NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 33 : Tinggal Bersama Lagi

Deru mesin mobil mewah milik Arka terdengar kontras dengan kesunyian gang sempit di salah satu sudut pinggiran kota Jakarta. Jalanan aspal yang berlubang dan genangan air sisa hujan semalam memaksa Arka untuk memarkir kendaraannya agak jauh dari titik lokasi yang diberikan oleh detektif swasta. Setelah memeriksa alamat itu sekali lagi melalui ponselnya, Arka melangkah turun tanpa memedulikan sepatu kulitnya yang kini terpercik lumpur.

Tujuan Arka bukan lagi apartemen tua bertingkat empat yang sempat ia datangi semalam. Informasi terbaru menyatakan bahwa pagi ini Nadira telah berpindah ke sebuah rumah kontrakan sederhana yang menjadi tempat tinggal ibunya. Rumah itu berdinding batako tanpa plesteran yang matang, dengan pagar bambu rendah dan halaman kecil yang dipenuhi tanaman obat dalam pot-pot plastik bekas.

Langkah kaki Arka melambat ketika ia berdiri tepat di depan pagar bambu tersebut. Dari balik jendela kaca yang buram, ia bisa melihat siluet yang sangat ia kenal. Nadira sedang sibuk memeras kain handuk kecil ke dalam baskom berisi air hangat, lalu dengan telaten mengusapkannya ke kening seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di atas ranjang kayu—ibunya.

Melihat pemandangan itu, dada Arka serasa dihantam riam penyesalan yang tak berkesudahan. Di saat ia hidup dalam gelimang kemewahan rumah utama Mahendra, membiarkan Selena membisikkan racun fitnah, Nadira di sini sedang berjuang sendirian. Wanita itu memikul beban mental akibat tuduhan kriminal dari suaminya sendiri, sekaligus harus menjadi tiang sandaran bagi ibunya yang sedang sakit. Namun, di tengah semua penderitaan itu, wajah Nadira tidak memancarkan dendam; yang ada hanya gurat kelelahan yang bercampur dengan ketulusan yang murni.

Arka menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sempat runtuh. Dengan tangan yang gemetar, ia mengetuk tiang pagar bambu perlahan. "Permisi..."

Suara parau Arka memecah keheningan pagi di halaman rumah itu. Siluet di dalam kamar seketika menegang. Nadira meletakkan kain kompresan, berbalik, dan berjalan menuju pintu depan. Ketika pintu kayu itu terbuka dengan suara derit yang pelan, langkah Nadira langsung terhenti di ambang pintu. Matanya yang jernih membelalak sesaat, sebelum akhirnya berubah menjadi sedingin es.

"Untuk apa kau ke sini, Tuan Arka Mahendra?" tanya Nadira. Suaranya terdengar datar, tanpa nada kemarahan yang meledak-ledak, namun justru kedataran itulah yang membuat Arka merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Nadira bahkan tidak lagi memanggilnya dengan nama, melainkan dengan formalitas yang menancapkan jarak sejauh ribuan mil di antara mereka.

Arka tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah wanita yang selama ini ia sia-siakan. Lingkar hitam di bawah mata Nadira, tubuhnya yang tampak sedikit lebih kurus, dan pakaian daster katun sederhana yang ia kenakan, semuanya menjadi saksi bisu atas kekejaman yang telah Arka lakukan.

Tanpa memedulikan tanah basah di bawah kakinya, Arka menurunkan tubuhnya. Di atas tanah berkerikil di halaman rumah sederhana itu, sang CEO Mahendra Group yang terkenal angkuh dan tak tersentuh kini berlutut di hadapan seorang wanita. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mensejajarkan dirinya dengan lantai tempat Nadira berdiri.

"Nadira... aku datang untuk memohon ampun padamu," ucap Arka, suaranya bergetar hebat, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya. "Aku tahu aku tidak pantas. Aku tahu kata maaf tidak akan pernah bisa menghapus seluruh rasa sakit, kehinaan, dan penderitaan yang telah aku timpakan padamu. Selena... semua kejahatannya telah terungkap. Dia sudah ditangkap polisi semalam di bandara. Bukti-bukti yang dia gunakan untuk memfitnahmu semuanya palsu."

Arka mendongak sedikit, menatap ujung kaki Nadira dengan mata yang mulai basah oleh air mata. "Aku begitu buta, Nadira. Aku membiarkan kesombonganku menghancurkan ketulusanmu. Aku membiarkanmu hancur sendirian di paviliun belakang. Aku... aku memohon dengan seluruh sisa hidupku, maafkan aku."

