Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - Jangan Sentuh Milikku
Pintu mobil mewah milik Max tertutup dengan debaman halus yang kedap. Memisahkan Nami dari riuh rendah rumah sakit yang baru saja ia tinggalkan secara tidak hormat demi selembar kertas kontrak.
Di kursi kemudi, Max tetap diam. Pria itu tidak langsung menyalakan mesin. Kedua tangannya bertumpu santai di atas setir, matanya lurus menatap kaca depan yang menampilkan lalu lalang kendaraan.
Suasana di dalam kabin mobil mendadak menjelma menjadi ruang interogasi yang sunyi. Dingin.
"Pasal tiga," ucap Max tiba-tiba. Suaranya rendah, memecah keheningan tanpa riak emosi yang kentara.
Nami yang sedang memeluk kardus kecilnya di kursi sebelah menoleh, alisnya mengernyit dalam. "Apa?"
Max memutar tubuhnya sedikit, bersandar pada sandaran kursi kulitnya sembari menatap Nami datar. "Pasal tiga dalam kontrak kita. Keduanya dilarang menjalin hubungan romantis atau seksual dengan pihak ketiga selama masa kontrak, demi menjaga integritas perjanjian dan menjaga perasaan keluarga."
Kata-kata itu meluncur lancar dari bibir Max, kaku dan formal seperti kamus hukum berjalan.
Nami mendengus tipis, ia langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. "Brian?" tanyanya to the point.
"Kau tahu apa yang ku maksud, Namira."
"Gila," cibir Nami, nadanya ikut mendingin. "Dia hanya rekanku di departemen kardiologi. Dia bingung karena aku mendadak menyerahkan surat pengunduran diri tanpa alasan logis! Tidak ada hubungan romantis, tidak ada pihak ketiga. Otak bisnismu terlalu penuh dengan kecurigaan."
"Aku tidak peduli dengan alasan logisnya," sela Max cepat, tanpa jeda. "Aku hanya tidak suka apa yang kulihat dari lobi tadi."
Nami terdiam. Tidak suka?
Sebenarnya, ada sesuatu yang mengusik ego Max sejak di koridor rumah sakit tadi. Pria itu tidak cemburu—ia yakin itu bukan cemburu.
Namun, pemandangan jemari pria lain yang mencengkeram lengan Nami dengan begitu erat entah kenapa menyulut rasa tidak nyaman yang asing di dadanya.
Nami adalah miliknya di atas kertas kontrak, dan Max tidak terbiasa berbagi teritorinya dengan siapa pun.
Tanpa aba-aba, Max mengulurkan tangan kirinya.
Jemari kokoh Max mendarat tepat di lengan atas Nami, di titik yang sama yang dicengkeram Brian beberapa menit lalu.
Nami tersentak, tubuhnya menegang kaku di kursi. "Max! Apa yang—"
"Diam," perintah Max kaku.
Nami terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan saat Max menarik lengannya sedikit lebih dekat.
Di bawah penerangan lampu kabin mobil yang minim, Max menarik sedikit lengan kemeja Nami ke atas, memeriksa permukaan kulit wanita itu dengan saksama.
Matanya bergerak teliti, memastikan tidak ada semburat kemerahan atau luka memar di sana. Cengkeraman Brian yang ia lihat dari balik dinding kaca tadi terlihat sangat kuat, dan Max hanya ingin memastikan 'barang' miliknya tidak cacat sedikit pun.
"Pria itu memegangmu terlalu keras," ucap Max datar setelah memastikan kulit Nami bersih tanpa memar. Ia melepaskan pegangannya begitu saja, kembali menghadap ke depan dan menyalakan mesin mobil.
"Jangan biarkan dia, atau siapapun menyentuhmu lagi."
Nami menarik napasnya yang sempat tersendat, buru-buru membenarkan lengan kemejanya dengan jantung yang berdegup kacau.
Sentuhan mendadak Max tadi terasa panas dan mengintimidasi, menyisakan sensasi aneh yang enggan hilang dari kulitnya.
"Aku tahu batasanku, Max," balas Nami ketus, memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela sepanjang sisa perjalanan.
