang dulu dipuja di berbagai majalah bisnis.

Suara gesekan langkah kaki dari sandal karet berat memecah keheningan sel.

Sesosok pria bertubuh kekar dengan tato naga mengular dari leher hingga lengan kanannya berjalan mendekat. Pria itu adalah Bang Jarot, salah satu tahanan senior titipan kasus penggelapan yang memiliki pengaruh kuat di blok tersebut. Jarot melangkah santai, lalu duduk tepat di samping Arka, membuat dipan semen itu sedikit berderit.

Arka refleks bergeser mundur, tubuhnya menegang dipenuhi rasa takut. "M-mau apa kamu?" bisik Arka dengan suara gemetar.

Jarot terkekeh rendah, suara tawa dari tenggorokannya terdengar sangat serak dan mengerikan. Ia mengeluarkan sebuah pemantik api zippo dari saku celananya, membukanya dengan bunyi klik yang tajam, lalu memainkan apinya di depan wajah Arka.

"Santai saja, Anak Manja." ucap Jarot dingin, mematikan pemantik apinya. "Aku cuma mau berkenalan dengan mantan pemilik Narendra Group yang beritanya terus-menerus muncul di TV dua hari ini."

Jarot menyandarkan punggungnya ke dinding sel yang lembap, menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Di luar sana, kamu boleh merasa jadi raja karena punya uang miliaran hasil merampas milik istrimu. Tapi di dalam sini... kamu cuma serangga kecil yang nyawanya tidak ada harganya."

Arka meneguk ludahnya yang terasa pahit. "Aku... aku tidak punya masalah denganmu. Tolong jangan ganggu aku."

Jarot mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aura intimidasi yang dipancarkannya membuat Arka gemetar hebat. "Kamu memang tidak punya masalah denganku, Arka. Tapi orang yang membiayai makan malamku di dalam sini... punya masalah besar denganmu."

Mata Arka membelalak. "S-siapa... siapa yang menyuruhmu?"

"Seseorang yang sangat tidak suka melihat pemuda ingusan seperti kamu menyiksa seorang wanita sampai merusak rahimnya," pangkas Jarot penuh ancaman. Pria kekar itu lalu memegang bahu Arka dengan cengkeramannya yang teramat kuat hingga Arka meringis menahan sakit di tulang bahunya. "Mulai malam ini, pastikan kamu tidur dengan satu mata terbuka. Karena hukuman untukmu dari pengadilan belum seberapa dibanding 'pendidikan' yang bakal kamu dapatkan setiap malam di sel ini."

Jarot berdiri, menepuk bahu Arka dua kali dengan kasar sebelum melangkah kembali ke sudut selnya sendiri. Arka memeluk kedua lututnya erat-erat, air mata penyesalan dan ketakutan luruh membasahi dadanya. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka merindukan senyuman lembut Davira yang dulu selalu menyambutnya dengan hangat setiap kali ia pulang ke rumah. Namun kini, yang tersisa baginya hanyalah kegelapan dan teror tanpa akhir.

Sementara itu, di sebuah ruang kerja tersembunyi di lantai atas markas V-Tech, Reno Mahendra berdiri di depan papan tulis kaca besar. Di atas kaca itu tertempel beberapa foto, dokumen rekam medis, serta peta jaringan hukum yang melibatkan pengacara Hotma dan Sheila.

Pintu ruangan bergeser terbuka. Yuda melangkah masuk dengan menyerahkan selembar amplop cokelat kepada Reno.

"Melaporkan, Pak Reno," ucap Yuda dengan nada tegas. "Sesuai dengan dugaan Anda, Pengacara Hotma baru saja mengajukan permohonan pemindahan tahanan atas nama Sheila ke Rumah Sakit Bhayangkara sore tadi."

Reno menerima amplop itu, mengeluarkan kertas rekam medis terbitan klinik swasta kecil yang dilampirkan oleh Hotma. Di dalamnya tertulis bahwa Sheila mengalami pendarahan halus dan ancaman keguguran dini akibat stres berat.

