NovelToon NovelToon
LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

LETNAN CANTIK ITU MILIKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗

Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.

Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.

Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.

Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjalankan misi

Tidak terasa satu hari satu malam patroli yang mereka jalani akhirnya selesai. Tepat pukul sebelas siang, rombongan yang bertugas kembali tiba di Markas.

Mereka yang sejak kemarin menyusuri wilayah patroli nampak lega saat akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman.

Kehadiran mereka telah ditunggu oleh para anggota militer lain yang akan bergantian melaksanakan patroli berikutnya.

Tina dan Kaluna berjalan lebih dulu. Kedua wanita itu sudah begitu lelah dan mungkin akan tertidur hingga sore nanti karena semalam kurang beristirahat.

“Ya ampun, Fir. Akhirnya aku balik juga kesini,” seru Kaluna.

“Iya, kasihan banget lihat muka kamu. Kusut begitu,” goda Safira sambil terkekeh begitu melihat sahabatnya.

“Besok giliran kamu, Fir,” ucap Kaluna memberi tahu.

“Iya tahu. Sepi banget tidur sendiri. Besok gantian kamu yang tidur sendiri, awas horor,” canda Safira.

Tina yang berjalan tidak jauh dari mereka mendengarkan dengan saksama apa yang kedua sahabat itu bicarakan. Entah mengapa ia merasa iri karena tidak memiliki sahabat seperti Kaluna dan Safira. Ketika salah satu tidak ada, yang lain akan merindukannya.

Setelah cukup jauh berjalan mereka kembali tiba di area camp. Rasa lelah dan kantuk yang dirasakan seolah terbayar dengan pengalaman yang akan menjadi cerita indah di kemudian hari.

Hari-hari terus berganti, meninggalkan kenangan indah di setiap waktu yang telah terlewati. Tidak terasa hampir dua bulan sudah Kaluna dan teman-teman lainnya berada di Papua.

Banyak hal yang mereka pelajari dan dapatkan selama menjalankan tugas di wilayah tersebut sebagai prajurit Kowad dan dokter militer.

Hubungan Kaluna dengan teman-teman lainnya berjalan baik, namun tidak sebaik hubungannya dengan Kapten Kalvin.

Berulang kali mereka terlibat perdebatan. Walau Kaluna sudah berusaha tidak menggubris demi menjaga perasaan Tina, tetap saja hal-hal tidak penting itu sering terjadi.

Jujur, walau dingin dan menyebalkan, Kaluna cukup kagum dengan kedisiplinan serta kerja keras Kalvin sebagai seorang prajurit.

Seperti beberapa hari terakhir, Kapten Kalvin, Kapten Galang, dan anggota lainnya tengah sibuk mengumpulkan bukti untuk menyergap jaringan penyelundup senjata ilegal yang selama ini mereka pantau.

Pemantauan yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil. Salah satu anggota yang melakukan penyamaran berhasil memperoleh informasi bahwa kelompok tersebut akan melakukan transaksi senjata ilegal dalam waktu dekat.

Hari ini Kaluna dan Safira mendapat tugas untuk mengunjungi sebuah kampung yang berada tidak jauh dari kawasan hutan, berpura-pura sebagai relawan kesehatan.

Sedangkan Tina dan dua Kowad lainnya mendampingi Kalvin dan Nakara melakukan pemantauan di sekitar jalur yang diduga digunakan untuk menyelundupkan senjata ilegal.

“Lun, kamu yakin nggak apa-apa kalau kita tanya-tanya? Aku khawatir mereka bakal curiga,” ucap Safira khawatir.

Dua wanita cantik itu mendatangi sebuah kampung yang terletak cukup jauh dari markas tempat mereka bertugas.

Perjalanan menuju kampung tersebut memakan waktu hampir dua jam. Sementara Anton yang mengantar mereka kembali menjauh, mencari titik aman agar tidak ada yang curiga.

“Ini tugas, Fir. Makanya kita harus berusaha supaya nggak ada yang curiga,” sahut Kaluna.

Penampilan dua wanita itu sangat berbeda dari biasanya. Mereka hanya mengenakan pakaian santai lengkap dengan topi dan tas medis sederhana agar terlihat seperti relawan kesehatan.

“Nona-nona dari kota kah?” sapa seorang wanita paruh baya yang menghampiri mereka.

“Iya, Mama. Kami relawan kesehatan yang sedang berkeliling kampung,” jawab Kaluna ramah.

“Oh begitu toh. Siapa nama Nona-nona ini?”

“Saya Sera, Ma. Ini teman saya, Putri,” jawab Kaluna menggunakan nama samaran.

Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya yang mungkin berusia sekitar empat puluh lima tahun datang menghampiri mereka.

Entah apa yang dibicarakan, namun pria itu terus memperhatikan Kaluna dan Safira dengan tatapan penuh selidik.

“Nona-nona ini mau periksa warga kah?” tanyanya.

Sontak Kaluna dan Safira mengangguk cepat.

“Iya, Bapa. Sekalian mendata kondisi kesehatan warga,” jawab Safira.

Pria itu mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyimpan rasa curiga.

Hingga tak lama kemudian dua buah mobil jip tampak melintas di jalan kampung dan berhenti di sebuah balai warga yang berada tidak jauh dari sana.

