NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Kembali ke Kota Lama

#

Pesawat mendarat di Soekarno Hatta jam sepuluh pagi, dan begitu Rendra keluar dari terminal kedatangan, dia langsung ngerasa udara Jakarta yang panas lembab itu, bau yang khas banget, campuran asap kendaraan sama aroma gorengan pinggir jalan, yang entah kenapa langsung nyeret ingatannya balik ke tujuh tahun lalu, ke Damar yang dulu, yang pernah berjalan di bandara ini dengan wajah penuh senyum, nggak tau kalo dunia yang dia kenal bakal runtuh cuma dalem hitungan jam.

Dia berenti sebentar di pintu keluar, tarik napas panjang, dan dari balik kacamata itemnya, dia liat mobil hitam yang udah nunggu, dan seorang anak muda berdiri di sampingnya, rambutnya agak gondrong, pake kaos oblong item di bawah jaket, sama sekali nggak keliatan kayak sopir eksekutif atau asisten bisnis pada umumnya.

"BANG RENDRA!" Bara teriak, ngelambai lambai kayak orang norak, sampe beberapa orang di sekitar nengok, dan Rendra langsung ngerasa geli sekaligus malu.

"Bara, pelan dikit," Rendra bilang, jalan cepet ke arah mobil, "kita lagi nyamar, inget nggak?"

"Eh iya, sori sori," Bara buru buru masang muka serius, tapi cuma tahan dua detik sebelum ketawa lagi, "abis kangen, Bang! Tujuh bulan saya di Jakarta nyiapin semua ini sendirian, Abang malah santai santai di Singapura."

"Saya juga kerja, Bara, bukan santai santai."

"Iya iya, kerja sambil ngeliat gedung gedung kaca dari kantor ber-AC, saya mah di sini keliling keliling nyari server buat nge-hack sistem keamanan gedung Hartono, panas panasan bawa laptop ke warkop warkop biar nggak ketauan IP-nya."

Rendra ketawa kecil, masuk ke mobil, dan Bara nyetir sambil terus ngoceh, cerita soal persiapan yang udah dia lakuin selama berbulan bulan, dan Rendra dengerin sambil sesekali nyeletuk, tapi di dalem hatinya, dia diem diem bersyukur, punya orang kayak Bara di sisinya.

Bara ini, jujur aja, orangnya nggak kayak yang orang bayangin soal "hacker jenius" pada umumnya. Dia bukan tipe pendiam misterius yang ngomong seperlunya doang. Dia berisik, banyak becanda, kadang ngomongnya ngelantur ke mana mana, tapi begitu udah di depan laptop, di depan sistem sistem yang perlu dia bongkar, dia berubah total, fokusnya tajem banget, dan Rendra pertama kali kenal dia lewat Pak Wahyu, waktu Bara masih jadi anak muda pengangguran yang, katanya, "dulu sempet kena masalah gara gara iseng ngoprek sistem bank," dan Om Timur, lewat jaringannya, ngasih dia kesempatan buat kerja bener, ketimbang balik lagi ke jalur yang salah.

"Bang," Bara nanya, di tengah jalan, nadanya tiba tiba lebih serius, "Abang beneran yakin mau balik ke Jakarta? Maksud saya, resikonya gede banget, kalo ada yang curiga sedikit aja soal identitas Rendra Alief ini nyambung ke... yah, Abang tau maksud saya."

"Saya tau," Rendra jawab, matanya natap ke luar jendela, ke gedung gedung yang mulai keliatan familier tapi juga terasa asing, "tapi saya udah capek nunggu, Bara. Tujuh tahun. Saya nggak bisa terus terusan main aman di belakang layar."

"Ya saya ngerti sih," Bara ngangguk, "tapi identitas yang saya bikin ini, semua dokumennya, riwayatnya, latar belakangnya, itu udah saya susun rapi banget, Bang, sampe akte kelahiran palsu yang keliatan asli banget kalo dicek sistem, paspor yang udah dipake bolak balik ke berbagai negara biar keliatan natural riwayat perjalanannya, sampe jejak digital yang saya bikin bertahun tahun, blog blog lama, akun media sosial yang keliatan udah lama aktif, semua saya susun biar Rendra Alief ini keliatan kayak orang beneran, bukan orang yang tiba tiba muncul dari ketiadaan."

"Saya tau, Bara, dan saya bener bener berterima kasih buat itu."

"Tapi," Bara lanjut, suaranya makin serius, "sekali Abang mulai gerak deket deket sama orang orang yang kenal Damar dulu, resiko ketauan itu naik drastis, Bang. Wajah Abang emang udah berubah, badan udah beda, tapi mata, cara ngomong, kadang kadang kebiasaan kebiasaan kecil itu susah bener bener ilang."