Nadira menatap pria yang berlutut di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilasan rasa sakit yang sempat lewat di matanya, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia menarik napas panjang dan melangkah mundur satu langkah, menjauh dari jangkauan Arka.

"Bangunlah, Tuan Arka. Tidak perlu melakukan drama seperti ini di depan rumah ibuku," ucap Nadira dingin. "Jika kau datang hanya untuk memberi tahu bahwa Selena sudah ditangkap dan namaku sudah bersih, terima kasih. Aku menghargai kerja keras kepolisian. Tapi jika kau datang untuk memintaku kembali... jawabanku adalah tidak."

Nadira mencengkeram sisi pintunya dengan erat, mencoba menahan getaran di tangannya sendiri. "Kontrak kita sudah selesai sejak kau mengusirku ke paviliun malam itu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan—reputasimu, perusahaanmu, dan egomu. Aku tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga Mahendra. Aku hanya ingin hidup tenang di sini, merawat ibuku."

"Nadira, tolong... dengarkan aku dulu..." Arka bangkit dari berlututnya dengan langkah gontai, matanya memancarkan keputusasaan yang teramat sangat. "Aku tidak memintamu kembali sebagai bagian dari kontrak atau demi status sosial. Aku datang sebagai pria yang telah kehilangan jiwanya tanpa dirimu. Tapi... ada satu hal lain yang harus kau ketahui."

Arka menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan berat saat mengingat kondisi di rumah sakit tadi pagi. "Kakek... Kakek Baskoro masuk rumah sakit pagi ini. Beliau mengalami serangan jantung ringan."

Mendengar kata 'Kakek', pertahanan dingin di wajah Nadira seketika retak. Pegangannya pada pintu rumah melonggar, dan matanya memancarkan rasa cemas yang tidak bisa ia sembunyikan. "Kakek... Kakek Baskoro sakit?"

"Iya," Arka mengangguk cepat, air matanya kembali menetes. "Beliau pingsan di rumah setelah mengetahui semua kebenaran tentang fitnah Selena. Di ambang kesadarannya, di tengah rasa sakitnya, nama yang terus-menerus beliau panggil hanya namamu, Nadira. Beliau memohon padaku untuk membawamu pulang sebelum semuanya terlambat. Dokter mengatakan bahwa kondisi psikologis Kakek sangat tidak stabil, dan kehadiranmu adalah satu-satunya hal yang bisa membantu memulihkan kondisi jantungnya."

Nadira terdiam. Kata-kata Arka seperti hantaman ombak yang mengacaukan ketetapan hatinya. Pikiran Nadira langsung melayang pada sosok pria tua yang selalu menyambutnya dengan senyuman hangat di teras rumah utama, pria tua yang selalu membelanya ketika anggota keluarga Mahendra yang lain memandangnya sebelah mata, orang yang menganggapnya sebagai cucu kandung sendiri dengan segala ketulusannya.

"Beliau terus memanggil namamu, Nadira... Beliau meminta maaf atas nama keluarga kami yang telah menyakitimu," bisik Arka lagi, memohon dengan sangat.

Nadira memejamkan matanya rapat-rapat. Konflik batin berkecamuk di dalam dadanya. Ia sangat membenci Arka atas pengkhianatan dan tuduhan kejamnya. Ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di kediaman Mahendra yang menyesakkan itu. Namun, Kakek Baskoro tidak bersalah. Pria tua itu adalah satu-satunya sumber kehangatan yang ia miliki selama menjalani pernikahan kontrak yang dingin tersebut. Mendengar bahwa orang tua yang ia hormati kini terbaring lemah di rumah sakit dan membutuhkannya, Nadira tidak bisa membiarkan rasa egonya menang atas rasa kemanusiaannya.

Setelah beberapa menit keheningan yang mencekam, Nadira membuka matanya. Tatapannya masih dingin saat menatap Arka, namun ada keputusan bulat di sana.

"Aku akan kembali," ucap Nadira dengan nada tegas. "Tapi tolong catat ini baik-baik, Arka Mahendra. Aku kembali bukan karena dirimu. Aku tidak kembali untuk menjadi istrimu, dan aku tidak kembali karena lembaran kontrak yang telah kau robek. Aku kembali murni karena Kakek Baskoro. Beliau adalah orang baik yang tidak pantas menerima penderitaan akibat kebodohan cucunya."