Perjalanan menuju rumah utama dihabiskan dalam keheningan total yang pekat. Begitu mobil mewah itu memasuki gerbang kediaman Tanuwijaya, Nami segera turun dengan membawa kardus kecilnya, melangkah cepat menuju ruang tengah untuk melepaskan diri dari atmosfer mencekam di dalam mobil.
Namun, ketegangan lain justru sudah menunggu di sana.
Di sofa ruang tengah, Nyonya Sofia sudah duduk bersandar. Kondisinya sudah jauh lebih segar dibandingkan malam kritisnya yang mengerikan.
Wajah senjanya memancarkan binar kebahagiaan yang amat tulus begitu melihat Nami melangkah masuk sembari mendekap kardus berisi barang-barang rumah sakitnya.
"Nami… sayang," panggil Nyonya Sofia lembut, melambaikan tangannya lemah.
Nami langsung meletakkan kardusnya di lantai, berjalan mendekat dan berlutut di samping sofa mertuanya. "Ibu sudah merasa lebih baik? Kenapa tidak istirahat di kamar?"
Sofia tersenyum lembut sembari mengelus rambut Nami. Matanya melirik kardus di dekat pintu, lalu kembali menatap Nami dengan mata yang berkaca-kaca.
"Max sudah cerita tadi pagi… kau benar-benar mengajukan pengunduran diri dari rumah sakit demi menemani Ibu?"
Nami menelan ludah, senyumnya terasa sedikit kaku di sudut bibir. Ia melirik Max yang baru saja masuk dan berdiri tegap di belakang sofa ibunya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Iya, Bu. Mulai hari ini Nami akan fokus menemani Ibu di rumah," jawab Nami, terpaksa menelan mentah-mentah harga dirinya demi kebohongan kontrak ini.
Nyonya Sofia menarik napas panjang, meraih tangan Nami lalu menarik tangan Max untuk digenggam bersamaan di atas pangkuannya. Tangannya terasa hangat, menyatukan jemari kaku dua orang yang saling terikat kepalsuan itu.
"Ibu sangat beruntung memiliki menantu sepertimu, Nami. Pengorbananmu melepaskan karier dokter demi Ibu… Ibu tidak tahu harus membalasnya dengan apa," ucap Nyonya Sofia emosional, air matanya mulai menggenang.
"Ini sudah kewajiban Nami, Ibu," bisik Nami pelan.
Nyonya Sofia mengangguk-angguk, mengusap air mata di sudut matanya dengan sapu tangan, lalu menatap Max dan Nami bergantian dengan binar penuh harap yang mendadak terasa begitu intens.
Atmosfer hangat di ruang tengah itu seketika bergeser, menyisakan ketegangan baru yang merayap cepat.
"Karena Nami sekarang sudah tidak sibuk lagi dengan urusan dinas malam di rumah sakit, Ibu rasa ini waktu yang paling tepat," ucap Nyonya Sofia, senyumnya melebar penuh arti.
Nami menahan napas. Firasat buruknya mendadak berdering di kepalanya.
"Tadi pagi, Ibu sudah menyuruh kepala pelayan untuk mulai mengosongkan dan merenovasi kamar kosong di sebelah kamar utama kalian," lanjut Nyonya Sofia dengan nada riang yang mutlak.
"Kamar itu luas, jendelanya besar, sangat cocok untuk diubah menjadi kamar bayi. Ibu harap kalian berdua tidak menunda-nunda lagi untuk memberikan Ibu seorang cucu."
Deg.
Kata "kamar bayi" dan "cucu" dijatuhkan Nyonya Sofia laksana sebuah bom waktu di tengah ruangan.
Nami membeku di tempatnya berlutut, genggaman tangannya pada tangan Max mendadak terasa sedingin es. Di atas kepalanya, ia bisa merasakan bagaimana otot rahang tegap Max mengetat sempurna.
Di tengah senyum bahagia Nyonya Sofia yang tak berdosa, Max perlahan menundukkan kepalanya. Sepasang manik mata elang pria itu bergerak turun, mengunci pandangan Nami yang mulai diselimuti kepanikan.
Tatapan Max malam ini terlihat jauh lebih gelap dan intens dari biasanya. Tanpa perlu bersuara, sorot mata dingin itu seolah sedang mengingatkan Nami pada pasal 7 kontrak yang sudah ia tandatangani.
Tidak ada jalan mundur lagi. Eksekusi Pasal 7 akan dimulai malam ini.