Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Mendapatkan Pusaka Legendaris, Sven
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamar penginapan Dazhi diketuk. Anak itu mengucek matanya sebentar dan berjalan keluar untuk mengetahui siapa yang mengetuk kamarnya.
Diluar, dirinya bisa melihat sosok Xiao Qingxuan yang sudah rapih. Tumben sekali sang Paman pagi-pagi buta seperti ini sudah bangun.
"Ada apa Paman?"
"Zhizhi... Paman harus mengantarkan barang ke desa didekat kota ini. Tidak akan lama kok, palingan sampai nanti malam. Kau nanti beli makan sendiri menggunakan uang ini yah?"
Xiao Qingxuan memberikan beberapa koin perak dan koin tembaga kepada Dazhi. Anak itu mengangguk paham.
Setelah itu, Xiao Qingxuan berpamitan dan pergi meninggalkan Dazhi diambang pintu penginapan. Dazhi meregangkan badannya, sebenarnya anak itu masih mengantuk, tapi karena sudah terlanjur bangun dan perutnya berbunyi, dia memutuskan untuk keluar mencari makan.
Diluar, Dazhi pergi ke kedai terdekat yang sudah buka. Dia memesan satu piring ikan goreng dan teh hangat yang nikmat.
Kedai tersebut begitu sepi karena masih pagi, jadi pesanan Dazhi tida terlalu lama untuk diproses. Hanya dalam 10 menit, pesanannya telah datang. Dazhi memakannya dengan lahap.
Begitu selesai, Dazhi membayar kepada pemilik kedai. Ia lalu keluar dan menikmati udara pagi kota Jinling.
Pada pagi hari ini, matahari bahkan belum menampakkan wujudnya. Hanya ada beberapa kedai yang sudah buka. Kota Jinling yang biasanya ramai kini begitu sepi dan hening.
Dazhi berpikir sejenak, masih sepagi ini, jadi tak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan. Mungkin sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah melatih kekuatannya saja. Akhirnya Dazhi berjalan menyusuri jalanan pasar.
Disebelah Utara pasar, terdapat sebuah padang rumput lumayan luas yang biasanya digunakan Dazhi untuk berlatih, kini tujuannya adalah pergi ke padang rumput tersebut.
Tetapi ditengah perjalanan, Dazhi melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada sebuah kedai barang antik yang menjual sebuah liontin giok. Dan entah mengapa, Dazhi merasa tidak asing dengan liontin giok tersebut.
Dazhi mendekat kearah kedai tersebut untuk mengecek liontin giok. Begitu matanya bisa menangkap semua bagian liontin giok secara rinci, Dazhi menyadari sesuatu, ada sebuah tulisan kuno yang diukir di atas liontin gioknya. Tulisan yang berbunyi "Sven".
Mata Dazhi melebar, liontin giok ini ciri-cirinya mirip sekali dengan salah satu pusaka legendaris. Pusaka yang bisa membawa keberuntungan mutlak kepada pemiliknya.
Liontin Keberuntungan, Sven.
Dazhi mengernyitkan alisnya, bagaimana bisa sebuah pusaka legendaris berada di kedai barang bekas seperti ini. Namun ia tidak banyak pikir, tentu saja kesempatan emas seperti ini harus digunakan dengan baik.
"Paman, aku ingin membeli ini." Ucap Dazhi kepada pemilik kedai barang antik.
Si pemilik kedai segera menghentikan kegiatannya untuk melayani Dazhi. "Ini harganya 5 koin emas." Balasnya singkat.
Dazhi mengambil kantong berisi koin-koin miliknya. Ia mengambil koinnya satu persatu hanya untuk dibuat kecewa kalau koin miliknya kurang.
Koin yang ia punya adalah 4 koin emas, 98 perak, dan 34 tembaga. Di dunia ini, satu koin emas adalah 100 koin perak, maka Dazhi kurang 2 koin perak lagi.
"Paman... Uangku kurang, bisakah paman berbaik hati padaku?"
"Hah?! Kenapa aku harus berbaik hati padamu? Kalau kau ingin membelinya, maka kau harus menggunakan uang pas. Lagipula walau ukurannya kecil, ini tetaplah giok murni!"
"Kumohon paman... Aku punya 4 koin emas dan 98 koin perak... Kumohon berbaik hatilah padaku ya~"
Dazhi terus memohon, "padahal cuma 2 koin perak saja, kenapa pria ini begitu pelit sekali." Pikir anak itu.
Pemilik kedai terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mendengus kesal dan mengangguk. "Baiklah... Baiklah... Mana uangmu?"
Dazhi tersenyum senang, ia memberi semua koin miliknya. Pemilik kedai kemudian mengambil Liontin giok dan menaruhnya di atas tangan Dazhi.
Dazhi memegang Liontin giok dengan hati-hati. Dia berjalan menjauh dari kedai barang antik untuk pergi ketempat yang lebih sepi. Begitu merasa sepi, Dazhi mulai berbicara kepada Liontin giok miliknya.
"Hey... Liontin Sven, ini kau bukan? Tolong bilang 'iya' agar 4 koin emas ku tadi tidak terbung sia-sia."
...
Tidak ada jawaban selama lima menit. Dazhi memasang wajah kecewa.
"Ya ampun... Jangan-jangan liontin ini cuma liontin giok biasa? Aduh..."
Tangan Dazhi turun untuk menaruh Liontin giok yang baru saja ia beli di sakunya. Ia yakin sekali kalau Liontin yang ia beli adalah pusaka legendaris. Namun kenapa tak ada jawaban sama sekali?
Saat Dazhi melangkah dengan perasaan sebal, tiba-tiba dirinya mendengar sebuah suara.
"Hey!! Jangan taruh aku disini!! Tempat ini begitu sempit!!"
Sebuah suara keluar dari balik sakunya. Dazhi dengan cepat mengeluarkan Liontin yang tadi dimasukkan kedalam sakunya. Kini liontin itu terlihat bergerak-gerak sendiri dan memunculkan cahaya hijau samar.
"Sven?? Ini kau bukan?"
"Hahaha!! Iya ini memang aku... Ya ampun, kita bertemu lagi yah, Dazhi."
"Kenapa kau baru berbicara sekarang? Padahal aku sudah memanggilmu dari tadi."
"Hehe... Tidak ada aturan kalau sebuah pusaka legendaris tidak boleh bercanda, bukan?"
"Hah?"
Dazhi memasang wajah marah sekaligus lega, ia lega karena liontin ini memang pusaka legendaris, itu berarti uangnya tidak sia-sia. Namun ia marah karena sedari tadi Liontin ini mempermainkan dirinya.
"Sialan kau Sven!!" Teriak Dazhi kesal. Liontin Sven hanya tertawa mendengar amarah dari tuannya.
Setelah puas tertawa dan bercanda, akhirnya Liontin Sven menanyakan topik pertanyaan yang lebih serius.
"Baiklah maaf... Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu setelah pergi ke masa lalu, Dazhi?"
Dazhi terdiam mendengar ucapan dari Liontin Sven. Dia menatap langit sebentar seolah mencari kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Selama beberapa menit, Dazhi terdiam. Ia lalu mengangkat Liontin Sven agar benda itu sejajar dengan wajahnya.
"Kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas, Sven?"