Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 ~ Aku Ibu Kandungnya
Malam itu, Samuel duduk memeluk lututnya di atas kasur. Tubuhnya meringkuk kecil, matanya sembab dan bengkak usai menangis berjam-jam mencari sosok yang dirindukannya. Pandangannya tak lepas menatap pintu kamar, seolah berharap pintu itu akan terbuka dan memunculkan wajah yang selalu membuatnya merasa aman.
Di ambang pintu, Bi Imah berdiri membawa nampan berisi makanan hangat. Wanita itu melangkah hati-hati mendekat, suaranya dibuat selembut mungkin.
"Tuan kecil… ayo makan dulu ya, biar badannya tetap kuat," bujuknya lembut.
Samuel langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, rambutnya berantakan. "Gamau!"
"Kalau tidak makan, nanti perutnya sakit dan Sam bisa jatuh sakit lho," bujuk Bi Imah lagi dengan kesabaran yang tak habis.
Air mata kembali menggenang di sudut mata Samuel. "Aku mau Mama…" bibir kecilnya bergetar hebat. "Mama kenapa belum pulang? Kenapa Mama pelgi lama sekali?"
Bi Imah terdiam seketika. Dadanya terasa sesak melihat penderitaan bocah itu. Selama ini, tak ada yang merawat, memeluk, dan mengajari Samuel sepenuh hati seperti yang dilakukan Ayra. Ikatan di antara mereka terjalin begitu kuat.
"Mama cuma sedang butuh istirahat dulu, Tuan kecil… nanti kalau sudah cukup, Mama pasti datang lagi," jawabnya hati-hati, berusaha mencari kata-kata yang tak menyakiti.
Samuel menunduk, jari-jarinya memilin ujung selimut. "Apa… apa Mama malah sama Sam? Kalena Sam nakal?"
"Ya ampun, tentu tidak." Bi Imah buru-buru mendekat dan mengusap lembut puncak kepalanya. "Mama sayang sekali sama Tuan kecil. Sayang lebih dari apa pun."
"Kalau sayang… kenapa Mama pelgi dan tidak pulang?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Bi Imah membuka mulutnya, namun tak ada jawaban yang pantas terucap. Belum sempat ia membujuk lagi, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Cklek.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Shella masuk, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia sudah berganti pakaian rumah yang lebih nyaman, dan barang-barang pribadinya perlahan sudah dipindahkan ke rumah ini atas izin Nyonya Ratna.
Saat menatap wajah Samuel, ingatannya kembali pada nasihat sang Mama ditelpon tadi.
'Ya, mulai sekarang aku harus mendekati Sam!' batinnya penuh ambisi.
Tatapan tajamnya perlahan dilunakkan, dibentuk selembut mungkin. "Samuel belum makan?" tanyanya, suaranya dibuat seramah mungkin.
Bi Imah segera berdiri tegak. "Belum, Nona. Dari tadi Tuan kecil terus memanggil dan mencari Nyonya Ayra."
Shella berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangannya mengambil nampan dari genggaman Bi Imah.
"Serahkan padaku," ucapnya lembut. "Bibi boleh kembali ke dapur, siapkan makan malam untuk yang lain."
Bi Imah sempat ragu sejenak, matanya melirik Samuel yang terlihat menegang. Namun akhirnya ia mengangguk hormat dan berjalan mundur. "Baik, Nona."
Begitu pintu tertutup, Shella duduk di tepi kasur, menatap bocah itu. "Sam… ayo makan dulu, sama Tante."
Samuel langsung memalingkan wajah, membuang muka. Meski begitu, senyum Shella masih terukir di bibirnya, meski di dalam hati rasa kesal mulai tumbuh perlahan.
Dengan gerakan yang dianggapnya sabar, ia mengambil sendok, menyuapi sedikit nasi dan lauk, lalu menyodorkannya ke depan wajah Samuel. "Ayo buka mulutnya… nanti perut Sam sakit kalau tidak makan."
"Aku Mau Mama! Bukan Tante Shella!" bentak Samuel tiba-tiba, matanya memerah.
Senyum di wajah Shella sempat membeku, rahangnya mengeras. Namun ia berusaha menahannya, kembali tersenyum kali ini terasa lebih dingin. "Samuel… dengarkan Tante. Tante Shella ini mama kandungmu, sayang. Bukan Mama Ayra. Sekarang makan dulu sama—"
"SAM BILANG TIDAK MAU!!"
BRAK!
Tangan kecil Samuel bergerak cepat, menepis keras sendok dan piring yang ada di genggaman Shella.
PRANG!
Piring porselen itu terlempar jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Kuah dan sayuran yang panas terciprat mengenai baju dan rok Shella, membuatnya tersentak mundur kaget.
