Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 ~ Salah Paham
Untuk beberapa detik, suasana didalam ruangan menjadi hening.
Ayra sendiri tampak sedikit terkejut, karena sepertinya dia datang disaat yang kurang tepat.
"Maaf, jika kedatangan saya mengganggu," ucapnya pelan.
Perlahan senyum Nyonya Maya mulai merekah menatap wajah Ayra. "Tentu saja tidak. Kemarilah,"
"Terimakasih," ayra segera melangkah masuk, menutup pintu kamar tersebut kembali. Lalu kini berdiri tepat didepan Tristan.
Ayra segera mengangkat map ditangannya.
"Maaf mengganggu. Sepertinya hasil pemeriksaan kita tadi tidak sengaja tertukar."
"Oh..." Tristan langsung mengerti.
Namun sebelum pria itu sempat kembali berbicara, Nyonya Maya sudah lebih dulu memperhatikan keduanya secara bergantian. Tatapannya semakin menyipit.
"Tristan, siapa dia?" tanya Nyonya Maya lembut.
Pria itu langsung menoleh. "Ini Ayra, Ma.."
"Oh, nama yang bagus. Orangnya juga sangat cantik." balas Nyonya Maya, menatap wajah Ayra.
"Terimakasih."
"Apakah kalian sudah lama saling mengenal?" tanya nyonya Maya kembali, semakin lama banyak sekali yang ingin dia tanyakan pada Ayra.
"Ah, kami...." Ayra dan Tristan saling menatap.
"Tidak perlu sungkan." potong Nyonya Maya. "Tristan memang seperti itu, dia anak yang cukup tertutup. Bahkan memiliki kekasih secantik ini masih saja tidak mau bicara!" sindir Nyonya Maya, menatap kesal pada Tristan. Tapi tangannya meraih jemari Ayra dengan lembut.
Ayra dan Tristan sama-sama terdiam. Sementara Nyonya Maya justru tersenyum semakin lebar.
"Ma, Ayra bukan—"
"Aku tidak sedang bertanya padamu." potong Nyonya Maya cepat.
Tristan langsung terdiam.
Ayra sampai harus menahan senyum melihat ekspresi pria itu.
"Jadi... Kapan kalian berdua akan membicarakan tentang pernikahan?"
"Ma!" potong Tristan langsung.
"Ma, apa?! Apa kamu mau jadi duda kesepian terus! Pokoknya mama mau kalau kalian segera menikah!" ucap Nyonya Maya tegas.
"Tapi aku dan Ayra tidak seperti yang mama pikiran." ujar Tristan. Pria itu masih mencoba untuk menjelaskan, meskipun sang mama tidak mau dengar sedikitpun.
"Apa yang dikatakan oleh putra Anda benar." ucap Ayra sopan. "Saya kemari hanya untuk mengambil laporan medis."
"Laporan medis?" ulang Nyonya Maya.
Ayra mengangguk.
"Iya. Ini laporan pemeriksaan kehamilan saya."
Deg.
Tatapan Nyonya Maya langsung berubah.
"Hamil?"
"Iya."
Untuk beberapa detik wanita itu terdiam. Lalu perlahan menoleh ke arah Tristan.
Tristan yang sudah mengenal ekspresi ibunya langsung merasa tidak enak.
"Ma..."
"Dari kapan?" tanya Nyonya Maya.
"Hah?"
"Kandungannya sudah berapa bulan?"
Ayra sedikit bingung, menatap wajah Tristan.
"......?"
"Kamu jangan takut. Kalau anak Tante berani macam-macam, Tante sendiri yang akan langsung menghajarnya!"
"Astaga..." Tristan langsung mengusap wajahnya frustasi.
Namun Nyonya Maya sudah keburu meraih bantal yang berada disampingnya.
Plak! Bantal itu langsung menghantam bahu Tristan.
"Ma!"
Plak!
"Sadar diri kamu!"
Plak!
"Kamu sudah menghamili seorang wanita dan tidak mau bertanggung jawab! Hah!!"
"Ma, dengarkan dulu penjelasannya!"
Plak!
"Diam!"
Ayra sampai membelalakkan matanya. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang pria dewasa dimarahi seperti anak sekolah.
"Tante, sepertinya ada kesalahpahaman—" ayra segera menengahinya.
"Nak, kamu tidak perlu membelanya!" sela Nyonya Maya penuh semangat.
Plak! Satu pukulan bantal lagi mendarat dibahu Tristan.
"Ma! Aku tidak melakukan apa-apa!"
"Kalau begitu jelaskan kenapa Ayra datang mencarimu!"
"Karena laporan medis kami tertukar!" jawab Ayra cepat. Dan itu berhasil membuat Nyonya Maya langsung menghentikan pukulannya.