Mendengar keputusan itu, seberkas cahaya harapan mendadak muncul di tengah kegelapan hati Arka. Meskipun Nadira menegaskan bahwa kepulangannya bukan karena dirinya, bagi Arka, ini adalah kesempatan berharga yang diberikan Tuhan untuk memulai proses penebusan dosanya.

"Terima kasih... Terima kasih, Nadira," ucap Arka dengan tulus, membungkukkan badannya berkali-kali. "Mengenai ibumu, aku akan memerintahkan tim medis terbaik dan ambulans pribadi untuk memindahkan beliau ke rumah sakit pusat yang sama dengan Kakek, agar kau bisa merawat keduanya dengan mudah tanpa perlu mengkhawatirkan fasilitas medis."

Nadira sempat ingin menolak tawaran bantuan finansial tersebut, namun demi kesembuhan ibunya, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik. Beri aku waktu satu jam untuk mengemas barang-barang ibu dan memberi tahu beliau."

 

Sore harinya, suasana di kediaman utama Mahendra berubah drastis. Setelah memastikan ibu Nadira mendapatkan kamar perawatan terbaik di rumah sakit pusat dan kondisi Kakek Baskoro mulai menunjukkan tren positif setelah sempat dijenguk sejenak oleh Nadira di ruang VIP, Nadira akhirnya tiba di rumah utama.

Langkah kaki Nadira saat melewati pintu gerbang besar tidak lagi sama seperti dulu. Dulu, ia melangkah dengan rasa rendah diri dan ketakutan akan penilaian orang. Kini, ia melangkah dengan kepala tegak, membawa martabatnya yang telah dibersihkan secara hukum dan moral. Anggota keluarga besar Mahendra yang kebetulan berada di ruang tengah—termasuk Tante Broto dan Paman Arka—langsung terdiam saat melihat Nadira masuk. Tidak ada lagi tatapan sinis atau bisikan merendahkan. Mereka semua menundukkan kepala, menyadari bahwa wanita yang dulu mereka singkirkan kini adalah kunci utama kesembuhan sang kepala keluarga.

Arka berjalan di samping Nadira, membawa koper kecil milik istrinya itu dengan tangannya sendiri. Ia menolak bantuan dari para pelayan yang berebut ingin mengambil alih koper tersebut. Arka ingin menunjukkan pada semua orang di rumah ini—termasuk pada para pelayan yang dulu sempat ikut bersikap dingin pada Nadira atas perintah Selena—bahwa posisi Nadira di rumah ini berada di tempat yang tertinggi.

"Kamar utama sudah dibersihkan," ucap Arka dengan nada suara yang sangat lembut saat mereka sampai di lantai dua. "Semua barang-barang milik... wanita itu, sudah kubuang dan kubakar habis. Tidak ada satu pun sisa kehadirannya di rumah ini. Kau bisa menempati kamar utama lagi, Nadira."

Nadira menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar utama yang megah. Ia menoleh ke arah Arka, menatap pria itu dengan tatapan yang masih menyisakan dinding pembatas yang tebal.

"Kau saja yang tinggal di kamar ini, Arka," ucap Nadira tenang namun dingin. "Aku akan tinggal di kamar tamu yang berada di ujung koridor sebelah timur. Seperti yang kukatakan tadi, kita berada di rumah ini hanya untuk mengelabui pikiran Kakek agar beliau tidak cemas saat pulang dari rumah sakit nanti. Di depan Kakek, kita akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Namun di luar itu... kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi atap."

Kata-kata Nadira terasa seperti tamparan yang berulang bagi Arka, namun ia tahu bahwa ia pantas mendapatkannya. Kecanggungan yang luar biasa kini menyelimuti atmosfer di antara mereka. Luka yang ditinggalkan oleh badai fitnah kemarin terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan setangkai mawar putih atau air mata penyesalan dalam satu malam.

"Baik... Jika itu yang membuatmu nyaman, aku akan memindahkan kopermu ke kamar tamu," jawab Arka parau, mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa tersayat. Ia mengantar Nadira ke kamar tamu, meletakkan kopernya di sana, lalu berdiri di ambang pintu dengan canggung. "Jika kau membutuhkan sesuatu... apa saja, ketuk saja kamarku. Atau panggil aku langsung."

Nadira hanya mengangguk tipis tanpa menatap mata Arka. "Terima kasih."

