Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siska pasrah??
Devan sekarang lagi duduk di kursi sofa mahal yang terasa empuk di punggung nya setelah pulang dari kantor, ia menatap layar ponselnya yang menyala untuk mengetik sesuatu.
Jemarinya berhenti di atas layar, lalu mulai mengetik sebuah pesan.
Devan:
Cari tahu semua tentang kondisi Ghea dan Siska di kontrakan baru mereka.
Pesan itu langsung dikirim kepada salah satu orang kepercayaannya.
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
Anak Buah:
Siap, Pak. Mau dipantau saja atau perlu tindakan lebih lanjut?
Devan menyandarkan tubuh kerasnya ke kursi.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Devan:
Pantau saja. Jangan lakukan apa-apa tanpa perintah saya.
Klik.
Pesan terkirim, Ia lalu meletakkan ponsel itu ke atas meja.
Sebenarnya Devan tidak terlalu peduli dengan kehidupan Ghea ataupun Siska. Baginya, dua perempuan itu hanya salah satu bagian dari masa lalu Nadia yang sudah seharusnya dilupakan.
Namun entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya tetap ingin mengetahui bagaimana keadaan Ghea dan Siska, terkhusus nya Ghea setelah perempuan itu kehilangan semuanya.
Mungkin karena Devan ingin memastikan satu hal.
Apakah Ghea benar-benar akan bisa bertahan hidup tanpa sosok Arkan?
***
Sementara itu...
Di gang sempit tempat kontrakan Ghea berada, langkah kaki Ghea sudah mendekati pintu kayu kontrakannya yang berwarna coklat kusam.
Di tangannya terdapat dua kantong plastik berisi es teh.
Ghea membuka pintu perlahan.
"Tan?" panggil Ghea.
Tidak ada jawaban.
Ghea mengernyitkan dahi.
"Tante Siska?" Panggil Ghea lagi, lebih keras.
Masih tidak ada suara.
Ia kemudian melangkah masuk.
Baru beberapa langkah, Ghea langsung melihat lantai yang sebelumnya penuh debu kini sudah terlihat jauh lebih bersih.
Sapu ijuk tergeletak di sudut ruangan.
Ghea menghela napas lega.
"Wah... ternyata beneran disapu." kata Ghea mendesah lega.
Namun ketika ia menoleh ke arah dapur kecil, Ghea langsung terdiam. Tante Siska sedang duduk di kursi plastik dengan wajah kusut. Tangannya memegang kipas kecil, sementara keringat membasahi pelipisnya.
"Minumannya mana?" tanya Siska tanpa menoleh.
Ghea mengangkat dua kantong plastik di tangannya.
"Ini."
Tanpa rewel dan bertanya Siska langsung mengambil salah satunya, Ia lalu menyeruput es teh tersebut dengan cepat, kemudian mengembuskan napas lega.
"Ahhh... segerrnya"
Ghea hanya menggeleng pelan melihat kelakuan Tante Siska.
Ghea juga ikut meminum es itu karena merasa haus juga, setelah di seruput, Ghea kemudian berbicara. "Tante, token nya udah aku beli, terus galonnya juga sebentar lagi dianter sama anak warung."
Siska mengangguk santai.
Tiba-tiba matanya menatap Ghea.
"Ghe..."
Ghea menaikan alis. "apa?"
"Besok kita pindah lagi aja yuk."
Ghea yang baru saja hendak duduk langsung menoleh.
"Hah?"
"Tante nggak betah di sini." keluh Tante Siska sembari memijit betisnya yang terasa pegal karena terlalu lama berdiri.
Ghea memejamkan mata mendengar itu.
Sabar.
Sabar.
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai berbicara. "kita mau pindah ke mana lagi tan? Trus kita bayar pake apa?"
Siska terdiam, lalu mencicit kecil. "Kan masih ada tabungan kamu."
Ghea tertawa mendengar itu, tetapi tawanya terdengar getir.
"Tabungan aku?" tanya Ghea lagi, memastikan.
Siska mengangguk ragu. "Iya."
"Tante..." Ghea meletakkan kantong plastik di atas meja. "Uang yang tersisa itu buat makan kita beberapa bulan ke depan."
Siska langsung terdiam.
Ghea menatapnya serius. "Kalau uang itu habis cuma buat pindah-pindah kontrakan, nanti kita makan apa? Makan batu?"
Siska menunduk.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung membantah atau mendelik kesal. Karena memang tenaganya sudah terkuras habis setelah menyapu seisi kontrakan.
Sementara Ghea hanya bisa memandangi perempuan tua itu dengan perasaan campur aduk, lalu berdecak pelan.
Ck!
Dulu, ia pikir hidup bersama Arkan akan membuatnya mendapatkan kebahagiaan.
Ternyata yang tersisa sekarang hanya sebuah kontrakan sempit, uang tabungan yang semakin menipis, dan seorang lelaki yang harus menghabiskan waktunya di balik jeruji besi.
Ghea mengusap wajahnya kasar.
"Mulai sekarang kita harus hemat, Tan."
Siska mengangkat wajah.
"Kamu mau kerja?" tanya Tante Siska entah sudah keberapa kalinya.
Ghea mengangguk pelan.
"Iya."
"Kerja apa?"
Ghea terdiam sejenak.
"Apa aja."
Ia menatap keluar jendela kecil kontrakan. "Aku nggak bisa terus-terusan hidup dari sisa uang yang ada."
Ghea mengepalkan tangannya.
"Kalau aku nggak mulai sekarang, kita bisa aja mati kelaparan di sini tan."
Siska menatap Ghea dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak kehidupan mereka runtuh, Ghea terlihat benar-benar serius ingin membangun hidupnya kembali.
Tanpa Arkan.
Tanpa kemewahan.
Tanpa bantuan siapa pun.
Keputusan nya sudah bulat. Dia akan mencari pekerjaan apapun itu walupun harus menjadi buruh cuci sekalipun.
.
.
.
.
★★★