"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Astra malah menyengir lebar, mencoba menampilkan senyum paling tidak bersalah demi meluluhkan hati pria es di depannya ini.
"Mau ikut, Kak! Aku mau bantu Kak Vito bawa daging-daging itu ke pasar!" seru Astra penuh semangat, menepuk dadanya sendiri yang sebenarnya agak kerempeng.
Vito menatap aneh pemuda di hadapannya, seolah sedang melihat spesies baru yang hobi cari muka.
Ia menghela napas panjang. "Gak usah."
"Tapi, Kak—"
"Kau mandi aja dulu sekarang supaya nanti gak rebutan kamar mandi sama Yisla," potong Vito datar. Ia memutar tubuhnya, meraih tali pengikat kereta luncur berisi daging beku di dekat pintu. Namun, sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekilas tanpa ekspresi.
"Nanti sekalian kubelikan beberapa potong pakaian baru buatmu di pasar."
Deg.
Astra mendadak linglung. Tunggu... barusan aku nggak salah denger, kan?
Karakter Vito yang tadinya kelihatan siap memutilasinya hidup-hidup, sekarang malah mau membelikannya baju baru?
Plak!
"Heh! Malah melamun lagi!" Vito menepuk pundak Astra cukup keras sampai pemuda itu tersentak.
"Cepat mandi sana! Jangan cuma berdiri di ambang pintu, bikin sempit aja!"
"A-ah! Iya, Kak! Siap, laksanakan!" sahut Astra panik, langsung mengambil langkah seribu mundur ke dalam rumah.
Karena otaknya masih nge-blank dan panik, Astra langsung menyambar pakaian ganti dari lemari Vito dan menerobos masuk ke dalam kamar mandi tanpa berpikir panjang. Pikirannya sekarang hanya satu yaitu cepat mandi sebelum Vito berubah pikiran dan melemparnya ke badai salju.
Di dalam kamar mandi, ia menatap sebuah bak kayu besar penuh berisi air yang jernih. Tanpa mengeceknya terlebih dahulu, Astra langsung mengambil gayung, menciduk airnya, dan...
Gubraakkkk!
"AAKKKKK—HMMMPPPFF?!"
Astra hampir berteriak histeris kalau saja tidak segera membekap mulutnya sendiri. Demi apa pun, air itu rasanya seperti lelehan balok es kutub utara! Dinginnya langsung menusuk kulit hingga ke tulang, membuat seluruh otot tubuhnya syok seketika.
Dengan gerakan super brutal dan secepat kilat, Astra mengguyur tubuhnya asal-asalan demi menyudahi siksaan itu. Masa bodoh dengan sabun! Soalnya memang tidak ada sabun juga.
Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan kasar.
Astra keluar dengan tubuh yang gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bibirnya berubah membiru sempurna, dan giginya bergeletuk keras tanpa bisa dikontrol.
Kertak-kertak-kertak.
Yisla yang kebetulan sedang lewat di koridor langsung melotot kaget begitu melihat kondisi Astra yang sudah seperti mayat hidup yang bangkit dari kubur.
"Julian?! Kamu... kamu mandi pakai air dingin?!" pekik Yisla panik, menutup mulutnya tak percaya.
"Kan tadi aku udah bilang mau siapin air hangatnya dulu!"
Astra cuma bisa memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, menatap Yisla dengan mata berkaca-kaca menahan dingin.
"A-a-aku... a-aku l-lupa, Y-yisla..." jawab Astra patah-patah dengan suara bergetar parah.
Sialan! Bab lima belum kelar, aku malah udah mau mati konyol karena hipotermia! batinnya menangis meratapi kebodohannya sendiri.
Yisla buru-buru menuntun Astra yang berjalan terseok-seok mirip penguin kutub menuju ke ruang tamu. Dengan sigap, gadis itu membungkus tubuh Astra dengan selimut wol tebal sampai menyisakan wajahnya saja.
Tidak butuh waktu lama bagi Yisla untuk merebus air dan menyodorkan cangkir hangat ke tangan Astra yang kaku.
"Minum ini pelan-pelan, Julian," omel Yisla, antara cemas dan ingin tertawa melihat 'kepompong' manusia di depannya.
"Aku mau mandi dulu. Awas ya, kalau nekat macam-macam lagi!"
"T-t-terima k-kasih, Y-yisla..." Astra mengangguk pasrah.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, keheningan kembali menguasai rumah. Astra menyeruput air hangatnya pelan-pelan. Sensasi hangat itu meredakan gemertak giginya, namun tidak dengan jiwanya yang merana.
Miris banget hidupku, ya Tuhan... batin Astra menatap kosong ke dinding kayu. Di dunia nyata digebukin Reza, di sini malah hampir mati konyol jadi es mambo cuma karena lupa ini musim dingin! Mana kerennya aku sebagai author coba?!
"Hei, Author yang menyedihkan..."
Astra mendongak dengan malas. Di atas meja makan, Animus sudah duduk santai sembari membolak-balik gulungan kertas takdir, sementara Anima duduk di sampingnya.
"Tidak perlu memasang wajah jelek begitu," cibir Animus tanpa simpati. Pria berambut putih itu langsung menatap Astra dengan pandangan menusuk dan melempar roasting-an maut.
"Kau itu selalu bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Kau kira di sini kau bakalan dapet plot armor kalau mati? Kau pikir ini cerita fiksi pasaran yang karakter utamanya kalau mati bisa hidup lagi lalu mendadak mendapatkan kekuatan dewa, hah?!"
Animus maju selangkah, menekan suaranya. "Kalau kau mati di sini, kau bakal bener-bener lenyap, Author!"
Deg.
"Utu-tutut, Sayang~" timpal Anima buru-buru mengelus kepala Astra. "Jangan dengerin Animus, dia emang begitu."
Dikatain sebrutal itu oleh Animus, pertahanan mental Astra runtuh juga. Air matanya mata langsung mengalir deras di pipinya. Ia menangis sesenggukan di dalam gulungan selimutnya.
"Aku juga nggak mau di sini! Aku mau pulang aja, sialan! Balikin aku!" tangis Astra pecah, merutuki nasibnya sendiri.
"Sesuatu yang sudah dimulai tidak boleh berakhir hanya karena kau ingin menyerah, bodoh!" bentak Animus ketus, sama sekali gak peduli dengan tangisan Astra.
"Tapi aku gak bisa! Aku nggak punya outline, aku nggak—"
"Eh, Julian? Kamu... kamu kenapa nangis? Terus kamu ngomong sama siapa?!"
Suara cemas dari Yisla tiba-tiba memutus jeritan Astra. Gadis itu sudah berdiri di ambang pintu dengan rambut yang masih agak basah, dia menatap Astra dengan pandangan bingung sekaligus ngeri.
Wush!
Seketika itu juga, Animus dan Anima langsung menghilang tanpa dosa. Sebelum sosoknya benar-benar lenyap, Anima sempat mengedipkan sebelah mata, kemudian membisikkan kalimat terakhirnya.
"Silakan hadapi Yisla, Sayangku~ Kami pergi dulu! Babay~"
Sialan kalian berdua! kutuk Astra dalam hati.
Sekarang, Astra hanya bisa mematung di dalam gulungan selimutnya. Air matanya masih membasahi pipinya dan sekarang di depannya, Yisla sedang menanti penjelasan kenapa ada pemuda yang tiba-tiba menangis sambil ngomong sendirian di ruang tamunya.