Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. (Pemecah Rekor)
Lucien membuka kasar dasi yang terpasang di kerah baju begitu memasuki pintu perusahaan. Wajahnya merah padam penuh dengan aura gelap yang siap membunuh siapapun. Para karyawan yang melihat kengerian tersebut bergegas menjauh seraya menundukkan kepala, takut menjadi tempat pelampiasan dari sang Tiran yang sedang terbakar amarah.
"Beraninya mereka mempermainkan uangku. Siapa yang memberi kuasa untuk mereka bekerja semena-mena. Sialan!"
Braakkk
Pintu ruangan ditendang kasar hingga memberikan efek dentuman yang cukup keras. Dua bodyguard menunduk memberi hormat, tak terusik oleh kemarahan bos mereka yang entah apa sebabnya.
"Cari dan pecat semua orang yang terlibat dalam hal ini. Aku tidak mau tahu. Berani mempermainkan uangku, itu artinya mereka sudah siap untuk di blacklist!" titah Lucien penuh amarah. Dia baru saja kembali dari mengunjungi proyek yang jadwal pengerjaannya molor melewati batas waktu yang telah ditentukan oleh perusahaan.
"Baik, Tuan."
"Telusuri mereka yang masih bisa dipekerjakan. Tempatkan di lokasi proyek yang baru. Aku tidak menerima alasan apapun, Veroz. Yang terjadi hari ini sudah cukup membuatku merugi banyak!"
"Baik. Perintah akan segera saya laksanakan," sahut Veroz tenang menghadapi amarah bosnya. Sembari mendengarkan ocehan, tangannya berselancar di layar ponsel, lincah membagi perintah pada bawahan.
Saat ruangan sedang dipenuhi amarah yang meluap-luap, sebuah pesan tak diduga muncul di ponsel Veroz. Isi pesan ini bagai angin segar yang mana membuat Veroz tersenyum lega.
"Tuan, ada pesan penting."
"Hapus!" Lucien tak tertarik.
"Anda yakin tak ingin mendengar isi dari pesan ini?" Veroz memastikan. Menghapus pesan? Ayolah, dia masih ingin hidup.
"Sejak kapan kau jadi tuli begini? Pergi ke dokter THT sekarang dan periksakan telingamu. Aku tidak mempekerjakan orang penyakitan!"
"Ini tentang Nona Andrea."
"Sudah ku bilang hapus pesan itu. Tidak dengar ya?!"
Hening. Ada yang salah. Lucien segera menatap lekat ke arah Veroz. Matanya menyipit lalu jari telunjuknya bergerak meminta agar mendekat.
"Kau bilang apa barusan?"
"Pesan ini berisi tentang kegiatan yang dilakukan oleh Nona Andrea. Anda yakin ingin saya menghapusnya?"
"Ekhmm!" Lucien berdehem lalu merapihkan kemejanya yang berantakan. "Memangnya apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu? Tidak penting sekali."
Reaksi sok acuh, bengis, tapi nyatanya peduli dan penuh harap. Untung saja Veroz punya insting yang kuat. Jadi dia bisa dengan mudah memahami perubahan situasi di diri bosnya.
"Nona Andrea baru saja menjadi pekerja paruh waktu. Dia bertugas membagikan selebaran kepada orang-orang. Upahnya sangat jauh jika dibandingkan dengan karyawan bagian kebersihan di GS Company," ucap Veroz menyampaikan isi pesan. Matanya lekat memperhatikan perubahan di wajah bosnya. Yang tadinya dipenuhi amarah perlahan muncul senyum tipis yang nampak malu-malu. Kontras dengan kondisi mengerikan yang terjadi beberapa menit lalu.
"Cihh, apa bagusnya kerja seperti itu. Kalian juga. Apa sudah tidak punya pekerjaan lain sehingga mengurusi laporan tidak penting begini? Lekas pecat mereka," perintah Lucien sambil memilin bibir. Di otaknya sekarang tengah membayangkan adegan di mana Andrea yang sedang membagikan selebaran sambil membawa cambuk. Membayangkan hal tersebut mendadak muncul keinginan untuk Lucien tertawa. Namun, kesadaran segera mengingatkan akan keberadaan Veroz di sana.
"Kalau begitu saya akan memecat orang yang ditugaskan untuk mengawasi Nona Andrea," ucap Veroz.
"Terserah."
(Satu, dua .... )
"Aihh, tiba-tiba aku ingin menghirup udara segar."
Lucien berdiri. Dia merebut ponsel dari tangan Veroz lalu membaca pesan di sana. Lucien berdecak, lalu tanpa mengatakan sepatah katapun melangkah keluar.
"Nona Andrea, bersiaplah. Seorang Tiran yang mulai gila sedang berjalan menuju ke arahmu. Kuharap kau kuat," gumam Veroz sambil berjalan cepat menyusul bosnya yang sudah pergi lebih dulu.