“Nona-nona nanti saja ke sana,” ucap pria itu lagi, seakan mengusir Kaluna dan Safira.

“Tidak masalah, Bapa. Kami memang ingin bertemu warga. Sekalian memeriksa kesehatan mereka,” sahut Kaluna yang belum juga menyerah.

Wanita yang tadi menyambut kedatangan mereka tampak mengangguk, seakan meminta izin agar permintaan Kaluna diizinkan.

“Ya sudah, ayo saya antar,” putus pria itu akhirnya.

Kaluna dan Safira mengikuti mereka menuju balai warga. Di halaman bangunan itu terparkir dua mobil jip serta tiga mobil pick-up.

Beberapa pria tampak hilir mudik sambil mengangkut peti-peti besar dari arah hutan.

Kehadiran Kaluna dan Safira mencuri perhatian warga yang ada di sana. Mereka memandang heran kedatangan kedua wanita itu.

Tentu jika hanya relawan kesehatan yang datang memeriksa warga, tak ada yang perlu dicurigai. Namun Kaluna memperhatikan beberapa pria yang terus keluar masuk dari arah hutan.

Pemandangan itu membuatnya teringat informasi yang sebelumnya ditemukan Kalvin mengenai jalur penyelundupan barang ilegal melalui kawasan hutan.

Tidak ingin menarik perhatian terlalu banyak orang, Kaluna dan Safira mulai memeriksa kesehatan warga satu per satu.

Sembari berbincang santai, keduanya berusaha menggali informasi mengenai aktivitas mencurigakan yang belakangan sering terjadi di kampung tersebut.

“Nona-nona datang pakai kendaraan?” tanya seorang pria muda yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.

Sontak kehadirannya membuat jantung Kaluna dan Safira berpacu lebih cepat.

“Iya, ada yang mengantar kami,” jawab Safira setenang mungkin.

“Saya mau ke kota. Kalau tidak keberatan, saya bisa mengantar nanti,” tawarnya ramah.

Buru-buru Safira menolak. “Tidak perlu, Kak. Nanti ada yang menjemput kami,” tolaknya halus.

Pria itu mengangguk pelan, meski tatapannya masih memperhatikan Kaluna dan Safira dengan penuh selidik.

Kaluna menelan ludahnya. Entah mengapa, pria itu membuatnya merasa tidak nyaman. Namun di saat yang sama, ia semakin yakin bahwa kampung ini memang menyimpan sesuatu yang sedang dicari oleh Kalvin dan timnya.

Pria itu mengangguk pelan, meski tatapannya masih memperhatikan Kaluna dan Safira dengan penuh selidik.

Ditambah lagi nomor ponsel Anton sangat sulit dihubungi. Entah di mana gerangan pria itu berada sampai-sampai sinyal tak bisa masuk ke dalam ponselnya.

“Jangan takut, Nona. Saya tulus ingin memberi tumpangan saja,” ucap pria itu yang tak kunjung menyerah.

“Tidak usah takut, Nona. Dia orang baik. Keluarganya sudah lama tinggal di kampung ini,” sahut wanita paruh baya yang tadi mereka temui, turut meyakinkan keduanya.

Pada akhirnya dengan terpaksa Kaluna dan Safira menurut. Setelah berulang kali mencoba menghubungi Anton, pria itu tetap tidak bisa dihubungi.

Entah akan seperti apa jadinya nanti, namun untuk sementara mereka memilih mengikuti pria tersebut sambil tetap waspada.

Walau mungkin nanti mereka akan mendapat protes dan omelan dari Kalvin ataupun Galang karena dianggap tidak menjalankan rencana sesuai instruksi.

1
Agatha soul
pasti sih ngerasa kelihangan meski udah bertahun tahun
CORTIS
ini Kalvin sama Kevan saudaraan yah
CORTIS
Kalvin nanti sekali suka bucin nih
mama Al
bagaimana kalau di sana malah bertemu sama Kalvin dan jatuh Cinta
mama Al
Bohong. jangan maksain kehendak, Ray
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
lalu bapaknya yang paling berat menjalani hari, tanpa istrinya lagi mendampinginya.
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
jadi begini perasaan seorang kakak perempuan yang menasehati adik lelakinya
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
reynad mau sama aku aja enggak?/Scream/aku siap mengobati lukamu/Hey/
Elsa Sefia
Kalvin awas kemakan omongan nya sendiri lohh😁
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
plotwis sekali 😅
Aii Flow🌷
Nggak bisa, bawaannya sedih kalau lihat Raynand sekarang😭😭
arsyila putri
papa kaluna ingin, kaluna dapat pria yang baik menurutnya
Nyai Aksara 👩‍🦯
Masa sih nggak akan tertarik sama siapa-siapa
Agatha soul
smangat thor nulisnya
CORTIS
kisah penuh perjuangan nih
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baru kali ini aku baca novel tokoh dan temanya tentang kehidupan tentara RI
arsyila putri
kayaknya Kalvin yang bakal sama kaluna
Aii Flow🌷
Raynand pasti takut banget. Rasa kehilangan ditinggal orang tersayang itu bisa jadi luka yang dalam banget🤧😌
DreamXimaginatioN😴
permasalahan yang rumit bagi sang MC. tapi aku dukung bapak nya yang ngelarang dinas.
Elsa Sefia
mampir kak😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!