Reno terkekeh sinis, melemparkan lembaran kertas itu kembali ke atas meja. "Sheila benar-benar tidak berubah. Dulu dia berpura-pura hamil untuk merebut Arka, dan sekarang dia memalsukan gejala keguguran untuk kabur dari penjara."

"Apakah kita perlu membongkar dokter yang menerbitkan surat palsu ini, Pak?" tanya Yuda.

"Tentu saja," jawab Reno, matanya berkilat tajam. "Tapi jangan sekarang. Biarkan Sheila merasa menang terlebih dahulu. Biarkan dia dipindahkan ke bangsal Rumah Sakit Bhayangkara malam ini. Saat dia berpikir dia sudah aman dan bisa bernapas lega di atas kasur empuk rumah sakit... di situlah kita akan menjatuhkannya dengan tuduhan baru, pemalsuan dokumen medis dan penyuapan terhadap tenaga kesehatan."

Reno berbalik, menatap Yuda dengan pandangan penuh kendali. "Pastikan Dokter Sarah dan tim medis independen kita hadir esok pagi untuk melakukan pemeriksaan ulang secara mendadak di depan awak media. Aku ingin Sheila dipermalukan tepat di depan kamera televisi nasional."

***

Di kediaman utama Atmadja yang megah dan tenang, malam berlalu dengan begitu hangat.

Di dalam kamar tidur anak yang berdekorasi luar angkasa, Elvano sudah tertidur lelap di atas kasurnya. Tangan kecilnya masih memeluk erat buku cerita dinosaurus yang dibelikan Vira sore tadi.

Vira perlahan menarik selimut hingga menutup dada Elvano, lalu mengecup kening anak itu dengan penuh kasih sayang. Ia berdiri dari tepi ranjang dan melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Elvano.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Vira tertegun. Adrian Atmadja berdiri tidak jauh dari sana, bersandar di dinding koridor dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah digulung hingga ke siku. Pria itu tampak sangat menawan di bawah temaram lampu dinding bernuansa emas.

"Elvano sudah tidur?" tanya Adrian, suaranya yang bariton rendah terdengar sangat lembut di koridor yang sunyi.

"Sudah, Tuan Adrian. Dia sangat kelelahan setelah mendengarkan tiga cerita sekaligus," jawab Vira sembari mengulas senyuman tulus.

Adrian melangkah mendekat. Langkah kakinya yang tenang dan mantap selalu berhasil membuat jantung Vira berdetak sedikit lebih cepat. Adrian berhenti tepat di hadapan Vira, mengulurkan tangannya untuk merapikan sehelai rambut hitam Vira yang jatuh menutupi pipinya.

Sentuhan lembut jemari Adrian di kulit pipinya membuat Vira menahan napas sejenak.

"Vira," bisik Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata indah wanita di hadapannya. "Reno baru saja mengabarkan bahwa tindakan balasan untuk Sheila dan Arka sudah siap diuji esok pagi di pengadilan dan rumah sakit."

Vira mengangguk perlahan. "Aku percaya pada Reno dan timmu, Adrian. Aku tahu mereka tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun untuk tikus-tikus itu meloloskan diri."

Adrian mengulas senyuman tipis, lalu menyelipkan tangannya untuk menggenggam jemari Vira. Genggaman yang erat, hangat, dan memberikan rasa aman yang tak tergoyahkan.

"Setelah esok hari selesai... aku tidak ingin kamu memikirkan nama Narendra lagi," ucap Adrian dengan nada penuh penekanan dan komitmen mutlak. "Kamu sudah mengembalikan kehormatan orang tuamu. Sekarang, saatnya kamu menikmati kebahagiaanmu sendiri. Bersamaku, dan bersama Elvano."

Vira merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar dari telapak tangan Adrian menuju dadanya, menyapu bersih sisa-sisa dingin dari masa lalunya yang kelam.

"Terima kasih, Adrian," sahut Vira lembut, mempererat genggaman tangannya pada jemari Adrian. "Aku siap untuk melangkah ke masa depan itu."

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!