"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Lamaran Tanpa Lampu Sein
Perjalanan pulang dari Senopati ke Bekasi harus memakan waktu satu jam karena macet. Selama perjalanan Dira tak bosan bertanya tentang janji jam 8 besok pagi.
"CEO umur dua puluh tiga? Startup Kata Raya? Rel, itu aplikasi bikin CV online yang lagi viral di LinkedIn kan?"
"Entahlah," jawab Aurel singkat, fokus dengan jalanan ibukota.
Dua puluh tiga seperti sebuah genderang peringatan untuknya, dia tak akan tergoda dengan permainan licik pria ingusan seperti Adrian. Cihh...mengundangnya minum kopi, pria itu pasti sangat ingin melihat drama ia menunggu berjam jam dengan penuh harapan. Mimpi!
"Terus elo bener bener nggak mau datang besok jam 8?" Dita melirik.
"Sekali enggak ya tetep enggak," potong Aurel cepat. "Gue punya presentasi klien jam 9 di Sudirman. Dan gue nggak punya waktu meladeni ego bocah itu."
"Ya, pasti," Dita mengangguk semangat. Kata tidak dari sahabatnya terdengar seperti kebalikannya. Tidak ada wanita yang tidak tertarik dengan pria muda kaya raya, itu faktanya.
Founder Kata Raya, perusahaan itu adalah perusahaan besar. Jika benar Adrian adalah foundernya, maka sahabatnya akan mendapat jackpot besar.
Mobil Avanza silver berhenti di depan rumah. Rumah sederhana bercat krem di perumahan Bekasi Timur. Dengan pagar besi hitam dan pot bougenville di teras. Lampu teras menyala kuning temaram.
Dari kejauhan, Aurel sudah melihat ada satu motor bebek hitam terparkir rapi di samping motor matic milik Ibunya.
Jantungnya langsung turun.
"Apa lagi," gumam Aurel. Dia mengangguk dan melambaikan tangan ketika Dita turun dari mobilnya.
"Bye calon nyonya besar, aku berdoa semoga hatimu terketuk untuk menemuinya, " kelakar Dira sambil tertawa. Dia pulang kerumahnya yang letaknya tepat ada disamping rumah Aurel.
Aurel melangkah masuk. Wangi parfum pria menyeruak di hidungnya.
Di ruang tamu, ibunya duduk di sofa motif bunga dengan wajah yang berseri seri. Di seberangnya, duduk seorang laki-laki sekitar tiga puluh tahun. Kemeja batik lengan panjang dimasukkan rapi ke celana bahan hitam. Rambut disisir belah samping.
Tidak jelek, tapi jujur saja ia tidak suka gaya pria seperti itu.
"Assalamualaikum," sapa Aurel pelan. Senyumnya kaku tapi sopan.
"Waalaikumsalam," Sarwina, ibunya langsung berdiri. "Nak ini Mas Bayu. Keponakannya Bu Sari, temen arisan lbu. Mas Bayu kerja di Bappeda Kota Bekasi. PNS. Golongan III A."
Pria bernama Bayu itu berdiri, membungkuk sedikit dan menyapanya. "Selamat malam, Mbak Aurel. Ibu sering cerita tentang Mbak. Katanya Mbak pinter, kerja di perusahaan besar di Sudirman."
Aurel membalas dengan anggukan, masih berusaha tersenyum walau saat ini yang ia inginkan hanyalah bantalnya. Dia lelah, tak ingin meladeni siapapun.
Ayahnya meninggal saat ia kelas 2 SMP karena serangan jantung. Sejak itu dia hanya hidup berdua bersama ibunya. Aurel tahu benar seberapa besar perjuangan ibunya membesarkan dirinya sendirian. Kebahagiaan ibu adalah segalanya untuknya.
Dan Aurel tumbuh dengan satu prinsip: membahagiakan ibunya adalah harga mati. Semarah apapun ia, ia tidak pernah berani meninggikan suara di depan Ibu.
Sarwina sedikit tidak enak dengan reaksi Aurel yang sama sekali tidak antusias. Bayu terlihat serba salah.
"Nak Bayu sebentar ya, lbu sama Aurel ambil minum dan kue di belakang dulu."
"Monggo Bu," sahut Bayu mengangguk pelan.
Sarwina langsung menyeret Aurel ke dapur. Begitu sampai pintu dapur ditutup, senyum wanita itu lenyap, berganti tatapan tajam. "Rel, Mas Bayu itu baik. Gajinya tetap, kerjanya jelas, orangnya sopan. Ibu sudah ngobrol lama sama Bu Sari. Mereka serius. Yang semangat dong, jangan lemes di depan dia."
"Bu, aku baru pulang kerja. Aku capek," jawab Aurel, suaranya ditekan.
"Capek kan bisa istirahat nanti. Ini kesempatan bagus. Umurmu sudah dua puluh sembilan. Mau nunggu siapa lagi? Mas Bayu nggak neko-neko. Nggak kayak anak zaman sekarang yang kerjaannya nongkrong doang."
Aurel menutup mata sebentar. Kata kata ibunya terasa seperti tamparan halus.
"Bu...."
"Kalian coba bicara, lbu nggak akan maksa jika kamu memang tidak suka. Tapi tolong coba dulu untuk lebih mengenalnya," sahut Sarwina penuh harap.
Akhirnya Aurel kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi teh dan pisang goreng. Duduk di kursi, menjaga jarak dua meter dari Bayu. Sikapnya sempurna, senyum selalu terpasang di bibir dan menjawab setiap pertanyaan dengan "Iya, Mas", "Betul, Mas".
Bayu bercerita tentang rencana mutasi ke Jakarta Pusat tahun depan. Tentang cicilan rumah KPR yang sudah jalan tiga tahun. Tentang hobinya memancing di Kali Bekasi. Semua disampaikan dengan nada datar, tanpa tanya balik tentang pekerjaan Aurel.
Aurel mengangguk. Tersenyum. Menahan.
Di dalam kepalanya malah suara tengil Adrian terus berputar.
Ia ingin berdiri dan berkata, "Maaf Mas, saya tidak tertarik." Tapi ia tidak bisa ia lakukan. Ibu ada di sebelahnya, menatapnya dengan mata yang penuh harap.
"Mbak Aurel besok hari Minggu ada acara?"
"Hahh...anu...itu," gugup Aurel yang belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Tak menyangka jika Bayu akan secepat itu 'bergerak'.
"Jadi bagaimana Rel? ltu Nak Bayu mau ngajak kamu jalan minggu depan," ujar Ibu.
Aurel menatap teh di cangkirnya. Ia menarik napas kemudian memberi jawaban. Jawaban yang bertentangan dengan hatinya. "Boleh, Bu. Kapan Mas Bayu senggang, silakan kabari Ibu saja."
Bayu tampak tersenyum lega, sedang Sarwina langsung memeluk lengan Aurel.
Sarwina tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, masa depan putrinya sudah ada di depan mata. Rumah ini sebentar lagi akan dipenuhi suara tawa dan tangis cucunya. Aurel akan mempunyai anak dan suami seperti gadis lainnya.
Malam itu, sebelum tidur Aurel membuka dompetnya lagi. Kartu nama Adrian masih di sana. Ia membaca sekali lagi tulisan di belakangnya.
"Pria konyol..." lirihnya.
Aurel meletakkan kartu itu di meja nakas, di sebelah foto almarhum Ayahnya.
Satu undangan dari pria ingusan menyebalkan di Senopati. Dan ada satu lagi "lamaran" tanpa kata dari PNS Bekasi.
Di antara keduanya, Aurel belum tahu mana yang lebih membuatnya sesak napas.