"Tante Shella jahat! Tante Shella bukan Mama Samuel! Mama Samuel cuma Mama Ayla!!" teriak Samuel sekuat tenaga, membela sosok yang dicintainya.
Suasana menjadi hening seketika. Beberapa detik kemudian, topeng kesabaran Shella pecah sepenuhnya. Wajahnya berubah gelap, dipenuhi amarah yang sedari tadi dipendam rapat.
"SAMUEL!" bentaknya tajam, menggema di ruangan.
Shella mengepalkan tangannya erat hingga kukunya menusuk telapak tangan. Tatapannya penuh kebencian melihat pakaian mahalnya kotor berantakan gara-gara ulah anak kecil itu.
Samuel tersentak ketakutan, tubuh mungilnya refleks mundur hingga punggungnya menempel erat pada kepala tempat tidur. Wajahnya pucat pasi.
Dasar anak yang tidak tahu diuntung dan merepotkan!" desisnya kesal, tanpa sadar kata-kata itu lolos begitu saja.
"A-aku gamau sama Tante Shella…" suaranya bergetar hebat, matanya kembali berkaca-kaca.
Dan tepat saat itu, pintu kamar didorong terbuka lebar. Arga berdiri di ambang pintu, matanya segera menangkap pemandangan di lantai. Pecahan piring yang berserakan, lalu beralih pada Samuel yang tampak ketakutan setengah mati.
"ADA APA INI?!"
Arga segera melangkah masuk, berlutut di samping kasur dan mengangkat tubuh kecil putranya ke dalam pelukan yang hangat dan melindungi. "Sam tidak apa-apa, Papa ada di sini." bisiknya lembut sambil mengusap punggung anak itu menenangkan.
"Papa…!" Samuel menangis tersedu-sedu, memeluk leher ayahnya sekuat tenaga seolah takut akan dilepaskan.
Di sisi lain, Shella buru-buru menelan amarahnya, menyeka sudut matanya dan memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat tepat saat Arga menoleh padanya.
"Mas…" suaranya melemah, terdengar terisak. "Aku cuma mau menyuapi Samuel supaya dia makan. Tapi dia malah marah dan sengaja melempar piringnya sampai pecah…"
Samuel segera menggeleng kuat di pelukan Arga, menolak tuduhan itu. "Tidak! Tante Shella jahat!" teriaknya membelalak.
Alis Arga mengernyit dalam, tatapannya menjadi curiga. "Apa maksudnya?" tanyanya pelan, menatap wajah putranya.
Samuel membenamkan wajahnya di bahu ayahnya, suaranya terdengar teredam namun jelas. "Tante Shella bilang… Mama Ayla bukan mama Sam… tapi Tante Shella…"
Kalimatnya menggantung, namun cukup jelas bagi Arga untuk memahami maksudnya. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, dan tatapannya kini jatuh tajam menusuk tepat ke arah Shella.
Wanita itu sempat gugup sejenak, namun ia segera mendekat selangkah, wajahnya dipenuhi kesedihan yang dipentaskan.
"Mas… aku cuma ingin Samuel mengetahui kenyataan yang sebenarnya," ucapnya pelan. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Sudah lama aku ingin memeluk dan merawat Samuel dengan tanganku sendiri. Dia anak kandungku, Mas…"
Samuel kembali menggeleng cepat, menolak. "Sam nggak mau… Mama Ayla mama Sam…"
Deg.
Jantung Shella terasa berhenti berdetak sesaat mendengar penolakan itu.
Arga memejamkan matanya rapat, dada terasa sesak melihat betapa hancurnya suasana di rumah ini sejak kepergian Ayra. Perlahan ia membuka matanya kembali, dan menatap Shella dengan tatapan sedingin es.
"Keluar dari kamar ini, Shella…" suaranya rendah namun penuh tekanan yang tak terbantahkan.
"Tapi, Mas—"
"AKU BILANG KELUAR!" bentak Arga, suaranya menggema dan membuat Shella terkejut.
Ia terdiam membeku. Kata-kata itu menghantam hatinya seperti batu besar. Tangannya mengepal erat hingga kuku memutih. Tanpa berkata apa pun lagi, ia membalikkan badan dan pergi dengan langkah berat dan kesal, membanting pintu di belakangnya.
BRAKK!!
Begitu Shella pergi, Samuel menatap wajah Arga dengan bingung namun penuh harap.
"Pa, mama Sam cuma mama Ayla kan, Pa?" tanya bocah itu polos.
Deg.
Lisa si ulat bulu, dia pikir gampang taklukkan Tristan. dia nggak kayak kakak kamu yah.. no no...☝️
dan Lisa... Ndak tau malu kamu yaah.. mau kamu dapat nasib kayak Shella?!😤