NovelToon NovelToon
Rahasia Perjodohan Anak SMA

Rahasia Perjodohan Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.

Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.

Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 Perjodohan

"Assalamualaikum!" Celia tampak tidak semangat memasuki rumah.

"Walaikum salam," sahut Ratih dan Darius yang saat ini berada di ruang tamu.

Celia menghampiri bundanya dan juga omnya dengan mencium punggung tangan mereka dan terlihat bagaimana Celia menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang terlihat tidak semangat.

"Konsernya sudah berakhir Celia?" tanya Ratih melihat betapa lelahnya putrinya itu.

"Berakhir apanya Bunda, Celia, Chaca dan juga Chika tertipu tiket, tiket yang kami terima adalah tiket palsu, benar-benar menyebalkan sudah capek-capek menabung eh ternyata tidak jadi menonton konser," jawab Celia mencurahkan semua kekesalannya.

"Jadi kalian tidak jadi menonton konser dan uangnya hangus?" tanya Ratih memastikan membuat Celia menganggukkan kepala.

"Itu teguran dari Allah, masih banyak keperluan uang, bukan untuk dibuang-buang hanya untuk menonton konser," sahut Darius.

"Isss, Om kok ngomong kayak gitu sih," sahut Celia tampak kesal.

"Makanya menabung itu untuk keperluan yang berguna bukan untuk menonton konser dengan harga tiket yang mahal," sahut Darius.

"Namanya juga idola Om, jadi wajar saja menabung dari hari ke hari untuk menonton idola," sahut Celia.

"Boleh memiliki idola Celia, tetapi ingat jangan terlalu berlebihan mengidolakan seseorang yang seharusnya diidolakan itu adalah nabi Muhammad junjungan kita," sahut Darius.

"Iya-iya, kalau itu memang sudah idola nomor satu Celia," sahut Celia meyakinkan pada dirinya.

Ratih dan Darius saling melihat dengan gerak mata mereka mengarah pada Celia dan sepertinya kedua orang tersebut ingin mengatakan sesuatu pada Celia.

"Hmmmm, Celia ada hal penting yang ingin Om bicarakan dengan kamu," ucap Darius.

"Katakan," sahut Celia.

"Weekend nanti kita akan mengunjungi rumah teman Om," ucap Darius.

"Untuk apa?" tanya Celia.

"Hmmmm, kamu akan dijodohkan dengan putra mereka," jawab Darius.

"Hahhhhhh!" sahut Celia terpekik kaget mendengar pernyataan tersebut.

"Om, Celia masih muda bagaimana mungkin anak SMA sudah mulai dijodoh-jodohkan, Celia harus fokus belajar agar bisa masuk sekolah kedokteran!" tegas Celia.

"Ya justru itu, istri dari teman Om adalah seorang Dokter special anak dan memiliki rumah sakit terbesar di Jakarta, ini adalah jembatan untuk kamu melanjutkan pendidikan melalui perjodohan ini, kamu bisa masuk universitas kedokteran di luar negeri," jawab Darius.

"Bagaimana mungkin? Apa hubungannya perjodohan dengan memasuki universitas?" tanya Celia.

"Celia, Om tahu kamu memiliki cita-cita yang sangat tinggi, tetapi masalahnya kamu saat ini bersekolah di SMA dengan fasilitas yang sangat minim, untuk bisa masuk ke universitas luar negeri, kamu harus diangkat dari sekolah yang favorit dengan murid-murid pintar yang sudah mendunia contohnya sekolah Bintang," sahut Darius.

"Darimana Om tahu jika SMA Bintang memiliki murid-murid pintar, mereka hanya mengandalkan kekayaan orang tua mereka, angkuh dan sombong menjadi senjata bagi mereka," sahut Celia.

"Kamu tidak boleh meremehkan seperti itu Celia, bukankah setiap tahunnya pasti ada 10 sampai 15 murid masuk universitas luar negeri, baik itu Oxford, Harvard dan Universitas lainnya yang terkenal dan semua murid-muridnya berasal dari SMA Bintang," sahut Sekar.

"Ya itu karena mereka memiliki uang yang banyak, orang tua mereka berpengaruh dan dengan mudah memasukkan mereka universitas luar negeri," sahut Celia.

"Bukan hanya karena pengaruh dari orang tua, tetapi juga pendidikan dan sistem yang ada di sekolah itu menjadikan murid-muridnya berprestasi dan bisa mengirimnya ke universitas luar negeri," sahut Sekar.

"Dan jika kamu ingin masuk universitas luar negeri, maka kamu harus melanjutkan SMA di sekolah Bintang agar jalur yang kamu tempuh dipermudah, tetapi kamu harus lebih bekerja keras dalam belajar dan bersaing dengan murid-murid di SMA Bintang," sahut Darius.

"Biayanya dari mana?" tanya Celia.

