Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Di Seret Paksa
"Tidak senonoh?" Jacob menyipitkan mata merah darahnya. Aura dingin khas bangsawan berdarah murni seketika menguar, membuat atmosfer di sekitar tangga batu itu terasa menekan dan menyesakkan. "Jaga bicaramu, Gustav. Kastil Salvatore bukan tempat untuk bualan murah."
"S-saya serius, Yang Mulia!" Gustav membungkuk dalam. Butir-butir keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Tuan Muda Edgard... dia sedang mengungkung seorang gadis di bawah pohon kesemek dekat danau. Gadis itu... pakaiannya sangat minim, dan Tuan Muda terlihat sangat enggan melepaskannya."
Jacob terdiam. Ekspresinya yang semula datar kini berubah menjadi tatapan penuh selidik. Sebelum ia sempat menginterogasi Gustav lebih jauh, suara langkah kaki yang terburu-buru bergaung dari arah pintu masuk samping.
Edgard muncul dengan napas terengah-engah, menyisakan rona merah padam di wajah sang Werewolf. Begitu matanya menangkap sosok Jacob dan Gustav yang berdiri di tangga, langkah kakinya langsung memelan seketika.
"Paman Gustav! Tunggu, ini semua tidak seperti yang Paman lihat!" seru Edgard panik, mengabaikan fakta bahwa ada sang Raja Vampir di sana.
"Edgard," panggil Jacob. Suaranya rendah, namun sanggup menghentikan aliran napas Edgard saat itu juga. "Sejak kapan kau berani membawa wanita asing ke wilayahku? Dan apa sebenarnya yang baru saja Gustav lihat?"
Edgard menelan ludah dengan susah payah. Di satu sisi, ia adalah Werewolf jantan dengan harga diri tinggi. Di sisi lain, dominasi Jacob Salvatore bukanlah sesuatu yang bisa ia lawan dengan kecerobohan. "Dia... dia bukan wanita biasa, Kakek Jacob. Dia adalah Siren yang kutemukan terdampar. Dan yang tadi itu... aku hanya tidak sengaja terjatuh di atasnya!"
"Siren?" Jacob menaikkan sebelah alisnya. Guratan skeptis tercetak jelas di wajah tampannya. "Kau tahu sendiri penguasa ras Siren melarang keras rakyatnya menginjakkan kaki di daratan. Apa kau sedang berhalusinasi? Jangan-jangan matamu sudah bermasalah."
Jacob tahu betul bahwa setiap malam bulan purnama, monster Nessie—makhluk penunggu danau yang bermigrasi dari lautan lepas—selalu muncul di danau air asin di belakang kastilnya. Sangat mustahil ada makhluk air lain yang berani menginjakkan kaki di teritori seberbahaya ini.
Jacob lalu mengalihkan pandangan, menatap penampilan Edgard yang bertelanjang dada. "Sebaiknya kau segera pulang ke pack-mu. Ini sudah sangat larut malam, Edgard."
"Dengar, Kakek. Aku benar-benar serius dengan ucapanku, jadi kalian jangan salah paham. Tadi itu murni kecelakaan. Aku tidak macam-macam dengan gadis itu. Aku akan pulang sekarang," ujar Edgard membela diri.
Ia membalikkan badan untuk pergi, namun langkahnya mendadak terhenti. Edgard kembali menoleh pada Jacob dan Gustav bergantian. "Paman, Kakek... aku mohon jangan beritahu siapa pun. Apalagi jangan sampai hal memalukan ini diketahui oleh orang-orang, terutama orang tuaku."
"Hm," gumam Jacob datar, sementara Gustav hanya mengangguk maklum.
****
Sementara itu, di luar kastil, Elara terus berjuang keras. Rasa sakit di telapak kakinya yang baru bermutasi terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum tak kasatmata. Kemeja kebesaran milik Edgard bergoyang seiring langkahnya yang tertatih. Berkali-kali ia ingin mengutuk takdir, namun harga dirinya sebagai predator lautan menolak untuk merangkak.
Aku adalah penguasa badai samudera, batin Elara, menggertakkan giginya hingga bergemeletuk. Aku tidak akan membiarkan sepasang kaki manusia sialan ini mengalahkan tekadku!
Dengan sisa tenaga yang ada, Elara berhasil mencapai pintu kaca besar yang menghubungkan halaman belakang dengan koridor dalam kastil. Namun, tepat saat jemarinya yang gemetar menyentuh gagang pintu, kekuatannya benar-benar habis.