Rendra diem sebentar, mikirin kata kata itu, "saya udah latihan bertahun tahun, Bara. Saya udah bukan Damar lagi, secara cara mikir, cara gerak."

"Saya tau, Bang, tapi hati hati aja. Saya udah kerja keras banget bikin identitas ini, jangan sampe rusak gara gara satu momen lengah doang."

Mobil itu terus jalan, ngelewatin jalanan Jakarta yang macet kayak biasa, dan akhirnya berenti di depan sebuah gedung apartemen mewah, tinggi banget, kacanya berkilauan kena matahari siang.

"Nah, ini dia," Bara bilang, senyum lebar, "penthouse yang saya pilihin khusus buat Abang. Lantai paling atas, dan Bang, coba tebak apa yang bisa keliatan dari jendela ruang tamunya?"

Rendra ngeliatin gedung itu, terus ngeliat ke arah Bara, "kamu sengaja milih ini karena..."

"Yap!" Bara motong, semangat banget, "langsung ngadep ke gedung pusat Hartono Group. Setiap hari, Abang bisa duduk santai di ruang tamu sambil minum kopi, dan ngeliatin langsung gedung yang selama ini jadi sarang orang orang yang ngancurin hidup Abang. Keren kan idenya? Saya mikirin ini selama berminggu minggu, Bang, sengaja nyari unit yang posisinya pas banget."

Rendra diem sebentar, ngeliatin gedung apartemen itu, terus ketawa kecil, ketawa yang jarang banget keluar akhir akhir ini, "kamu ini emang, dendam kesumat lo lebih parah dari saya kayaknya."

"Ya soalnya saya juga sebel, Bang! Saya baca semua berkas berkas yang Abang kumpulin, semua yang mereka lakuin ke Abang, itu... itu nggak manusiawi banget. Jadi ya, saya mau ikut bantu semaksimal mungkin, sekalian mikirin detail detail kecil yang bikin puas, kayak jendela ini."

Mereka naik ke lantai paling atas, dan begitu pintu lift kebuka, Rendra jalan masuk ke unit penthouse yang emang udah disiapin rapi, minimalis tapi mewah, dan dia jalan lurus ke ruang tamu, ke jendela kaca gede yang ngadep langsung ke pemandangan kota.

Dan di situ, jelas banget, gedung pusat Hartono Group berdiri megah di kejauhan, kacanya berkilauan, logo besar perusahaan itu keliatan dari jarak sejauh ini, dan Rendra berdiri diem, ngeliatinnya lama banget.

"Bang," Bara manggil, dari belakang, suaranya udah balik jadi lebih pelan, lebih hormat, "Abang oke?"

Rendra nggak jawab langsung. Dia berdiri di situ, di depan jendela, ngeliatin kota yang dulu ngerampas segalanya darinya, keluarga, nama baik, calon istri, masa depan yang udah dia rencanain, dan yang paling parah, ngerampas kepercayaan dia sama dunia yang katanya adil.

Tujuh tahun lalu, dia berdiri di kota ini sebagai korban, sebagai orang yang gampang dijatuhin, gampang dituduh, gampang dibuang kayak sampah.

Sekarang, dia berdiri lagi, di lantai paling atas gedung mewah, ngeliatin ke bawah, ke kota yang sama, dan buat pertama kalinya sejak malem di jembatan itu, dia nggak ngerasa takut sama sekali. Yang ada cuma satu perasaan, dingin, tajem, penuh perhitungan.

"Saya baik baik aja, Bara," Rendra akhirnya jawab, suaranya tenang, "malah lebih dari baik."

Bara berdiri di sampingnya, ikutan ngeliatin pemandangan itu, "jadi, gimana rasanya, Bang? Balik lagi ke sini, sekarang dengan kekuatan yang beda banget dari dulu?"

Rendra diem sebentar, mikirin jawaban yang tepat, "rasanya kayak... kayak akhirnya saya bisa napas lega, tapi juga tegang banget di saat yang sama. Aneh."

"Wajar, Bang. Namanya juga pulang ke rumah yang udah ngusir Abang."

Kata kata Bara itu, meski diucapin santai, entah kenapa nyentil banget di hati Rendra, dan dia diem sebentar, ngerasain sesuatu yang campur aduk, sedih dan marah dan tekad yang semuanya numpuk jadi satu di dadanya.

Tiba tiba, matanya nangkep sesuatu di kejauhan. Di halaman depan gedung Hartono Group, ada orang yang keluar dari pintu utama, jalan pelan menuju mobil yang udah nunggu.

Rendra merhatiin lebih teliti, dan jantungnya berdebar kenceng begitu dia sadar siapa orang itu.

Broto.

Tapi Broto yang sekarang, beda banget dari yang Rendra inget dulu. Badannya kurus banget, jauh lebih kurus dari yang wajar, jalannya juga keliatan lemes, kayak orang yang udah lama nggak tidur nyenyak, dan meski jaraknya jauh banget buat bisa liat detail wajahnya, cara dia jalan, cara dia nunduk, itu semua nunjukin, jelas banget, orang itu lagi dihantui sesuatu yang berat.