"Maaf.. Aku barusan tidak sengaja bertabrakan dengan Tristan karena sedang terburu-buru. Jadi.. laporan medis kami tidak sengaja tertukar." jelas Ayra akhirnya.
Hening. Nyonya Maya menurunkan bantalnya perlahan. Ekspresi Nyonya Maya langsung terlihat canggung.
"Sudah jelas, kan sekarang? Mama tidak mau mendengarkan aku dulu, makannya jadi seperti ini." keluh Tristan.
Nyonya Maya memang terlalu bersemangat untuk mendapatkan seorang menantu. Jadi saat melihat Ayra datang ke kamar itu lalu mencari putranya, wanita itu langsung berpikir bahwa Ayra adalah kekasih Tristan selama ini.
Awalnya Nyonya Maya sangat bahagia. Bagaimanapun juga, sudah lama ia berharap Tristan kembali membuka hati setelah kematian istrinya. Jadi saat melihat seorang wanita cantik datang mencarinya, harapan itu kembali muncul.
Namun sedetik kemudian wanita itu berdeham pelan. "Kalau begitu... pukulan yang tadi anggap saja cicilan untuk kesalahanmu dimasa depan."
Tristan menghela nafas. Memalingkan wajahnya kesal.
"Sekali lagi saya minta maaf, Tante. Semua ini terjadi karena saya datang diwaktu yang kurang tepat."
"Tidak, Nak. Kesalahpahaman seperti ini sudah biasa." jawab Nyonya Maya enteng. Wanita itu melambaikan tangannya santai.
Tristan langsung menatap ibunya. Bahkan dia sudah menjatuhkan harga diri putranya sendiri didepan wanita yang baru saja ia kenal, tapi masih saja bisa berbicara seperti itu.
"Ngomong-ngomong... Kamu sedang hamil, tapi kenapa datang ke rumah sakit sendirian? Dimana suamimu?" ujar Nyonya Maya lembut.
Senyum diwajah Ayra perlahan memudar. Untuk sesaat wajahnya terlihat sedikit canggung.
"Kami sedang dalam proses perceraian."
Nyonya Maya langsung terkejut mengedar hal tersebut.
"Cerai?" ulang Nyonya Maya pelan.
Ayra mengangguk.
"Iya."
Nyonya Maya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia juga sadar bahwa tidak sopan menanyakan masalah pribadi sejauh itu pada seseorang yang baru dikenalnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Tante segera sembuh." ucap Ayra pamit.
"Iya. Terima kasih, Nak."
Ayra mengangguk lalu berbalik menatap Tristan. "Maaf. Karena aku, semuanya jadi salah paham seperti ini."
Tristan tersenyum tipis.
"Tidak masalah."
Pria itu kemudian menyerahkan map yang sejak tadi berada ditangannya. "Ini laporan medismu."
Ayra menerimanya. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah itu Ayra tidak berkata apa-apa lagi. Wanita itu hanya mengangguk sopan sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan.
Cklek. Pintu kembali tertutup.
Setelah Ayra keluar, suasana didalam ruangan kembali hening.Nyonya Maya yang tadi tampak bersemangat perlahan menghela napas panjang. Senyum diwajahnya memudar sedikit demi sedikit.
Wajah wanita itu kembali murung seperti sebelumnya.
••
••
Sementara itu...
Kediaman Oma Gloria, Wanita tua itu sedang duduk bersama Nyonya Ratna diruang tamu. Namun sejak tadi wajah sang Oma terlihat begitu dingin membuat Nyonya Ratna merasa tidak nyaman. Tetapi mengingat tujuan kedatangannya hari ini, ia tetap memaksakan senyum.
"Oma Gloria, sebenarnya saya datang karena ingin berbicara baik-baik."
"Silakan."
Nyonya Ratna segera merapikan duduknya.
"Saya tahu beberapa waktu terakhir memang terjadi banyak kesalahpahaman."
Alis Oma Gloria sedikit terangkat.
"Kesalahpahaman?"
"Iya." Nyonya Ratna mengangguk cepat. "Namanya juga keluarga. Kadang ada masalah, kadang ada pertengkaran."
Wanita itu tersenyum seolah semuanya sangat sederhana. "Dan saya pikir... tidak perlu sampai sejauh ini."
Oma Gloria tidak berkata apa-apa. Tatapannya justru membuat Nyonya Ratna semakin gugup.
"Arga masih mencintai Ayra. Mereka hanya sedang emosi. Jika Ayra mau kembali pada Arga, saya berjanji akan melakukan hal apapun.. Termasuk meminta Arga untuk menceraikan, Shella.."
-
-
To be continued....