Pintu kamar tamu itu kemudian tertutup perlahan di depan wajah Arka, menyisakan keheningan yang panjang di koridor lantai dua. Arka bersandar pada dinding koridor, menarik napas panjang. Hubungan mereka kini memang telah memasuki babak baru dengan tinggal bersama lagi di bawah satu atap, namun Arka tahu, ini adalah awal dari sebuah perjuangan yang sesungguhnya. Jarak fisik mereka mungkin hanya terpisahkan oleh beberapa meter koridor, namun jarak di hati mereka membutuhkan waktu, ketulusan, dan pembuktian tanpa henti untuk bisa dijembatani kembali.

Malam harinya, jamuan makan malam di meja makan panjang keluarga Mahendra berlangsung dalam keheningan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, meja makan itu dipenuhi oleh perbincangan bisnis yang ambisius atau obrolan Selena yang memamerkan barang-barang mewahnya. Malam ini, hanya ada denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

Arka duduk di kursi utama, sementara Nadira duduk di sisi kanannya—posisi yang seharusnya ditempati oleh nyonya rumah. Arka berulang kali mengambilkan lauk untuk Nadira, memilihkan potongan daging terbaik dan sayuran segar, lalu meletakkannya di piring Nadira dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan istrinya.

Nadira menerima makanan itu tanpa menolak, namun ia memakannya dengan pelan dan dalam diam. Kecanggungan itu begitu kental hingga paman dan bibi Arka yang duduk di ujung meja memilih untuk segera menyelesaikan makan mereka dan pamit meninggalkan ruangan terlebih dahulu.

Setelah meja makan sepi, Arka memberanikan diri untuk membuka suara. "Nadira... besok pagi, aku berencana untuk pergi ke sekolah komunitas tempatmu mengajar. Aku... aku ingin memberikan donasi atas nama Mahendra Group untuk memperbaiki fasilitas kelas anak-anak di sana. Aku juga sudah meminta tim hukum untuk membersihkan nama baikmu secara resmi di media massa agar tidak ada lagi desas-desus buruk yang beredar."

Nadira meletakkan sendoknya, lalu menatap Arka dengan pandangan yang lebih lembut dari sebelumnya, meski sisa-sisa luka itu masih terlihat jelas. "Terima kasih untuk donasinya, anak-anak pasti akan sangat senang. Tapi untuk masalah media... tidak perlu berlebihan, Arka. Aku tidak butuh pengakuan dari dunia bisnismu. Bagiku, yang terpenting adalah Kakek tahu kebenarannya, dan ibuku bisa berobat dengan tenang."

"Aku mengerti..." jawab Arka parau. "Aku hanya... ingin melakukan apa saja yang bisa meringankan beban di hatimu, Nadira."

"Beban di hatiku tidak akan hilang dalam satu malam, Arka," ucap Nadira lirih, sebuah kalimat jujur yang langsung menusuk kesadaran Arka. "Kepercayaan itu seperti vas kaca yang mahal. Ketika kau menjatuhkannya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping, kau mungkin bisa merekatkannya kembali dengan selotip terbaik... tapi bekas retakannya akan selalu ada di sana, mengingatkan betapa hancurnya vas itu dulu."

Nadira bangkit dari kursinya, memberikan anggukan sopan yang formal, lalu berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

Arka terpaku di kursinya, menatap sisa makanan di piring Nadira. Kalimat tentang vas kaca yang retak itu terus bergema di telinganya. Namun, alih-alih membuat Arka menyerah, kenyataan pahit itu justru memicu kobaran api tekad yang baru di dalam dadanya. Ia tahu jalan di depannya dipenuhi oleh duri kecanggungan dan dinding es yang tebal. Ia tahu Nadira mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk bisa mempercayainya lagi.

Namun bagi Arka Mahendra, itu tidak masalah. Selama Nadira berada di bawah atap yang sama dengannya, selama ia masih diberi kesempatan untuk melihat wajah wanita itu setiap hari dan memastikan keselamatannya, ia akan terus melangkah. Ia akan menjadi selotip yang sabar, yang akan menjaga serpihan vas kaca itu dengan seluruh sisa hidupnya hingga retakan itu tidak lagi terasa menyakitkan.

Malam itu, di bawah langit kamar Mahendra yang kini terasa lebih hangat berkat kehadiran kembali sang pemilik hati yang sesungguhnya, Arka menutup matanya dengan sebuah janji baru: ia akan membuktikan setiap harinya bahwa sang CEO yang angkuh telah mati, dan yang tersisa hanyalah seorang pria yang siap mencintai Nadira dengan cara yang paling benar, tanpa syarat, dan selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!