"Itu... itu Broto?" Bara nanya, ikut ngeliat ke arah yang sama, matanya menyipit.

"Iya," Rendra jawab, pelan, matanya nggak lepas dari sosok kurus itu, "itu Broto."

Mereka berdua diem, ngeliatin dari kejauhan, sampe mobil yang dinaikin Broto ilang dari pandangan, ngebaur sama lalu lintas Jakarta yang padet.

Dan di situ, di depan jendela penthouse mewahnya, Rendra Alief, yang dulu Damar Aditya Wijaya, tersenyum. Bukan senyum bahagia, bukan senyum puas yang jahat, tapi senyum yang campur aduk banget, senyum orang yang akhirnya ngeliat, dengan mata kepala sendiri, kalo penderitaan yang dia rasain selama tujuh tahun ini, ternyata, nggak cuma dia sendiri yang nanggung.

"Bang," Bara manggil, agak ragu, "Abang kenapa senyum senyum gitu?"

Rendra nggak langsung jawab. Dia terus ngeliatin ke arah gedung Hartono Group yang berkilauan di kejauhan, dan akhirnya bilang, pelan, dengan suara yang dingin banget, "karena akhirnya, Bara, permainan ini bisa dimulai."

1
Vie
pasti dia sangat tertekan juga dihantui rasa bersalah seumur hidupnya tentang Damar dulu.. 😥
Vie
tetap semangat Damar... 👍🏼👍🏼💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Vie
mungkin dia mencium sesuatu yang janggal dari kasus tersebut, makanya dia tidak berhenti mencari kebenaran kejadian tersebut. apalagi sampai merenggut banyak nyawa, termasuk nyawa Damar... 🤔🤔
Vie
mereka juga mungkin sama aadalah korban juga... karena harus berbohong jadi mereka tenggelam dalam penyesalan tak berujung karena meninggalnya Damar
Vie
oohh pantesan dia ngorbanin Damar dulu mungkin kah karena ini juga?
Vie
nah... gitu.. tetaplah jaga hatimu jangan sampai berubah, apapun yang terjadi... sebab kepercayaan kalau sudah rusak maka akan sulit untuk kamu dapatkan kembali...
Vie
dia merasakan juga apa yang kamu rasakan.. apakah mungkin dia juga sama nasibnya.. mungkin tidak beda jauh dengan kamu....
Vie
nanti juga kamu bakalan nemu jawaban nya sendiri👍🏼👍🏼..
Vie
waaahh beneran gila sih kalau emang beneran gitu... dia seolah hanya dipaksa untuk bekerja mencari hal baru, dan setelah ketemu dibuang gitu aja kayak gak berharga 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️ manusia emang lebih menyeramkan daripada hewan buas sekalipun, malah lebih buas dari hewan buas sekalipun 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan itu yang lebih berbahaya... karena yang bermain adalah otak yang tidak ada jejak fisik nya, karena tidak akan meninggalkan bekas ditubuh...
Vie
ooohhh.... mungkin kah ini alasan kecil dibalik semua kejadian yang menimpa Damar? 🤔🤔
Vie
nah gitu dong.. 👍🏼👍🏼
Vie
nah. begitulah kalau orang yang gak pernah atau jarang berbohong.. sekalinya bohong, dia harus puter otak dulu yang lamaaaaa buat nyari alasan yang tepat juga logis, walaupun hati sudah dag dig dug mau pecah biar bisa dipercaya🤭🤭 tapi kalau orang yang pintar bohong, hanya satu detik dia udah punya jawaban untuk menutupi kebohonganya... tapi orang jujur malah susah untuk hidup aman dan tenang, tapi orang yang gak jujur malah hidupnya tenang2 aja 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan apakah ini adalah kakek nya Damar ya??
Vie
waahh siap tuh Ariel.. yng pasti bukan Noah ataupun ngu ah🤭🤭 apakah dia ayah yang sebenarnya Damar 🤔🤔🤔menarik.... 👍🏼👍🏼
Vie: cari aman kah kak? 😂😂
total 2 replies
Vie
ya... mungkin semua itu pasti ada yang menjadi penyebab utamanya dari semua kejadian yang menimpa Damar....
Vie
waaahh.. siapa tuh???
Vie: iya tau bukan Ariel Noah kok 🤭
total 2 replies
Vie
what 😱😱😱..
Vie: why 🤭🤭
total 2 replies
Vie
sok lah kamu harus bisa pecahin teka teki kehidupan mu sendiri Damar... 💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
Vie
iihh kasian juga si Sahsa jadi korban juga... nih. sebenarnya siapa sih yang punya niat jahat...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!