Jika tadi Lucien masuk ke perusahaan dipenuhi dengan awan gelap, kali ini para karyawan dibuat takjub oleh perubahan emosinya yang begitu singkat. Masih dengan ekspresi bengis di wajahnya, tapi tak lagi diselimuti awan gelap. Melainkan berubah seperti musim semi yang hangat, cerah, dan penuh ketenangan.
"Hei, apa kalian melihatnya? Tiran itu tersenyum," bisik salah satu karyawan.
"Jangan ngawur. Sejak kapan bos kita yang bengis itu tersenyum? Untung puluhan triliun saja wajahnya tetap rata, mana mungkin bibirnya yang mahal rela mengumbar senyum di tempat umum. Yang benar saja kau."
"Aku serius. Lihat, cara berjalannya juga berbeda. Yang tadi penuh hentakan kuat dan keinginan untuk membunuh. Rasanya gedung ini seperti mau roboh. Lalu yang barusan lewat kesannya sangat ringan dan takut kuman di lantai mati terinjak. Aku yakin mataku tidak salah melihat. Tiran itu benar-benar tersenyum. Sungguh!"
"Sudahlah, jangan mempertaruhkan masa depan kalian dengan membuat gosip yang tidak-tidak. Lupa ya kalau dinding di perusahaan ini punya mata dan telinga? Kembali bekerja."
Sambil mengomel kecil, para karyawan yang tadi asik bergosip kembali ke meja kerja masing-masing. Veroz yang tak sengaja mendengar gosip tersebut tampak mengangguk setuju. Dibibir tiran itu memang muncul sebuah senyum, dan penyebabnya adalah seorang gadis bernama Andrea. Satu-satunya makhluk yang berani menyerang seorang LUCIEN SCOTT di tempat umum, bahkan ingin memenjarakannya.
"Pemecah rekor."
Lucien membuka mata.
"Rekor apa?"
"Daftar orang-orang yang membuat emosi Anda meledak hari ini. Mereka menjadi pemecah rekor sebagai sekelompok orang yang kehilangan otak."
Informasi yang datang tepat waktu. Veroz jadi punya alasan untuk menjawab setelah tadi kelepasan bicara memuji Nona Andrea.
"Jangan sisakan satupun. Aku sedang malas. Jadi cukup dipecat saja, tidak perlu di blacklist," ucap Lucien tiba-tiba merubah hukuman. Hal yang tak pernah dia lakukan selama ini.
"Semudah itu melepaskan mereka?" tanya Veroz sambil menyetir. "Tuan, ini tidak seperti Anda yang biasanya. Bukankah Anda selalu menegaskan untuk membasmi masalah sampai ke akarnya? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
Terdengar deheman dari arah belakang. Veroz tersenyum samar. Manusia dengan level gengsi yang super tinggi mana mungkin mau mengakui.
"Kita mau pergi ke mana, Tuan?"
"Aku lapar," jawab Lucien asal.
"Western atau Chinese Food?"
"Cari makanan yang ringan saja. Belum waktunya makan siang."
"Makanan ringan ya?"
Lucien membuang pandangan ke samping. Mendadak udara di dalam mobil seperti menipis. Aneh.
"Bagaimana kalau kita mendatangi tempat di mana Nona Andrea berada? Sepertinya di sana ada yang menjual makanan ringan," ucap Veroz iseng memancing. Sudah sejelas ini tapi bosnya masih belum mau mengaku juga kalau sebenarnya ingin menghampiri Nona Andrea.
"Apa urusannya dengan gadis itu? Banyak restoran yang menjual makanan ringan di kota ini. Kenapa musti ke sana?"
(Tuan Lucien, ekspresi di wajah Anda sudah cukup menjelaskan betapa besar keinginan untuk segera sampai di sana. Akuilah,)
Sayangnya kalimat tersebut tak berani Veroz ucapkan secara langsung. Dia memilih untuk memberi makan ego bosnya dengan melaju secepat mungkin menuju lokasi di mana Nona Andrea berada.
"Cepat sekali sudah sampai. Veroz, kau sedang kelaparan ya?" ejek Lucien sambil menatap ke sana kemari, mencari keberadaan seseorang.
"Anda benar sekali, Tuan. Saya sangat kelaparan." Takut tak kuat menahan tawa, Veroz buru-buru keluar lalu membuka pintu samping. "Silahkan, Tuan. Kita sudah sampai."
Lucien memasang ekspresi datar saat keluar dari mobil. Namun, sedetik kemudian muncul smirk licik di bibirnya saat menemukan keberadaan seseorang. "Sengaja sekali muncul di sini. Pasti dia tahu kalau aku akan datang kemari dan ingin mencari gara-gara lagi. Dasar tak tahu malu. Cihhh!"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