"Kembali pada pembahasan perjodohan, jika kamu setuju maka kamu akan dimasukkan ke sekolah SMA Bintang dengan beasiswa penuh yang diberikan teman Om pada kamu," jawab Darius.

"Dengan syarat harus dijodohkan dengan putranya?" tebak Celia.

"Benar," jawab Darius.

"Celia, Mama dengar putra dari teman Om, kamu ini orangnya sangat pintar, ramah, baik, anaknya juga taat agama, sopan dan terlebih lagi dia sangat menghargai orang tua," sahut Ratih.

"Apakah yang dimaksud adalah Rafa yang pernah diceritakan Chika, karena menurut Chika satu-satunya murid paling waras di SMA itu hanya Rafa," batin Celia.

"Celia menurut Om....."

"Baiklah Celia mau," Celia dengan cepat menjawab dan bahkan Darius belum sempat menyampaikan kata-katanya membuat Darius dan Ratih saling melihat satu sama lain.

"Jika ini memang demi pendidikan, maka oke Celia mau, Celia akan dijodohkan dengan anak teman Om, tidak masalah," sahut Celia dengan cepat dan sangat yakin.

"Kamu yakin?" tanya Darius.

Celia mengangguk-anggukkan kepala.

"Baguslah," sahut Darius.

*******

Brukkk

Ponsel dijatuhkan di atas meja dengan layar ponsel tersebut terlihat bagaimana terjadi keributan di depan konser.

"Sejak kapan kamu menjadi preman!" Angga terlihat marah berdiri di depan putranya Alfian yang masih melihat video tersebut.

"Alfian Papa tidak tahu seperti apa lagi mendidik kamu, setiap hari kamu selalu saja membuat masalah, jika tidak dipanggil ke sekolah kamu, maka akan ada laporan-laporan seperti ini dan bagaimana jika ada polisi di daerah sana, kamu mau nama Papa kamu tercemar karena ulah kamu yang tidak bisa kamu ubah," Angga sejak tadi tidak berhenti memarahi Alfian.

"Ini bukan kesalahan Alfian, tetapi...."

"Lihatlah jika sudah terjadi dan maka tidak akan pernah mengakui kesalahannya, kamu ini seorang pria, seorang pria adalah gentlemen dan bukan pengecut yang apa-apa selalu menyalahkan orang lain!" tegas Angga.

"Alfian, kamu seharusnya bersyukur memiliki orang tua seperti Mama dan Papa yang memberikan kamu fasilitas dan tidak kekurangan apapun, sekolah di tempat yang bagus dan apapun yang kamu inginkan masih bisa dipenuhi kedua orang tua kamu, kami sebagai orang tua hanya meminta satu kepada kamu untuk menjadi anak baik dan tidak membuat kekacauan sekecil apapun itu!" sahut Mawar.

"Kenapa Mama dan Papa selalu menuntut ini dan itu pada Alfian. Alfian sudah melakukan yang terbaik, berusaha untuk belajar dan sekolah dengan baik, tetapi tetap saja salah, Mama dan Papa selalu menyalahkan tanpa mencari tahu dulu kebenarannya," sahut Alfian mencoba membela diri.

"Sudahlah. Papa tidak ingin berdebat apapun dengan kamu, weekend kamu jangan kemana-mana dan tetap di rumah ini, teman Papa akan datang dan kamu akan dijodohkan dengan keponakannya," sahut Angga.

"Papa bilang apa?" tanya Alfian.

"Kamu harus berubah, Papa sudah angkat tangan dengan kamu!" tegas Angga.

"Papa jangan ngaco, ini sudah tahun 2026 dan bukan zaman Siti Nurbaya yang penuh dengan perjodohan. Alfian juga masih remaja dan masih duduk di bangku SMA dan tidak pantas untuk membicarakan perjodohan!" tegas Alfian.

"Kamu tidak pernah mendengarkan apa yang Papa dan Mama katakan, jika kamu tidak ingin dijodohkan, maka Mama dan Papa akan mengirim kamu ke tempat kakak kamu, kamu lebih baik melanjutkan sekolah di London dan biar Kakak kamu yang mengurus kamu!" tegas Angga.

"Apah!" pekik Alfian merasa tidak masuk akal dengan semua perkataan dari sang ayah dan Alfian juga melihat ibunya yang tampak setuju dengan apapun yang dikatakan suaminya.

Alfian mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya, terlihat frustasi dengan peraturan yang telah diberikan sang ayah dan semakin lama semakin tidak masuk akal yang mencuri haknya sebagai anak remaja dengan aturan yang penuh.

Bersambung....

1
Alex
cie...
Japa Yipo
yang kelihatan sempurna blm tentu benar menurut orang yang jalanin🙃 ya memandang sesuatu Jang hanya satu cara saja
Emi Sudiarni
mantap kak
Emi Sudiarni
bgus, kak snang bca klw membuat novel. tentang. sma atau khidupan di kampus
Enz99
bagus
Oma Gavin
ortu egois yg ada valery gila
Herman Lim
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!