Keseimbangannya runtuh. Tubuhnya ambruk ke depan, mendorong pintu kaca itu hingga terbuka dengan dentangan keras yang bergaung hebat ke seluruh ruangan.
BRAKK!
Di ujung koridor, Jacob, Edgard, dan Gustav sontak menoleh ke arah sumber suara.
Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, Elara terjerembap. Kemeja yang longgar itu sedikit tersingkap, memperlihatkan sepasang kaki jenjangnya yang mulus namun bergetar hebat.
Rambut panjangnya yang basah terurai berantakan, membingkai wajah pucat yang dipenuhi amarah sekaligus keletihan.
Meskipun tubuhnya tak berdaya, sepasang mata biru samudera milik Elara tidak menyiratkan ketakutan sama sekali. Ia justru mendongak, menatap tajam ke arah tiga pria immortal di depannya dengan pandangan menantang, seolah-olah dialah sang penguasa di kastil tersebut.
Jacob Salvatore terpaku. Untuk kedua kalinya dalam lima ratus tahun hidupnya, jantung sang Raja Vampir berdegup dengan ritme yang asing saat menatap sepasang mata liar milik sang Siren. Desiran aneh ini... terasa persis seperti saat ia menatap mendiang istrinya dulu, Laura Dimitria, seorang demon bangsawan yang telah lama tiada.
"Lihatlah dia, Kakek. Itu... itu gadis yang kumaksud," ucap Edgard memecah keheningan, tangannya menunjuk ke arah Elara yang masih terduduk di lantai.
Sontak Jacob tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, begitu pula dengan Gustav yang sudah lebih dulu memejamkan matanya rapat-rapat demi menjaga kesopanan.
Sementara itu, Edgard hanya mendengus, seolah sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut.
Jacob memilih mengabaikan ucapan Edgard. Ketertarikan sesaat di matanya langsung digantikan oleh kilat dingin yang penuh perhitungan.
"Gustav, panggil pengawal. Seret gadis itu keluar dari kastilku," bisik Jacob ketat.
Sebagai seorang penguasa, ia tidak mau mengambil risiko jika nanti Raja Siren yang angkuh dan sombong itu murka karena mendapati salah satu rakyatnya berada di Kastil Salvatore.
Jacob sangat membenci pemimpin kaum Siren tersebut. Namun, sang Raja Vampir sama sekali tidak tahu bahwa kenyataannya, Elara justru baru saja diusir dan diasingkan oleh raja tirani itu—yang tak lain adalah paman Elara sendiri.
Gustav mengangguk patuh. "Baik, Yang Mulia."
Pria vampir itu segera memberi isyarat tegas. Dua pengawal vampir bertubuh kekar melangkah cepat menghampiri Elara.
Tanpa memedulikan kesopanan, mereka langsung mencengkeram kasar kedua lengan sang Siren dan menyeret tubuh lemasnya di atas lantai marmer.
"Lepas! Apa-apaan kalian?! Lepaskan aku!" teriak Elara murka, mencoba meronta meskipun kedua kakinya yang baru bermutasi sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
Jacob tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia melengos pergi, kembali melangkah menaiki tangga batu menuju kamarnya dengan keangkuhan seorang penguasa mutlak.
Sementara itu, Edgard hanya mematung di tempatnya. Niat hati ingin segera pulang ke pack-nya seketika sirna. Pemuda Werewolf itu terpaku dengan tatapan rumit, memandangi sosok Elara yang terus diseret menjauh hingga menghilang di balik pintu koridor.
BRUKK!
Kedua pengawal itu melemparkan tubuh Elara tanpa perasaan ke atas tanah berbatu di luar gerbang megah kastil.
"Argh! Sialan kalian semua!" makinya sembari meringis menahan sakit saat lutut dan sikunya terbentur keras.
"Cepat pergi dari sini sebelum Yang Mulia Raja Jacob sendiri yang menendangmu, atau mungkin menghabisimu, Siren," ucap salah satu pengawal dengan suara sedingin es.
BLAMMM!
Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi itu ditutup rapat di depan wajahnya.
Elara tersentak. Untuk sesaat, ia terdiam di tengah kegelapan malam, mencoba mencerna ancaman sang pengawal.
'Dia bilang... Raja Jacob? Apa jangan-jangan tempat ini adalah Kastil Salvatore? Milik penguasa bangsa Vampir yang terkenal kejam dan tak tertandingi itu?'