"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kembalinya sang Ular ke Sarang
Bab 19: Kembalinya sang Ular ke Sarang
Deru mesin mobil akhirnya mati setelah MPV mewah berwarna hitam itu terparkir sempurna di garasi rumah kota yang megah. Perjalanan belasan jam yang melelahkan itu menyisakan debu tipis di badan mobil, kontras dengan lantai garasi dari granit yang berkilau bersih.
Santi turun dari kursi penumpang depan dengan gerakan yang sangat tangkas. Begitu kakinya memijak ubin rumah itu lagi, ekspresi wajahnya berubah seketika. Tidak ada lagi sisa-sisa binar ketakutan atau akting gadis desa yang lugu seperti saat berada di bawah atap rumah joglo Paman Harjo. Di bawah sorot lampu teras kota yang terang, sepasang mata Santi justru memancarkan kilatan kepemilikan yang tertahan. Ia menatap fasad bangunan mewah dua lantai itu dengan senyuman miring yang samar. Baginya, rumah ini bukan lagi tempat di mana ia hanya menumpang bekerja, melainkan sebuah wilayah kekuasaan baru yang sudah separuh jalan ia kuasai.
Santi langsung bergerak ke bagian bagasi, menurunkan koper-koper mahal milik Ibu Broto dan Adrian dengan penuh percaya diri. Gerakannya begitu luwes, mengabaikan Hana yang turun dari baris tengah sembari memegangi perut buncitnya dengan langkah perlahan.
"Aduh, akhirnya sampai juga di rumah. Pinggang Ibu rasanya mau patah," keluh Ibu Broto sembari melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang sejuk, langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru merah.
Adrian menyusul di belakang ibunya, meletakkan kunci mobil di atas meja kaca dengan kasar. Wajahnya tampak kusut, bukan hanya karena kelelahan menyetir, tetapi juga karena tumpukan notifikasi ulasan buruk dari cabang restoran yang kembali membanjiri ponselnya begitu mereka memasuki wilayah kota.
Hana berjalan melewati ruang tengah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya yang anggun namun dingin langsung mengarah ke anak tangga, berniat naik ke kamar utamanya di lantai dua untuk mengistirahatkan tubuhnya demi kesehatan janinnya.
Melihat Hana yang langsung melengos naik, Ibu Broto mendengus kencang. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar hingga ke lantai atas. "Santi! Bagus sekali, langsung kamu bawa koper-koper itu ke dalam. Baju-baju kotornya segera dipisahkan ya, langsung dimasukkan ke mesin cuci biar tidak menumpuk."
"Baik, Ibu. Ini Santi langsung kerjakan sekarang. Koper Mas Adrian juga biar Santi yang rapikan isinya sekalian," jawab Santi dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, memamerkan kecekatannya.
Ibu Broto menoleh ke arah Adrian yang sedang memijat pelipisnya di sofa seberang. "Kamu lihat itu, Adrian. Santi itu baru saja turun dari mobil setelah belasan jam perjalanan, tapi langsung bergerak kerja tanpa mengeluh sama sekali. Tidak seperti istrimu yang belagu itu. Begitu sampai rumah langsung naik ke atas, bertingkah seperti ratu yang tidak mau menyentuh pekerjaan kasar sedikit pun. Untung saja kamu pintar, tetap membawa Santi ikut ke kota meskipun dilarang Hana kemarin."
Adrian hanya mengangguk lemah, matanya terpejam. "Iya, Bu. Untung ada Santi."
Di dalam kepalanya, Adrian merasa bersyukur memiliki Santi yang selalu siap melayaninya tanpa banyak menuntut di saat pikirannya sedang diambang batas akibat masalah bisnis. Adrian tidak menyadari bahwa kecekatan Santi saat ini adalah bagian dari strategi untuk mengukuhkan posisinya di area domestik bawah, membuat seisi rumah—termasuk dirinya—semakin ketergantungan pada kehadiran sang ular.
Sementara itu, di dalam kamar lantai dua, Hana menutup pintu kamarnya dengan perlahan namun rapat. Langkah pertamanya begitu kembali ke kamar ini adalah berjalan menuju meja rias. Ia duduk di sana, menyalakan ponselnya yang sempat dikembalikan selama di kampung, lalu membuka aplikasi pesan instan rahasia yang tidak diketahui oleh Adrian.
Ada satu pesan baru dari Pak Joko yang dikirimkan beberapa jam lalu.
“Bu Hana, Cabang Dua hari ini sepi sekali setelah jam makan siang. Banyak pelanggan reguler yang membatalkan reservasi mingguan mereka karena kecewa dengan rasa bumbu baru. Pak Adrian dari kemarin terus menelepon saya, menanyakan kenapa omzet turun drastis, tapi saya tetap diam sesuai perintah Ibu.”
Hana menatap layar ponsel itu dengan senyuman yang teramat dingin. Jemarinya bergerak lincah mengetikkan balasan.
“Bagus, Pak Joko. Biarkan saja semua berjalan sesuai rencana. Jangan pernah ubah takaran bumbu inti palsu itu satu gram pun. Biarkan Adrian menikmati hasil dari keputusannya sendiri.”
Setelah mengirim pesan tersebut, Hana menghapus riwayat obrolannya dengan bersih, lalu meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci yang tersembunyi. Hana berdiri dan berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah halaman bawah di mana Santi sedang sibuk menjemur beberapa pakaian di bawah temaram lampu taman samping.
Dari lantai dua, Hana bisa melihat dengan jelas bagaimana Santi sesekali melirik ke arah jendela ruang kerja Adrian di lantai satu dengan pandangan penuh harap. Skenario perlambatan konflik ini sedang bekerja dengan sangat rapi. Hana sengaja menarik dirinya dari dapur, membiarkan Santi dan Ibu Broto merasa telah memenangkan area domestik rumah ini seutuhnya. Namun, Hana tahu betul, tanpa adanya pondasi finansial yang kuat dari restoran yang kini sedang digerogoti oleh bumbu palsu buatannya, kemewahan rumah kota ini hanyalah sebuah istana pasir yang siap runtuh begitu ombak besar pertama datang menerjang. “Nikmatilah malam pertamamu kembali di rumah ini, Santi,” batin Hana tajam. “Kuasailah dapur itu sepuasmu, karena sebentar lagi, dapur itulah yang akan menjadi tempat persembahan pertama bagi kehancuran kalian.”